Skip to content

Pendidikan Yang Epistemologis

8 Juni 2007

A. PENDAHULUAN

Usia pendidikan sama tuanya dengan usia kebudayaan manusia. Pendidikan telah mulai dilaksanakan semenjak manusia hadir di muka bumi. Pada mulanya, tujuan pendidikan hanyalah sekadar mempersiapkan generasi muda untuk bisa survive di tengah masyarakat luas. Karena itu, bentuknya adalah berupa mewariskan wawasan, pengetahuan, dan ketrampilan yang diperlukan untuk survival kepada generasi berikutnya. Masa ini, peran pendidik dilaksanakan sendiri oleh orangtua.
Kemudian, peradaban umat manusia terus mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Sejalan dengan itu, mau tidak mau pendidikan mesti mengikuti arus tersebut. Dan ia pun mengalami penyempurnaan-penyempurnaan, baik isi, bentuk, maupun pelembagaan penyelenggaraannya.
Kalau pada mulanya pendidikan dilakukan sendiri oleh para orangtua dengan cara yang tidak sistematis, maka seiring dengan tuntutan perkembangan zaman, pola pendidikan mengalami pergeseran. Pola pendidikan mulai disistematisasikan, dalam bentuk magang atau nyantrik. Pada saat itu, paradigma pendidikan mulai mengalami pergeseran. Yang sebelumnya berada di tangan orangtua, kini mulai diserahkan kepada orang lain yang dianggap lebih memiliki kompetensi. Tapi,pola pendidikan ini masih bersifat individual.
Namun, karena bertambahnya jumlah penduduk dan semakin beraneka-ragamnya macam pekerjaan, bentuk magang itu pun dirasa kurang memadai. Maka, kemudian muncullah kelembagaan yang sekarang dikenal dengan nama sekolah, yang salah satu karakteristiknya adalah dilakukan dengan sistem klassikal.
Jika disimak, misi pendidikan pada masa-masa awal adalah mempersiapkan generasi muda untuk dapat hidup di masyarakat sesuai dengan pengetahuan, nilai, tradisi, maupun budaya yang berlaku saat itu. Hal ini mengandaikan bahwa pengetahuan, nilai, tradisi, maupun budaya tersebut merupakan sesuatu yang relatif statis. Pendidikan dianggap berhasil bilamana individu-individu memiliki seperangkat pengetahuan, ketrampilan, nilai-nilai yang sesuai dengan yang berlaku di masyarakat.pada masa itu. Dalam konteks demikian, pendidikan dipahami sebagai memberi bekal wawasan, pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai yang berguna bagi individu untuk hidup di tengah masyarakat. Karakteristik dari pola ini, subjek didik diasumsikan sebagai sesuatu yang pasif. Pendidik, yang diasumsikan sebagai “maha tahu” segala hal, mentransfer pengetahuannya tersebut kepada peserta didiknya. Peserta didik ini “wajib” menerimanya tanpa punya daya apa-apa.
Faham demikian sempat sangat dominan, sehingga sisa-sisanya masih terasa hingga detik ini. Akibatnya, setiap pembaharuan di bidang pendidikan hanya diartikan sebgai pembaharuan isi kurikulum : dikurangi, diganti, diubah urutannya, atau ditambah. Dan fenomena terakhir merupakan yang paling sering terjadi, sehingga peserta didik nyaris tak kuasa lagi memikul beban yang terus menggunung tersebut. Perbaikan sistem penyampaiannya pun baru sebatas pada upaya peningkatan tehnologi. Yang justru sangat esensial nyaris tak terusik, yakni visi dan ciri hakiki hubungan pendidik-terdidik yang dikehendaki di dalam proses pendidikan. Akibatnya, meski barangkali out put-nya laku di pasar kerja, namun pendidikan ini tidak mampu melaksanakan fungsinya sebagai pusat pendidikan, yang salah satunya adalah mengembangkan segenap potensi peserta didik.

B. Tantangan Masa Depan
Abad ini disebut abad post modern, gelombang ke III, post industrial, atau abad informasi. Ciri utama abad ini adalah perkembangan iptek yang sangat berakselerasi. Sebagai gambaran, publikasi ilmiah sebagai hasil riset dan pengembangan di dalam tiga puluh tahun terakhir mengalami multiplikasi yang luar biasa, yang setiap 5-7 tahun, menunjukkan adanya ledakan informasi baru. Misalnya, 90% dari semua informasi ilmiah dan tehnologi di dunia telah dihasilkan di dalam abad 20 ini, 60% daripadanya diciptakan setelah Perang Dunia II. Sedangkan publikasi ilmiah dikeluarkan lebih dari 6 juta buah per tahun, atau 17.000 setiap hari. Perkembangan luar bisa ini diperumit lagi oleh semakin pendeknya jarak antara penemuan ilmiah dan penerapan industrialnya. Kalau dulu, menurut Dr. Soedjatmoko, jarak itu sekitar 20-30 tahun, sekarang ini beberapa tahun saja.
Fenomena di atas tentu akan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat, termasuk di dunia kerja. Artinya, perkembangan riset dan pengembangan iptek ini akan berpengaruh pada sifat kerja, tempat kerja, kemungkinan-kemungkinan karier, dan kualifikasi tenaga kerja. Hal ini mensyaratkan para tenaga kerja, selain menguasai ketrampilan-ketrampilan yang dituntut oleh profesianya, juga memiliki kemampuan menyerap , menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengatasi berbagai macam masalah, dan mengolah sejumlah besar informasi dengan cara yang logis dan multi-disipliner.
Substansi yang sangat esensial terkait dengan perkembangan tersebut adalah perlunya membekali mahasiswa dengan pendasaran epistemologikal dalam membangun intelektualitas mereka. Ilmu, filsafat, dan tehnologi merupakan cabang-cabang dari evolusi perkembangan pengetahuan manusia. Pada umumnya, sistem pendidikan kita belum menganggap penting faktor epistemologi sebagai fundamen pembangunan pengetahuan. Padahal, faktor ini sejak awal tumbuh sebagai bagian dari perkembangan masyarakat dan kebudayaan Eropa dan Amerika. Dari sana mereka mengembangkan sains dan tehnologi yang terkait dengan ekonomi dan industrialisasi sebagai kekuatan peradaban dunia dewasa ini.
Lalu, bagaimana dengan kita ? Dengan tanpa berpretensi merendahkan martabat bangsa sendiri, harus kita akui bahwa kita terbiasa mentransfer produk dari proses epistemologi tersebut, tanpa mau memahami karakteristik dasar serta proses epistemologi yang menjadi basis produk itu. Pada masa mendatang, kalau hal ini tidak segera kita sadari, barangkali tidak perlu ditangisi jika pada era pasar global kelak, tenaga-tenaga kerja kita akan tergilas habis oleh tenaga-tenaga kerja asing. Karena, pada masa mendatang, bidang sains dan industrial akan banyak diwarnai persoalan-persoalan baru yang menuntut pemecahan baru secara kreatif. Tanpa landasan epistemologi, mustahil hal itu bisa dicapai.
Untuk itu, ke depan, membangun perguruan tinggi harus disertai dengan memberikan input-input mengenai perkembangan epistemologi di dalam berbagai jenis disiplin. Karena, substansi dari pendidikan di perguruan tinggi adalah substansi yang bersifat epistemologikal : membangun kekuatan kualitas pemikiran, kekuatan penalaran, kualitas kecerdasan, serta kualitas pendalaman atas persoalan-persoalan aktual.
Memang, salah satu tugas lembaga pendidikan adalah mencetak tenaga-tenaga trampil alias siap pakai, jika faktor epistemologi diabaikan, maka tak lama lagi kita akan mendapati dengan hati gundah bahwa lulusan-lulusan kita akan dicap “kurang memadai” untuk diterjunkan di bursa dunia kerja. Output-output institusi kita barangkali akan gagap atau mengalami cultural shock menghadapi informasi dan penemuan-penemuan mutakhir di berbagai bidang disipli ilmu . Mereka akan mendapati ilmu pengetahuan yang mereka serap semasa kuliah sudah out of date.
Kalau sudah demikian, tentu tak lama lagi apresiasi masyarakat tentang institusi ini akan turun. Oleh sebab itu, pembenahan dan perubahan dalam segala segi, terutama tentang visi dan misi pengajaran yang kita lakukan, menjadi prasyarat mutlak bagi strategi survival of the fights kita dalam menghadapi berbagai macam tantangan di masa-masa mendatang.

C. Inovasi Kurikulum
Kondisi kontemporer seperti digambarkan di atas, mewajibkan setiap institusi pendidikan melakukan berbagai macam inovasi. Hal yang paling esensial adalah inovasi di bidang kurikulum. Salah satu kelemahan kurikulum pendidikan di negeri ini adalah terlalu berat memfokus pada aspek kognitif. Lebih spesifik lagi, kurikulum kita terlalu membebani mahasiswa dengan penumpukan knowledge. Sebagai dikemukakan di atas, hal ini merupakan warisan dari paradigma pendidikan jaman dahulu, yang sudah tak relevan untuk menjawab tantangan-tantangan kontemporer. Akibat dari paradigma ini, aspek-aspek lain dari kepribadian mahasiswa relatif tidak dikembangkan.
Namun, untuk merubah kurikulum merupakan hal yang “haram” dalam dunia pendidikan kita. Karena sifatnya yang sentralitis. Mudah-mudahan dengan otonomi pendidikan, institusi punya sedikit “ruang” untuk melakukan inovasi.
Sehubungan dengan otonomi yang belum jelas benar, tentu belum jelas pula seberapa besar kewenangan institusi dalam melakukan inovasi, khususnya inovasi pada kurikulum. Namun demikian, masih ada ruang bagi institusi pendidikan untuk melakukan inovasi, sejauh tidak merubah isi. Sebelum membicarakan hal ini, terlebih dahulu akan dikemukakan model kurikulum empat bagian yang ditawarkan oleh Jeannette Vos. Empat bagian yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Kurikulum perkembangan pribadi. Kurikulum ini meliputi pengembangan rasa percaya diri, motivasi, ketrampilan berkomunikasi, dan ketrampilan menjalin relasi.
2. Kurikulum ketrampilan hidup, yang meliputi manajemen diri, creative problem solving, ilmu ekonomi, manajemen, dan ketrampilan komputer.
3. Kurikulum “learn how to learn” dan “learn how to think”. Yang dimaksud learn how to think adalah mempelajari cara kerja otak, cara kerja memori, cara menyimpan, mengambil, dan menghubungkan informasi dengan konsep lain serta mencari pengetahuan baru. Dengan mempelajari semua itu diharapkan mahasiswa mampu menemukan tehnik-tehnik belajar seperti : accelerated learning, super learning, whole-brain learning, dan integrative learning.
Belajar cara berfikir berarti mempelajari cara berfikir yang mudah. Di dunia ini sudah ada metode-metode “cara berfikir” yang telah teruji, diantaranya adalah : Lateral Thinking ( oleh Edward de Bono), Brainstorming (oleh Alex Osbron), dan Creative Problem Solving (oleh Donald Treffinger).
Dengan bagian ini, diharapkan proses pembelajaran menjadi sesuatu yang menarik, cepat, dan efektif.
4. Kurikulum isi. Berisi tema-tema sebagaimana dipraktekkan dewasa ini.

Dengan membagi kurikulum menjadi empat bagian, maka inovasi pembelajaran tidak lagi harus diartikan sebagai perubahan isi kurikulum sebagaimana dipahami saat ini. Barangkali bisa saja isi tidak berubah, namun model pembelajarannya yang direnovasi. Artinya, dengan materi yang sama, proses penyajiannya dengan mengikut-sertakan aspek-aspek pengembangan pribadi, melatih ketrampilan hidup, dan pembimbingan tentang belajar cara belajar. Dengan cara ini, kapan pun kita bisa melakukan inovasi tanpa melanggar hal yang “diharamkan” di atas.

D. Perubahan Peran Dosen
Sehubungan dengan perubahan pada karakteristik model pembelajaran seperti dijelaskan di atas, maka harus juga dilakukan inovasi di dalam pola hubungan dosen-mahasiswa. Seperti dikemukakan di atas, hal ini adalah hal yang sangat esensial bagi keberhasilan sebuah proses pendidikan. Pola directive harus diganti dengan non-directive. Dalam artian, peranan dosen yang terlalu dominan harus dirubah dengan menempatkan tanggung-jawab proses pembelajaran pada mahasiswa. Pendidikan yang tadinya lebih didasarkan pada mengingat, harus diganti dengan metode untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa di dalam pengamatan, analisa, dan reasoning. Dengan pendekatan non-directive, mahasiswa akan lebih aktif dan dapat merangsang ekspresi mahasiswa sebebas-mungkin. Hal ini, sebetulnya, telah menjadi kecenderungan perguruan-perguruan tinggi terkemuka sejak tahun 1970-an.
Semakin sempitnya lapangan kerja dan semakin membengkaknya jumlah pencari kerja, memberi tanggung jawab pada institusi pendidikan untuk membina mahasiswa meiliki keberanian untuk berdiri dan berusaha sendiri. Mahasiswa harus dibekali dengan jiwa kewira-swastaan, yang berani ambil resiko. Independent critical thinking yang menjadi landasan semua itu, tidak hanya memerlukan kebebasan akademik saja, melainkan juga suatu kultur akademik yang merangsang berpikir mandiri dan kritis.
Pola menghafal di luar kepala merupakan pola yang kontra produktif, yang justru dapat menghambat pengembangan kreativitas dan pembaharuan. Karena itu, perlu dikembangkan cara-cara mengajar yang mengikut-sertakan mahasiswa secara lebih aktif, misalnya melalui diskusi dan seminar. Hal ini akan menjadi tantangan bagi mahasiswa untuk terus-menerus meningkatkan pengetahuannya. Hal ini juga berarti bahwa sikap dosen yang menganggap pengetahuan itu sebagai barang yang pasti dan benar untuk selamanya, yang tinggal disampaikan kepada mahasiswa melalui kuliah tatap muka, harus diubah.
Pengetahuan ilmiah merupakan sesuatu yang berubah dan berkembang terus. Kadang-kadang setapak demi setapak berkat penelitian yang terus-menerus. Tapi, tak jarang perubahannya bersifat radikal dan melompat, yakni ketika terjadi perubahan pada frame of paradigm. Karenanya, bisa jadi apa yang dianggap sebagai ilmu pengetahuan hari ini, besok dianggap tahayul.
Pola pikir di atas mensyaratkan asumsi bahwa kuliah tatap-muka bukanlah jantung pengajaran di pendidikan tinggi. Artinya, pengetahuan positif yang sering dicekokkan kepada mahasiswa melalui kuliah-kulaih tatap-muka bukanlah hal yang utama. Yang lebih esensial adalah mengajarkan mahasiswa the power of reasoning, kemampuan penalaran, dan metode-metode mencari dan mengejar atau memperbarui pengetahuan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengadakan penelitian di laboratorium; melakukan pengamatan dan menganalisa situasi riil di masyarakat, atau melakukan studi literatur.
Kuliah tatap-muka hanyalah suatu pelengkap studi mahasiswa di dalam perpustakaan, laboratorium, atau di lapangan. Di sini, yang terpenting adalah peran dosen dalam membagikan dan mencangkokkan kesadaran, sikap, disiplin, dan etos ilmiah pada mahasiswa. Dengan lain perkataan, peran dosen adalah sebagai pembimbing dan rekan mahasiswa dalam mencari kebenaran ilmiah. Sehingga, tak kalah pentingnya adalah kemampuan dosen dalam merangsang hasrat ingin tahu mahasiswa. Karena, tanpa memiliki motivasi ingin tahu, segala usaha akan menjadi percuma.
Kebiasaan belajar dari diktat, atau ringkasan buku klasik, atau ringkasan dari ringkasan buku-buku klasik yang hanya merupakan ampas pikiran-pikiran masterpiece, akan menyebabkan mahasiswa berpikir secara malas dan dangkal tanpa nuansa dan tanpa kemampuan menganalisa. Dia hanya mampu menghafal teori-teori per se atau memakai rumus-rumus yang simplistik. Di dalam masyarakat kontemporer yang kompleks kebiasaan seperti itu akan menyesatkan.
Masyarakat kita adalah masyarakat yang sedang berkembang. Masalah-masalah yang dihadapi memerlukan penanganan yang lebih komprehensip. Tak cukup hanya menggunakan satu disiplin ilmu saja. Harus ditangani dengan pola lintas disiplin, di samping perlu diversifikasi keahlian dan ketrampilan di dalam masing-masing disiplin ilmu. Karena itu, mahasiswa perlu dilatih berpikir dengan menggunakan lintas disiplin ini. Hal ini, misalnya, dapat dilatihkan kepada mahasiswa dengan mengajak mereka mengangkat problema-problema yang dihadapi masyarakat kontemporer, menganalisanya, kemudian mengemukakan problem solving.
Dari apa yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa visi pendidikan kita ke depan – selain memberi pengetahuan, ketrampilan, seperangkat nilai yang berguna – adalah juga :
1. Mengembangkan segenap potensi kepribadian mahasiswa
2. Memberikan landasan-landasan epistemologi yang menjadi “roh” dari ilmu pengetahuan positif dewasa ini
3. Mendorong kemampuan berpikir kritis dan mandiri kepada mahasiswa.
Apa yang dikemukakan di atas merupakan latar-belakang bagi kita untuk segera melakukan reformasi dalam institusi pendidikan di mana kita terlibat di dalamnya. Namun semua itu tidak akan ada artinya tanpa keterlibatan semua pihak. Yang lebih penting lagi, apa yang diuraikan di atas baru sebatas pada tataran diskursus saja. Belum menjadi pemikiran yang aplikatif. Karena itu, ia mengundang semua pihak untuk memikirkan bersama bagaimana mengaplikasikannya.

6 Komentar leave one →
  1. 21 Agustus 2007 12:34 pm

    mohon dibagi ilmunya terutama yang menyangkut pendidikan orang-orang yang dalam keterbatasan (alternatif).

    syukron
    salam kenal. Saya salah satu mahasiswa
    Fakultas Tarbiyah UIN Malang
    tinggal di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam

  2. 24 Maret 2008 3:08 am

    Tulisan anda sudah bagus, mungkin anda perlu memunculkan “tehnik-tehnik pembelajaran” secara teoritis. kemudian bagaimana aplikasi di “lapangan”. Terima kasih

  3. 24 Maret 2008 6:19 am

    Terima kasih atas tanggapan Mas Romadlon. Saat ini di kampus kami sedang menguji-coba beberapa metoda pembelajaran yang kami asumsikan sesuai dengan maksud tulisan-tulisan saya di blog ini. Jika selesai, insya Allah akan saya kemukakan di sini.

  4. 1 April 2009 7:54 am

    Saya sangat senang membaca tulusan anda. dan setuju banget yang mana bukan kurikulumnya yang direnovasi tapi model pembelajarannya yang perlu diperbaharui; disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, lingkungan, menantang, menarik dan yang benar-benar mendidik ,sesuai dengan 4 kompetensi yang jadi harapan UU Dosen dan Guru, bukan hanya teori belaka, trims.

  5. 1 Oktober 2010 4:09 am

    saya tertarik tulisan anda. kebingungan yang terjadi bahwa kurikulum yang ada di negara kita masih terfokus pada kemampuan kognitif dan juga terlalu banyaknya mata pelajaran yang yang dipelajari sperti di sekolah yang membuat siswa kesulitan. tapi mudah-mudahan berharap dengan Epistimolgi ada pemikiran untuk lebih menyederhanakan kurikulum pendidikan tanpa mengurangi pengetahuan yang dipelajari.trims

    ardiliansyah
    SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III SUMSEL

  6. 6 Oktober 2010 6:45 pm

    Mudah2an seperti itu Mas Ardiliansah. Tapi yang harus diyakini oleh guru, bahwa peserta didik sesungguhnya mampu mempelajari hal ap pun secara mandiri asal mereka diberi metode cara belajar. Jikalau para peserta didik kita piawai menguasai metode belajar, sepertinya guru tidak perlu bingung dan takut materinya nggak selesai.
    Artinya, yang penting bukan banyaknya materi pelajaran yang diberkan kepada murid, tetapi cara mempelajari materi-materi itu yang justru harus diberikan oleh para guru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: