<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rohadi Education</title>
	<atom:link href="http://rohadieducation.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rohadieducation.wordpress.com</link>
	<description>Menerawang Dunia Pendidikan Kita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 03:22:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rohadieducation.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rohadi Education</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rohadieducation.wordpress.com/osd.xml" title="Rohadi Education" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rohadieducation.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Slimuran Ala Marzuki Ali</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/08/08/slimuran-ala-marzuki-ali/</link>
		<comments>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/08/08/slimuran-ala-marzuki-ali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 16:18:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rohadi Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Pulau Kelapa]]></category>
		<category><![CDATA[Koruptor]]></category>
		<category><![CDATA[Marzuki Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Nazaruddin]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Demokrat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohadieducation.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu tokoh nasional yang lagi ngetop sekarang ini adalah Marzuki Ali. Akibat pernyataannya yang mewacanakan pembubaran KPK dan pemberian pengampunan kepada para koruptor, setiap hari media massa, baik cetak maupun elektronik membicaran dirinya. Para tokoh, terutama tokoh partai, terus mengeluarkan pernyataan dan penilaian terhadap Marzuki Ali. Perjalan Perseteruan Awalnya, masyarakat dibuat geram oleh perilaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=201&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu tokoh nasional yang lagi ngetop sekarang ini adalah Marzuki Ali. Akibat pernyataannya yang mewacanakan pembubaran KPK dan pemberian pengampunan kepada para koruptor, setiap hari media massa, baik cetak maupun elektronik membicaran dirinya. Para tokoh, terutama tokoh partai, terus mengeluarkan pernyataan dan penilaian terhadap Marzuki Ali.</p>
<p><strong>Perjalan Perseteruan</strong></p>
<p>Awalnya, masyarakat dibuat geram oleh perilaku Nazaruddin yang dikabarkan mengkorup uang negara ratusan miliar. Saat itu, setiap hari media massa dan para tokoh nasional tak henti-hentinya menghujat Nazaruddin.</p>
<p>Diserang habis-habisan ternyata tak membuat nyali mantan bendahara partai demokrat tersebut ciut. Justru dia balik menyerang. Dari mancanegara, Nazaruddin mendendangkan nyanyian melalui BB.<span id="more-201"></span></p>
<p>Adalah OC Kaligis, sang pengacara, yang menjadi corongnya. Melalui pesan BB, Nazaruddin mengungkap kebobrokan yang dilakukan oleh para petinggi Partai Demokrat, pejabat negara dan petinggi KPk. Oleh Kaligis, pesan-pesan tersebut diungkapkan ke berbagai media massa. Bahkan, ada satu informasi penting yang tidak ingin diungkap ke publik. Karena, kalau sampai diungkapkan ke publik, bisa menggoyahkan kesatian NKRI, demikian penjelasan OC Kaligis.</p>
<p>Kontan saja bumi nusantara bergetar mendengar berita tetsebut. Betapa tidak ? Aib yang selama ini ditutup rapat-rapat, dibuka blak oleh Nazaruddin. Tokoh yang selama ini dianggap bersih dan santun, ternyata hanyalah sosok bejat dan bobrok, seperti banyak koruptor dan perusak negara lainnya. Lembaga yang digadang-gadang mampu memberantas korupsi, ternyata tak bersih dari koruptor. Dan masih banyak persepsi yang berkembang akibat nyanyian Nazaruddin.</p>
<p>Mendapat serangan tak dinyana-nyana, para petinggi PD agak gelagapan. Mereka sibuk membuat serangan balik, atau setidaknya buat bertahan. Mereka bilang, kita tidak bisa mempercayai apakah pesan-pesan BB yang disampaikan Kaligis benar-benar dari Nazaruddin ? Tidak ada yang bisa membuktikannya.</p>
<p>Memperoleh bantahan seperti itu, Nazaruddin langsung tampil live via Skype. Iwan Pilliang, pemilik dokumen live itu, berhasil menjajakan dokumen tersebut ke berbagai media. Strategi ini ternyata mampu mendongkrak popularitas Nazaruddin.</p>
<p>Beberapa pihak menganggapnya sebagai whistle blower, karena mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat negara. Masyarakat kian berharap akan semakin banyak lagi &#8216;lagu&#8217; didendangkan oleh Nazaruddin.</p>
<p>Fokus perhatian publik tidak lagi kepada korupsi yang dilakukan Nazaruddin, tetapi berbalik ke arah korupsi yang dilakukan oleh para petinggi PD dan beberapa pejabat tinggi negara.</p>
<p>Yang perlu dicatat di sini adalah tokoh-tokoh partai yang dulu banyak mengecam ulah Nazaruddin, kini ikut-ikutan menyanyikan lagu yang dibawakan Nazaruddin. Kondisi ini kian memperburuk citra PD. Partai yang memiliki statement positioning &#8216;Anti Korupsi&#8217; ini ternyata juga sarang para koruptor.</p>
<p>Sebagai partai yang relatif baru, tampaknya PD tidak memiliki model komunikasi yang memadai. Ini terbukti dari kacaunya statement-statement dalam menanggapi tudingan-tudingan Nazaruddin dan para elit kita. Tanggapan-tanggapan yang dikeluarkan para elit PD tidak sinkron antara satu dan lainnya.</p>
<p><strong>Strategi Cerdik Marzuki Ali</strong></p>
<p>Situasi seperti itu semakin menghancurkan brand PD. Popularitas SBY,  sebagai pembina partai, ikut merosot. Di situasi sulit itulah Marzuki Ali menampilkan kecerdikannya. Ia  mewacanakan dua isu yang benar dahsyat. Pertama, bubarkan KPK. Kedua, ampuni para koruptor.</p>
<p>Marzuki Ali ternyata benar. Diskursus tersebut mampu dengan mudah meredam nyanyian Nazaruddin. Publik tidak lagi membicaran tudingan yang dilancarkan Nazaruddin, tapi beralih &#8216;melakukan serangan&#8217; terhadap statement Marzuki tersebut. Bahkan, sebagian elit, terutama elit partai, mewacanakan mosi tidak percaya kepada Marzuki. Dan, perhatian dan diskusi publik pun kian menjauh dari korupsi yang dilakulan Nazaruddin maupun para elit PD.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada yang harus dicermati dari uraian di atas. Mudahnya perhatian publik dialihkan menunjukkan bahwa para elit kita tidak memiliki skala prioritas dalam menyelesaikan persoalan bangsa ini. Kalau saja para elit kita punya komitmen yang sungguh-sungguh dalam memberantas korupsi, pasti tidal akan mudah dislimurkan oleh nyanyian Marzuki di atas.</p>
<p>Selain itu, kita menjadi lebih tahu bahwa kalau selama ini para elit itu berteriak lantang bukan untuk sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan bangsa, tapi sekadar untuk meraih popularitas alias politik pencitraan semata. Ini juga menjadikan mereka tidak memiliki fokus di dalam bekerja. Yang penting, kalau ada info yang lagi &#8216;in&#8217; mereka harus secepat mungkin ikut-ikutan berteriak. Deangan begitu mereka akan mendapatkan predikat politisi yang resposnsif dan komitmen terhadap segala permasalahan bangsa.</p>
<p>Saya sangat yakin, baik Nazaruddin maupun Marzuki sangat memahami situasi dan kemampuan para elit kita, khususnya mereka yang dari elit partai. Karena itu, tak mengherankan kalau Nazaruddin dan Marzuki Ali dengan mudahnya membolak-balik hati dan pikiran kawan-kawannya.</p>
<p>Mari kita tunggu babak berikutnya, pasca penangkapan si Nazar di Kolumbia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohadieducation.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohadieducation.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohadieducation.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohadieducation.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rohadieducation.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rohadieducation.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rohadieducation.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rohadieducation.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohadieducation.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohadieducation.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohadieducation.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohadieducation.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohadieducation.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohadieducation.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=201&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/08/08/slimuran-ala-marzuki-ali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/779761a8a716ae5500dab63f066ee62f?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadikan Entrepreneurship sebagai Lifestyle</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/08/05/menjadikan-entrepreneurship-sebagai-lifestyle/</link>
		<comments>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/08/05/menjadikan-entrepreneurship-sebagai-lifestyle/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 16:44:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rohadi Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[UKM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohadieducation.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Bulan juni sampai Agustus adalah bulan saat kompetisi akbar bagi berbagai pendidikan tinggi berlomba-lomba menjaring calon mahasiswa baru. Berbagai cara hingga model promosi digunakan. Mulai dari promosi di berbagai media hingga iming-iming bea siswa bagi mahasiswa baru. Di antara sekian model promosi, ada satu cara yang hingga saat ini masih dianggap sebagai salah satu jurus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=195&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan juni sampai Agustus adalah bulan saat kompetisi akbar bagi berbagai pendidikan tinggi berlomba-lomba menjaring calon mahasiswa baru. Berbagai cara hingga model promosi digunakan. Mulai dari promosi di berbagai media hingga iming-iming bea siswa bagi mahasiswa baru. Di antara sekian model promosi, ada satu cara yang hingga saat ini masih dianggap sebagai salah satu jurus ampuh untuk memikat hati para calon mahasiswa, yakni janji jika lulus, langsung bekerja. Meski pun hampir tidak ada yang telah mengadakan MOU dengan dunia usaha atau dunia industri perihal penyaluran lulusan mereka, kecuali sekolah kedinasan, tetapi mereka berani dengan lantang menginformasikan bahwa lulusan mereka bisa langsung mendapat pekerjaan.</p>
<p>Tulisan ini tak hendak mempersoalkan kebenaran janji-janji tersebut. Tetapi, ingin mengajak pembaca untuk merenungkan tepat tidaknya pemberian janji langsung bekerja dalam situasi kekikinian.</p>
<p>Mari kita perhatikan data berikut yang dikutip dari Antara News edisi 5 Juli 2010. Tercatat angka pengangguran sarjana di Indonesia terus merangkak naik, pada 2006 sebanyak 375.000 orang, 2007 menjadi 400.000 orang, 2008 naik menjadi 626.000 meski sempat turun pada Agustus 2008, tetapi kembali naik pada 2009 menjadi 626.621 orang. Selanjutnya, pengangguran lulusan diplomasi/akademi sebanyak 486.399. Angka total pengangguran pada 2009 mencapai 8,96 juta. ( url : <a href="http://www.antaranews.com/berita/1278344249/indonesia-butuh-4-jutaan-wirausaha">http://www.antaranews.com/berita/1278344249/indonesia-butuh-4-jutaan-wirausaha</a>  ).</p>
<p>Data di atas menggambarkan bahwa dunia usaha/industri di negeri ini tidak mampu menyediakan lapangan kerja bagi penduduk kita. Bila situasi seperti ini terus dibiarkan, tentu akan menjadi bom waktu bagi masa depan negeri ini. Kalau jumlah lulusan pendidikan tinggi yang menganggur telah mencapai puluhan juta, bukan tidak mungkin kalau mereka akan menjadi pelaku kejahatan di berbagai bidang.<span id="more-195"></span></p>
<p>Oleh karena itu, paradigma kuliah supaya mudah memperoleh pekerjaan harus segera dihentikan. Seluruh elemen bangsa, khususnya lembaga-lembaga pendidikan tinggi, harus mampu mengarahkan generasi muda untuk memilih jalan hidup sebagai seorang entrepreneur. Bukan lagi sebagai karyawan atau pegawai.</p>
<p>Selain itu, pilihan sebagai entrepreneur juga akan menjadikan bangsa ini segera terlepas dari berbagai keterpurukan. Prof. Dr. Didik J. Rachbini, dalam buku <em>Kiat Sukses Berwirausaha</em> menyatakan :</p>
<p><strong><em>Masalah kewirausahaan (entrepreurship) merupakan persoalan paling penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang membangun. Kemajuan atau kemunduran ekonomi suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kelompok wirausahawan ini. Jika suatu bangsa tidak memiliki modal manusia ini, jangan berharap ada kemajuan yang berarti pada bangsa tersebut. Sebaliknya, kemajuan yang telah terjadi pada suatu bangsa dapat dilihat dari keberadaan dan peranan kelompok wirausahawan ini</em></strong><em>.</em> (Sutrisno Iwantono, Kiat Sukses Berwirausaha, 2002 : xiv).</p>
<p>Hal ini senada dengan pendapat sosiolog, David Mc Clelland yang mengemukakan bahwa suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk.  Negara-negara maju memiliki jumlah entrepreneur lebih dari angka itu. Sebagai contoh, jumlah wirausaha di Amerika Serikat sudah mencapai 11,5 hingga 12 persen dari seluruh jumlah penduduk, di Singapura tujuh persen, China dan Jepang 10 persen, India tujuh persen, dan Malaysia tiga persen.</p>
<p>Berapa jumlah entrepreneur kita ?</p>
<p>Menurut Deputi Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Neddy Rafinaldi Halim, dari sekitar 231 juta penduduk Indonesia, atau 238 juta orang versi sementara BPS, dengan penduduk usia kerja 169,33 juta tercatat memiliki wirausaha sebanyak 564.240 unit (0,24 persen dari seluruh penduduk).</p>
<p>Padahal, jika mengikut pendapat David Mc Clelland di atas, seharusnya kita punya 4,07 juta entrepreneur. Sekali lagi, untuk mencapai angka ideal tersebut, semua elemen harus turut serta mengambil tanggung-jawab. Dan, untuk lembaga pendidikan tinggi, harus mendorong generasi muda untuk memilih ‘jalan hidup’ menjadi entrepreneur.</p>
<p>Memang sudah banyak perguruan tinggi yang memasukkan mata kuliah entrepreneurship ke dalam kurikulum mereka. Namun sayangnya keberadaan mata kuliah ini seolah <em>lip service</em> semata. Artinya, pelaksanaan mata kuliah ini tidaklah dikelola dengan sepenuh hati. Selain jumlah sks nya yang minim, juga diampu oleh dosen-dosen yang tidak memiliki latar belakang berwirausaha. Akibatnya, mata kuliah entrepreneur hanyalah menghasilkan pengetahuan teori untuk dihapal. Tidak mampu memotivasi mahasiswa untuk menjadi seorang entrepreneur sejati.</p>
<p><strong>Melibatkan Pelaku UKM</strong></p>
<p>Untuk mengelola perkuliahan entrepreneur ini seharusnya kampus melibatkan pelaku-pelaku UKM yang sukses di daerah sekitarnya masing-masing. Pengalaman mereka dalam ‘berjibaku’ dan sukses dalam dunia entrepreneur merupakan modal dahsyat untuk menyebarkan ‘virus’ entrepreneur kepada para mahasiswa. Dengan pengalaman tersebut, mereka akan bisa menjadi mentor yang handal bagi calon-calon entrepreneur muda untuk mengikuti jejak sukses mereka.</p>
<p>Memang terkadang ada kendala dalam melibatkan para pelaku UKM ini di dalam dunia pendidikan. Kendala pertama, mungkin saja mereka kurang bersedia memberikan ‘ilmu suksesnya’. Ini wajar karena perkuliahan ini sama artinya dengan meciptakan kompetitor-kompetitor baru bagi mereka. Kendala selanjutnya adalah bisa jadi mereka kurang mampu menyusun pengalamannya menjadi konsep yang teratur dan terstruktur.  Dan, <em>last but not least</em>, kesibukan mereka sebagai pengusaha kadangkala sulit untuk ditinggalkan.</p>
<p>Untuk meng-<em>handle</em> kendala-kendala di atas, yang pertama kali harus dilakukan kampus adalah membentuk tim kewira-usahaan. Tim ini bersama para pelaku UKM menyusun kurikulum yang bersifat <em>general</em>. Artinya, kuliah yang diberikan bukanlah tentang jenis-jenis usaha yang dilakukan para pelaku UKM itu. Tetapi, adalah tentang kiat-kiat sukses; sharing mengenai masalah apa saja yang muncul di sepanjang perjalanan bisnis mereka dan bagaimana mereka mengatasinya; seluk beluk perijinan; upaya-upaya mengembangkan pasar dan lain-lain. Di samping itu juga diberikan gambaran dunia bisnis diberbagai bidang. Misalnya, bisnis franchise, bisnis online, bisnis retail, bisnis makanan dan lain sebagainya.</p>
<p>Dari berbagai materi dari para pengusaha tersebut, tim ini bertugas menyusun materi-materi yang mereka kemukakan sehingga menjadi sistematis. Dan bila perlu melengkapinya dengan sumber-sumber lain, tentunya dengan persetujuan mereka. Selanjutnya, mengatur jadwal mengajar mereka. Semakin banyak pelaku UKM yang dilibatkan, maka jadwal mengajar mereka juga semakin longgar, sehingga tidak terlalu menyita waktu mereka. Dan, satu tugas penting lainnya dari tim ini adalah menyediakan waktu untuk sharing dengan mereka. Tujuannya adalah mendiskusikan kesulitan-kesulitan berkaitan dengan pemberian kuliah di kelas.</p>
<p>Manfaat yang diperoleh dari model kelas entrepreneurship seperti itu bagi mahasiswa adalah, selain mendapatkan bimbingan berharga dari para pelaku UKM yang telah sukses, juga memiliki jaringan dengan kalangan pengusaha. Bukankah memiliki kenalan orang-orang sukses merupakan modal sosial yang mahal bagi mereka ketika mulai membuka usaha setelah lulus ? Dan, harapan paling penting dari program mendekatkan anak-anak muda dengan para entrepreneur adalah agar mental entrepreneur ship bisa menjadi lifestyle mereka.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohadieducation.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohadieducation.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohadieducation.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohadieducation.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rohadieducation.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rohadieducation.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rohadieducation.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rohadieducation.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohadieducation.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohadieducation.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohadieducation.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohadieducation.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohadieducation.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohadieducation.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=195&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/08/05/menjadikan-entrepreneurship-sebagai-lifestyle/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/779761a8a716ae5500dab63f066ee62f?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FKIP NAIK DAUN : SEBUAH CATATAN DARI SNPTN 2011</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/07/04/fkip-naik-daun-sebuah-catatan-dari-snptn-2001/</link>
		<comments>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/07/04/fkip-naik-daun-sebuah-catatan-dari-snptn-2001/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 18:42:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rohadi Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Pulau Kelapa]]></category>
		<category><![CDATA[Gaji guru]]></category>
		<category><![CDATA[guru honorer]]></category>
		<category><![CDATA[guru swasta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohadieducation.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Mengikuti berita SNPTN tahun 2011 ini, penulis mendapati sebuah fenomena baru yang tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Adalah pernyataan Anggota Tim Sosialisasi dan Humas SNMPTN 2011 Bonny P.W Soekarno yang membuat saya agak terkejut. Bony menyatakan bahwa kini peminat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Perguruan Tinggi yang tak khusus keguruan, makin tinggi. Ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=193&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengikuti berita SNPTN tahun 2011 ini, penulis mendapati sebuah fenomena baru yang tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Adalah pernyataan Anggota Tim Sosialisasi dan Humas SNMPTN 2011 Bonny P.W Soekarno yang membuat saya agak terkejut.</p>
<p>Bony menyatakan bahwa kini peminat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Perguruan Tinggi yang tak khusus keguruan, makin tinggi. Ini di luar dugaan meski tak diketahui angka pastinya. Peningkatan ini diduga karena peserta SNMPTN melihat guru sebagai profesi yang pasti. &#8220;Perhatian pemerintah terhadap guru juga semakin besar, melalui sertifikasi misalnya,&#8221; kata Bonny. Fenomena ini juga bisa diartikan adanya peningkatan empati generasi muda terhadap pendidikan di Indonesia.</p>
<p>(<a href="http://www.tempo.co/hg/pendidikan/2011/06/29/brk,20110629-343950,id.html">http://www.tempo.co/hg/pendidikan/2011/06/29/brk,20110629-343950,id.html</a> ).</p>
<p>Berita ini tentu menggembirakan kita semua. FKIP yang selama ini dipandang sebagai second class dibanding fakultas-fakultas lain, sehingga peminatnya sebagian besar ( maaf ) dianggap kurang berkualitas. Dan ini sering dianggap sebagai salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan kita.<span id="more-193"></span></p>
<p>Rendahnya minat lulusan SMA kalangan menengah atas dan yang punya prestasi akademik untuk memasuki FKIP, karena profesi guru dipandang tidak menjanjikan. Selama ini, profesi guru digambarkan sebagai pribadi yang harus berdedikasi tinggi namun minim kesejahteraan finansial, sehingga dijuluki ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’. Atau dicitrakan sebagai pribadi jadul seperti digambarkan sebagai ‘Oemar Bakri’ oleh Iwan Fals.</p>
<p>Bayangkan, mana mungkin anak muda pada zaman materialistik ini yang mau menjadi sosok yang diharuskan punya dedikasi tinggi terhadap profesinya, miskin finansial dan jadul lagi. Kalau ada anak muda yang berani memtuskan untuk menekuni profesi guru pasti karena terpaksa ( misalkan, karena prestasi akademiknya kurang menggembirakan atau mungkin karena ditakdirkan memiliki panggilan jiwa menjadi guru ). Barangkali karena itulah, maka masyarakat kita sampai ‘harus’ membuat istilah atau kalimat-kalimat penghiburan bagi guru supaya profesi ini tidak kehabisan peminat, seperti :</p>
<p>@ Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa</p>
<p>@ Pekerjaan mengajar memang tidak memberi harapan finansial yang memadai, tetapi mampu memberikan kepuasan batin</p>
<p>@ Balasan bagi pekerjaan mengajar adalah di akhirat kelak.</p>
<p>Mungkin kalimat-kalimat hiburan seperti itu bisa mengena pada generasi-generasi terdahulu. Tapi, apakah masih relevan untuk dikenakan pada generasi cyber saat ini ?</p>
<p>Kita patut bersyukur, pada era reformasi, kesejahteraan guru terus ditingkatkan. Mulai dari peningkatan gaji pokok sampai dengan pemberian tunjangan sertifikasi. Kini, gambaran bahwa guru adalah profesi yang miskin finansial dan jadul sedikit demi sedikit mulai terkikis. Anak-anak muda kini banyak yang melirik profesi guru. Tak terkecuali mereka yang berasal dari kelas menengah atas atau memiliki prestasi akademik yang tinggi. Maka, sangat wajar jika tahun ini fakultas-fakultas ilmu pendidikan banyak diserbu peminat.</p>
<p>Berita bahwa FKIP diserbu calon mahasiswa tentu sangat menggembirakan. Karena, empat tahun ke depan, dunia  pendidikan kita akan memiliki tenaga-tenaga pengajar yang berkualitas. Dengan tenaga pengajar yang berkualitas seperti itu, maka kita berharap kualitas pendidikan kita juga akan terdongkrak. Jika selama ini diasumsikan bahwa kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang dimiliki bangsa tersebut, maka tak salah jika kita berharap kualitas bangsa ini akan menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang.</p>
<p>Namun, di balik optimisme di atas, ada kegundahan yang diam-diam menyelinap di benak penulis. Penulis yakin bahwa yang dilihat anak-anak muda tersebut hanyalah pendapatan yang diterima oleh guru-guru yang sudah berstatus PNS saja. Kalau saja mereka tahu berapa pendapatan guru-guru swasta atau yang menjadi PTT, saya khawatir mood mereka untuk menerjuni profesi guru menjadi sirna. Sebagian besar dari guru-guru non PNS memperoleh gaji di bawah UMR, meski mereka sarjana. Bahkan banyak yang bergaji pada kisaran lima ratus ribu rupiah per bulan. Angka tersebut tentu bukan hal yang menjanjikan untuk bisa dikatakan hidup pas-pasan.</p>
<p>Ini tentu menjadi PR berat buat kita semua. Harus segera dicarikan jalan keluar agar masalah penggajian guru-guru non PNS supaya lebih layak. Jika tidak, maka bangsa ini akan kembali kesulitan mendapatkan anak bangsa yang berkualitas untuk mengemban profesi guru.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohadieducation.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohadieducation.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohadieducation.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohadieducation.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rohadieducation.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rohadieducation.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rohadieducation.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rohadieducation.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohadieducation.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohadieducation.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohadieducation.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohadieducation.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohadieducation.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohadieducation.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=193&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/07/04/fkip-naik-daun-sebuah-catatan-dari-snptn-2001/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/779761a8a716ae5500dab63f066ee62f?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Contek Massal dan Pendidikan Karakter</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/06/26/contek-massal-dan-pendidikan-karakter/</link>
		<comments>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/06/26/contek-massal-dan-pendidikan-karakter/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 16:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rohadi Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[contek massal]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>
		<category><![CDATA[unas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohadieducation.wordpress.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun belakangan ini pemerintah, dalam hal ini Mendiknas, gencar &#8216;mengkampanyekan&#8217; pendidikan karakter di dunia pendidikan kita. Meski konsepnya belum jelas benar, namun masyarakat menyambutnya dengan antusias. Ini dibuktikan dengan tingginya semangat para pendidik mengikuti seminar-seminar bertema pendidikan karakter. Sekolah-sekolah juga memanfaafkan isu pendidikan berkarakter sebagai sarana promosi untuk menjaring calon peserta didik. Kelihatannya sekolah-sekolah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=187&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua tahun belakangan ini pemerintah, dalam hal ini Mendiknas, gencar &#8216;mengkampanyekan&#8217; pendidikan karakter di dunia pendidikan kita. Meski konsepnya belum jelas benar, namun masyarakat menyambutnya dengan antusias. Ini dibuktikan dengan tingginya semangat para pendidik mengikuti seminar-seminar bertema pendidikan karakter. Sekolah-sekolah juga memanfaafkan isu pendidikan berkarakter sebagai sarana promosi untuk menjaring calon peserta didik. Kelihatannya sekolah-sekolah itu sangat memahami bahwa masyarakat menginginkan sekolah mampu membentuk karakter yang baik bagi anak-anak mereka.<br />
Bagi masyarakat, pendidikan karakter merupakan sesuatu yang telah hilang dari dunia pendidikan kita. Karena itu, sangat wajar jika gagasan pendidikan karakter di sekolah mendapat apresiasi yang dahsyat dari masyarakat. Gagasan pendidikan karakter menjadi semacam obat rindu bagi sesuatu yang nyaris hilang dalam kesadaran masyarakat kita. Dan kita pasti paham bahwa kerusakan bangsa ini sebagian besar disebabkan oleh ketiadaan karakter yang jelas dan positif.<br />
Namun belum &#8216;mingkem&#8217; koar-koar Mendiknas tentang pendidikan karakter, dunia pendidikan kita dibuat &#8216;ternoda&#8217;, yang justru dipicu oleh kebijakan Mendiknas sendiri yang kurang tepat. Beberapa waktu lalu dunia pendidikan kita dibikin heboh oleh berita perihal contek massal yang dilakukan oleh salah satu sekolah ketika pelaksanaan unas. Adalah Siami, orang tua Al, murid yang disuruh memberi contekan kepada teman-temannya, yang melaporkan kepada kantor disdik setempat.<br />
Alasan Bu Siami melaporkan contek massal tersebut adalah  tidak terima anaknya diajari tidak jujur. Siapa pun yang waras pasti membenarkan tindakan yang dulakukan Bu Siami. Betapa tidak ? Bertahun-tahun dengan susah payah menanamkan nilai kejujuran kepada putranya tersebut, dengan begitu saja dihancurkan oleh pihak sekolah, sebuah lembaga formal yang diharapkan dapat mempertinggi akal dan budi putranya itu, dengan mendoktrin nilai yang justru berlawanan dengan kejujuran.<br />
Tapi, apa yang didapatkan ibu yang berani tersebut dan putranya? <span id="more-187"></span><br />
Sungguh di luar dugaan. Putranya diolok-olok oleh teman-nya di sekolah. Dan di kampungnya lebih tragis lagi. Keluarga Bu Siami dikucilkan, bahkan sampai di usir dari kampung halamannya. Akibatnya,mereka harus mengungsi di tempat saudaranya. Dunia pendidikan kita telah menebarkan virus ketidak-jujuran di tengah masyarakat yang memang sudah tidak mempedulikan nilai baik dan buruk ini.<br />
Barangkali karena sudah menjadi berita ‘panas’ di media massa, maka mendiknas M.Nuh sampai turun tangan ke SDN Gadel 2 Surabaya. Setelah inspeksi sana, inspeksi sini, mendiknas mengeluarkan pers rilis. Bunyinya : &#8220;Mana buktinya (terjadi contek massal)? Kalau kami punya bukti, yaitu output lembar jawaban siswa.” (http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/11/06/22/ln6msw-mendiknas-bersikukuh-tak-terjadi-contek-massal ) Menurut beliau, tidak ada satu pun jawaban yang seragam.<br />
Meski pihak sekolah telah mengakui member instruksi kepad Al supaya member contekan kepada teman-temannya, bahkan kepala sekolah dan guru kelas enam di SD Gdel 2 itu telah mendapatkan sangsi, mendiknas tetap ngoto dengan kesimpulan di atas.<br />
Tulisan ini tidak berpretensi untuk menilai benar-tidaknya pers rilis-nya mendiknas tersebut. Sebagai masyarakat awam, penulis sangat menyadari apa yang diungkapkan mendiknas itu. Bisa dibayangkan, jika M.Nuh mengakui bahwa telah terjadi contekan massal di SDN Gadel2, tentu risiko yang ditimbulkan bias besyar dan unpredictable. Pertama, pasti harus mengadakan unas ulang untuk SD itu. Kedua, beberapa pihak wali murid akan protes karena terjadinya contek massal bukan atas inisiatif para siswa, tapi merupakan “ijtihad’ para pengelola sekolah SDN Gadel 2 Surabaya. Dengan begitu, kesalahan justru terletak pada pihak sekolah. Kalau sekolah yang bersalah, mengapa harus siswa yang memikul risikonya dengan melakukan unas ulang ? Ketiga, dengan adanya kebobolan contek massal, maka masyarakat bias menilai bahwa system pengawasan unas sangat memprihatinkan. Padahal selalu ada kepolisian yang menjaga unas itu.<br />
Dengan pertimbangan di atas sangat masuk akal jikalu mendiknas ngotot ngomong tidak terjadi contek massal di sekolahan tersebut.<br />
Penulis sangat yakin, modus contek massal semacam itu pasti tidak hanya dilakukan oleh SDN Gadel 2 saja, sekolah-sekolah lain juga melakukannya sejak lama. Mengapa baru terungkap sekarang ? Ya karena baru ada orang yang berani mengungkapkan kecurangan di dunia pendidikan kita. Sebenarnya, sebelum dan sesudah skandal ini terungkap, sudah ada beberapa pihak, baik guru mau pun wali murid yang mengungkapkan kecurangan tersebut. Namun, sayang belum mendapat respon yang memadai dari masyarakat sebagaimana saat ini. Artinya, contekan massal di kala unas merupakan ‘budaya lama’ yang selalu hadir di dalam pelaksanaan unas. Kalau  sinyalemen ini benar, berarti unas yang menghabiskan dana pemerintah ( artinya belum dana masyarakat ) lebih-kurang Rp.580 miliar, hanyalah ujian bohong-bohongan.<br />
Apakah munculnya budaya contek massal ini merupakan kesalahan guru atau pihak sekolah semata ? Secara pribadi, penulis berpendapat tidaklah arif jika kesalahan sepenuhnya kita semprotkan ke muka guru-guru kita. Bagi guru, masa unas bak masa persidangan di pengadilan. Putusan sang hakim adalah saat pengumuman kelulusan. Jika murid-muridnya lulus 100%, maka bebaslah sang guru dari hukuman. Sebaliknya, bila banyak yang tidak lulus, maka hukuman harus mereka pikul. Mulai dari sumpah serapah masyarakat wali murid, pihak sekolah, pihak disdik hingga kepala daerah. Dalam kondisi seperti itu, rasanya hasil kerja selama tiga tahun tidak ada artinya.<br />
Dengan gambaran semacam itu, rasanya manusiawi jika para guru tak mau ambil risiko. Maka, tindakan yang paling masuk akal adalah menskenario contek massal. Atau setidaknya, melakukan pembiaran tatkala mendapati murid-murid ‘bercontek-ria’ saat mengerjakan unas. Bagi mereka, yang penting murid mereka lulus 100%. Karena, mampu meluluskan muridnya 100% dianggap sebagai puncak prestasi sekolah dan guru. Dan, penulis yakin, sebagian besar dari kita, mulai pejabat pemerintah, pihak disdik, masyarakat ( terutama yang anaknya duduk di kelas akhir ) pasti tahu soal ini. Hal ini sudah menjadi rahasia umum, karena sebagian besar sekolah melakukannya. Kendati selalu ada polisi dan pihak independen sebagai pemantau pelaksanaan unas. Tapi, lucunya, kita semua pura-pura tidak tahu fenomena ini.<br />
Boleh saja kita berpura-pura tidak tahu ada kecurangan massal dalam pelaksanaan unas tersebut. Tapi, bagaimana dengan anak-anak kita yang merupakan bagian dari pelaku ketidak-jujuran itu ? Bisakah mereka berpura-pura lupa bahwa mereka pernah melakukan ketidak-jujuran massal ? Selanjutnya, murid-murid kita ini pasti akan memandang bahwa ketidak-jujuran merupakan hal lumrah pada bangsa ini. Siapa saja boleh melakukan ketidak-jujuran. Apakah dengan ini kita memang sengaja mau melanggengkan budaya korupsi di negeri ini ?<br />
Dari sini Nampak jelas bahwa ada kebijakan yang paradoksal tengah dilakukan oleh kementrian pendidikan. Di satu sisi ingin mengembangkan pendidikan karakter, namun di sisi yang lain justru mengambil kebijakan yang malah mendorong munculnya perilaku tidak jujur.  Penulis percaya, pasti bukan karakter maling yang akan dikembangkan dalam pendidikan karakter yang digembar-gemborkan selama ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohadieducation.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohadieducation.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohadieducation.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohadieducation.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rohadieducation.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rohadieducation.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rohadieducation.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rohadieducation.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohadieducation.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohadieducation.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohadieducation.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohadieducation.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohadieducation.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohadieducation.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=187&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/06/26/contek-massal-dan-pendidikan-karakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/779761a8a716ae5500dab63f066ee62f?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Karakter : Akankah Menjadi Pepesan Kosong ?</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/05/04/pendidikan-karakter-akankah-menjadi-pepesan-kosong/</link>
		<comments>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/05/04/pendidikan-karakter-akankah-menjadi-pepesan-kosong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 May 2011 18:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rohadi Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohadieducation.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Kira-kira sejak dua tahun lalu, tiba-tiba istilah pendidikan karakter menjadi populer. Hampir setiap orang yang berbicara tentang pendidikan, selalu mengucapkan istilah tersebut. Bahkan, beberapa sekolah dengan berani memproklamirkan diri sebagai sekolah berbasis pendidikan karakter. Secara iseng penulis bertanya ke beberapa teman mengenai pengertian dan implementasi pendidikan berkarakter ini. Mereka ada yang guru, kepala sekolah, mahasiswa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=182&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kira-kira sejak dua tahun lalu, tiba-tiba istilah pendidikan karakter menjadi populer. Hampir setiap orang yang berbicara tentang pendidikan, selalu mengucapkan istilah tersebut. Bahkan, beberapa sekolah dengan berani memproklamirkan diri sebagai sekolah berbasis pendidikan karakter.</p>
<p>Secara iseng penulis bertanya ke beberapa teman mengenai pengertian dan implementasi pendidikan berkarakter ini. Mereka ada yang guru, kepala sekolah, mahasiswa, wali murid atau masyarakat yang punya minat terhadap bidang pendidikan. Dari mereka, penulis memperoleh pendapat yang beraneka ragam.<span id="more-182"></span></p>
<p>Pendapat yang terbanyak mengatakan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Slogan mereka ialah pendidikan iptek dan imtak. Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang berpendapat bahwa pendidikan kita saat ini terlalu menekankan sisi keduniawian. Sehingga banyak menghasilkan manusia-manusia yang egois, tidak memegang nilai-nilai agama, tidak menghargai perbedaan, bermental korup dan lain sebagainya. Karena itu, pendidikan agama harus diperbanyak di dalam pendidikan kita.</p>
<p>Kelompok lain berpendapat bahwa saat ini pendidikan kita terlalu menekankan sisi kemampuan otak kiri. Akibatnya, banyak manusia-manusia berprestasi secara akademik, namun kerapkali berbuat a moral dan a sosial, tidak menghargai humanistik, tidak kreatif dan lain sebagainya. Karena itu, pendidikan seharusnya juga memperhatikan pengembangan otak kanan. Implementasinya dalam pendidikan adalah sekolah tidak boleh terlalu menjejali peserta didiknya dengan materi-materi pelajaran saja. Sekolah juga harus memberi pendidikan untuk membangkitkan potensi peserta didik untuk mampu melakukan kerjasama yang baik, memiliki potensi kepemimpinan, kreatif, berani melakukan inovasi dan lain sebagainya yang berhubungan dengan potensi otak kanan.</p>
<p>Kelompok ketiga berpendapat bahwa pendidikan saat ini telah menghasilkan anak-anak muda yang tidak memiliki rasa nasionalisme, tidak mengenal budaya sendiri, silau pada hasil-hasil budaya asing ( global ), dan ‘tercerabut dari buminya berpijak’. Oleh karena itu, sekolah seharusnya mampu menanamkan ideologi bangsa, belajar mencintai budaya sendiri, memiliki filter untuk menyaring budaya asing, dan melatih kebanggaan terhadap bangsanya.</p>
<p>Kelompok terakhir adalah yang berpendapat bahwa pendidikan nasional kita harus mampu menghasilkan manusia-manusia yang berkualifikasi internasional. Hal ini bertujuan agar bangsa kita mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di era global ini. Wujudnya berupa didirikannya RSBI, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Terus terang saja, penulis kurang paham apa hakikat dari RSBI tersebut. Dan penulis yakin, banyak juga masyarakat kita yang belum memahami benar apa maksud dan manfaat RSBI. Tapi, secara kasat mata, murid dari RSBI kalau sekolah membawa laptop, kelasnya ber AC, sekolahnya sampai sore, dan yang pasti bayarnya jauh lebih mahal.</p>
<p>Dari pendapat-pendapat di atas, jelas bahwa terdapat pendapat yang berbeda-beda mengenai tafsir dari pendidikan berkarakter ini. Celakanya, tulisan ini akan menambah lagi perbedaan-perbedaan tersebut. Semoga saja tidak menambah kebingungan kita.</p>
<p>Banyaknya pendapat yang berbeda mengenai pendidikan karakter mencerminkan belum jelasnya dasar dari dimunculkan pentingnya pendidikan karakter. Untuk apa bangsa ini memerlukan pendidikan karakter bagi dunia pendidikannya ? Atau, ada masalah apa dengan bangsa ini kok tiba-tiba banyak pihak berteriak-teriak mengenai pendidikan karakter ?</p>
<p>Di masa orde lama, Bung Karno pernah mencuatkan isue tentang National Character Building. Terus terang penulis kurang mengetahui apa yang mendasari pemikiran Bung Karno tentang perlunya National Character Building tersebut. Tetapi, di saat itu Sang Proklamator ini meresahkan tentang ‘kedudukan’ dan mental bangsa Indonesia di tengah bangsa-bangsa lain.</p>
<p>“&#8230;&#8230;dan sejarah akan menulis di sana, di antara benua Asia dan benua Australia, antara lautan Teduh dan lautan Indonesia, adalah hidup suatu bangsa yang mula-mula mencoba untuk hidup kembali sebagai bangsa. Akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa bangsa – kembali menjadi een natie van koelies, en een kolie onder de naties. “<br />
( Soekarno – Tahun Vivere Pericoloso – 1964 ).</p>
<p>Ramalan BK tersebut kini menjadi kenyataan. Simak saja fenomena-fenomena berikut. Konon, saat ini Indonesia merupakan produsen terbesar pengekspor pembantu rumah tangga ke negeri lain. Mengapa bisa begitu ? Pertama, kita belum mampu mencetak tenaga-tenaga ahli ( semisal ahli IT, kedokteran, ahli kimia dan lain-lain ) yang kompetitif di pasaran tenaga kerja internasional. Kedua, kita juga tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi bangsa kita sendiri. Maka, apakah patut kita menyalahkan jika banyak penduduk kita mencari penghidupan di negeri lain, meski pun sekadar menjadi jongos ?</p>
<p>Fenomena lain yang juga memiriskan adalah dijualnya aset-aset bangsa kepada pihak asing. Semula yang dijual adalah kekayaan alam berupa tambang-tambang. Saat ini, mungkin karena tidak ada lagi sumber daya alam yang bisa dijual, maka pemerintah menjual BUMN-BUMN.</p>
<p>Alasan penjualan aset negeri adalah karena kita tidak memiliki dana investasi yang memadai dan tiadanya expert dari dalam negeri untuk mengelolanya. Akibatnya, selain yang menikmati hasilnya adalah pihak asing, juga pekerjaan yang bersifat white coral kebanyakan ‘dipegang’ para ekspatriat. Akibat lanjutannya adalah tenaga kerja kita hanyalah menjadi tenaga kasar dan setengah kasar alias menjadi jongos di negeri sendiri. Persis sama dengan jaman penjajahan dahulu.</p>
<p>Fenomena yang lebih memilukan adalah yang bermental seperti itu ternyata bukan hanya mereka yang di tingkat grassroot saja. Para pejabatnya pun juga serupa. Tentu bukan berita baru bahwa banyak dari kebijakan pemerintah hanyalah hasil meniru dan mengikut suara kepentingan asing. Contoh yang paling gress adalah perihal rencana dihapuskannya premium dari bumi Indonesia, seperti disampaikan oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Dan jika kita ikuti berita-berita seputar rencana penghapusan premium, ternyata pendapat serupa juga disampaikan oleh salah satu petinggi IMF.</p>
<p>Dari uraian di atas, saat ini bangsa Indonesia masih berkubang dalam karakter bermental budak. Artinya, jika dunia pendidikan punya misi membentuk karakter bangsa, maka tugas sesungguhnya adalah membebaskan penduduk bangsa ini dari mental buruk tersebut. Karakter yang wajib dibangkitkan antara lain sikap mental mandiri, inovatif, berani mengambil keputusan, profesional, dan berjiwa pembelajar seumur hidup. Pertanyaannya, mampukah dunia pendidikan kita saat ini melakukannya ?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohadieducation.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohadieducation.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohadieducation.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohadieducation.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rohadieducation.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rohadieducation.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rohadieducation.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rohadieducation.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohadieducation.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohadieducation.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohadieducation.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohadieducation.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohadieducation.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohadieducation.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=182&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/05/04/pendidikan-karakter-akankah-menjadi-pepesan-kosong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/779761a8a716ae5500dab63f066ee62f?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pencopotan Kapoda Banten, Cukupkah ?</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/02/14/pencopotan-kapoda-banten-cukupkah/</link>
		<comments>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/02/14/pencopotan-kapoda-banten-cukupkah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 20:19:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rohadi Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Pulau Kelapa]]></category>
		<category><![CDATA[kerusuhan massal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohadieducation.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Polri sudah menemukan tersangka yang diduga telah mengerakan massa saat terjadi bentrok antar warga dengan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Minggu (6/2). Demikian dilansir oleh Antara News.Com edisi 14 Februari 2011. Tersangka terlihat berada dalam massa yang  berkumpul, dan kata Kapolri ia bukan dari sebuah komunitas tertentu.Tersangka diduga sebagai penggerak berdasarkan pemeriksaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=177&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Polri sudah menemukan tersangka yang diduga telah mengerakan massa saat terjadi bentrok antar warga dengan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Minggu (6/2). Demikian dilansir oleh Antara News.Com edisi 14 Februari 2011.</p>
<p>Tersangka terlihat berada dalam massa yang  berkumpul, dan kata Kapolri ia bukan dari sebuah komunitas tertentu.Tersangka diduga sebagai penggerak berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi di tempat kejadian maupun keterangan dari beberapa anggota masyarakat. &#8220;Saya kira sudah memenuhi unsur untuk segera kita lakukan proses penyidikan lebih lengkap untuk segera diajukan ke pengadilan melalui penuntut umum,&#8221; kata Kapolri Timur Pradopo.</p>
<p>Ada yang sedikit mengecewakan dari penjelasan Kapolri di atas. Mungkinkah yang penggerak bentrok massal tersebut ‘bukan dari sebuah komunitas tertentu’ ? Apakah penggerak tersebut atas inisiatif sendiri punya niat membuat kerusuhan ? Kalau demikian, apakah berarti bentrok massal di Cikeusik itu adalah sebuah kebetulan belaka ( by accident ) ? Padahal nalar kita mengatakan, untuk menggerakkan banyak orang untuk bentrok dengan kelompok masyarakat lain, pasti membutuhkan strategi yang matang, dana yang pasti tidak sedikit, dan yang pasti lagi, risikonya tidak kecil. Lalu, untuk apa si penggerak tersebut mau repot-repot seperti itu ?<span id="more-177"></span></p>
<p>Jika boleh terus terang, saya kira kok lebih masuk akal dugaan Anggota Penasihat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang juga manatan Ketua MA, Jimly Ashiddiqie, yang dikutip media yang sama. Menurut beliau peristiwa kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, dan perusakan gereja di Temanggung, Jateng, dirancang.</p>
<p>&#8220;Kedua peristiwa tersebut bukan <em>by accident</em> tetapi <em>by design</em>. Ini ada yang merekayasa sehingga perlu dituntaskan,&#8221; kata Jimly di Jakarta, Senin.</p>
<p>Persoalannya, siapa yang merancang dan atas tujuan apa ?</p>
<p>&#8220;Boleh jadi, di belakangnya ini ada kelompok antipemerintah yang mau melakukan delegitimasi terhadap pemerintah. Tapi, bisa juga kelompok yang mendukung pemerintah yang mau adu domba dan mengalihkan isu,&#8221; katan Jimly.</p>
<p>Kedua kemungkinan tersebut sama masuk akalnya. Kemungkinan yang pertama bahwa dugaan adanya kelompok anti pemerintah yang berupaya mendelegitimasikan pemerintah tentu sangat masuk akal jika ditinjau dari pihak pemerintah. Bukankah selama ini pemerintah kerap kali mengeluarkan pernyataan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang sakit hati dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang syah ?</p>
<p>Dan saya yakin, selama ini kita juga telah mengamati, sejauh ini pemerintah belum bisa membuktikan siapa yang bermaksud mau menggulingkan pemerintah yang syah. Dengan catatan tersebut, mungkinkah memang ada pihak yang sakit hati dan ingin menggulingkan pemerintahan yang syah punya rencana biadab mengadu domba masyarakat dengan mengatasnamakan agama ?</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan kemungkinan kedua ?</p>
<p>Kalau kita membaca catatan di langit, betapa seringnya pemerintah mengalihkan isyu ketika ada ‘masalah krusial’ sedang menjadi berita hangat di masyarakat. Saat ini masyarakat telah menunggu dengan setengah tidak sabar untuk penuntasan kasus century, Gayus Tambunan dan tuntutan untuk mengungkap rekening gendut 17 pejabat tinggi Polri. Bukankah tuntutan penuntasan kasus-kasus tersebut dapat mengharu-biru ‘kepentingan hajat orang banyak’ ? Maka, sangat masuk akal jika masyarakat perlu dibikinkan ‘mainan baru’ berupa bentrok massal yang mengatasnamakan kepentingan agama. Di negeri ini, masalah agama kan sanagt sensitif.</p>
<p>Dugaan yang kedua ini sepertinya selaras dan sejajar dengan penjelasan Kapolri di atas, bahwa si penggerak kerusuhan massal di Cikeusik bukan berasal dari komunitas tertentu. Dengan pernyataan tersebut, kita khawatir, penyelidikan akan berhenti sebatas tertangkapnya si penggerak tersebut. Artinya, tidak perlu lagi dicari aktor intelektual di balik kerusuhan tersebut. Dan, sekali lagi, menurut catatan di langit negeri ini, setiap kerusuhan massal, mulai dari zaman orde baru hingga orde sekarang, belum pernah diketemukan aktor intelektual dari setiap kerusuhan massal. Sepertinya, setiap kerusuhan massal di negeri ini selalu berasal dari inisiatif warga masyarakat ( grass root ) sendiri. Jika ini benar, betapa hebatnya masyarakat kita !!!</p>
<p>Tadi sore, saya melihat berita di TV kalau Kapolda Banten,  Brigadir Jenderal Pol. Agus Kusnadi dicopot dari jabatannya lantaran dinilai gagal dalam menjalankan sistem keamanan dalam peristiwa itu. Dan sebelumnya, juga dilakukan mutasi atas kasus serupa Kepala Kepolisian Resor Pandeglang Ajun Komisaris Besar Polisi Alex Fauzi Rasad dan Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Banten Komisaris Besar Pol. Adityawarman.</p>
<p>Kita tentu akan mengapresiasi dan mengangkat topi tinggi-tinggi pencopotan tersebut jika yang terjadi adalah dugaan yang pertama. Ini menunjukkan betapa seriusnya kepolisian kita menangani kasus kerusuhan massal yang terjadi belakangan ini. Tapi, jika yang benar adalah dugaan yang kedua, untuk apa pencopotan tersebut ?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohadieducation.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohadieducation.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohadieducation.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohadieducation.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rohadieducation.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rohadieducation.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rohadieducation.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rohadieducation.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohadieducation.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohadieducation.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohadieducation.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohadieducation.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohadieducation.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohadieducation.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=177&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/02/14/pencopotan-kapoda-banten-cukupkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/779761a8a716ae5500dab63f066ee62f?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Acara ‘Malam Tahun Baru-an” dan Hedonisme Remaja</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/01/15/acara-%e2%80%98malam-tahun-baru-an%e2%80%9d-dan-hedonisme-remaja/</link>
		<comments>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/01/15/acara-%e2%80%98malam-tahun-baru-an%e2%80%9d-dan-hedonisme-remaja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 16:13:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rohadi Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Pulau Kelapa]]></category>
		<category><![CDATA[hedonisme]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohadieducation.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Setiap malam tahun baru, kita melihat pemandangan yang sama dari tahun ke tahun. Berpawai dengan mobil atau motor; mendatangi tempat-tempat hiburan; bermalam di hotel atau tempat wisata. Seolah hukumnya wajib bahwa pada malam pergantian tahun harus bersenang-senang, pesta-pora, dan berwisata-ria. Tanpa perlu mempedulikan hari esok, apalagi saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah, kita hanya berfokus mengejar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=174&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap malam tahun baru, kita melihat pemandangan yang sama dari tahun ke tahun. Berpawai dengan mobil atau motor; mendatangi tempat-tempat hiburan; bermalam di hotel atau tempat wisata. Seolah hukumnya wajib bahwa pada malam pergantian tahun harus bersenang-senang, pesta-pora, dan berwisata-ria. Tanpa perlu mempedulikan hari esok, apalagi saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah, kita hanya berfokus mengejar kenikmatan malam tahun baru.</p>
<p>Tradisi mencari kesenangan seperti itu semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya setiap tahun. Kebiasaan merayakan malam tahun baru seperti itu cepat menjalar ke setiap jiwa, sehingga ‘penganutnya’ terus meningkat dari tahun ke tahun. Adakah ini menjadi bukti semakin terinternalisasikannya paham hedonisme pada diri kita ?<span id="more-174"></span></p>
<p>Konon, paham Hedonisme ini berkembang semenjak masa Yunani. Hedonisme adalah salah satu aliran filsafat dari Yunani. Para penganut paham ini berkayakinan bahwa tujuan hidup adalah mencari kebahagiaan. Untuk mendapatkan kebahagiaan yang langgeng, mereka menjalani berbagai praktik asketis, seperti puasa, hidup miskin, bahkan menjadi pertapa agar mendapat kebahagiaan sejati. Bukan sekaar kebahagiaan duniawi yang semu.</p>
<p>Namun, ketika Romawi menguasai Eropa dan Afrika, pandangan Hedonisme ini mengalami pergantian makna. Pencarian kebahagiaan diganti dengan pengejaran kenikmatan duniawi semata. Semboyan hidup baru yang mereka hembuskan adalah carpe diem (raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi kamu hidup).</p>
<p>Pergeseran paradigma hidup dari mencari kebahagiaan ke mencari kenikmatan ternyata membawa implikasi yang luar biasa. Selain hanya sekadar mengejar kenikmatan duniawi semata, pandangan baru ini juga jauh lebih mementingkan kenikmatan sesaat. Karena, bagi mereka, hidup hanyalah saat ini. Maka nikmatilah saat ini semaksimal mungkin. Lupakan kemarin dan hari esok. Jika terlalu berpaku pada hari kemarin atau hari esok, itu artinya menyia-nyiakan nikmat yang bisa didapat hari ini.</p>
<p>Dalam pandangan demikian, maka nilai baik buruk harus diabaikan. Karena, jika terlalu mempertimbangkan baik-buruk, maka saat-saat untuk memperoleh kenikmatan akan berlalu begitu saja. Dengan demikian, paham Hedonisme ala Romawi ini sangat menonjolkan pemenuhan hawa nafsu dan sikap egoistik.</p>
<p>Karakter manusia seperti itu sangat cocok dengan kebanyakan manusia modern saat ini. Bukankah sikap individualistik dan pengejaran kenikmatan duniawi telah menjadi ‘Tuhan’ manusia modern ? Bahkan para remaja pun tak lupt dari virus pandangan hidup tersebut.</p>
<p>Karena itu, tidaklah mengherankan, meski sebagian saudara kita sedang menderita akibat bencana alam, bangsa ini tetap bisa merayakan malam tahun baru dengan luar biasa gemerlap. Biaya ratusan milyar dihabiskan untuk acara tersebut, seolah bangsa ini adalah bangsa kaya tanpa penderitaan.</p>
<p>Seperti diuraikan di atas, gaya hidup seperti itu juga melanda remaja. Coba saja dilihat gaya mereka bicara, berpakaian, asesoris yang dikenakan, barang-barang ( khususnya gadget ), kebiasaan mengunjungi mall dan tempat hiburan malam, semuanya menampilkan gaya hidup mewah. Kebiasaan ini seolah telah menjadi life style. Dan, para remaja ini telah merasa nikmat dan nyaman dengan life style ini.</p>
<p>Gaya hidup serba mewah, serba enak dan serba berkecukupan yang dianut para remaja sesungguhnya karena ‘diajarkan’ oleh orang-orang dewasa disekitar mereka. Karakter dari remaja adalah mudah meniru gaya dari significant others. Selain itu, juga dipicu oleh program-program yang ditayangkan oleh televisi. Kehidupan ala sinetron yang kerap menampilkan hidup mewah dan cara instan telah menjadi ‘agama baru’ bagi remaja. Siapa pun yang ‘kafir’ dengan gaya hidup ala sinetron ini akan mendapat stigmatisasi ‘tidak gaul dan tidak funky’. Sebuah stigma yang amat memalukan bagi mereka, karena itu sedapat mungkin harus dihindari.</p>
<p>Selain itu, program-program televisi yang mendorong remaja dengan cepat dapat menjadi selebritis atau tokoh terkenal, meski juga cepat tenggelam kembali, semacam Indonesian Idol, AFI atau KDI telah menabur mimpi di kalangan remaja untuk menjadi tenar dengan cara instan. Akibat dari program-program semacam ini, baik pesertanya maupun penontonnya, meyakini bahwa cara-cara instant adalah hal yang lumrah dan dapat dibenarkan.</p>
<p>Kebutuhan hidup yang tercipta akibat keinginan mengejar ‘syahwat’ kenikmatan duniawi, berpadu dengan budaya instant, menyebabkan para remaja seringkali menjerumuskan diri ke dalam perilaku sesat. Keinginan untuk memenuhi barang-barang mewah mungkin bukan terlalu menjadi masalah bagi anak-anak orang kaya. Orangtua sanggup memenuhi sebagian besar keinginan mereka. Tapi, bagaimana dengan remaja dari keluarga pas-pasan ?</p>
<p>Ketika keinginan memiliki hand phone atau pakaian type termutakhir, sementara anggaran dari orangtua tidak ada, maka remaja dari keluarga kurang mampu biasanya mengambil jalan pintas. Tidaklah mengherankan, jika saat ini muncul fenomena baru yang muncul di sekitar kehidupan kampus. Para mahasiswi atau pelajar putri mengambil profesi sebagai ‘ayam kampus’ dan yang laki-laki berprofesi sebagai pengedar narkoba.</p>
<p>Profesi ini menjadi pilihan karena tidak memerlukan keahlian dan ketrampilan tertentu. Siapapun dapat melakukannya, asalkan tidak memikirkan segala resiko dari profesi tersebut. Selain itu, dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain yang bisa mereka lakukan, profesi menjadi ‘ayam kampus’ dan pengedar narkoba memungkinkan mereka mendaptkan penghasilan yang jauh lebih menjanjikan. Bagi yang telah ‘mengimani’ budaya instant, cara ini dipandang paling logis.</p>
<p>Penulis yakin, siapa pun tahu betapa besar resiko dari kedua profesi di atas. Selain merusak kesehatan mereka, baik kesehatan fisik maupun mental, profesi tersebut juga berbahaya secara hukum. Dan yang lebih parah, profesi tersebut dapat merusak masa depan mereka.</p>
<p>Oleh karena itu, tahun baru mestinya menjadi momen untuk melakukan instropeksi. Prestasi apa saja yang telah dicapai dalam setahun terakhir; kesalahan apa saja yang telah diperbuat; dan sekaligus juga mengkaji potensi-potensi diri apa saja yang belum termanfaatkan secara maksima. Selain itu, juga untuk merancang strategi-strategi apa saja yang mesti dilakukan untuk meraih berbagai macam prestasi di masa depan. Jika saja setiap malam tahun baru kita melakkukan instropeksi seperti itu, maka pasti kualitas hidup kita akan meningkat dari tahun ke tahun.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohadieducation.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohadieducation.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohadieducation.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohadieducation.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rohadieducation.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rohadieducation.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rohadieducation.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rohadieducation.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohadieducation.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohadieducation.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohadieducation.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohadieducation.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohadieducation.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohadieducation.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=174&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohadieducation.wordpress.com/2011/01/15/acara-%e2%80%98malam-tahun-baru-an%e2%80%9d-dan-hedonisme-remaja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/779761a8a716ae5500dab63f066ee62f?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mewujudkan 2011 sebagai Tahun kewirausahaan</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com/2010/12/25/mewujudkan-2011-sebagai-tahun-kewirausahaan/</link>
		<comments>http://rohadieducation.wordpress.com/2010/12/25/mewujudkan-2011-sebagai-tahun-kewirausahaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Dec 2010 16:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rohadi Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[kewirausahaan]]></category>
		<category><![CDATA[tahun 2011]]></category>
		<category><![CDATA[tahun kewirausahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohadieducation.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Pemerintah, sebagaimana dikemukakan Menko  Perekonomian Hatta Rajasa, akan mencanangkan tahun 2011 sebagai tahun kewirausahaan dalam upaya  mendorong munculnya pebisnis kreatif dan inovatif  yang memiliki daya saing di pasar global. “Entrepreneur kita sangat lambat pertumbuhannya. Oleh sebab itu harus terus dipacu pembentukan dan pengembangan wirausaha kreatif. Penurunan kinerja ekspor dan investasi itu tentu tidak lepas dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=164&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemerintah, sebagaimana dikemukakan Menko  Perekonomian Hatta Rajasa, akan mencanangkan tahun 2011 sebagai tahun kewirausahaan dalam upaya  mendorong munculnya pebisnis kreatif dan inovatif  yang memiliki daya saing di pasar global.</p>
<p>“Entrepreneur kita sangat lambat pertumbuhannya. Oleh sebab itu harus terus dipacu pembentukan dan pengembangan wirausaha kreatif. Penurunan kinerja ekspor dan investasi itu tentu tidak lepas dari kemampuan wirausaha kita,” katanya di sela-sela acara Creative Entrepreneur ‘Fire’ Dialog Berwirausaha, di Jakarta hari ini.</p>
<p>Menurut Hatta, ekspor  memang masih banyak tergantung dari para pedagang di negara lain dan  kemampuan investasi swasta juga masih terbatas dan belum banyak bergerak di sektor technology based atau knowledge based investment.</p>
<p>Sementara itu, pengalaman dari berbagai terpaan krisis dan turbulensi ekonomi global yang mempengaruhi laju pembangunan ekonomi, menurunkan kinerja produksi manufaktur.</p>
<p>“Ini menyadarkan semua pihak akan perlunya kita meningkatkan ketangguhan dan pengembangan wirausaha kreatif nasional.&#8221;</p>
<p>Pemerintah, katanya, mendukung kreasi usaha yang menciptakan dan menjual produk inovatif. “Kita perlu pensuplai barang dan jasa yang unggul bersaing karena mengandalkan kualitas produk,” tambahnya.</p>
<p>Wirausaha, kata dia,  akan meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi karena masyarakat menjadi aktor aktivitas dan faktor produksi ekonomi, sekaligus  menjadi kunci penanggulangan pengangguran dan sekaligus kemiskinan.<span id="more-164"></span></p>
<p>Ketua Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif Handito Joewono yang memprakarsai pendirian Indonesia Creative Entrepreneur Club (ICEC) mengatakan pemerintah dan pemangku kepentingan terkait telah menyediakan tiga program, yaitu pembenihan, penempaan dan pengembangan.</p>
<p>“Salah satunya dimasukkannya kewirausahaan kreatif dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan bagi mahasiswa, pelajar dan anggota masyarakat lain yang ingin membangun usaha. Sementara kementerian terkait lainnya membantu mengembangkan usaha dan akses pasarnya,” jelasnya.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.bisnis.com/index.php/ekonomi/mikro-ukm/781-hatta-canangkan-2011-tahun-kewirausahaan" target="_blank">Bisnis Indonesia</a></p>
<p>Tentu kita semua berharap bahwa apa yang dikemukakan oleh Menko Perekonomian di atas akan benar-benar menjadi kenyataan. Bukan sekadar wacana. Karena, keberadaan para wirausahawan memang seharusnya menjadi tulang punggung bagi sebuah negara. Sejarah telah membuktikan bahwa di negara-negara maju, keberadaan para wirausahawan ini telah member andil signifikan bagi peningkatan pendapatan suatu negara. Lihat saja peranan kaum wiraushawan Jepang di masa Restorasi Meiji, kaum Parsi di Timur Tengah, wirausahawan Protestan di Barat, maupun kelompok wirausahawan Cina di Hongkong atau Taiwan. Semuanya telah member andil besar bagi peningkatan pertumbuhan perekonomian bangsanya.</p>
<p>Selain itu, jumlah dari manusia wirausahawan ini harus terus menerus ditingkatkan. Karena, kalau tidak, sebuah bangsa hanya akan diisi oleh penduduk bermental kuli, kaum feodalis atau masyarakat birokratis saja. Ini akan melumpuhkan daya saing bangsa tersebut di masa yang akan datang yang akan diwarnai iklim kompetisi yang begitu ganas.</p>
<p>Yang menjadi pekerjaan rumah kita semua adalah bagaimana  negeri ini akan mencetak wirausahawan-wirausahawan muda ?</p>
<p>Seperti  dipaparkan dalam berita di atas, salah satunya adalah dimasukkannya kewirausahaan kreatif dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan bagi mahasiswa, pelajar dan anggota masyarakat lain yang ingin membangun usaha. Bukan bermaksud pesimis, sepertinya pengajaran kewirausahaan ini sudah lama masuk dalam kurikulum pendidikan kita, terutama kurikulum untuk SMA. Tapi, sampai sekarang kok belum banyak hasilnya. Terbukti, jarang kita temui <em>fresh graduate</em> yang punya cita-cita menjadi seorang wirausahawan. Mereka lebih suka menjadi karyawan. Kalo ada satu dua dari mereka yang terjun ke dunia wirausaha kebanyakan disebabkan oleh dua factor. Pertama, meneruskan usaha orangtua yang telah sukses. Kedua, karena melamar pekerjaan kesana-kemari tidak diterima, maka ‘terpaksa’ harus terjun ke dunia wirausaha.</p>
<p>Mengapa hal ini bisa terjadi ?</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, tentu saja karena kekurang-seriusan pemerintah dalam mendukung kelahiran para wirausahawan muda. Walaupun sering dikatakan modal bukanlah faktor terpenting bagi wirausahawan, tapi tanpa modal finansial mustahil seseorang akan mampu berwirausaha. Sementara, dunia perbankan memberlakukan persyaratan yang sangat sulit bagi para fresh graduate memperoleh pinjaman di bank.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, sulitnya mendapatkan perijinan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa untuk memperoleh legalitas bagi dunia usaha bukanlah hal yang mudah. Selain faktor lamanya waktu, biaya ‘non formal’ yang harus dikeluarkan untuk ‘uang saku’ para pejabat pemberi ijin tidaklah kecil bagi para calon wirausahawan ini.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, meski kurikulum kewirausahaan telah diperkenalkan sejak beberapa tahun silam, namun jiwa wirausaha tak jua tumbuh di kalangan generasi sekolahan. Hal ini karena kesalahan-tafsir para pengelola pendidikan di dalam memaknai pendidikan kewirausahaan. Selama ini, para pendidik beranggapan bahwa pendidikan kewirausahaan adalah mengajarkan ketrampilan-ketrampilan membuat berbagai macam barang produksi. Atau, mengajarkan pelajaran pembukuan. Tidak lebih dari itu.</p>
<p>Padahal, kegiatan berwirausaha bukanlah sekadar membuat barang dan membuat pembukuan. Ia merupakan serangkaian kegiatan yang kompleks. Mulai dari perencanaan usaha, memperoleh permodalan, memproduksi, memasarkan, mengelola SDM dan lain-lain. Dan semua itu tidak cukup hanya dipelajari secara teoritis. Tapi harus dipraktekkan. Karena itu, cara terbaik untuk mendidik kewirausahaan adalah dengan berpraktrek berwirausaha. Dengan berpraktek, selain akan dimiliki berbagai ketrampilan wirausaha seperti dikemukakan di atas, juga akan diperoleh mental wirausaha. Persoalan wirausaha bukan saja mengenai ketrampilan, tetapi yang terpenting adalah dimilikinya mental wirausaha ini.</p>
<p>Sekarang, tinggal berpulang kepada niat baik pemerintah dalam mensukseskan pencanangan tahun 2011 sebagai tahun kewirausahaan. Apakah ketiga masalah di atas mampu di atasi. Jika tidak, rasanya pencanangan Tahun Wirausaha di atas hanyalah lip service saja. Seperti program-program lainnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohadieducation.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohadieducation.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohadieducation.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohadieducation.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rohadieducation.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rohadieducation.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rohadieducation.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rohadieducation.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohadieducation.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohadieducation.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohadieducation.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohadieducation.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohadieducation.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohadieducation.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=164&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohadieducation.wordpress.com/2010/12/25/mewujudkan-2011-sebagai-tahun-kewirausahaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/779761a8a716ae5500dab63f066ee62f?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mempersiapkan Diri Menghadapi Unas</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com/2010/12/03/mempersiapkan-diri-menghadapi-unas/</link>
		<comments>http://rohadieducation.wordpress.com/2010/12/03/mempersiapkan-diri-menghadapi-unas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Dec 2010 19:13:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rohadi Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[menghadapi Unas]]></category>
		<category><![CDATA[unas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohadieducation.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar istilah Unas membuat hati banyak pihak berdebar dahsyat. Bagi siswa, orangtua siswa dan guru menghadapi Unas bak akan menghadapi sidang di pengadilan. Hal ini karena keduanya sama-sama menentukan nasib mereka di masa mendatang. Untuk siswa kelas 9 dan 12 ( untuk selanjutnya disebut kelas 3, dan kelas 7,8, 10 dan 11 disebut kelas 1 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=130&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengar istilah Unas membuat hati banyak pihak berdebar dahsyat. Bagi siswa, orangtua siswa dan guru menghadapi Unas bak akan menghadapi sidang di pengadilan. Hal ini karena keduanya sama-sama menentukan nasib mereka di masa mendatang.</p>
<p>Untuk siswa kelas 9 dan 12 ( untuk selanjutnya disebut kelas 3, dan kelas 7,8, 10 dan 11 disebut kelas 1 dan kelas 2, demi memudahkan penyebutan ), hari-hari ini adalah hari yang menyesakkan.  Jika di kelas 1 dan 2 mereka bisa pulang sekolah pada jam 14.00, maka, sekarang mereka harus pulang jam 17.00, paling cepat pukul 16.00. penambahan jam tersebut karena mereka harus mengikuti les-les tambahan yang diberikan oleh guru sekolah mereka.  Jadi, siswa-siswa itu masuk sekolah pukul 07.00, pulang pukul 17.00. Bayangkan ! Hampir setiap hari mereka harus duduk di bangku sekolah selama lebih kurang 10 jam.<span id="more-130"></span></p>
<p>Bagi anak keluarga relatif mampu, ‘siksaan’ di atas masih berlanjut.  Sepulang mengikuti les tambahan yang diberikan sekolah, mereka masih harus mengikuti bimbingan belajar. Sehingga, sehabis Isya’ baru mereka baru tiba di rumah. Kalau ada PR dari sekolah, mereka masih harus mengerjakannya. Bisa dibayangkan, betapa lelahnya ( fisik dan pikiran ) anak-anak yang akan bertanding di laga yang bernama Unas tersebut.</p>
<p>Dengan pola belajar yang melelahkan seperti itu, bisakah dihasilkan manusia-manusia cerdas dan kreatif ?  Tentu sulit.</p>
<p>Oleh karena itu, senyampang masih relatif jauh pelaksanaan Unas, semua pihak yang berkepentingan mempersiapkan palaksanaan Unas dengan sebaik-baiknya dan tidak menyiksa. Berikut ini akan disajikan beberapa tips bagi para siswa untuk menghadapi Unas.</p>
<p>a.      Reduksi Kecemasan</p>
<p>Ada pepatah lama yang berbunyi : “Jangan cemaskan jembatan yang akan kamu seberangi sebelum kamu menyeberanginya.”  Betapa seringnya kita mencemaskan sebuah peristiwa yang harus kita jalani di masa depan sebelum kita menjalaninya. Membayangkan sesuatu yang mencemaskan seperti itu sangatlah melelahkan. Energi kita bisa dihambur-hamburkan tiada manfaat.</p>
<p>Seperti diuraikan di atas, hari-hari ini Anda sangat dicemaskan oleh ketakutan tidak lulus Unas. Hampir setiap detik pikiran Anda dibebani oleh peristiwa yang belum terjadi itu. Akibatnya, Anda akan kelelahan, dan semakin hari kelelahan yang Anda rasakan akan semakin bertambah.</p>
<p>Kelelahan semacam ini akan mengurangi kekuatan fisik dan pikiran Anda. Kurangnya kekuatan ini pada akhirnya dapat mengurangi kapasitas Anda untuk belajar. Jika hal sperti ini berlangsung terus, Anda bisa jadi benar-benar tidak lulus Unas.</p>
<p>Oleh karena itu, abaikan segala macam pandangan yang menyebabkan diri Anda terbebani Unas harus bisa diabaikan. Caranya : anggaplah mengikuti Unas adalah hampir sama dengan mengikuti evaluasi-evaluasi belajar yang lain. Jadi, Unas tidak perlu ‘diistimewakan’.</p>
<p>Selanjutnya, perhatikan berapa siswa yang tahun kemarin tidak lulus Unas. Fakta menunjukkan bahwa jumlah siswa kelas 3 yang tidak lulus tahun kemarin relatif kecil prosentasenya.  Malah, bagi yang tidak lulus bisa mengikuti Unas ulangan. Artinya, tidak perlu ada yang dicemaskan tentang Unas, bukan ?</p>
<p>Bagaimana kalau nanti benar-benar tidak lulus Unas dan setelah mengikuti Unas susulan juga tidak lulus ?</p>
<p>Barangkali di antara kakak kelas atau tetangga Anda ada yang tidak lulus pada Unas tahun sebelumnya. Perhatikan mereka ! Mereka baik-baik saja kan hari ini ? Mereka masih sehat dan waras seperti Anda saat ini. Artinya, yakinilah bahwa tidak lulus Unas bukanlah akhir dari segalanya. Jadi, jalani hari-hari menjelang Unas ini tanpa tekanan apa pun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>b.      Bangkitkan Kepercayaan Diri</p>
<p>Keberhasilan dalam bidang apa pun pasti ditunjang oleh kepercayaan diri yang tinggi. Itulah sebabnya, banyak kegagalan diakibatkan oleh rendahnya kepercayaan diri. Oleh karena itu, jagalah kepercayaan diri Anda sebagai persiapan menghadapi Unas.</p>
<p>Kecemasan karena takut gagal Unas justru akan merusak kepercayaan diri. Kecemasan menyebabkan kita merasa kurang berdaya dalam menghadapi sebuah peristiwa ( Unas ). Maka, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan kecemasan itu. Kedua, ingatlah perjalanan hidup Anda selama ini. Bandingkan, lebih banyak mana keberhasilan atau kegagalan Anda dalam studi. Penulis yakin, Anda lebih banyak berhasilnya daripada gagalnya. Ini berarti Anda telah memiliki modal dasar yang cukup baik untuk lulus Unas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>c.       Belajar Secara Teratur dan Tidak berlebihan</p>
<p>Penjelasan di atas bukan berati Anda bisa berleha-leha tanpa perlu belajar tekun untuk menghadapi Unas. Karena dalam Unas yang diujikan adalah seluruh materi pelajaran yang telah Anda pelajari mulai kelas 1 hingga kelas 3 ini, maka Anda harus memiliki agenda belajar yang baik supaya mampu mempelajari kembali seluruh materi tersebut.  Dengan mempelajari seluruh materi tersebut, Anda akan melihat kembali keterkaitan materi yang Anda peroleh di kelas 1,2 dan 3. Jika ini bisa Anda lakukan, Anda akan lebih mengerti pelajaran-pelajaran yang Anda pelajari ulang.</p>
<p>Selain itu, Anda juga harus mempelajari mengerjakan soal-soal. Ini berguna bagi Anda supaya memiliki ketrampilan dalam mengerjakan soal-soal. Karena, berdasarkan pengalaman, ada beberapa siswa kurang berhasil maksimal dalam mengerjakan soal-soal Unas karena kurang trampil mengisi LJK.</p>
<p>Selamat berjuang !!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohadieducation.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohadieducation.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohadieducation.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohadieducation.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rohadieducation.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rohadieducation.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rohadieducation.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rohadieducation.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohadieducation.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohadieducation.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohadieducation.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohadieducation.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohadieducation.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohadieducation.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=130&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohadieducation.wordpress.com/2010/12/03/mempersiapkan-diri-menghadapi-unas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/779761a8a716ae5500dab63f066ee62f?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kita Miskin Wirausahawan ?</title>
		<link>http://rohadieducation.wordpress.com/2010/10/14/mengapa-kita-miskin-wirausahawan/</link>
		<comments>http://rohadieducation.wordpress.com/2010/10/14/mengapa-kita-miskin-wirausahawan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 19:37:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rohadi Wicaksono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rohadieducation.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Marilah kita simak sejenak fenomena berikut. Pada era ‘70 dan ’80-an, banyak pelajar Malaysia menuntut ilmu di perguruan tinggi-perguruan tinggi di negeri ini; pegawai pertanian Philipina banyak yang belajar pada dinas pertanian kita untuk urusan perberasan; pegawai-pegawai perkebunan Muang Thai juga banyak yang belajar soal perkebunan ke sini. Sekarang apa yang terjadi ? Situasinya telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=126&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Marilah kita simak sejenak fenomena berikut. Pada era ‘70 dan ’80-an, banyak pelajar Malaysia menuntut ilmu di perguruan tinggi-perguruan tinggi di negeri ini; pegawai pertanian Philipina banyak yang belajar pada dinas pertanian kita untuk urusan perberasan; pegawai-pegawai perkebunan Muang Thai juga banyak yang belajar soal perkebunan ke sini. Sekarang apa yang terjadi ?</p>
<p>Situasinya telah berbalik 180<sup>o</sup>. Pelajar-pelajar kita telah banyak yang harus belajar ke negeri jiran, karena mutu pendidikan di sana ternyata jauh lebih baik. Untuk urusan perkebunan dan pertanian, kita ketinggalan jauh dibanding Thailand dan Pilipina. Buah-buahan dari Thailand jauh lebih berkualitas dibanding buah-buahan kita. <em>Mengapa ini bisa terjadi?<span id="more-126"></span></em></p>
<p>Menurut hemat penulis karena kurangnya penduduk yang bermental wiraswasta. Persoalannya, <strong><em>faktor apa saja yang membuat kita miskin mental wiraswasta ? Sejak kapan hal itu terjadi ?</em></strong></p>
<p>Untuk menjelaskan hal ini, akan dikutip uraian Prof. Dr. Koentjaraningrat dalam bukunya <em>Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan</em>. Menurut ahli budaya ini, mentalitas bangsa kita yang tidak selaras dengan tuntutan pembangunan berasal dari dua faktor, yakni faktor yang bersumber dari budaya kita sendiri dan faktor kondisi setelah revolusi.</p>
<p>Salah satu karakter budaya bangsa kita adalah feodalisme. Feodalisme ini, salah satunya, mengejawantah pada nilai <strong><em>yang terlampau banyak  berorientasi vertikal</em></strong>, ke arah tokoh, pembesar, atasan atau senior. Nilai itu mematikan beberapa sifat mentalitas tertentu, seperti kemauan untuk berusaha atas kemampuan sendiri, rasa disiplin murni dan rasa bertanggungjawab sendiri.</p>
<p><strong><em>Rendahnya kemauan untuk berusaha atas kemampuan sendiri</em></strong> berasal dari sifat tak percaya kepada diri sendiri.  Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Koentjaraningrat, menunjukkan bahwa sifat tak percaya kepada diri sendiri ini memburuk terutama di antara penduduk perkotaan di Indonesia, yakni pada golongan pegawai. Sifat ini tampaknya dapat dikembalikan  kepada nilai budaya dalam mentalitas para pegawai dan priyayi, yang terlampau banyak berorientas vertikal terhadap tokoh-tokoh atasan dan senior.</p>
<p>Budaya feodalisme telah menjadikan bangsa kita, setidaknya, terbagi pada dua strata; strata bangsawan atau priyayi di satu sisi, dan strata rakyat jelata di sisi lain. Golongan bangsawan dianggap sebagai patron bagi rakyat jelata. Segala sesuatu harus mengacu kepada kelompok bangsawan. Karena menganggap golongan lain sebagai patron, maka kedudukan kelompok rakyat jelata menjadi <em>tersubordinasikan</em>. Mereka memposisikan diri berada di bawah kelompok lain. Berdasarkan kaidah yang berlaku, kelompok yang di bawah harus menurut <em>titah</em>; harus meniru kebiasaan-kebiasaan; dan bangga menjadi abdi kelompok atas. Dan kelompok bawah ini tidak boleh punya kemauan sendiri. Segala macam kemauan diserahkan pada  kemauan kelompok atas. Inilah yang menyebabkan sebagian besar bangsa kita tidak punya kemauan berusaha atas kemampuan sendiri.</p>
<p><strong><em>Sifat tak berdisipilin</em></strong>, kalau dirunut ternyata, juga terdapat dalam mentalitas pegawai yang terlampau berorientasi vertikal. Banyak orang Indonesia, sampai saat ini, berpenampilan disiplin hanya ketika diawasi dari atas. Ketika pengawasan surut, hilanglah dorongan hati untuk mentaati berbagai peraturan. Sifat ini juga muncul dalam bentuk ketidaktekunan dan kesungguhan dalam bekerja atau berusaha. Saat diawasi, mereka kelihatan tekun dan sungguh-sungguh dalam bekerja. Begitu pengawasan berkurang, berkurang pula ketekunan dan kesungguhan.</p>
<p>Kurang tanggungjawab ini, menurut Koentjaraningrat pula, bisa juga disebabkan oleh tradisi gotong royong. Siapa pun mengakui jika tradisi ini cukup baik dan perlu dilestarikan. Namun, ternyata, ia punya wajah lain yang justru kurang menguntungkan jika salah penempatan.</p>
<p>Tradisi gotong royong memberi rasa aman kepada pendukungnya. Jika salah satu anggota tertimpa bencana atau kesulitan, maka yang lain akan ramai-ramai membantu. Dalam masyarakat demikian, orang jarang merasa bertanggungjawab secara pribadi dalam menghadapi aneka macam kesulitan. Perasaan semacam ini ternyata dapat menghambat  munculnya tanggung jawab pribadi.</p>
<p>Selain yang berasal dari tradisi feodalisme, mentalitas bangsa kita yang menghambat pembangunan juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pasca kemerdekaan. Kondisi ini  melahirkan mental <strong><em>suka mengabaikan kualitas </em></strong>dan <strong><em>ambil jalan pintas.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong>Kepekaan kita terhadap mutu suatu barang, baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen sudah hampir hilang.  Para ahli menduga bahwa mentalitas yang sering mengabaikan mutu ini adalah kosekuensi kemiskinan yang menghebat yang kita alami setelah kemerdekaan. Kemiskinan membuat kita tak sempat memikirkan kualitas, yang penting tersedia barang dan bisa dimanfaatkan.  Kita juga sudah cukup puas jika suatu pekerjaan telah diselesaikan, apapun mutunya tak jadi soal. Yang penting selesai dan segera bisa dimanfaatkan.</p>
<p>Sebagai contoh dari kebiasaan  mengabaikan mutu  adalah kebijakan yang diambil oleh dunia pendidikan kita. Ketika jumlah penduduk mengalami peningkatan luar biasa, dan sarana pendidikan tidak mampu mengimbanginya, maka pemerintah mengambil kebijakan bahwa murid-murid harus segera diluluskan supaya tempatnya segera bisa diganti calon murid lain yang sedang antri. Apapun mutunya tak jadi soal, yang penting sebagian besar penduduk muda usia pernah mengenyam pendidikan.</p>
<p>Adapun <strong><em>mental suka mengambil jalan pintas</em></strong> adalah mentalitas yang bernafsu segera mencapai tujuan tanpa kerja keras, setahap demi setahap. Dalam masyarakat kita saat ini, tampak banyak usahawan baru yang  mau mencapai dan memamerkan taraf hidup yang gemerlap dan penuh kemewahan dengan  cepat, melalui cara yang tidak wajar, atau dengan mengambil keuntungan sebesar-besar ‘mumpung’ ada kesempatan tanpa menghiraukan jangka panjangnya.</p>
<p>Seorang karyawan atau pegawai, terutama pegawai negeri, yang ingin segera mencapai fasilitas-fasilitas pangkat atau tingkatan tinggi dalam waktu sesingkat mungkin tanpa mau berjuang, tak segan-segan untuk menyuap. Dengan suap ini, tanpa bertele-tele bisa naik pangkat. Di sini, wawasan keilmuan, kerja keras, prestasi, maupun ketrampilan hanya dipandang sebelah mata. Yang penting ada uang pelicin, kedudukan pasti didapat.</p>
<p>Seorang yang belum kerja pun, untuk mendapatkan pekerjaan tak segan-segan menyuap supaya lolos dalam seleksi masuk, tanpa peduli berapa pun tarifnya. Mereka ini tak mau tahu bahwa tujuan diadakan test seleksi adalah untuk menyaring agar diperoleh pegawai-pegawai yang kapabel dengan bidang yang akan dimasuki. Mereka tak mau berjuang mencari ilmu untuk meningkatkan kapabilitasnya. Mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk menyuap.<em> </em></p>
<p>Fenomena suka ambil jalan pintas ini mulai muncul ketika penjajah meninggalkan negeri ini. Pada saat itu, banyak lowongan-lowongan pekerjaan yang ditinggalkan penjajah. Sedangkan lowongan tersebut harus segera diisi supaya kehidupan bernegara bisa segera berjalan, meski mereka kurang kapabel.</p>
<p>Memang, di tempat-tempat lain, mental ingin mencapai jalan pintas itu juga ada. Bedanya, di negeri kita hal itu tampil sangat ‘telanjang’, terutama pada masa orde baru dan era reformasi ini. Sedangkan di sebagian negera-negara lain, perilaku ingin jalan pintas ini tidak begitu  menonjol, karena ‘nafsu’ itu dikendalikan dan dikekang.</p>
<p>Menurut Koentjaraningrat, dorongan tersebut bisa dikendalikan, karena dalam pandangan umum pada masyarakat lain tadi masih ada kesadaran akan guna dari garis panjang kemajuan hidup. Bisa dikekang karena di sana ada norma-norma yang memaksa orang menuruti garis panjang kemajuan hidup itu secara demi selangkah.</p>
<p>Jika kita amati sifat-sifat di atas, jelas bahwa mentalitas-mentalitas tersebut sangat bertentangan dengan  karakter yang harus dimiliki  seorang wiraswastawan. Selanjutnya, menurut uraian di atas, suatu bangsa yang kekurangan manusia bermental wiraswasta  akan mengalami kemacetan pertumbuhan ekonomi dan keterbelakangan. Bukankah seperti keadaan bangsa kita saat ini ?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rohadieducation.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rohadieducation.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rohadieducation.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rohadieducation.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rohadieducation.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rohadieducation.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rohadieducation.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rohadieducation.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rohadieducation.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rohadieducation.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rohadieducation.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rohadieducation.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rohadieducation.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rohadieducation.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rohadieducation.wordpress.com&amp;blog=1207038&amp;post=126&amp;subd=rohadieducation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rohadieducation.wordpress.com/2010/10/14/mengapa-kita-miskin-wirausahawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/779761a8a716ae5500dab63f066ee62f?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rohadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
