You are currently browsing the category archive for the 'Psikologi' category.

Model Konvergen dan Divergen
Saya yakin kedua istilah tersebut telah dimengerti dengan baik, konvergen dan divergen. Bahasan ini bertujuan menyegarkan ingatan kita supaya kita bisa menyadari saat menggunakannya. Hal ini dianggap perlu lantaran kita biasanya cenderung memiliki kecondongan kepada satu pola berpikir saja. Padahal pola berpikir tersebut hanya cocok untuk situasi tertentu dan tidak produktif untuk situasi lainnya. Akibatnya, kecenderungan kepada salah satu pola berpikir akan membatasi diri kita sendiri. Read the rest of this entry »

Yang pertama saya mohon maaf jika baru bisa memberi tanggapan atas pertanyaan Anda. Keterlambatan ini bukanlah karena kesengajaan, melainkan keterpaksaan. Mudah-mudahan bisa dimaklumi.
Mbak Rene, untuk menjawab pertanyaan Anda saya harus menjelaskan dulu apa dan bagaimana keselo lidah itu. Setelah itu, baru kita lihat apa yang Anda alami tergolong keseleo lidah ? Read the rest of this entry »

Tulisan ini dibuat untuk memberi penjelasan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh mas Adidthya. Jika boleh jujur, saya ingin mengatakan bahwa yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya. Pasalnya, sepanjang pengetahuan saya, istilah konflik batin belum pernah saya temukan dalam literatur-literatur dari beberapa aliran psikologi yang pernah saya baca. Berdasarkan pengamatan, istilah ‘batin’ justru sering muncul dalam karya-karya fiksi atau tulisan-tulisan yang membahas tentang kebatinan, semisal “Kawruh Bedjo”nya Ki Ageng Surjo Mentaram. Namun, istilah konflik batin merupakan sebuah realitas yang banyak berkembang alias digunakan masyarakat luas, maka dalam tulisan ini saya mencoba memberi uraian sebisa mungkin sesuai dengan kapasitas penulis. Read the rest of this entry »

Keseluruhan hidup manusia adalah terdiri dari rangkaian mencoba dan mencoba. Mulai dari mencoba belajar berjalan, sampai dengan membangun keluarga. Semuanya  adalah diawali dengan aktivitas mencoba. Bayangkan seandainya anak kecil tidak berani mencoba memulai belajar berjalan, anak-anak takut mencoba belajar membaca, remaja takut mencoba menjalin hubungan cinta, dan orang-orang dewasa takut mencoba survival. Apa jadinya ? Tentu tidak akan ada kehidupan.
Lalu apa jadinya jika ada individu tidak memiliki keberanian untuk melakukan percobaan-percobaan seperti itu ?  Tentulah, he has died. Kehidupan seperti itu adalah kehidupan yang mati alias hidup dalam kematian.
David Mc Clelland membuat kupasan yang menarik dari sisi psikologi tentang entrepreneur ini. Dalam bukunya The Achieving Society  ( 1961 ), ia menguraikan bahwa ‘dorongan untuk mencapai keberhasilan’ merupakan faktor determinan, tidak saja bagi keberhasilan individu, tapi juga bangsa dalam memperoleh kemajuan hidup. Artinya, berhasil tidaknya sebuah bangsa dalam melaksanakan pembangunan bergantung pada jumlah penduduk yang mempunyai ‘dorongan untuk berhasil’ need for achieving ini. Dorongan ini oleh David Mc Clelland dinamakan ‘virus N Ach’.
Mengapa disebut virus ? Dalam penelitiannya terhadap bangsa-bangsa, Mc Clelland menemukan unsur-unsur yang dapat menggerakkan penduduk agar memiliki  nilai-nilai yang mampu mendorong orang untuk selalu ingin berprestasi.

Read the rest of this entry »

Sebagaimana pagi-pagi sebelumnya, pagi itu aku mampir di toko Cik Lince sebelah rumah sebelum berangkat ngantor, untuk membeli satu pak rokok. Sehabis membayar rokok, aku tidak segera beranjak ngantor, tapi masih ingin ngobrol dengan Cik Lince. Bagiku ngobrol dengan Cik Lince ada keasyikan tersendiri. Pasalnya, dari dia bisa kuperoleh segala info aktual di seputar kota kecilku, Purwosari.
Tidak seperti biasanya, pagi itu Cik Lince kelihatan gak mood bicara. Padahal, biasanya banyak ucap, sampai sering aku telat ngantor gara-gara harus mendengar warta berita darinya.
“Kok keliatan lesu Cik ?” Aku memancing obrolan.
“Lha gak lesu gimana Om Billy, kemarin aku nganter keponakan mau daftar ke SMP Negeri, eh uang pangkalnya kok mahal,” keluhnya.
“Sekolah sekarang memang mahal Cik,” aku menjawab sekenanya.
“Dulu waktu kampanye janjinya bikin pendidikan murah, mana buktinya ?! Dasar nggedabrus.”
“Ya sabar saja Cik, daripada stress,” kucoba menghibur.
“Ya mesti harus sabar Om. Protes juga gak bisa.”
“Tapi Cik Lince bisa nyekolahkan keponakannya kan ?”
“Ya bisa memang, tapi ya harus ngambil uang buat kulakan. Orang tokonya sepinya setengah mati. Tapi untung Cik lince masih ada yang dijagakno, meski pakai uangnya bos ( yang dimaksud bos adalah grosir tempatnya kulakan). Yang kasihan itu kan orang seperti Mas Waras…….”
“Kenapa Mas Waras Cik ?” aku penasaran.
“Anaknya itu pinter. Danemnya tinggi. Tapi hampir tidak bisa masuk SMP Negeri, karena gak kuat bayar uang pangkal.”
“Lalu anaknya Mas Waras di sekolahkan di mana ?”
“Ya ‘dipaksa’ masuk ke SMP Negeri. Kemarin dia terpaksa nggadekno TV. Laku tujuh ratus ribu. Pas untuk bayar uang pangkal. Tapi gak tahu nti’ kalau harus beli buku dan bayar ini itu. “
                                                    *********************
Pemandangan seperti itu selalu terulang setiap tahun. Orang tua ‘dipaksa’ stress menghadapi biaya studi putra-putrinya. Mulai dari biaya uang gedung, uang seragam, uang buku, uang sepatu, uang sabuk, dan uang-uang lainnya yang bisa bikin puyeng kepala. Dalam situasi perekonomian yang begini sulit, tentu berbagai pungutan yang dilakukan sekolah tersebut menjadi pukulan telak bagi para orang tua, terutama dari kalangan bawah.
Bulan kemarin orang tua sudah dibikin stress oleh Mendiknas dengan “Proyek Unas”, kini mereka masih harus dibikin stress lagi berkait dengan biaya kelanjutan pendidikan. Maka tak salah kiranya jika bulan Mei sampai Juli dinamakan bulan “stress nasional”.

Read the rest of this entry »

Seperti dikemukakan di atas, salah satu disiplin ilmu yang berupaya menjelaskan perilaku manusia adalah psikologi. Tetapi perlu dipahami bahwa di dalam disiplin psikologi ini terdapat banyak cabang yang meski sama-sama menjelaskan faktor-faktor determinan perilaku manusia, namun tak jarang bertolak belakang secara ekstrem. Salah satu titik ekstrem adalah aliran behavioristik, beserta derivatnya, yang berkeyakinan bahwa segala macam perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar dirinya yang disebutnya stimulus. Tujuan perilaku manusia adalah merespon stimulus ini. Sedangkan di ujung lainnya berdiri aliran Psikoanalisa yang dikomandani oleh Sigmund Frued, beserta derivatnya. Aliran ini berasumsi bahwa energi penggerak awal perilaku manusia berasal dari dalam dirinya yang terletak jauh di alam bawah sadar. Di antara kedua ekstrem tersebut bercecer aliran-aliran lain yang merupakan konvergensi dari ke dua ekstrem tersebut. Read the rest of this entry »