You are currently browsing the category archive for the 'Renungan Pulau Kelapa' category.

Ada kesedihan mendalam setelah pengumuman kelulusan SMP dan SMA / SMK bagi kota Malang. Betapa tidak ? Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini jumlah ketidaklulusan adalah yang paling jeblok. Dan, seperti yang biasa terjadi, ketika terjadi musibah atau ‘kecelakaan’, maka semua pihak saling melempar kesalahan kepada pihak lain seraya mencari selamat sendiri. Bahkan pihak yang paling bertanggung-jawab pun melakukan hal yang sama, berkoar-koar mencari pembenaran diri. Akibatnya, setiap ada masalah, hampir tak pernah ditemukan solusi yang jitu.

Read the rest of this entry »

Hari ini unas SMP telah berakhir. Ini berarti rangkaian hajatan besar nasional pendidikan yang bernama unas telah usai. Kini, orangtua, siswa dan guru tinggal menunggu hasil dari killing event tersebut.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada banyak cerita minor selepas acara hajatan nasional itu. Mulai dari besarnya dana yang harus dipersiapkan oleh orangtua – meski dikabarkan biaya unas ditanggung negara, LJK yang tidak bermutu, jual beli jawaban unas ( meski konon ini merupakan model penipuan yang dilakukan oleh ‘oknum-oknum cerdas’ yang pandai memanfaatkan situasi ) hingga ‘kecurangan’ yang dilakukan para guru yang ingin membantu muridnya. Cerita seperti ini tampaknya telah menjadi rutinitas, tapi unas terus berlangsung. Read the rest of this entry »

Suatu sore, rumah teman saya, seorang pimpinan sebuah instansi pemerintahan yang hampir pangsiun, dibuat geger oleh kedatangan beberapa petugas kejaksaan yang tidak diundang. Tamu tak diundang tadi mengundang teman saya untuk bertamu ke kantor kejaksaan saat itu juga. Pertanyaan teman saya mengapa kejaksaan mengundanya tidak dijawab oleh tamu tadi. Maka, dengan sejuta tanya di ubun-ubun teman saya mengikuti kemauan sang tamu.
Hingga larut malam teman saya tidak pulang. Keluarganya mulai resah dan gelisah. Anak-anak dan ibunya bertanya-tanya mengapa Bapak belum juga pulang ? Sementara hand phonenya tidak bisa dihubungi. Semalaman mereka tidak tidur menunggu kabar berita pahlawan keluarga.
Esoknya, sekitar pukul 6 pagi, telepon di ruang tamu berdering. Mereka grudugan mendekati telpon. Setelah diangkat, suara sang pahlawan dari seberang sana.
“Dik, tampaknya untuk sementara waktu yang tidak bisa ditentukan, aku tidak bisa pulang,” jelas teman saya dengan suara lelah, karena semalaman dia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan petugas kejaksaan.
“Kenapa Mas ?!” Jerit sang istri.
“Aku didakwa menggelapkan uang negara.”
Sejak itu, teman saya menjalani hari-harinya di bui, karena hakim memutuskan bahwa dia dituduh melakukan tindak korupsi. Read the rest of this entry »