You are currently browsing the category archive for the 'Enterpreunership' category.
Salah satu faktor memburuknya perekonomian nasional saat ini adalah rendahnya mental wiraswasta yang dimiliki bangsa kita. Akibatnya, daya juang, need for achievement, atau dorongan berusaha sebagian masyarakat kita rendah. Di pihak lain, bangsa kita yang kebetulan berada di level atas, lebih suka menjadi makelar. Lebih menggadaikan aset bangsa kepada pihak asing daripada berusaha memberdayakan SDM sendiri untuk mengelolanya. Akibat lanjutannya, banyak pakar mensinyalir, kebijakan-kebijakan kita banyak dikendalikan oleh the invisible hand ( meminjam istilah Pak Amien Rais ) yang memegang tengkuk birokrasi kita. Sehingga, bisa dikatakan kita ini terjajah dalam alam kemerdekaan.
Persoalannya, faktor apa saja yang membuat kita miskin mental wiraswasta ? Sejak kapan hal itu terjadi ? Read the rest of this entry »
David Mc Clelland membuat kupasan yang menarik tentang peranan orang-orang dengan mental tertentu terhadap kemajuan bangsanya. Dalam bukunya The Achieving Society ( 1961 ), ia menguraikan bahwa ‘dorongan untuk mencapai keberhasilan’ merupakan faktor determinan, tidak saja bagi keberhasilan individu, tapi juga bangsa dalam memperoleh kemajuan hidup. Artinya, berhasil tidaknya sebuah bangsa dalam melaksanakan pembangunan bergantung pada jumlah penduduk yang mempunyai ‘dorongan untuk berhasil’ need for achieving ini. Dorongan ini oleh David Mc Clelland dinamakan ‘virus N Ach’.
. Dari kupasan tersebut terungkap bahwa salah satu faktor yang menjadikan maju-tidak majunya sebuah bangsa ialah banyak-sedikitnya penduduk masyarakat bangsa-bangsa tersebut yang terjangkiti virus N Ach. Semakin banyak anggota masyarakat yang terjangkit, semakin maju bangsa tersebut.
Seseorang yang terjangkit virus ini menampilkan perilaku yang selalu ingin meraih prestasi, bekerja keras, penuh tanggungjawab, dan berani mengambil resiko. Bukankah ciri-ciri ini juga menjadi ciri dari wiraswasta. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa maju atau terbelakangnya suatu bangsa salah satunya ditentukan sedikit-banyaknya jumlah penduduk yang bermental wiraswasta di dalam bangsa tersebut. Read the rest of this entry »
Di dalam banyak literatur, antara istilah wiraswasta dengan wirausaha sering berganti tempat alias artinya dianggap sama. Memang ada sebagian ahli membedakan pengertian kedua istilah tersebut. Tetapi pembedaan itu, menurut hemat penulis, tidaklah terlalu signifikan. Karena itu, demi memudahkan pembahasan, dalam tulisan ini kedua istilah itu dianggap sama artinya. Kamus Besar Bahasa Indonesia juga tidak membedakan arti kedua istilah tersebut.
Jika dilihat secara etimologis, istilah wiraswasta berasal dari dua kata, yakni ‘wira’ dan ‘swasta’. Wira memiliki arti berani, utama, atau perkasa. Sedangkan swasta ternyata juga berasal dari dua kata, yakni ‘swa’ dan ‘sta’. Swa artinya sendiri, dan sta, berarti berdiri. Jadi, swasta bisa dimaknai berdiri di atas kekuatan sendiri. ( Wasty Soemanto, 1984 : 43 ).
Dengan melihat arti etimologis di atas bisa diambil pengertian wiraswasta ialah keberanian, keutamaan, atau keperkasaan dalam berusaha dengan bersandar pada kekuatan sendiri. Read the rest of this entry »
Mak Jila adalah pedagang jamu gendong yang biasanya berkeliling menjajakan dagangannya di kawasan Perumahan Pondok Blimbing Indah, Blimbing, Malang. Bermacam-macam jenis jamu dibawanya berkeliling setiap hari. Mulai beras kencur, kunci sirih, kuat lelaki, sari rapet yang digemari ibu-ibu, hingga jamu pelangsing yang disuka para gadis remaja.
“Setiap hari biasanya saya membawa pulang antara Rp.10.000,- sampai Rp.15.000,- Modalnya sekitar Rp.5.000,- Jadi masih ada keuntungan antara Rp.5.000,- sampai Rp.10.000,- Lumayan Mas buat membantu bapaknya anak-anak untuk menutupi kebutuhan keluarga.” Ungkap Mak Jila suatu hari kepada saya.
Mas Alimin si pedagang soto Lamongan, Cak Gino bakul bakso, Lek Goni penambal ban, dan Mas Harto si tukang becak adalah pelanggan-pelanggan tetap Mak Jila. Paling tidak seminggu dua kali mereka minum jamu Mak Jila, terutama Lek Goni yang kesukaannya jamu kuat lelaki, bisa sampai tiga hingga empat kali seminggu.
WIRASWASTA = USAHANYA ORANG MELARAT ?
Kalau kita amati tokoh-tokoh di atas, Mak Jila dan para pelanggan tetapnya, adalah masyarakat kalangan bawah yang memiliki usaha sendiri. Mereka ini adalah kelompok masyarakat yang tidak memiliki ijazah formal yang memadai sehingga tidak bisa bekerja di instansi pemerintah maupun swasta. Karena itu, mereka harus membuka usaha sendiri demi menghidupi diri dan keluarganya. Minimnya modal finansial dan pendidikan formal tidak membuat mereka putus harapan. Mereka terus berjuang sekuat tenaga demi mempertahankan hidup. Mereka ini dinamakan bekerja di sektor informal. Orang umumnya mengatakan mereka bekerja sebagai wiraswasta atau wirausaha.
Dengan demikian, yang biasa dinamakan wirausaha atau wiraswasta itu adalah usahanya orang-orang yang tidak memiliki ijazah formal memadai dan tidak punya modal cukup. Dengan latar belakang pendidikan dan finansial yang minim, otomatis usahanya sangat kecil dan dikelola secara tidak professional. Dengan bahasa lain, wiraswasta adalah identik dan sebangun dengan usaha orang melarat dan kurang pendidikan.
Stigmatisasi demikian menyebabkan banyak orang tidak mau terjun ke dunia wiraswasta. Termasuk anak-anak muda yang baru lulus sekolah atau lulus kuliah. Mereka lebih suka jadi karyawan atau buruh orang lain daripada mengelola usaha sendiri. Yang lebih parah, para orangtua pun akan sangat malu jika setelah lulus anaknya tidak bisa bekerja di pabrik atau kantor pemerintahan dan ‘terpaksa’ harus menggeluti usaha sendiri alias berwiraswasta. Terjun ke dunia wiraswasta bagi lulusan baru dipandang sebagai aib, karena hal itu menunjukkan lamaran kerjanya ditolak di mana-mana. Dan setelah lamarannya ditolak di mana-mana, mereka ‘terpaksa’ menggeluti dunia wiraswasta, dengan harapan kalau suatu ketika salah satu lamarannya diterima, ia akan tinggalkan dunia wiraswasta ini. Mereka yang bermental demikian, tak akan pernah berhasil dalam berwiraswasta, karena tidak dilakukan dengan kesungguhan hati.
Suatu hari penulis pernah menemui sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan. Hari itu, dalam perjalanan pulang selepas mengajar, penulis kebetulan bersama dengan seorang pemuda yang di wajahnya terpancar sorot intelektual yang lumayan.
Dari obrolan yang tak begitu lama, penulis mengetahui bahwa ia baru setahun lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri di kota Malang ini. Dia bergelar Insinyur Pertanian. Dari ceritanya pula penulis tahu bahwa orang tuanya, di desa sana, memiliki sawah yang yang tak begitu luas. Karena orangtuanya sudah cukup tua, kakak-kakaknya sudah pindah di kota besar dan hidupnya relatif mapan, maka sawah tadi diserahkan kepada pemuda ini.
“Kalau begitu Anda bisa menerapkan ilmu Anda, ya ?” tanya saya.
“Oh tidak. Sawah itu saya sewakan,” jawabnya singkat, “Saya dan orang tua saya tidak menginginkan saya jadi petani.”
“Bukankah Anda Insinyur Pertanian ?” tanya saya tak mengerti.
“Justru itu saya tidak ingin jadi petani. Menjadi petani dengan lahan seluas itu sangat susah. Lagi pula, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau sekadar ingin menjadi petani. Orang tua saya tak sekolah juga bisa jadi petani,” jawabnya meremehkan.
Apa yang dikatakan pemuda tadi merupakan fenomena yang banyak kita temui di tengah masyarakat. Apakah Anda juga berpikir demikian ?
Ada contoh lain lagi. Tetangga saya, Haji Sama’i, mantan sekretaris desa, punya pandangan yang sangat unik yang betentangan dengan pandangan masyarakat pada umumnya. Beliau punya anak empat orang. Tiga di antaranya laki-laki. Terhadap anak-anaknya yang laki-laki, satu per satu selepas lulus SLTA, Pak Haji memberi mereka tawaran yang kedengaran nyeleneh.
“Sekarang kau sudah lulus SMA ( begitu Pak Haji menyebut SMU ). Mulai sekarang kau harus belajar menentukan nasibmu sendiri,”ujarnya. “Bapak punya uang sekian juta. Uang ini akan Bapak berikan padamu. Kau bebas menggunakannya. Kau boleh gunakan untuk melanjutkan sekolah atau membuka usaha sendiri. Yang jelas, setelah kau terima uang ini, Bapak tidak akan memberimu uang lagi.”
Melihat uang yang begitu besar, tentu saja anak-anak yang masih muda itu terbengong-bengong. “Maksud Bapak bagaimana ?”
“Uang itu, Insya Allah, cukup untuk kau gunakan membiayai kuliah dan hidupmu selama empat tahun ke depan. Tapi, jika kau tidak suka kuliah, kau bisa gunakan uang itu untuk membuka usaha sendiri, meski kecil-kecilan dulu. Silakan kau renungkan dan tentukan pilihan yang mana yang cocok buatmu.”
Secara kebetulan, anak-anak itu semuanya memilih membuka usaha sendiri. Barangkali mereka berpikir toh setelah lulus nanti juga masih harus mencari-cari pekerjaan. Lebih baik uang tersebut langsung dipakai untuk modal usaha. Mumpung belum punya tanggungan keluarga, kemungkinan untuk mengembangkan usaha dan diri terbuka luas.
Keputusan mantan sekretaris desa dan ketiga putranya ini sempat menjadi pergunjingan tetangganya. Mereka menuduh orangtua ini pelit kepada anak-anaknya. “Orang hartanya cukup kok sayang buat menyekolahkan anak-anaknya”, gunjing mereka. Bagaimana pendapat Anda mengenai sikap Pak Haji dan tetangga-tetangganya ini?
Dari ilustrasi di atas tampak bahwa bekerja di sektor wiraswasta merupakan sesuatu yang bercitra kurang baik. Insinyur pertanian di atas lebih memilih bekerja pada orang lain daripada bertani menerapkan ilmunya. Bagi dia, menjadi karyawan lebih mulia daripada bertani mengelola sawahnya sendiri, meski dia adalah insinyur pertanian. Sedangkan bagi tetangga P.Haji Sama’i, adalah lebih mulia melanjutkan studi ke perguruan tinggi daripada memulai terjun ke dunia wiraswasta. Asumsinya, kalau melanjutkan ke perguruan tinggi, setelah lulus akan mempunyai gelar sarjana. Dengan gelar ini, seseorang memiliki kesempatan melamar pekerjaan lebih luas. Jadi, orang masih beranggapan bahwa menjadi karyawan sebuah instansi, baik negeri maupun swasta, adalah lebih baik daripada membuka usaha sendiri.
Anggapan lain mengenai makna wirausaha adalah kegiatan wirausaha ini akan berhasil hanya di tangan orang-orang yang berbakat saja. Bagi yang tidak berbakat, jangan coba-coba, pasti gagal. Artinya, kemampuan wiraswasta adalah sesuatu yang ‘taken for granted’ alias tidak bisa dipelajari. Anggapan semacam ini membawa dampak yang luar biasa. Pertama, orang tidak akan pernah berani berwiraswasta karena tidak yakin apakah ia berbakat atau tidak. Karena itu, ia lebih suka memilih menjadi karyawan alias buruhnya orang lain. Kedua, sekolah, sebagai salah satu institusi pendidikan yang berkewajiban mengantar anak-anak muda memasuki masa depannya, kurang sungguh-sungguh dalam menggembleng siswanya dalam berwiraswasta, buat apa dididik susah-susah kalau tidak ada bakat. Sehingga, pelajaran kewirausahaan hanya diberikan secara teoritis saja. Padahal, kewirausahaan ini bukan sekadar urusan teori an sich, tetapi justru berkenaan dengan mental dan ketrampilan. Memberi pelajaran kewirausahaan secara teori tanpa latihan hampir tidak ada artinya kecuali sekadar membebani murid-murid dengan hafalan-hafalan semata. Ibarat mengajar renang di lapangan sepak bola. Betapapun baik metode mengajar sang guru, murid-murid tidak akan pernah bisa berenang.
Fenomena lain adalah memberi pelajaran kewirausahaan secara parsial. Artinya, ada sekolahan tertentu yang menerjemahkan pelajaran kewirausahaan dengan memberikan pelajaran-pelajaran tentang tata buku; Ada lagi yang mengartikan dengan melatih memasarkan berbagai macam produk. Sekolah mendatangkan produk-produk dari luar dan murid-murid diberi tugas memasarkannya; Sementara itu, yang lainnya hanya mengajarkan ketrampilan membuat aneka macam produk, tanpa memasarkannya. Akibatnya, akan lahir orang-orang yang hanya pandai memproduksi tetapi tidak bisa memasarkan, atau bisa pembukuan tapi tidak bisa memproduksi maupun memasarkan, atau orang yang hanya bisa memasarkan tapi tidak bisa memproduksi dan tidak mengerti pembukuan.
Kelompok ketiga ini, yang hanya dilatih memasarkan, masih lumayan, karena ia masih bisa berusaha secara mandiri meski harus mengambil produk-produknya orang lain. Sedangkan kelompok pertama dan kedua kemungkinan besar tidak akan mampu berwiraswasta, tetapi hanya bisa menjadi pekerjanya orang lain.
Penerjemahan pelajaran kewirausahaan secara parsial seperti itu seringkali mendapat respon negatif dari orangtua murid, terutama sekolah yang hanya memberikan tugas pemasaran. Sekolah dipandang mengeksploitasi murid-muridnya.
Pendidikan kewirausahaan harus berdiri di atas sebuah asumsi bahwa mental wirausaha atau wiraswasta diperoleh dari pendidian atau latihan, bukan bawaan dari sononya. Tanpa asumsi demikian, maka pelajaran kewirausahaan akan berjalan di atas ketidakpastian. Bayangkan, andai kita percaya bahwa mental wirausaha ini merupakan bawaan dari lahir, mungkinkah kita akan memberi pendidikan kewirausahaan dengan serius ? Tentu tidak.
Pelajaran kewiraswastaa harus diberikan secara holistic, menyeluruh. Mulai dari produksi, pemasaran, sampai manajemen sederhana. Hal ini karena ketrampilan berwirausaha adalah lebih merupakan kemampuan mental daripada ketrampilan fisik semata. Pengajaran secara parsial hanya akan menyentuh aspek fisik semata. Murid tidak akan pernah memahami dan menghayati seluk beluk dunia wiraswasta. Karena itu, pendidikan dengan pola demikian hasilnya hampir bisa dipastikan akan gagal.
Bagaimana pendidikan kewirausahaan yang holistic itu ?
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, pendidkan kewirausahaan harus meliputi keseluruhan dari usaha wiraswasta. Mulai dari proses perencanaan, produksi, pemasaran, sampai manajemennya. Apakah hal itu cukup diberikan secara teori saja ? Tentu saja tidak. Murid harus mengalami kegiatan wirausaha tersebut beserta segala konsekuensinya, yakni keuntungan atau kerugian. Ini berarti murid-murid harus belajar berwiraswasta secara riil. Teori diberikan hanya untuk menunjang kegiatan tersebut.
Adapun urut-urutannya adalah sebagai berikut. Mula-mula mereka diberi gambaran selintas mengenai dunia wirausaha. Yang termasuk hal ini ialah mengenal teori-teori mengenai kewirausahaan, observasi langsung terhadap orang-orang yang berwiraswasta –di sini yang diutamakan home industri, karena kemungkinan setelah lulus, bagi mereka yang ingin menekuni dunia wiraswasta, tentu mereka harus memulainya dengan membuka home industri. Setelah itu, murid-murid dilatih memasarkan produk-produknya orang lain. Setelah mereka terampil memasarkan aneka produk, barulah dilatih memproduksi.
. Mengapa pemasaran diberikan lebih dahulu daripada proses produksi ? Hal ini karena pemasaran merupakan ujung tombak sebuah usaha wiraswasta. Tahap berikutnya adalah berlatih membuat rencana sebuah home industri.
Kalau kita perhatikan uraian di atas, tampaknya wiraswasta merupakan usaha partikelir, usaha sampingan, harus berusaha sendiri, dan kemampuan berwiraswasta ini tidak berguna jika seseorang bekerja di perusahaan orang lain atau sebagai pegawai negeri. Betulkah pendapat demikian?
Ketika krisis mulai melanda negeri, awal tahun ’90-an lalu, kita tiba-tiba tersentak sadar, bahwa akan terjadi krisis multidimensional yang lebih dahsyat lagi di masa mendatang. Hal ini disebabkan kekuatan ekonomi kita hanya bertumpu pada segelintir orang saja, yang sebagian besar adalah golongan non pribumi yang patut diragukan rasa kebangsaannya. Ditambah, kita , khususnya yang bertanggungjawab di bidang pendidikan kurang menyadari arti penting menyiapkan generasi muda supaya memiliki jiwa wiraswasta.
Perekonomian bangsa yang hanya berpilarkan pada segelintir manusia akan membuat perekonomian mudah ambruk. Hal ini sama dengan “menyerahkan nasib” bangsa pada segelintir orang. Kebergantungan seperti ini akan menempatkan mereka pada posisi ‘dewa penolong’. Kalau dewa tersebut lagi baik nasibnya, maka selamatlah bangsa ini. Tapi, ketika nasibnya buruk, rusaklah nasib bangsa.
Ini berbeda kalau perekonomian ditopang oleh banyak pilar. Kalau terjadi kebangkrutan pada beberapa pengusaha, masih banyak yang akan menggerakkan kehidupan perekonomian. Namun, seperti diuangkap di atas, karena perekonomian kita hanya mengandalkan segelintir konglomerat, maka ketika mereka bangkrut, bangkrutlah negeri ini. Di lain pihak, mereka adalah kelompok orang yang sangat patut diragukan rasa kebangsaannya. Buktinya, seperti dilansir beberapa media masa, para konglomerat jahat tersebut beramai-ramai melarikan uangnya ke luar negeri begitu negara ini mengalami krisis.
Pada sisi lain, sekolah-sekolah kita selama ini hanya berorientasi pada meluluskan anak-anak muda yang ‘siap pakai’, dalam arti mempersiapkan tenaga-tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan segelintir pengusaha di atas, selain untuk menjadi pegawai negeri. Ini berarti sebagian besar anak bangsa ini telah disiapkan untuk menjadi buruh, baik buruh swasta maupun buruh negara.
Dengan tujuan di atas, maka tak mengherankan kalau tugas sekolah hanyalah sekadar menyiapkan “robot-robot hidup yang trampil”. Yang kelak akan dipakai untuk melayani mesin-mesin industri. Untuk kebutuhan ini, sekolah tidak terlalu dituntut untuk mendorong keberanian dan kreativitas siswa. Sekolah cukup hanya mencetak insan-insan terampil, meski kurang kreatif, penurut alias tidak banyak tuntutan, tak peduli lingkungan sekitar, tidak memiliki kemandirian alias bergantung pada perintah, dan watak-watak lain yang serupa.
Dari kesadaran untuk memperbanyak pilar-pilar perekonomian bangsa, maka di tengah masyarakat timbul dinamika pemikiran baru. Pandangan baru ini menyatakan: sekolah juga harus bertanggung-jawab mendorong lahirnya entrepreneur-enterpreneur baru.
Tuntutan ini, langsung atau tidak, akan mengubah wajah dan tampilan pendidikan di sekolah. Secara global, sekolah kini dituntut untuk melahirkan insan-insan yang memiliki kreativitas, berani, dan mampu belajar sepanjang hayat. Dan mata pelajaran kewirausahaan atau kewiraswastaan merupakan salah satu dari upaya ini.










Komentar Terakhir