Skip to content

MENELUSURI HAKIKAT AKADEMIK

16 Juni 2007

Ditinjau dari bentuknya, terdapat beberapa macam perguruan tinggi. Upamanya universitas, institut, akademi, atau politehnik. Dalam bahasa sehari-hari berbagai macam bentuk perguruan tinggi tersebut dinamakan kampus.
Dengan demikian kampus merupakan sebuah lingkungan masyarakat atau komunitas yang relatif berbeda dengan lingkungan masyarakat umum. Warga kampus disebut masyarakat akademik. Suasana, aturan, dan nilai-nilai yang dikembangkan di kampus jiuga berbeda dengan suasana, aturan, dan nilai-nilai yang ada di masyarakat secara umum. Semua itu memiliki karakteristik akademik.
Dengan demikian, kata ‘akademik’ merupakan keyword bagi setiap orang yang ingin memahami tentang perguruan atau kampus. Segala pembahasan dan permasalahan yang menyangkut dunia perguruan tinggi harus dikembalikan kepada hakikatnya sebagai lembaga akademik, bermasyarakat akademik, dan bersuasana akademik.
Yang menjadi persoalan sekarang adalah apa sebenarnya hakikat makna dari kata akademik tersebut ? Konon, kata akademik berasal dari bahasa Yunani, yakni “academos”. Academos ini merupakan nama seorang pahlawan yang terbunuh pada saat perang Troya yang legendaris itu. Untuk mengabadikan nama sang pahlawan, nama tersebut kemudian diambil sebagai nama sebuah taman umum ( plaza ) di sebelah barat laut kota Athena.
Di plaza inilah Socrates biasa berpidato dan membuka perdebatan mengenai segala macam persoalan. Demikian pula dengan Plato. Plato menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk berdialog dan mengajarkan pikiran-pikiran filosofisnya kepada orang-orang yang datang. Seiring dengan perkembangan waktu, lama-lama Academic menjadi semacam tempat “perguruan” . Para pengikut perguruan ini disebut “acadeist”, sedangkan perguruan semacam ini disebut “academia”.
Jika kita amati latar belakang seperti itu, tampak bahwa yang menjadi esensi dari pengertien akademik ialah kondisi di mana orang-orang bisa menyampaikan dan menerima gagasan pemikiran, dan ilmu pengetahuan sekaligus dapat mengujinya secara bebas, jujur, terbuka, dan leluasa. Dari nilai-nilai inilah kemudian akademik ditegakkan dan kemudian dilembagakan dalam bentuk perguruan tingi yang di dalamnya tumbuh kebiasaan dan tradisi akademik.
Namun dalam perjalannya, nilai-nilai kebebasan seperti digambarkan di atas tidak selalu dapat dipertahankan oleh kampus sebagai lembaga akademik. Di Eropa, kampus tidak mampu mempertahankan diri dari pembatasan-pembatasan terutama oleh kepentingan politik dan agama. Hanya ada beberapa kampus saja yang bias mengelak dari pembataan-pembatasan itu. Misalnya universitas Leiden di Belanda, pada tahun 1575 dikenal sebagai kampus dari pembatasan semacam itu. Karena itu, universitas tersebut dikenal sebagai pusat kebebasan aneka penemuan. Namun, tidak lama kemudian, yakni pada abad 17, kampus ini pun mengalami pengekangan oleh gereja Calvinis.
Persoalan kebebasan akademik ( academic freedom ) hingga saat ini masih terus menjadi perbincangan. Dalam perjalanan sejarahnya yang cukup panjang ini, perihal kebebasan akademik ini tidak pernah bias diterapkan seratus persen. Selalu ada batas-batas yang harus ditaati oleh kampus. Dan mengenai batasan-batasan ini selalu menjadi perdebatan yang tak kunjung selesai. Hal ini dipengaruhi oleh seberapa besar tekanan pihak luar terhadap otonomi kampus.
Lalu, apa sebenarnya makna kebebaan akademik itu ? Menurut William W.Brickman, kebebasan akademik adalah hak seorang dosen untuk mengajar, serta hak seorang mahasiswa untuk belajar tanpa adanya pembatasan dan pencampuran dengan hal-hal yang tidak rasional.
Menurut Malik Fajar, kebebasan akademik yang esensial bagi dosen ada tiga hal. Pertama, ia harus merdeka untuk mengajar tmuan-temuan ilmiah serta pandangan-pandangan tentang kebenaran secara jujur. Kedua, ia harus bebas menyajikan kepada mahasiswanya mengenai penemuan-penemuannya serta penilaiannya tentang segala sesuatu yang berada dalam kawasan keahliannya. Ketiga, ia harus bebas mempublikasikan hasil penelitian dan gagasan-gagasannya agar teman sejawatnya serta masyarakat umum dapat memetik manfaat dan memberikan kritikan atas karyanya.
Sedangkan kebebasan akademik bagi mahasiswa meliputi : hak untuk memperleh pengajaran yang benar; hak untuk membangun pandangannya sendiri atas dasar studi yang dilakukan; hak untuk mendengar dan menyatakan pendapat; serta hak untuk ,menyebarkan hal-hal yang rasional sebagai buah dari telaah-telaah yang dilakukan.

Tri Dharma Perguruan Tinggi
Ada tiga misi yang harus diemban oleh perguruan tinggi, yang dikenal dengan istilah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Satu, sebagai penyelenggara pendidikan dan pengajaran. Dua, penelitian. Tiga, pengabdian pada masyarakat. Ketiga misi tersebut bernilai sama. Tidak ada yang dianggap paling penting dibanding lainnya. Semuanya sama pentingnya. Pendidikan-pengajaran bertujuan untuk memelihara dan meneruskan ilmu pengetahuan. Penelitian bertujuan untuk mengembangkan kebudayaan, khususnya ilmu pengetahuan, tehnologi, dan seni. Sedangkan pengabdian pada masyarakat merupakan aplikasi kegiatan pendidikan-pengajaran dan penemuan hasil penelitian yang ditujukan kepada masyarakat luas.
Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan ketiga misi ini, tidak boleh berat sebelah. Adanya ketiga misi ini yang membedakan antara perguruan tinggi dengan sekolah. Di sekolah, siswa cukup diberikan pendidikan dan pengajaran saja, sedangkan di perguruan tinggi harus dilengkapi dengan penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Hal ini karena tanggungjawab sekolah dan perguruan tinggi berbeda. Sekolah cukup meluluskan siswanya. Sedangkan perguruan tinggi selain mencetak akademisi, juga harus mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan bertanggungjawab memajukan dan mengembangkan masyarakat.
Jika perguruan tinggi terjebak dalam rutinitas pengajaran-perkuliahan, lantas apa perbedaannya dengan sekolahan ? Kampus yang demikian tak ubahnya dengan “sekolahan besar”. Karena daya tampungnya lebih besar, biayanya lebih besar, dan muridnya juga lebih besar-besar.
Tugas untuk melaksanakan ketiga misi di atas tentu jauh lebih berat dari sekadar melaksanakan pendidikan-pengajaran. Kampus seharusnya dipenuhi dengan kegiatan dan hasil penelitian serta melaksanakan pengabdian masyarakat atas hasil penelitian itu demi mengembangkan ilmu pengetahuan dan memajukan masyarakat. Dalam dharma pendidikan pun mahasiswa mesti dikenalkan dengan budaya akademik, dalam bentuk forum-forum ilmiah. Misalnya, selama menjadi mahasiswa minimal sudah sekian kali mengikuti seminar, simposium, dan sekian kali diskusi panel. Mereka juga harus pernah melakukan penelitian, baik kolektif maupun individu. Selain itu, juga harus pernah melakukan pengabdian pada masyarakat.
Saat ini, sebagian remaja kita sedang memilah-milah untuk memilih pendidikan tinggi yang akan dimasuki sebagai kelanjutan studinya pasca SMA atau SMK. mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan membantu dalam memilih pendidikan tinggi.

Iklan
5 Komentar leave one →
  1. 13 Maret 2009 11:06 am

    Premium… Pertamaxxx.. Makasih infonya..

  2. 3 November 2010 6:33 am

    sangat bagus….trimakasih

  3. 4 November 2010 6:01 am

    @ PS2 Cheat Code dan Mas YANUARI ZALUKHU, terima kasih atas kunjungannya.

  4. 26 Januari 2012 3:22 am

    maf boleh minta daftar pustaka dari “akademik ialah kondisi di mana orang-orang bisa menyampaikan dan menerima gagasan pemikiran, dan ilmu pengetahuan sekaligus dapat mengujinya secara bebas, jujur, terbuka, dan leluasa. “

  5. 16 Oktober 2012 6:21 pm

    terimakasi atas share ilmunya,, klo boleh tolong tambahin daftar pustakanya dunk…
    “akademik ialah kondisi di mana orang-orang bisa menyampaikan dan menerima gagasan pemikiran, dan ilmu pengetahuan sekaligus dapat mengujinya secara bebas, jujur, terbuka, dan leluasa. “ biar bisa di pakek di skripsi ku,, trimakasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: