Skip to content

Perlunya Pendidikan Enterpreunership

13 Juni 2007

Ketika krisis mulai melanda negeri, awal tahun ’90-an lalu, kita tiba-tiba tersentak sadar, bahwa akan terjadi krisis multidimensional yang lebih dahsyat lagi di masa mendatang. Hal ini disebabkan kekuatan ekonomi kita hanya bertumpu pada segelintir orang saja, yang sebagian besar adalah golongan non pribumi yang patut diragukan rasa kebangsaannya. Ditambah, kita , khususnya yang bertanggungjawab di bidang pendidikan kurang menyadari arti penting menyiapkan generasi muda supaya memiliki jiwa wiraswasta.
Perekonomian bangsa yang hanya berpilarkan pada segelintir manusia akan membuat perekonomian mudah ambruk. Hal ini sama dengan “menyerahkan nasib” bangsa pada segelintir orang. Kebergantungan seperti ini akan menempatkan mereka pada posisi ‘dewa penolong’. Kalau dewa tersebut lagi baik nasibnya, maka selamatlah bangsa ini. Tapi, ketika nasibnya buruk, rusaklah nasib bangsa.
Ini berbeda kalau perekonomian ditopang oleh banyak pilar. Kalau terjadi kebangkrutan pada beberapa pengusaha, masih banyak yang akan menggerakkan kehidupan perekonomian. Namun, seperti diuangkap di atas, karena perekonomian kita hanya mengandalkan segelintir konglomerat, maka ketika mereka bangkrut, bangkrutlah negeri ini. Di lain pihak, mereka adalah kelompok orang yang sangat patut diragukan rasa kebangsaannya. Buktinya, seperti dilansir beberapa media masa, para konglomerat jahat tersebut beramai-ramai melarikan uangnya ke luar negeri begitu negara ini mengalami krisis.
Pada sisi lain, sekolah-sekolah kita selama ini hanya berorientasi pada meluluskan anak-anak muda yang ‘siap pakai’, dalam arti mempersiapkan tenaga-tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan segelintir pengusaha di atas, selain untuk menjadi pegawai negeri. Ini berarti sebagian besar anak bangsa ini telah disiapkan untuk menjadi buruh, baik buruh swasta maupun buruh negara.
Dengan tujuan di atas, maka tak mengherankan kalau tugas sekolah hanyalah sekadar menyiapkan “robot-robot hidup yang trampil”. Yang kelak akan dipakai untuk melayani mesin-mesin industri. Untuk kebutuhan ini, sekolah tidak terlalu dituntut untuk mendorong keberanian dan kreativitas siswa. Sekolah cukup hanya mencetak insan-insan terampil, meski kurang kreatif, penurut alias tidak banyak tuntutan, tak peduli lingkungan sekitar, tidak memiliki kemandirian alias bergantung pada perintah, dan watak-watak lain yang serupa.
Dari kesadaran untuk memperbanyak pilar-pilar perekonomian bangsa, maka di tengah masyarakat timbul dinamika pemikiran baru. Pandangan baru ini menyatakan: sekolah juga harus bertanggung-jawab mendorong lahirnya entrepreneur-enterpreneur baru.
Tuntutan ini, langsung atau tidak, akan mengubah wajah dan tampilan pendidikan di sekolah. Secara global, sekolah kini dituntut untuk melahirkan insan-insan yang memiliki kreativitas, berani, dan mampu belajar sepanjang hayat. Dan mata pelajaran kewirausahaan atau kewiraswastaan merupakan salah satu dari upaya ini.

2 Komentar leave one →
  1. Andi Hidayat Muhmin permalink
    28 Juni 2007 3:24 am

    Setuju… Setuju… Setuju…
    Menurut pendapat saya, ada satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian kita semua (young entrepreneur concern)…
    Guru, Dosen, Mentor, pembimbing (atau apalah namanya) untuk kewirausahaan masih banyak yang hanya mengandalkan teori atau disisi lain kemampuan prakteknya saja…

    Ilustrasi dikit yah…
    Matakuliah Kewirausahaan saat ini sudah menjadi mata kuliah wajib di PT (saya tidak tau, apakah ini keharusan dari yang mempunyai otritas pendidikan di Indonesia ini, atau hanya sekedar tren… terlepas dari itu saya setuju kalau mata kuliah tersebut menjadi wajib di seluruh PT yang ada di Indonesia). Masalahnya sekarang, dosen atau pembimbing mata kuliah tersebut???
    Kemampuan dosen????

  2. Rohadi Wicaksono permalink*
    28 September 2007 4:49 am

    Saya juga setuju pendapat Anda Mas Andi,dosen dan gurunya juga harus bermental enterpreunership. Tapi dengan mental tersebut tidak berarti setiap dosen atau guru punya usaha sendiri, yang biasa disebut dengan wirausaha. Karena enterpreurship itu adalah sikap mental dengan ciri-ciri tertentu. Kalau semua pendidik diharuskan berwira-usaha, ngajarnya bisa terganggu dong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: