Skip to content

Rekonstruksi Peranan Pengajar Dalam Pembelajaran

18 Juni 2007

Sering sekali kita mendengar tentang rendahnya mutu lulusan sekolah kita, mulai dari lulusan sekolah dasar sampai lulusan perguruan tinggi. Mutu lulusan kita bahkan kalah dengan mutu lulusan sekolah di negara-negara yang yang relatif baru merdeka, misalnya Thailand dan Vietnam. Dengan kasat mata, kita juga bisa mengamati kebanyakan anak-anak muda yang bermental lemah. Dalam arti, dalam mengerjakan segala sesuatu mereka lebih suka mengambil jalan pintas atau cara instant. Konsekuensi logis dari kecenderungan ini adalah mengabaikan kualitas dan hasil pekerjaan , tidak kreatif, tidak memiliki mental kompetitif, kurang berani menghadapi tantangan, kurang disiplin, dan lain sebagainya.
Disinyalir hal ini diakibatkan oleh kesalahan pendidikan kita, selain oleh terpaan budaya global tentunya. Tulisan ini akan lebih memfokuskan pada faktor-faktor yang ada dalam dunia pendidikan.
Ditinjau dari sisi bidang pendidikan, secara garis besar, faktor-faktor itu bisa diklasifikasikan menjadi dua sisi, yakni sisi kurikulum dan sisi metode pembelajaran. Sesuai dengan judul tulisan ini, maka sisi kedua yang akan menjadi perhatian tulisan ini.
Dengan pemilahan seperti itu, menjadi jelasah fokus bahasan kita : “Benarkah model pembelajaran yang kita kembangkan selama ini mengakibatkan murid-murid kita bermutu rendah dari sisi pengetahuan dan bermental lemah dari sisi keprabadian?”
A. Mengubah Paradigma Mengajar
Menurut teori konstruktivisme, pengetahuan haruslah merupakan bentukan pembelajar, bukan oleh pengajar. Peran pengajar lebih ditekankan sebagai fasilitator yang membantu peserta didik agar belajar sendiri membangun pengetahuan mereka. Untuk itu, sebagai fasilitator, pengajar harus bersikap dialogis, mendengarkan, memberikan kebebasan dan kesempatan kepada siswa untuk aktif dan belajar mengemukakan gagasan mereka. Ini hanya mungkin terjadi jika pengajar mengubah paradigma mengajar mereka, dari mengajar ke membantu peserta didik belajar.
Di negara kita masih banyak kita jumpai pengajar yang masih menggunakan model pembelajaran banking system. Model mengajar mereka kebanyakan berupa ceramah dan siswa mencatat. Mereka kurang memberi kesempatan siswa mengemukakan gagasan-gagasannya. Banyak pengajar yang tidak bisa menerima gagasan peserta didik yang berlainan dengan yang mereke ajarkan. Hal ini karena mereka tidak mau mengakui bahwa para peserta didik sesungguhya memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri. Dengan model ini, pengajar berasumsi bahwa merekalah satu-satunya sumber pengetahuan bagi peserta didik. Pembelajaran seperti ini sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Proses pembelajaran harus lebih demokratis, di mana peserta didik dan pengajar saling belajar,saling membantu, dan saling melengkapi. Pengajar sekarang sudah bukan lagi satu-satunya sumber belajar dan sumber pengetahuan. Peserta didik dapat belajar melalui perpustakaan, internet, media komunikasi, orang tua, buku-buku, para praktisi, dan lain-lain. Dalam konteks ini pengajar harus benar-benar meyakini bahwa setiap peserta didik telah dianugerahi talenta untuk belajar. Peran utama pengajar adalah membantu peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang dapat mereka akses..
Model pembelajaran model banking system sangat merugikanpeserta didik, terutama bagi perkembangan dan pemenuhan pribadimereka. Talenta belajar mereka tidak dapat berkembang. Pengajar yang terbiasa bergaya ceramah dan mengharuskan peserta didiknya hanya mencatat akan menyebabkan peserta didik terbiasa pasif dan tidak punya inisiatif. Pembelajaran dengan ceramah melulu mengakibatkan peserta didik terbiasa dicekoki atau menerima saja. Akibatnya, ketika mereka mendapat tugas-tugas yang membutuhkan inisiatif, kreatifitas, dan aktualisasi diri, mereka benar-benar tidak siap dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka baru bekerja jika sudah diberitahu apa saja yang harus dilakukan. Padahal dalam kehidupan di masyarakat nyata, orang lebih dituntut berkarya, kreatif, dan berinisiatif daripada menerima. Jadi model pembelajaran banking system selain merugikan perkembangan pribadi peserta didik peserta didik juga tidak sesuai dengan tuntutan dunia nyata.
Banyak pengajar yang berpandangan kurang tepat mengenai model pembelajaran konstrukstivistik ini. Menurut mereka, model ini hanya untuk mencari enaknya pengajar saja. Pengajar tinggal memberi perintah sedangkan peserta didik dibiarkan sibuk sendiri. Anggapan ini sungguh salah. Dalam model konstrukstivistik, pengajar tidak sekadar memberi perintah. Ketika siswa sedang dalam proses mengerjakan tugas, pengajar harus terus mengawalnya untuk memberi motivasi, bimbingan, dan mengarahkan proses berpikir siswa. Karena, pada hakikatnya, salah satu fungsi belajar adalah menata pola pikir siswa sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tuntutan paradigma ilmiah. Selain itu, pengajar juga harus menyadari dan mengikuti perkembangan mutakhir dari ilmu yang diampunya supaya ia dapat mendorong siswanya untuk terus mengikuti dan mencari perkembangan termutakhir dari keilmuan yang sedang dipelajarinya.
Di samping itu, seperti dijelaskan di atas, peserta didik itu punya talenta untuk belajar dan berkembang. Ketika mereka diberi kepercayaan untuk membuat materi pembelajaran mereka akan menggunakan talenta tersebut secara maksimal. Jika pengajar tidak memahami hal ini, dia akan kelabakan menghadapi kemampuan yang ditunjukkan oleh siswa. Hal ini pernah penulis alami. Saat pertama kali mencoba menerapkan model konstruktivistik, penulis memberi tugas kepada siswa untuk menyusun materi pembelajaran untuk satu semester. Di luar dugaan, ternyata mereka mampu menyusun materi tersebut begitu kaya dan luas. Mereka menggunakan berbagai sumber informasi, mulai dari buku-buku di perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, internet, pendapat praktisi, dan lain-lain. Setelah semua kelompok mengumpulkan karyanya, diadakan diskusi kelas. Masing-masing kelompok mempresentasikan bab yang menjadi tanggungjawabnya. Hasilnya luar biasa. Masing-masing kelompok dengan penuh semangat mengemukakan gagasannya, kelompok yang lain bertanya atau mendebat. Di akhir sesi, tampak jelas bahwa informasi yang mereka dapat jauh lebih kaya dan bervariasi. Dan karena mereka terlibat dalam penyusunan materi, mereka dapat menerima dan memahami secara lebih baik.
Di sini tugas saya sebagai pengajar hanyalah membimbing proses berpikir siswa. Misalnya tentang cara membuat definisi istilah, bagaimana menyusun sebuah karya tulis sehingga logikanya runtut dan jelas, bagaimana mencari kesimpulan jika menghadapi dua pendapat yang saling bertentangan, bagaimana menemukan sebuah permasalahan dan bagaimana mengatasinya, dan lain-lain.
Dengan aktivitas seperti itu bisa dilihat bahwa tugas pengajar bukanlah lebih ringan. Selain harus selalu mengikuti perkembangan ilmu yang diajarkannya untuk mengimbangi pengetahuan murid-muridnya, juga harus sangat memahami kaidah-kaidah berpikir ilmiah supaya dapat membimbing murid-muridnya berpikir ilmiah saat mengerjakan tugas-tugasnya.

B. Pendidik Yang Intelektual
Di atas telah sedikit disinggung bahwa guru harus selalu terus meningkatkan pengetahuannya. Zaman ini ditandai dengan kemajuan tehnologi informasi dan ilmu pengetahuan yang cepat. Kemajuan tehnologi informasi menyebabkan pengaruh global, yang baik maupun yang buruk, begitu mudah masuk ke Indonesia, termasuk dalam dunia pendidikan. Akibatnya, tantangan zaman dalam dunia pendidikan juga semakin kompleks. Dalam keadaan seperti ini, pendidik diharapkan terus mau belajar dan mengembangkan diri supaya mampu bersikap kritis terhadap segala pengaruh dan perkembangan yang ada, terutama terhadap berbagai nilai yang masuk dalam dunia pendidikan. Pendidik perlu kreatif dan terbuka terhadap segala perubahan dan kemajuan yang ada untuk memajukan siswa. Pendidik yang melakukan tugasnya sebagai tukang, menjalankan apa yang pernah diterima dikuliah dulu tanpa mengembangkan, di zaman sekarang sudah tidak tepat. Sekarang ini dibutuhkan pendidik yang bersikap sebagai seorang intelektual, artinya yang terus mau berkembang dan belajar seumur hidup, tidak pernah puas dengan yang dimengerti, mau membawa perubahan, berpikir kritis, rasional, dan bebas mengembangkan pikiran untuk kemajuan. Inilah yang akan memunculkan inovasi pendidikan di setiap institusi pendidikan

6 Komentar leave one →
  1. ULFA AZD, permalink
    21 Juni 2007 2:33 am

    Sungguh tidak mudah menerapkan sesuatu yang sangat bagus , bukankah memegang kebenaran laksana memegang bara api di tangan . Perubahan ke arah yang lebih baik seringkali menemui hambatan. Hambatan ini yang jelas karena adanya pandangan dan pendapat yang berbeda diantara setiap kepala . Apalagi doktrinasi yang terakumulasi sekian puluh tahun dengan model pembelajaran yang sekedar menyampaikan materi sehingga dosen / guru sudah gugur kewajibanya dalam menjalankan tugas sebagai pengajar dan siap menerima haknya berupa gaji bulanan yang tidak begitu besar . Bukankah ini suatu tantangan yang tidak mudah . Mudah-mudahan untuk orang – orang yang masih peduli dengan aroma pendidikan di negara ini , yang mempunyai idelaisme dan ide-ide luar biasa demi perbaikan bangsa ini kearah yang lebih baik , tetap memegang prinsip dengan kuat . Akan tetapi jglah idealisme kita justru membentangkan jarak kepada sasaran kita , bila prinsip kita belum bisa diterima oleh orang lain , jangan – jangan cara kita yang kurang berkenan . Ide yang bagus disampaikan dengan cara yang salah , maka akan menjadi salah . Ide yang yang salah , disampaikan dengan cara yang benar dan acceptible di masyarakat , justru akan menjadi benar . So ? Bersikaplah seperti air , dia mengikuti setiap bentuk dimana ia berada , tetapi dia tidak kehinlangan sifat ke-air-anya .

  2. 1 Juli 2007 12:25 pm

    Postingan yg bermanfaat…
    Tapi maaf belum sempat mbaca seluruh isinya, nanti2 saya baca habis dah, soalnya sebagai pengajar saya suka dengan diskusi masalah Sistem pengajaran…

    Salam kenal …

  3. 3 Juli 2007 12:29 pm

    belum semuanya saya baca, tapi saya rasa bisa dijadikan referensi untuk tugas yang tengah saya persiapkan, sekali lagi terimakasih. maaf pak, bisa tidak opininya dikirimkan ke e-mail saya saja?

    salam kenal…

  4. T. Parenta permalink
    8 Juli 2007 12:22 pm

    Penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran membutuhkan tekad yang kuat karena selama ini pendidikan kita didominasi oleh model pembelajaran behaviourisme. Diperlukan perubahan mindset para pengajar mulai dari pendidikan yang paling rendah sampai perguruan tinggi.

  5. Rohadi Wicaksono permalink*
    8 Juli 2007 4:27 pm

    Saya setuju sekali dengan Mbak Ulfa dan Mas T.Parenta, menerapkan constructivistik memang bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangannya, baik dari pimpinan institusi, teman sejawat dan bahkan murid-murid kita. Pasalnya, penerapan metode ini memang membutuhkan keseriusan dan usaha keras dari semua pihak, baik pimpinan sebagai manager, guru sendiri maupun para siswa. dan Susahnya,sebagian besar dari bangsa kita sudah terbiasa tidak serius dan ogah bekerja keras.

  6. 13 Maret 2009 11:05 am

    Terima kasih buanyak atas infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: