Skip to content

Selamat Datang “Musim Stress”

30 Juni 2007

Sebagaimana pagi-pagi sebelumnya, pagi itu aku mampir di toko Cik Lince sebelah rumah sebelum berangkat ngantor, untuk membeli satu pak rokok. Sehabis membayar rokok, aku tidak segera beranjak ngantor, tapi masih ingin ngobrol dengan Cik Lince. Bagiku ngobrol dengan Cik Lince ada keasyikan tersendiri. Pasalnya, dari dia bisa kuperoleh segala info aktual di seputar kota kecilku, Purwosari.
Tidak seperti biasanya, pagi itu Cik Lince kelihatan gak mood bicara. Padahal, biasanya banyak ucap, sampai sering aku telat ngantor gara-gara harus mendengar warta berita darinya.
“Kok keliatan lesu Cik ?” Aku memancing obrolan.
“Lha gak lesu gimana Om Billy, kemarin aku nganter keponakan mau daftar ke SMP Negeri, eh uang pangkalnya kok mahal,” keluhnya.
“Sekolah sekarang memang mahal Cik,” aku menjawab sekenanya.
“Dulu waktu kampanye janjinya bikin pendidikan murah, mana buktinya ?! Dasar nggedabrus.”
“Ya sabar saja Cik, daripada stress,” kucoba menghibur.
“Ya mesti harus sabar Om. Protes juga gak bisa.”
“Tapi Cik Lince bisa nyekolahkan keponakannya kan ?”
“Ya bisa memang, tapi ya harus ngambil uang buat kulakan. Orang tokonya sepinya setengah mati. Tapi untung Cik lince masih ada yang dijagakno, meski pakai uangnya bos ( yang dimaksud bos adalah grosir tempatnya kulakan). Yang kasihan itu kan orang seperti Mas Waras…….”
“Kenapa Mas Waras Cik ?” aku penasaran.
“Anaknya itu pinter. Danemnya tinggi. Tapi hampir tidak bisa masuk SMP Negeri, karena gak kuat bayar uang pangkal.”
“Lalu anaknya Mas Waras di sekolahkan di mana ?”
“Ya ‘dipaksa’ masuk ke SMP Negeri. Kemarin dia terpaksa nggadekno TV. Laku tujuh ratus ribu. Pas untuk bayar uang pangkal. Tapi gak tahu nti’ kalau harus beli buku dan bayar ini itu. “
                                                    *********************
Pemandangan seperti itu selalu terulang setiap tahun. Orang tua ‘dipaksa’ stress menghadapi biaya studi putra-putrinya. Mulai dari biaya uang gedung, uang seragam, uang buku, uang sepatu, uang sabuk, dan uang-uang lainnya yang bisa bikin puyeng kepala. Dalam situasi perekonomian yang begini sulit, tentu berbagai pungutan yang dilakukan sekolah tersebut menjadi pukulan telak bagi para orang tua, terutama dari kalangan bawah.
Bulan kemarin orang tua sudah dibikin stress oleh Mendiknas dengan “Proyek Unas”, kini mereka masih harus dibikin stress lagi berkait dengan biaya kelanjutan pendidikan. Maka tak salah kiranya jika bulan Mei sampai Juli dinamakan bulan “stress nasional”.

Apa Yang Harus Kita Lakukan
Untuk menghadapi bulan-bulan stress seperti tersebut di atas, tentu membutuhkan kiat-kiat khusus. Yang jelas, kiat yang dimaksud bukanlah untuk merubah keputusan-keputusan yang dibikin oleh “juragan-juragan yang menguasai pendidikan”, entah itu menteri pendidikan, dirjen, kepala dinas pendidikan daerah, kepala sekolah, guru, bahkan komite sekolah. Siapapun dan dengan cara apa pun, kita tidak akan pernah mampu merubah keputusan para juragan itu alias kita harus menerima apa pun kebijaksanaan yang mereka buat.
Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah memanage pikiran kita sendiri. Artinya, kita harus bisa memperbaiki sudut pandang kita atas berbagai kebijakan yang dibuat oleh para juragan pendidikan itu. Kalau selama ini hati kita dibikin stress oleh mahalnya biaya pendidikan di negeri ini ( meski mutunya tak pernah memuaskan ), maka saat ini kita harus merubah sudut pandang kita supaya tidak stress lagi menghadapi kebrengsekan itu. Caranya ? Ikuti tip berikut :
Pertama, tidak ada jeleknya kita ikuti nasehat ki Ageng Suryo Mentaram. Menurut beliau bahwa hidup manusia itu terdiri dari siklus saling bergantinya antara rasa senang dan rasa susah. Artinya, setelah diberi rasa senang, pasti akan datang rasa susah. Setelah muncul rasa susah, sebantar lagi muncul rasa senang. Jadi, tidak pernah ada didunia ini orang yang terus diberi karunia senang sepanjang masa tanpa rasa susah. Demikian pula sebaliknya, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang terus menerus diberi rasa susah, hatta dia seorang gembel dia pasti juga dikaruniai rasa senang. Kalau saat ini kita tengah dijadikan bulan-bulanan oleh para juragan pendidikan, anggap saja kita sedang diberi karunia rasa susah, dan yakinlah sebentar lagi rasa senang pasti akan datang.
Yang kedua, kita harus berlatih menyadari bahwa adil dan makmur yang merupakan cita-cita NKRI sedang ditafsirkan seperti sekarang ini. Yang kaya harus dipertahankan tetap kaya, sedangkan yang miskin harus diupayakan sedemikian rupa supaya tetap berada di jalur kemiskinan. Untuk mewujudkan tafsiran itu salah satunya dengan cara membuat sekolah yang dianggap bermutu harus mahal, supaya tidak tergapai golongan melarat.
Kita tahu bahwa di negeri ini salah satu sarana untuk mobilitas vertikal adalah dengan dimilikinya ijazah formal. Semakin tinggi iajazah formal dimiliki, apalagi dari sekolah-sekolah yang dianggap favorit, maka pintu untuk mengais rejeki di dunia kerja relatif terbuka lebar.
Dengan mahalnya biaya masuk sekolah, tentu yang bisa bersekolah hanyalah anak-anak orang yang berduit alias golongan the have. Jika premis di atas dapat diterima, maka yang akan memiliki kesempatan melakukan mobilitas vertikal adalah ya kalangan the have ini. Golongan the have not ?
Golongan yang disebut belakang harus pasrah dan menerima segala takdir ini. Mereka harus rela memberi kesempatan anak-anak orang kaya mengenyam pendidikan yang baik, dan selanjutnya memberi mereka kesempatan untuk memperoleh akses membuka pintu-pintu rezeki yang prospektif. Golongan the have not harus menyadari bahwa tatanan hidup yang lagi berkembang memang sedang dibuat untuk tidak berpihak kepada golongan mereka.
Penyadaran diri ini boleh dilakukan sambil mengelus dada tentunya. Perlu diketahui, di negeri ini orang tidak dilarang mengelus dada. Karena itu marilah kita ramai-ramai mengelus dada mumpung mengelus dada belum kena pajak……….

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 13 Juli 2007 12:03 pm

    sya adalh slah satu golongan the have not yang ga bsa masukin adikku ksekolah negeri, walaupun danem mencukupi, tapi gajiku sebgai guru honor cuma mampu bwt bayar pendaftaran saja. Apalagi buat bayar uang bangunan. sepertinya saya harus puasa selama satu tahun, kalo memaksakan adik saya untuk masuk sekolah negeri…

  2. 13 Maret 2009 10:57 am

    salam kenal mas

  3. 13 Maret 2009 10:59 am

    😀 Wah makasih Infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: