You are currently browsing the monthly archive for Maret, 2008.
Suatu sore, rumah teman saya, seorang pimpinan sebuah instansi pemerintahan yang hampir pangsiun, dibuat geger oleh kedatangan beberapa petugas kejaksaan yang tidak diundang. Tamu tak diundang tadi mengundang teman saya untuk bertamu ke kantor kejaksaan saat itu juga. Pertanyaan teman saya mengapa kejaksaan mengundanya tidak dijawab oleh tamu tadi. Maka, dengan sejuta tanya di ubun-ubun teman saya mengikuti kemauan sang tamu.
Hingga larut malam teman saya tidak pulang. Keluarganya mulai resah dan gelisah. Anak-anak dan ibunya bertanya-tanya mengapa Bapak belum juga pulang ? Sementara hand phonenya tidak bisa dihubungi. Semalaman mereka tidak tidur menunggu kabar berita pahlawan keluarga.
Esoknya, sekitar pukul 6 pagi, telepon di ruang tamu berdering. Mereka grudugan mendekati telpon. Setelah diangkat, suara sang pahlawan dari seberang sana.
“Dik, tampaknya untuk sementara waktu yang tidak bisa ditentukan, aku tidak bisa pulang,” jelas teman saya dengan suara lelah, karena semalaman dia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan petugas kejaksaan.
“Kenapa Mas ?!” Jerit sang istri.
“Aku didakwa menggelapkan uang negara.”
Sejak itu, teman saya menjalani hari-harinya di bui, karena hakim memutuskan bahwa dia dituduh melakukan tindak korupsi. Read the rest of this entry »
Salah satu faktor memburuknya perekonomian nasional saat ini adalah rendahnya mental wiraswasta yang dimiliki bangsa kita. Akibatnya, daya juang, need for achievement, atau dorongan berusaha sebagian masyarakat kita rendah. Di pihak lain, bangsa kita yang kebetulan berada di level atas, lebih suka menjadi makelar. Lebih menggadaikan aset bangsa kepada pihak asing daripada berusaha memberdayakan SDM sendiri untuk mengelolanya. Akibat lanjutannya, banyak pakar mensinyalir, kebijakan-kebijakan kita banyak dikendalikan oleh the invisible hand ( meminjam istilah Pak Amien Rais ) yang memegang tengkuk birokrasi kita. Sehingga, bisa dikatakan kita ini terjajah dalam alam kemerdekaan.
Persoalannya, faktor apa saja yang membuat kita miskin mental wiraswasta ? Sejak kapan hal itu terjadi ? Read the rest of this entry »
Seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini, 5 Maret 2008, sesampai di kantor saya langsung buka internet untuk browsing berita-berita koran. Tanpa bi bu ba,saya langsung buka salah situs koran , di halaman utama. Mata saya langsung melotot hingga hampir copot dari kelopak ketika membaca judul berita :”Denda-Diskon Listrik Berlaku Mulai April.” Si Purwono, Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM, bilang kalau PLN akan melakukan sosialisasi selama satu bulan dan pada 1 April 2008, tarif progresif ini mulai diberlakukan. Si Purwono juga bilang bahwa setelah ini ( mungkin yang dimaksud sosialisasi selama satu bulan tersebut ), tidak bisa mundur lagi.
Semula saya berpikir kalau si Purwono ini sedang mbanyol. Pasalnya, menurut berita kemarin, 4 Maret 2008, setelah melakukan Raker ESDM dengan Komisi VII DPR kemarin, si Purwono mengumumkan penundaan penerapan tarif progresif sampai waktu yang belum ditentukan. Saat itu, Purnomo berkilah belum ada instruksi resmi dari Kementerian ESDM selaku regulator di sektor energi kelistrikan kepada PLN untuk memberlakukan tarif listrik progresif. “Kami berpegang pada petunjuk presiden,” ujarnya. ( jadi ingat omongannya Harmoko sewaktu menjadi Menpen ). Ternyata pengumuman penerapan tarif progresif yang akan diberlakukan mulai 1 April mendatang bukan banyolan. Tapi sungguhan.
Sejak bulan ini, mau tidak mau, seluruh masyarakat Indonesia harus melakukan penghematan penggunanaan listrik. Pasalnya, mulai bulan ini, pemerintah akan mengenakan pemberian insentif bagi pelanggan yang menggunakan maksimal 80% dari rata-rata penggunaan listrik rata-rata nasional. Insentifnya sebesar 20%. Sebaliknya, pelanggan yang mengkonsumsi listrik melebihi 80% akan dikenai disinsentif ( denda ? ) sebesar 1.6 kali alias 160% terhadap kelebihan dari angka 80% tersebut. Read the rest of this entry »










Komentar Terakhir