Lompat ke isi

Slimuran Ala Marzuki Ali

8 Agustus 2011

Salah satu tokoh nasional yang lagi ngetop sekarang ini adalah Marzuki Ali. Akibat pernyataannya yang mewacanakan pembubaran KPK dan pemberian pengampunan kepada para koruptor, setiap hari media massa, baik cetak maupun elektronik membicaran dirinya. Para tokoh, terutama tokoh partai, terus mengeluarkan pernyataan dan penilaian terhadap Marzuki Ali.

Perjalan Perseteruan

Awalnya, masyarakat dibuat geram oleh perilaku Nazaruddin yang dikabarkan mengkorup uang negara ratusan miliar. Saat itu, setiap hari media massa dan para tokoh nasional tak henti-hentinya menghujat Nazaruddin.

Diserang habis-habisan ternyata tak membuat nyali mantan bendahara partai demokrat tersebut ciut. Justru dia balik menyerang. Dari mancanegara, Nazaruddin mendendangkan nyanyian melalui BB. Read more…

Menjadikan Entrepreneurship sebagai Lifestyle

5 Agustus 2011

Bulan juni sampai Agustus adalah bulan saat kompetisi akbar bagi berbagai pendidikan tinggi berlomba-lomba menjaring calon mahasiswa baru. Berbagai cara hingga model promosi digunakan. Mulai dari promosi di berbagai media hingga iming-iming bea siswa bagi mahasiswa baru. Di antara sekian model promosi, ada satu cara yang hingga saat ini masih dianggap sebagai salah satu jurus ampuh untuk memikat hati para calon mahasiswa, yakni janji jika lulus, langsung bekerja. Meski pun hampir tidak ada yang telah mengadakan MOU dengan dunia usaha atau dunia industri perihal penyaluran lulusan mereka, kecuali sekolah kedinasan, tetapi mereka berani dengan lantang menginformasikan bahwa lulusan mereka bisa langsung mendapat pekerjaan.

Tulisan ini tak hendak mempersoalkan kebenaran janji-janji tersebut. Tetapi, ingin mengajak pembaca untuk merenungkan tepat tidaknya pemberian janji langsung bekerja dalam situasi kekikinian.

Mari kita perhatikan data berikut yang dikutip dari Antara News edisi 5 Juli 2010. Tercatat angka pengangguran sarjana di Indonesia terus merangkak naik, pada 2006 sebanyak 375.000 orang, 2007 menjadi 400.000 orang, 2008 naik menjadi 626.000 meski sempat turun pada Agustus 2008, tetapi kembali naik pada 2009 menjadi 626.621 orang. Selanjutnya, pengangguran lulusan diplomasi/akademi sebanyak 486.399. Angka total pengangguran pada 2009 mencapai 8,96 juta. ( url : http://www.antaranews.com/berita/1278344249/indonesia-butuh-4-jutaan-wirausaha  ).

Data di atas menggambarkan bahwa dunia usaha/industri di negeri ini tidak mampu menyediakan lapangan kerja bagi penduduk kita. Bila situasi seperti ini terus dibiarkan, tentu akan menjadi bom waktu bagi masa depan negeri ini. Kalau jumlah lulusan pendidikan tinggi yang menganggur telah mencapai puluhan juta, bukan tidak mungkin kalau mereka akan menjadi pelaku kejahatan di berbagai bidang. Read more…

FKIP NAIK DAUN : SEBUAH CATATAN DARI SNPTN 2011

4 Juli 2011

Mengikuti berita SNPTN tahun 2011 ini, penulis mendapati sebuah fenomena baru yang tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Adalah pernyataan Anggota Tim Sosialisasi dan Humas SNMPTN 2011 Bonny P.W Soekarno yang membuat saya agak terkejut.

Bony menyatakan bahwa kini peminat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Perguruan Tinggi yang tak khusus keguruan, makin tinggi. Ini di luar dugaan meski tak diketahui angka pastinya. Peningkatan ini diduga karena peserta SNMPTN melihat guru sebagai profesi yang pasti. “Perhatian pemerintah terhadap guru juga semakin besar, melalui sertifikasi misalnya,” kata Bonny. Fenomena ini juga bisa diartikan adanya peningkatan empati generasi muda terhadap pendidikan di Indonesia.

(http://www.tempo.co/hg/pendidikan/2011/06/29/brk,20110629-343950,id.html ).

Berita ini tentu menggembirakan kita semua. FKIP yang selama ini dipandang sebagai second class dibanding fakultas-fakultas lain, sehingga peminatnya sebagian besar ( maaf ) dianggap kurang berkualitas. Dan ini sering dianggap sebagai salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan kita. Read more…

Contek Massal dan Pendidikan Karakter

26 Juni 2011

Dua tahun belakangan ini pemerintah, dalam hal ini Mendiknas, gencar ‘mengkampanyekan’ pendidikan karakter di dunia pendidikan kita. Meski konsepnya belum jelas benar, namun masyarakat menyambutnya dengan antusias. Ini dibuktikan dengan tingginya semangat para pendidik mengikuti seminar-seminar bertema pendidikan karakter. Sekolah-sekolah juga memanfaafkan isu pendidikan berkarakter sebagai sarana promosi untuk menjaring calon peserta didik. Kelihatannya sekolah-sekolah itu sangat memahami bahwa masyarakat menginginkan sekolah mampu membentuk karakter yang baik bagi anak-anak mereka.
Bagi masyarakat, pendidikan karakter merupakan sesuatu yang telah hilang dari dunia pendidikan kita. Karena itu, sangat wajar jika gagasan pendidikan karakter di sekolah mendapat apresiasi yang dahsyat dari masyarakat. Gagasan pendidikan karakter menjadi semacam obat rindu bagi sesuatu yang nyaris hilang dalam kesadaran masyarakat kita. Dan kita pasti paham bahwa kerusakan bangsa ini sebagian besar disebabkan oleh ketiadaan karakter yang jelas dan positif.
Namun belum ‘mingkem’ koar-koar Mendiknas tentang pendidikan karakter, dunia pendidikan kita dibuat ‘ternoda’, yang justru dipicu oleh kebijakan Mendiknas sendiri yang kurang tepat. Beberapa waktu lalu dunia pendidikan kita dibikin heboh oleh berita perihal contek massal yang dilakukan oleh salah satu sekolah ketika pelaksanaan unas. Adalah Siami, orang tua Al, murid yang disuruh memberi contekan kepada teman-temannya, yang melaporkan kepada kantor disdik setempat.
Alasan Bu Siami melaporkan contek massal tersebut adalah  tidak terima anaknya diajari tidak jujur. Siapa pun yang waras pasti membenarkan tindakan yang dulakukan Bu Siami. Betapa tidak ? Bertahun-tahun dengan susah payah menanamkan nilai kejujuran kepada putranya tersebut, dengan begitu saja dihancurkan oleh pihak sekolah, sebuah lembaga formal yang diharapkan dapat mempertinggi akal dan budi putranya itu, dengan mendoktrin nilai yang justru berlawanan dengan kejujuran.
Tapi, apa yang didapatkan ibu yang berani tersebut dan putranya? Read more…

Pendidikan Karakter : Akankah Menjadi Pepesan Kosong ?

4 Mei 2011

Kira-kira sejak dua tahun lalu, tiba-tiba istilah pendidikan karakter menjadi populer. Hampir setiap orang yang berbicara tentang pendidikan, selalu mengucapkan istilah tersebut. Bahkan, beberapa sekolah dengan berani memproklamirkan diri sebagai sekolah berbasis pendidikan karakter.

Secara iseng penulis bertanya ke beberapa teman mengenai pengertian dan implementasi pendidikan berkarakter ini. Mereka ada yang guru, kepala sekolah, mahasiswa, wali murid atau masyarakat yang punya minat terhadap bidang pendidikan. Dari mereka, penulis memperoleh pendapat yang beraneka ragam. Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.