Skip to content

IKATAN PROFESI AHLI MADYA FARMASI :

16 Juni 2007

Pendahuluan
Mengikuti kemajuan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan di bidang farmasi, maka pada tahun 1996, pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan RI, menerbitkan aturan untuk pendirian Akademi Analis Farmasi dan Makanan. Disusul tahun 1997, untuk Akademi Farmasi. Dengan aturan ini, diharapkan SMF-SMF yang ada harus segera dikonversikan menjadi salah satu dari dua akademi di atas.
Pengkonversian di atas bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan di bidang farmasi. Seiring dengan percepatan kemajuan ilmu pengetahuan, maka disiplin ilmu farmasi juga mengalami kemajuan yang luar biasa. Selain muncul merek-merek obat baru, juga banyak ditemukan jenis-jenis produk farmasi baru. Di sisi lain, tingkat pendidikan masyarakat secara umum juga mengalami peningkatan yang tidak ada bandingya dengan masa sebelumnya. Masyarakat yang relatif literated ini tentu tidak lagi memadai jika hanya dilayani oleh tingkat SLTA (SMF) saja.
Dua kecenderungan di atas, melahirkan sebuah kesimpulan bahwa tantangan yang demikian berat tidak mungkin mampu dipikul oleh lulusan SLTA (SMF). Diperlukan tenaga yang lebih handal dan lebih matang dari segi usia, pengetahuan, dan ketrampilan. Maka tidak ada jalan lain kecuali menempatkan tenaga setingkat Diploma III untuk menjadi Asisten Apoteker, yang sebelumnya “dijabat” oleh lulusan SMF.
Niatan pemerintah untuk meningkatkan SDM di kefarmasian ini, tampaknya tidak main-main. Beberapa langkah yang mendukung kebijakan ini telah diambil. Sebagai misal, di instalasi farmasi rumah sakit. Tingkat akreditasi sebuah rumah sakit akan lebih baik bilamana tenaga asisten apotekernya adalah lulusan Diploma III, dibandingkan jika asisten apotekernya lulusan SMF.
Di samping itu, di dorong oleh tingkat kesadaran masyarakat yang makin meningkat, pemerintah menghimbau kepada apotek-apotek untuk memberikan layanan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat mengenai kefarmasian. Jadi, apotek tidak lagi sekedar penerima resep dokter dan penjual obat saja. Dia juga harus memberi informasi dan edukasi kepada masyarakat konsumen.
Tugas memberi layanan KIE ini tampaknya sebagai keharusan untuk saat ini. Dewasa ini perkembangan di bidang farmasi sangat luar biasa. Obat-obat baru, baik merek maupun jenisnya, bermunculan. Sementara, masyarakat kita sangat awam di bidang ini. Maka tak heran jika mereka sering menjadi “korban” akibat keawaman mereka. Sudah menjadi rahasia umum, jika para pasien sering “diplokotho” dokter-dokter yang tidak mengenal belas kasihan. Para pasien “diharuskan” membeli resep-resep mahal tanpa mereka bisa berdaya. Padahal, andaikata mereka mengerti, mereka bisa membeli obat sejenis dengan harga jauh lebih murah dan berkhasiat sama. Bahkan lebih mengenaskan lagi, para pasien terkadang diharuskan membeli obat yang sebetulnya tidak begitu mereka perlukan.
Hal seperti itu tidak akan terjadi bilamana apotek benar-benar melaksanakan pelayanan KIE ini. Jika timbul masalah-masalah yang berkenaan dengan obat-obatan, apotek mestinya bisa menjadi tempat konsultasi bagi para pasien tadi. Di negara-negara yang sudah maju, seperti di Singapura, para pasien bahkan bisa langsung berkonsultasi dengan apoteker di apotek mengenai obat-obatan yang dibutuhkan bagi mereka yang telah memahami penyakitnya. Hal ini bisa terjadi jikalau para apoteker aktif berada di apotek. Namun oleh karena kebanyakan sang apoteker jarang hadir diapotek, maka mustahil bagi masyarakat memperoleh layanan KIE ini.
Akibat ketidak-hadiran apoteker di apotek, apotek biasanya hanya “ditunggui” oleh tenaga asisten apoteker lulusan SLTA saja. Padahal, tidak mungkin layanan tersebut dilimpahkan kepada mereka. Karena dari segi pendidikan, mereka tidak disiapkan untuk tugas ini. Kalau toh harus dipaksa, hasilnya tentu tidak akan maksimal.
Pada “celah” ini barangkali para ahli madya farmasi bisa mengambil peran yang tepat. Selain dari segi usia bisa dianggap cukup, dari segi pendidikan mereka juga memperoleh materi-materi kuliah yang relevan dengan tugas tersebut.
Pada dunia industri farmasi, ada sisi menarik yang perlu dilirik. Dewasa ini, saat perekonomian bangsa berada pada titik morat-marit, pemerintah menggalakkan obat-obatan tradisional. Selain harganya murah, efek sampingnya pun minimal. Tak pelak, himbaun ini disambut hangat kalangan industriawan. Dalam waktu relatif singkat, sudah ribuan industri obat tradisional muncul. Ini tentu merupakan fenomena yang melegakan.
Namun dibalik fenomena itu, ada sesuatu yang memprihatinkan. Dari sekian ribu industri obat tradisional yang ada, hanya segelintir saja yang benar-benar dikelola secara profesional dan memenuhi kaidah-kaidah kefarmasian. Sisanya, terdiri atas industri-industri kecil, bahkan home industri, yang ditangani oleh orang-orang yang awam di bidang kefarmasian.
Masih segar dalam ingatan kita, betapa beberapa waktu lalu terjadi “pembredelan” terhadap industri-industri jamu yang melakukan “kecurangan”. Untuk memperoleh khasiat yang ampuh, mereka tak segan mencampurkan obat-obatan yang justru berbahaya jika dipakai tidak semestinya, misalnya dextamethason.
Hal semacam itu tidak akan terjadi andaikata ada apoteker di sana. Apoteker ini akan mengelola proses produksi dengan baik sekaligus menangani kontrol kualitasnya. Namun sayang seribu sayang, tidak banyak apoteker yang tertarik berkecimpung di bidang ini. Kita belum bisa menebak penyebabnya secara pasti; apakah dari kalangan industri atau dari pihak apotekernya. Artinya, apakah kalangan industri kecil ini yang merasa “masih belum mampu” menggunakan apoteker atau malah apotekernya yang memang enggan wal gengsi terjun di bidang ini.
Apapun penyebabnya, yang pertama kali dirugikan adalah masyarakat konsumen. Apabila proses pembuatan produk obat tradisional ini tidak benar secara farmasi, maka tentu akan membawa side efect bagi usernya. Selain itu, dengan tidak dikelola oleh ahlinya, maka dalam jangka panjang, akan sulit bagi industri-industri ini untuk bisa berkembang dengan baik. Realitas ini, jika dicermati dengan sungguh-sungguh, sesungguhnya memberi kesempatan dan peluang bagi para ahli madya farmasi untuk mengambil tempat dan peran sebaik mungkin. Ditinjau dari pihak industriawan, gaji mereka tentu masih berada di bawah apoteker, sehingga tidak terlalu memberatkan bagi industri-industri kecil yang baru berkembang.

Wadah Perjuangan
Di Indonesia, eksistensi ahli madya farmasi ini masih relatif baru. Karena, akademinya saja baru muncul sekitar 1996/1997. Belum banyak lulusan yang dihasilkan. Karenanya, bukan hal aneh jika para user tidak banyak melirik keberadaan mereka. Artinya, sebagai tenaga ahli madya, orang belum tahu sampai seberapa jauh kompetensi mereka, lalu bisa didaya-gunakan dimana mereka ini, bahkan mungkin para user tidak mengetahui kalau mereka ada.
Satu hal lagi yang perlu dipahami bersama, meski memberi dukungan seperti dijelaskan di atas, pemerintah “belum berani secara tegas” memaksa SMF-SMF mengkonversikan diri menjadi akademi. Hal ini mengakibatkan  posisi ahli madya  farmasi maupun analis farmasi dan makanan memang berada dalam keadaan “terjepit”. Ia harus berjuang mendapatkan pekerjaan di antara dua kalangan yang memiliki “wilayah” kerja yang sama, yakni lulusan SMF dan sarjana farmasi atau apoteker yang telah sangat di kenal masyarakat.
Untuk memantapkan keberadaan mereka di arena bursa kerja dan “merebut” wilayah-wilayah kerja yang dimungkinkan menjadi “hak” mereka, tentu tidak bisa diperjuangkan secara perorangan. Mereka harus bekerja bersama-sama bahu membahu. Untuk itu diperlukan wadah ikatan profesi bagi mereka. Apapun namanya, yang jelas wadah tersebut harus mampu mewadahi kedua profesi, yakni ahli madya farmasi dan ahli madya analis farmasi dan makanan. Melalui wadah ini, dimungkinkan perjuangan mereka menjadi jelas dan tegas.
Dengan wadah ini, masyarakat akan segera mengetahui dan mempercayai keberadaan mereka. Selain itu, sebagai wadah para profesional di bidang farmasi, ikatan profesi ini akan mewadahi para anggotanya untuk terus-menerus meningkatkan diri dalam mengikuti perkembangan di bidang ilmu farmasi.

18 Komentar leave one →
  1. wahyu rochendi 35 permalink
    20 Juni 2007 11:39 am

    Peningkatan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi memang sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan suatu Negara, karena dapat dipastikan jika tingkat pendidikan suatu Negara rendah maka pembangunan tidak akan berjalan dengan baik. Yang menjadi pertanyaan adalah peningkatan pendidikan seperti apa? Apakah piningkatan pendidikan dari SD ke SMP, SMP ke SMA dan seterusnya? Atau peningkatan pendidikan yang lebih menitik beratkan pada kwalitas,bukan pada kwantitas? Kwantitas pendidikan yang lebih tinggi belum tentu mempunyai kwalitas yang lebih tinggi. Kita ambil contoh mudah, seorang perawat lulusan SPK ( baru lulus ) ditambah dengan masa kerja 3 th dibandingkan dengan lulusan lulusan D3 ( baru lulus ), pasti lulusan SPK jauh lebih unggul dikarenakan dia sudah berpengalaman. Begitu juga dengan SMF, lulusan SMF yang sudah bekerja puluhan tahun kemampuannya dipastikan jauh diatas lulusan D3 yang baru lulus. Kenapa bisa seperti itu? Semestinya peningkatan pendidikan harus berjalan berjalan bersama – sama, baik itu kwalitas maupun kwantitas. Peningkatan pendidikan dari SMF ke D3 farmasi sekaring ini hanyalah peningkatan yang lebih mengedepankan kwantitas dengan kurang menambah kwalitas.

  2. 23 Juni 2007 3:56 pm

    Sumber daya manusia yang berkualitas memang sangat diperlukan saat ini.Dan ini tidak terlepas dari niat manusia itu sendiri untuk meningkatkan kualitas diri dengan menambah ilmu maupun pengetahuan, tapi perlu diingat bahwa semua itu bersumber pada tujuan yang hendak dicapai.Tidak dapat dipungkiri pada kenyataannya, bahwa tenaga AA asal SMF lebih trampil dari AA yang berasal dari AKFAR. Mengapa bisa demikian ? kita lihat kualitas input maupun output mahasiswanya. Agar lulusan AKFAR/AKAFARMA dapat diakui kemampuan profesionalnya, hendaknya mereka harus dapat mempromosikan kemampuan dirinya, baik itu dengan membentuk suatu wadah ataupun meningkatkan segala potensi yang ada pada dirinya. Satu hal lagi Kualitas Kampus tempat mereka menempa ilmupun harus ditingkatkan dalam segala hal, sehingga mampu meningkatkan kualitas kelulusannya. Godluck D III Farmasi

  3. Karyati 06012 permalink
    17 Juli 2007 1:22 pm

    Tingkat daya saing Sumber Daya Manusia Indonesia dilingkungan ASEAN berada di level bawah setingkat diatas negara yang baru merdeka Timor Lorosae. Menurut laporan World Competitiveness Yearbook (2004), Indonesia berada diperingkat 55 sementara Singapura berada diperingkat 2, Malaysia peringkat 16, Thailand peringkat 29 dan Filipina peringkat 52. Apa kaitannya laporan tersebut dengan kualitas lulusan Perguruan Tinggi dalam hal ini kita titik beratkan pada lulusan Akademi Farmasi (ahli madya farmasi). Di Indonesia, AKFAR walaupun akademinya masih baru muncul 10 tahun belakangan ini, lulusannya sebenarnya masih bisa memegang peran penting sebagai sarana bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia di bidang kesehatan. Untuk itu mengapa para lulusan AKFAR disamping harus punya kemampuan kognitif Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tinggi juga harus meningkatkan sikap dan perilaku (soft skill) yang dimilikinya agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja di lapangan yang semakin ketat. Sikap dan perilaku disini mliputi kejujuran, percaya diri, motivasi yang tinggi, kemampuan beradaptasi dengan perubahan, kompetensi interpersonal dan orientasi nilai yang menunjukkan kinerja yang efektif.
    Sikap jujur mampu membuat seseorang berani menyampaikan sesuatu sesuai dengan kenyataannya. Kejujuran memungkinkan seseorang untuk mengevaluasi diri dengan baik karena berani mengakui kekurangan dan siap untuk memperbaikinya.
    Disisi lain, kejujuran akan menjadikan seseorang mampu menyatakan kelebihannya. Semua perilaku yang didasari oleh kejujuran sangat mendukung kepercayaan diri seseorang. Percaya diri disini adalah keyakinan seseorang pada kemampuannya untuk menyelesaikan tugas dan menghadapi tantangan. Agar mampu memnghadapi tantangan itu, maka seseorang harus mempunyai motivasi yang tinggi. Dengan motivasi yang tinggi tersebut, seseorang akan mudah untuk beradaptasi dengan segala perubahan. Jika semua sikpa dan perilaku yang tersebut diatas ada pada diri seseorang, sebenarnya dia telah mempunyai kompetensi interpersonal yang tinggi.
    Jika semua hal tersebut diatas ada pada diri para lulusan AKFAR (ahli madya farmasi) bisa dipastikan bahwa mereka akan bisa menunjukkan kinerja yang efektif. Sikap ndan perilaku yang berkualitas seperti ini secara statistik merupakan jaminan kesuksesan para ahli madya farmasi dalam menghadapi ketatnya persaingan pasar kerja diantara lulusan SMF dan para sarjana Farmasi dilahan yang dapat dikatakan sama. Diantara lulusan SMF dan para sarjana Farmasi masih ada sesuatu tempat dan kondisi bagi para ahli madya farmasi. Tempat dan situasi tersebut kalau memang bisa memanfaatkan dengan baik bukanlah sesuatu yang menjepit para ahli madya farmasi tetapi merupakan celah yang semestinya harus dianggap sebagai tempat atau celah yang memberi kesempatan dan peluang ahli madya farmasi (lulusan AKFAR) untuk berperan sebaik mungkin dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia secara menyeluruh. Memang untuk menunjukkan eksistensi ahli madya farmasi sangat diperlukan suatu wadah untuk menyatukan sikap dan semangat agar para pengguna, industriawan dan pasar kerja dapat menyedot lulusan AKFAR (ahli madya farmasi secara optimal. Dan harus disadari sebagai wadah ikatan suatu profesi yang juga relatif baru sangat diperlukan perjuangan dengan semangat tinggi agar kiprah dan keberadaan ikatan profesi ahli madya dapat diketahui dan dipercayai secara luas oleh masyarakat. BRAVO AHLI MADYA FARMASI.

  4. 1 Agustus 2007 5:00 am

    ikutan ya… Dalam realisasi dunia pekerjaan, seorang asisten apoteker(SMF) atau ahli madya farmasi akan kesulitan memberikan layanan KIE, karena di rumah sakit tempat saya bekerja, obat hanya di informasikan secara umum, tidak boleh menambahkan keterangan diluar dari apa yang doker tulis pada resep. kalau paien tidak jelas, dipersilahkan kembali ke dokter. tujuannya untuk menghindari beda presepsi dengan dokter. karena dokter yang mempunyai terapi dan diagnosa. masuk akal kan!

  5. Rohadi Wicaksono permalink*
    4 Agustus 2007 10:30 am

    Itulah realitas yang ada Neng Mimi ( mudah-mudahan bener Neng ya ). Ada aturan-aturan yang dibikin yang menjadikan para dokter jadi super power di rumah sakit-rumah sakit. Yang paling ngerti soal obat sepertinya hanya dokter doang, yang lain…lewat.
    Kalau sekadar boleh ngasih info secara umum mestinya rumah sakit gak perlu cari tenaga lulusan SMF, apalagi sampai Ahli Madya Farmasi. Saya kira, untuk kepentingan tersebut cukup lulusan SMA, bahkan mungkin cukup SMP. Iya kan ?
    Sekarang mari kita coba pikirkan, apakah institusi pendidikan farmasi, baik tingkat SLTA maupun akademi, bertujuan mencetak tenaga-tenaga “tukang antar obat” ?
    Saya yakin, Anda sangat paham megenai khasiat obat, bagaimana obat bekerja dalam tubuh, apa pengaruh obat tertentu terhadap obat tertentu, apa efek samping obat bagi pasien dengan riwayat penyakit tertentu, dan segala macam or tetek bengek seputar obat-obatan. Mengapa para Farmasis seperti Anda dilarang memberi informasi secara lebih mendalam kepada pasien ?
    Kalau alasan yang digunakan adalah untuk menghindari beda persepsi dengan dokter, ya memang masuk akal. Cuma maksudnya akal-akalan saja. Kalau ada komunikasi yang baik antara dokter dan farmasis, mana mungkin ada salah persepsi ?
    Memang, di negeri kita ini peran farmasis agak diperiferikan oleh profesi lain ( saya gak nyebut profesi dokter lho ).
    Supaya punya peran yang semestinya ya para kalangan farmasis sendiri harus memperjuangkannya, mulai dari apoteker sampai asisten apotekernya. Makanya, setiap kelompok pekerja farmasi harus punya wadah perjuangan, yakni kumpulan profesi. Untuk para sarjana farmasi sudah punya ISFI, dan untuk lulusan SAA atau SMF sudah punya PAFI. Tinggal para Ahli Madya Farmasi yang belum punya. Jika ikatan Ahli Madya Farmasi sudah terbentuk, harus saling bahu membahu dengn lainnya untuk memantapkan posisi atau perannya di dalam perobat-obatan di negeri ini. Jika ini tidak dilakukan, percayalah, selmanya para Farmasis dianggap bukan apa-apa oleh semua orang. Barangkali juga oleh para Farmasisnya sendiri ?

  6. heni cheriyani permalink
    5 Agustus 2007 7:05 am

    Penigkatan mutu pendidikan farmasis sebenarnya terlalu general dengan adanya ahli madya farmasis diharapkan dapat menjawab dan menaggulangi kavling masing -masing untuk mereka yang memang dibutuhkan di masyarakat ,farmasi distribusi ,rumah sakit ,makanan dan minuman dll alangkah baiknnya setiap jurusan mampu menigkatkan kompetensinya sehingga dapat membuka peluang kerja di bidang farmasi , jangan hanya apotek dan pabrik obat kalau di luar negri farmasis itu hidup mereka lebih sejahtera dan dihargai oleh karena masing -masing kita haruslah punya ilmu yang di kuasai agar dapat punya keandalan sehigga dapat berkompetisi dengan dunia luar ,perlu tambahan ilmu ,informasi , dan pelatihan interpreunur untuk menciptakan wahana baru dalam bidang farmasis bravo ahli madya farmasis , with love

  7. jegeg permalink
    3 November 2007 5:12 am

    saya mahasiswi poltekes bhakti setya indonesia yogyakarta.jurusan DIII Farmasi, smester 3, mengharapkan mutu pendidikan farmasi lebih di tingkatkan dan diperluas jaringan pendidikannya pada tiap-tiap daerah. dan saya harap untuk pemerintah agar bisa lebih memperluas lowongan kerja bagi ahli madya farmasi. dengan peningkatan mutu pendidikan di bidang farmasi di harapkan dapat berkompetensi dengan dunia luar. jadikan ahli madya farmasi lebih hidup, dan bisa mengamalkan ilmu yang dimiliki di dunia kerja,,. tanks,,,.

  8. 24 November 2007 3:05 am

    saya siswa SMF. Sbgai tenaga kesehatan kita sama sama berperan,para ahli madya farmasi.jika kita punya ketrampilan why not!!! marilah kita brjln selaras saja toh pekerjaan kita sama,tidak usah ada rasa saling iri,ya kita bersaing aja toek mjd yg terbaik.

  9. Anonim permalink
    29 April 2008 2:27 am

    Asisten Apoteker harus D3??sangat bagus sekali, tetapi apakah itu sudah menjadi solusi yang bagus untuk meningkatkan pelayanan kefarmasian. Yang menjadi nilai utama dalam pekerjaan seseorang adalah SKILL, ilmu adalah dasar namun selama ilmu tersebut hanya sebatas teori saja tidak ada manfaatnya. Menurut saya solusi untuk meniadakan SMF itu bagus!! jadi siapapun yang ingin menjadi AA ya Harus Kuliah D3 dulu,dan SMF di tiadakan. Tapi apakah kita harus memaksa para lulusan SMF (AA) harus mengikuti program D3 untuk menjadi prasyarat karir, kan tidak perlu.
    ya teruskan saja status mrk sebagai AA.

  10. Jumey,palembg permalink
    20 Juli 2008 7:11 am

    Kmi harap jg pemerintah mampu mengarhkan amf ke bdang yg dtekuninya shingga km dpet lbh meningktkn keahlianya,jka ad yg mo mgash kerjan hbung meta di 085769060393

  11. 26 Januari 2010 3:25 pm

    Alangkah baiknya jika semua asisten apoteker harus D3 (akademi farmasi),mengingat semua tenaga kesehatan (yg tercantum dlm UUK) hampir semua D3 (min. Pendidikannya).. Dukung Ikatan Profesi Ahli Madya Farmasi

    • 26 Oktober 2010 1:03 am

      SAYA SANGAT SETUJU SEKALI BILA ADA ORGANISASI KHUSUS UNTUK AHLI MADYA FARMASI{PAMFI} ASAL KAN PAMFI BISA MEMPERJUANGKAN HAK HAK PARA AHLI MADYA FARMASI TERUTAMA AKAFARMA.AKAFARMA JUGA AHLI MADYA.AKAFARMA JUGA ASISTEN APOTEKER TAPI KENAPA ALUMNI AKAFARMA DIPANDANG SEBELAH MATA.

  12. nila permalink
    25 Februari 2010 9:38 am

    memang alangkah baiknya jika perkembangan ilmu kesehatan di Indonesia diiringi dgn adanya sdm yang juga dapat dipertangung jawabkan,krn tnga kefarmasian sangat erat hub nya dg nyawa seseorang,

  13. Doel-SMF-99 permalink
    20 Maret 2010 12:25 pm

    Menindaklanjuti pp 51 / 2009. adakah kemungkinan / gambaran ke depan PI-M akan membuka STIFAR/S1 Farmasi Reguler/Ekstensi, mhn konfirmasinya!!! SAA n SMF dgn PAFI, D3 Farmasi/Akafarma dgn Ashipharma, S1 Farmasi dgn ISFI, Apoteker dgn IAI, BERSATULAH PHARMACIST, tengoklah org. profesi lainnya

  14. 5 April 2010 6:26 pm

    Maaf, jawaban saya agak telat Mas Doel. Sebenarnya sejak tiga tahun lalu, kami mencoba mengurus pendirian S1 Farmasi sebagaimana Anda maksud.Beberapa departemen dan profesi terkait kami hubungi. Penjelasan yang kami terima, jurusan tersebut untuk Jatim telah jenuh.
    Karena itu, untuk waktu dekat, kami tidak akan menyelenggarakan S1 Farmasi.
    Trims.

  15. 26 Oktober 2010 1:05 am

    SAYA MAU MENDAFTAR DI PAMFI.DIMANA SAYA HARUS MENDAFTAR DAN SAYA JUGA KEPINGIN TAU APA SAJA MISI DAN VISI PAMFI UNTUK MEMPERJUANGKAN KESEJAHTERAAN PARA AHLI MADYA FARMASI TERUTAMA AKAFARMA

  16. Fery andrianto permalink
    18 Maret 2011 2:32 am

    sy mau tanya klu ikatan asisten apoteker khususnya D3 udah terbentuk tlg krmi sy profilnya. sy akan bentuk di jayapura. krn setelah sy evaluasi keberadaan asisten apoteker msh dianggap remeh pdhl yg ada di lapangan kta yg ada di depan. kita hrs bangkit perjuangkan profesi kita. by fery andrianto. PI -Malang alumni 2001.

    • 4 Mei 2011 6:08 pm

      Insya Allah Mas. Tapi, sebetulnya nggak usah menunggu. Coba Anda kontak temen2 lain untuk membentuknya bersama-sama. Dan, untuk merancang pembentukannya kan sekarang tidak perlu repot2 harus bertatap muka. Cukup bikin group di FB. Misalkan groupnya diberi nama Rencana Pembentukan Ikatan AA atau Ikatan Ahli Madya Farmasi.
      Lalu diskusikan by FB rencana-rencana Anda dan kawan-kawan. Jika sudah matang, baru menindak-lanjutinya dengan copy darat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: