Feeds:
Tulisan
Komentar

Jika sebelumnya Sungkowo, Direktur Pembinaan SMA Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Depdiknas, melemparkan ‘bola panas’ perkara terjadinya kecurangan unas pada siswa, kini giliran bosnya, mendiknas Bambang Sudibyo yang ‘berakrobat’ serupa. Dalam salah satu berita yang ditayangkan Jawa Pos edisi sabtu, 6 Juni 2009, si bos melemparkan kasus kecurangan unas ini kepada BSNP : Lanjut Baca »

Dunia pendidikan kita kembali dibikin malu oleh kecurangan pada saat unas, yang berbuntut 19 SMA muridnya tidak lulus 100%. Peristiwa curang semacam ini sebenarnya bukan barang baru dalam pelaksanaan unas kita. Cuma, kali ini mungkin yang paling dahsyat. Bayangkan, seluruh murid kelas XII di 19 SMA melakukan kecurangan berjamaah. ( Kalo yang ketahuan 19 sekolah, yang nggak ketahuan berapa ya ? )

Anggaran cukup besar telah disiapkan untuk pelaksanaan unas itu, baik yang berasal dari pemerintah mau pun dari masyarakat. Sebagai catatan : meski pemerintah gembar-gembor bahwa masyarakat tidak dipungut biaya untuk pelaksanaan unas, toh kenyataan masyarakat harus membayar juga supaya anaknya bisa mengikuti unas. Ini terutama terjadi pada sekolah-sekolah swasta. Perlu diketahui, untuk pelaksanaan unas ini, sekolah-sekolah swasta harus menyetor sejumlah uang ke panitia sub rayon masing-masing. Ketua sub rayon ini biasanya adalah berasal dari sekolah-sekolah negeri. Lanjut Baca »

Saya dibikin terkejut membaca berita harian Kompas edisi Jum’at, 8 Mei 2009. Berita tersebut berjudul : “Pemberantasan Korupsi Terancam”.

Jakarta, Kompas – Pemberantasan korupsi menghadapi ancaman. Ini terlihat setelah sejumlah anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat mempertanyakan keabsahan keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi setelah Antasari Azhar diberhentikan sementara oleh Presiden.

Antasari adalah Ketua KPK. Ia diberhentikan sementara oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (7/5), karena menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen di Tangerang, Banten, 14 Maret.

Tak lakukan penyidikan

Bahkan, dalam rapat dengar pendapat di Gedung DPR, Jakarta, Kamis, sejumlah anggota Komisi III DPR meminta KPK tidak melakukan penyidikan dan penuntutan selama anggota komisi itu belum kembali berjumlah lima orang. Rapat Komisi III DPR dengan KPK itu digelar untuk menyikapi status tersangka dan penahanan Antasari.” ( Kompas edisi Jum’at, 8 Mei 2009 ) Lanjut Baca »

Setiap tanggal 2 Mei kita selalu memperingati Hari Pendidikan Nasional ( Hardiknas ). Dipilihnya 2 Mei sebagai Hardiknas adalah dikaitkan dengan kelahiran seorang tokoh nasional yang telah banyak berjasa dalam memajukan bangsa kita, terutama di bidang pendidikan. Tokoh tersebut adalah Ki Hajar Dewantoro, yang namanya kecilnya Raden Mas Soewardi Soeryoningrat.
Ki Hajar Dewantoro dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Ia berasal dari keluarga keraton, Puro Paku Alaman, Yogyakarta. Nama Ki Hajar Dewantoro mulai ia gunakan sejak berusia 40 tahun menurut hitungan tahun Caka. Sejak saat itu gelar kebangsawanannya tidak pernah dipergunakannya lagi. Tujuannya, supaya lebih bebas dekat dan bergaul dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Lanjut Baca »

Setahun lalu, tepatnya 20 Mei 2008, Bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke 100. Peringatan itu dilakukan besar-besaran secara nasional. Tak tanggung-tanggung, pemerintah samapai membentuk panitia khusus untuk memperingati hari besar tersebut dan Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono, memberi sambutan yang cukup panjang pada acara pembukaan acara itu. Tujuan dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional ( Harkitnas ) yang ke 100 adalah untuk menggelorakan kembali jiwa dan semangat kebangkitan nasional kepada segenap komponen bangsa. Tujuan akhir yang hendak dicapai melalui peringatan ini adalah memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju Indonesia Jaya.

Di dalam sambutannya, secara eksplisit Presiden SBY mengemukakan :”Dan kita semua bertekad, memasuki abad ke 21 ini, Indonesia dapat benar-benar menjadi bangsa yang maju, yang kuat, an yang unggul. “ Bayangkan, betapa dahsyat cita-cita tersebut. Saya yakin, setiap warga negara Indonesia pasti punya impian seperti itu ? Tapi, bagaimana kenyataannya? Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »