Mengingat fenomena di atas, mau tidak mau kita harus memikirkan perlunya pendidikan moral. Secara teoritas dan faktual, pendidikan moral yang pertama dan utama adalah di rumah. Dari orang tua atau significant others yang lain anak-anak pertama kali memperoleh nilai-nilai moralitas yang digunakan sebagai  acuan untuk hidup bersama. Tetapi harus pula diakui bahwa menyerahkan pendidikan moral sepenuhnya kepada orangtua ternyata tidaklah memadai. Faktor pertamanya adalah lingkungan keluarga terlalu sempit sebagai tempat mendapatkan dan berlatih menerapkan nilai-nilai moral. Yang kedua, banyak orangtua masa kini hampir tidak punya waktu untuk mendidik anak-anak. Ketiga, seringkali nilai-nilai yang diberikan guru lebih diikuti oleh anak-anak daripada dari orangtuanya.
Faktor-faktor tersebut memberikan pendidikan moral menjadi sebuah imperatif bagi sekolah. Persoalannya adalah bagaimana pendidikan moral tersebut diberikan di sekolah ? Apakah harus menambah pelajaran baru ( mis, budi pekerti ) ? Atau memasukkan unsur-unsur pendidikan moral ke dalam berbagai mata pelajaran yang dipandang relevan sebagaimana halnya dengan PMP di era Orba dulu ?
Konon, kurikulum sekolah-sekolah kita ini tergolong terpadat dibandingkan dengan kurikulum di negara-negara lain. Artinya, murid-murid kita tergolong manusia-manusia muda yang paling “tersiksa” dibandingkan rekan-rekan mereka dari negara lain akibat beban kurikulum yang amat sarat tersebut. Karena itu, adalah mustahil untuk menambah beban mereka dengan memasukkan pendidikan moral ke dalam kurikulum pendidikan/sekolah.
Pada hemat saya, pendidikan moral sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan yang tak tertulis atau yang biasa disebut dengan hidden curriculum. Dengan hidden curriculum ini, maka pendidikan moral tidak akan memberi beban tambahan bagi murid.

Implementasi Hidden Curriculum
Kehidupan di sekolah bisa disebut sebagai miniatur kehidupan sosial di masyarakat. Kehidupan sosial di masyarakat memerlukan seperangkat nilai, yang salah satunya adalah nilai-nilai moral, untuk mengatur kehidupan bersama agar tidak terjadi chaos. Di samping untuk mengatur kehidupan bersama, nilai-nilai moral juga diperlukan untuk membangkitkan rasa kemanusiaan supaya timbul rasa saling menghormati dan mengasihi antara satu dan lainnya. Melalui hidden curriculum ini nilai-nilai moral tersebut diinternalisasikan ke dalam sistem kesadaran murid.
Seperti kehidupan di dalam kelas yang di dalamnya terdapat banyak murid yang berinteraksi satu dengan lainnya. Sebagai salah satu bentuk kehidupan sosial, kelas juga membutuhkan seperangkat nilai untuk mengatur hubungan atau interaksi antara murid dengan murid atau murid dengan guru sehingga tercipta interaksi yang sehat dan saling menguntungkan. Tidak saling merugikan. Nilai-nilai yang dimaksud berupa aturan-aturan yang mesti disepakati dan dilaksanakan bersama. Misalnya, di dalam kelas saat pelajaran tidak boleh mengaktifkan hp; ketika ada teman atau guru yang sedang berbicara yang lain harus mendengarkan; harus menggunakan pakaian yang sopan, tidak boleh tidur saat jam pelajaran; menjaga kebersihan kelas dan lain sebagainya.
Selain itu, dalam berbicara pun harus digunakan adab dan sopan santun dalam berbicara. Misalnya ketika tidak menyetujui pendapat teman atau guru, dengan mengatakan “menurut hemat saya…”, “saya kurang sependapat dengan pendapat A atau Bapak, karena …..” Ketika guru mendapati sebuah pendapat yang kurang sopan, misalnya ada murid mengatakan “pendapatmu itu kurang mutu”, “hanya orang bodoh yang berpendapat demikian”, “Anda itu kok goblog banget sih, saya kan sudah mengatakan tadi” dan seterusnya, guru harus menegur murid yang bersangkutan untuk menghindari menggunakan kalimat-kalimat semacam itu.
Persoalannya sekarang adalah menerapkan aturan-aturan semacam itu bukanlah hal yang mudah. Seringkali aturan sudah dibuat, bahkan ditempelkan dibeberapa tempat strategis supaya selalu terbaca oleh murid, namun dalam pelaksanaannya nol. Baik murid mau pun gurunya sama-sama mengabaikan aturan-aturan tersebut. Akhirnya, tata tertib atau aturan tersebut hanyalah sekadar hiasan dinding belaka.
Untuk menghindari hal semacam itu, maka aturan yang dibuat haruslah masuk akal bagi murid. Artinya, mereka harus mengerti kegunaan dari aturan-aturan tersebut. Misalnya, guru memberi toleransi terlambat masuk kelas maksimal 5 menit sejak jam pelajaran dimulai. Dalam hal ini guru harus menjelaskan bahwa jika sampai keterlembatan dibiarkan berlarut-larut, maka murid-murid yang terlambat tersebut akan sangat mengganggu kegiatan belajar yang sedang berlangsung. Keterlambatan tersebut sangat merugikan teman-teman lainnya. Begitu pula denga  aturan-aturan lainnya, pihak sekolah harus selalu menjelaskan kepada murid mengapa mereka tidak boleh begini atau tidak boleh begitu.
Di samping memberi penjelasan alasan dari aturan-aturan yang akan ditetapkan, sekolah atau guru juga harus memberi ruang bagi murid untuk menolak beberapa aturan dengan alasan yang jelas. Dan jika terjadi penolakan, antara sekolah/guru dan murid harus melakukan diskusi untuk membahas item-item yang ditolak. Jika ternyata murid-murid mampu memberikan argumen yang logis dan tidak merugikan pihak lain, maka sekolah/guru harus bersedia membatalkan item-item aturan yang ditolak tersebut. Dengan membuka ruang diskusi semacam ini akan menyebabkan murid akan benar-benar memahami dan menghayati pentingnya aturan-aturan untuk ditaati.
Setelah terjadi kesepakatan, maka dalam pelaksanaannya, guru harus menjadi pelopor untuk mentaatinya. Misalnya, kalau sudah disepakati keterlambatan masuk kelas maksimal 5 menit, maka guru juga harus taat pada aturan tersebut. Kalau dikatakan bahwa keterlambatan melebihi 5 menit akan menganggu proses belajar mengajar di kelas, apalagi kalau gurunya yang terlambat. Tentu sangat mengganggu dan merugikan kelas. Dalam kenyataannya, kita masih sering mengamati guru-guru kurang konsisten dalam mentaati aturan-aturan sekolah. Mereka hanya gembar-gembor tentang aturan dan nilai-nilai tetapi perilakunya tidak mencerminkan apa yang digembar-gemborkan. Jika ini yang terjadi, maka jangan pernah diharap murid-murid akan memegang aturan atau nilai-nilai yang ada. Justru sebaliknya yang terjadi. Murid-murid akan beranggapan bahwa apa yang dikatakan tidak harus sama dengan apa yang dilakukan. Maka tidak perlu heran jika saat ini banyak kita dapati orang-orang munafik, orang-orang yang hanya lihai melantunkan lagu-lagu moralitas, tetapi perilakunya bejat. Barangkali ini bersumber dari perilaku tidak konsisten dari para guru.

Tolong-menolong adalah salah satu nilai penting dari budaya kita yang kini mulai luntur. Nilai-nilai ini bisa dibangun didalam kelas. Misalnya, pernah dalam salah satu kelas yang saya ajar beberapa tahun silam, murid-murid setiap hari senin mengumpulkan uang di bendahara kelas. Setelah saya tanya untuk apa uang tersebut, apakah untuk persiapan membayara study exercursive atau beli buku paket ? Ternyata bukan. Uang itu mereka kumpulkan untuk membantu membayarkan SPP dua teman mereka yang ayahnya sedang terkena PHK. Murid-murid di kelas itu merasa prihatin karena kedua teman yang ayahnya ter-PHK tersebut akan berhenti sekolah. murid-murid di kelas itu berjanji bahwa mereka akan terus membantu biaya pendidikan bagi keduanya sampai lulus kelak atau sampai orangtua mereka mampu membiayai kembali. Padahal, saat itu mereka baru menginjak ke kelas dua.
Terus terang saya penasaran, bagaimana anak-anak muda yang biasanya bergaya hidup ala sinetron itu bisa memiliki kepedulian sebegitu dahsyat. Setelah saya telesuri, ternyata akibat dari kelihaian wali kelasnya dalam menumbuhkan rasa solidaritas seperti itu. Dengan contoh ini, nyatalah bahwa jika ada guru yang mampu mengetuk hati murid-muridnya, maka benih-benih solidaritas akan tumbuh di nurani masing-masing murid.
Hidup bersama di sekolah tidak sebatas meliputi antara murid dengan murid atau  murid dengan guru saja. Di sana juga ada staf TU, petugas kebersihan, tukang sapu, penjaga sekolah atau yang lain yang terkategorikan kurang beruntung dalam strata sosial kita. Secara sadar atau tidak, seringkali kita mengabaikan nilai-nilai dalam berhubungan dengan mereka. Pernah pada suatu sarasehan yang saya ikuti yang diadakan oleh kelompok yang sering disebut dengan “orang belakang” ini, ada salah satu tukang sapu mengeluh demikian,
“Lha iya, mbok guru-guru itu memberi contoh murid-muridnya tentang sopan santun. Saya ini sering melihat perilaku tidak sopan dari guru-guru itu. Pada waktu saya ngepel lantai, mereka mondar-mandir lewat lantai basah yang masih sedang saya pel tanpa ngomong permisi atau apa. Padahal di situ banyak murid yang menunggu mau lewat. Murid-murid itu tidak mau lewat dulu sebelum saya selesai dan menunggu lantainya kering. Eh gurunya yang malah ngajari gak ngerti sopan santun.”
Ya, karena kita terbiasa memandang sesama atas dasar kacamata strata sosial, sering membuat kita lupa tentang nilai-nilai kemanusiaan. Padahal, perilaku kita sebagai guru seringkali menjadi model contoh bagi murid-murid kita. Nah, kalau gurunya kurang ngerti adab dan sopan santun, tidak berperilaku berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, abai terhadap kesusahan yang diderita sesama, lebih mementingkan diri, sering menampilkan perilaku memeras ( misalnya, memaksa murid membeli buku pelajaran ), bagaimana pula perilaku murid-muridnya ? Tentu akan lebih parah. Oleh karena itu, jika kita hendak mendidik murid-murid dengan nilai-nilai moral dan etika, mau tidak mau guru harus memberi contoh dari perilaku yang diharapkan dari pendidikan moral dan etika tersebut. Atau dengan kata lain, kita, para guru, harus merekonstruksi moralitasnya sendiri lebi dulu.