Skip to content

Kelas Unggulan yang Tidak Unggul

6 Juli 2007

Pada saat anak saya dinyatakan lulusa tes masuk SD kelas 1 tahun lalu, saya dipanggil oleh panitia penerimaan. Saya ditanya oleh salah satu anggota panitia penerimaan yang juga guru SDN tersebut.
“Apakah putra Bapak dimasukkan kelas unggulan ?” tanya beliau.
“Apa beda kelas unggulan dan bukan kelas unggulan “? Saya balik bertanya.
“Ada beberapa perbedaan Bapak,” begitu dia mulai menjelaskan.” Pertama, dari segi pembiayaan memang ada sedikit perbedaan. Kalau di kelas bukan unggulan atau reguler, tidak ada pembayaran SPP sama sekali, karena sudah ditanggung pemerintah. Sedangkan di kelas unggulan, orangtua murid harus nambah sedikit uang SPP. Tapi, jika dilihat dari fasilitas yang diperoleh, tentu uang tambahan tersebut tidak ada artinya Pak.”
“Fasilitas apa saja yang diberikan oleh sekolah ?” tanya saya lagi.
“Banyak Pak. Pertama, di kelas reguler, per kelas jumlah siswanya sekitar 40 orang atau lebih. Sedangkan di kelas unggulan maksimal hanya 25 orang. Fasilitas lain yang tidak diberikan di kelas reguler antara lain : ada pelajaran komputer, kegiatan extra yang cukup banyak, conversation bahasa Inggris, dan lain-lain. Sehingga, siswa kelas unggulan pulang dari sekolah di atas jam 2 siang. Jadi mirip one day school Pak,” jawabnya dengan antusias.
Saya diam termenung mendengar uraiannya.
“Bagaimana Pak ?” tanyanya.
“Anak saya biar di reguler saja,” jawabku singkat.
“Kenapa Pak ? “ tanyanya lagi.
“Teman-teman anak saya kan banyak yang direguler. Biar dia kumpul sama teman-teman bermainnya. Permisi.” Jawabku sekenanya lalu ngeloyor pergi.
Setahun setelah itu, saya ingin mengamati tentang kelas unggulan ini. Saya menemukan beberapa fakta yang tidak mengenakkan. Pertama, pada saat raport dibagi, ranking 1 sampai 4 dipegang oleh murid dari kelas reguler, bukan unggulan. Kedua, menurut cerita dari orangtua yang anaknya masuk kelas unggulan, pada saat ulangan sumatif, sebagian jawaban dari soal tes diberitahu gurunya. Cerita ini diperoleh dari para orangtua dari anak-anaknya sendiri. Ketiga, anak-anak dari kelas unggulan waktu bermainnya sangat berkurang, sehingga cenderung menjadi pendiam. Keceriaan yang menjadi karakteristik anak-anak menjadi berkurang, bahkan sebagian di antaranya menjadi pemurung.
Saya merasa bersyukur tidak memilihkan anak saya masuk kelas unggulan. Saat saya ditawari oleh petugas PSB untuk memasukkan anak saya ke kelas unggulan, saya berpikir pasti anak saya akan “dipulosoro” supaya tidak kalah dengan siswa-siswa kelas reguler. Dia harus pulang di atas jam 2 siang, sementara teman-temannya dari kelas reguler, pulang jam 10.
Sepulang sekolah, istirahat sebentar, lalu makan siang. Habis Asyar harus ngaji di surau sebelah rumah sampai habis maghrib. Sepulang ngaji, harus mengerjakan PR yang seabrek. Setelah itu, pergi tidur. Untuk bermain sudah tidak mungkin lagi, karena sudah kelelahan.
Dugaan itu ternyata benar. PR untuk murid-murid unggulan jumlahnya rata-rata 2 sampai 3 kali banyaknya di bandingkan PR murid reguler. Belum lagi kalau menjelang ulangan umum, murid-murid kelas unggulan seminggu 3 kali selama satu bulan didrill soal-soal sampai jam setengah empat sore. Bayangkan, betapa lelahnya mereka. Maka wajar di saat menghadapi ulangan yang sesungguhnya mereka sudah terlalu payah. Ibarat petinju menjelang pertandingan masih berlatih keras sampai over dosis. Bagitu tiba saatnya pertandingan, ia sudah lelah. Maka tak heran jika ia mudah dipukul KO oleh lawannya.
Karena itu, murid-murid unggulan justru sering jeblok pada saat mengerjakan ulangan. Nah, supaya kelas unggulan ini tidak dianggap gagal, maka gurunya “diwajibkan” memberitahu jawaban untuk soal-soal ulangan umum tersebut. Ini sangat manusiawi ( versi kita ). Bukankah kita masih tidak ingin kegagalan kita “dibahas” orang lain. Dan, kita juga enggan mengakui kesalahan kita, meski mengaku kepada diri sendiri. Dengan logika demikian, keputusan untuk berbuat curang adalah sah adanya, meski harus mengorbankan murid sendiri.
Dari sisi perkembangan kepribadian anak, kelas unggulan juga sangat merugikan. Menururt Bloom, domain belajar individu terdiri atas tiga domain, yakni kognitif, efektif dan psikomotor. Sedangkan menurut Howard Garnerd, setiap individu memiliki 8 macam kecerdasan yang Beliau istilahkan Multiple Intelegence, antara lain kecerdasan linguistik, matematis-logis, spasial, kinestik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal dan naturalis. Jika kita mati pola pikir dari kelas unggulan di atas, maka barometer keunggulan murid adalah prestasi akademiknya, yang ini didapat dari nilai-nilai ulangan yang bersifat kognitif. Karena fakfor kognitif relatif menjadi barometer satu-satunya, maka segala daya dan waktu murid diforsir untuk pengembangan domain ini, misalnya dengan pemberian PR yang melimpah ruah dan drill yang over dosis.
Dengan pola pembelajaran seperti itu, akan sangat wajar jika murid-muridnya akan menjadi pribadi “yang tak lengkap”. Hanya aspek kognitifnya yang berkembang. Sedangkan aspek yang lain, afektif dan psikomotornya, kurang berkembang. Akibatnya, akan menjadi manusia-manusia yang pandai secara intelektual, tapi tak punya kepekaan sosial, individualistis dan kurang mampu menerapkan apa yang diperoleh dari sekolah ke kehidupan nyata di masyarakat. Jika sudah dewasa, pasti akan jadi manusia-manusia pintar yang suka “minteri” bangsanya. Barangkali para koruptor terlahir dari spesies ini.
Efek negatif lain dari kelas unggulan seperti digambarkan di atas adalah akan menjadikan murid dari kelas tersebut pribadi-pribadi yang menyukai eksklusivitas. Bayangkan, anak-anak seusia kelas satu esde sudah diajari merasa unggul dari teman-temannya kebanyakan. Yang keunggulan itu bukan berasal dari prestasinya, tetapi dari kekayaan orangtuanya. Maka bisa dipastikan, dari kelas ini akan lahir pribadi-pribadi yang arogan, yang tidak punya kepekaan sosial. Misalnya, murid-murid dari kelas unggulan ini dapat merasakan kelas yang begitu longgar, fasilitas yang lebih dan perhatian yang sungguh-sungguh dari gurunya. Di saat yang sama, teman-teman mereka dari kelas reguler harus duduk berdesak-desakan karena kelasnya begitu padat. Belum lagi gurunya yang mengajar dengan ogah-ogahan alias sering ditinggal ngrumpi, mridnya hanya disuruh mencatat dari papan tulis. ( catatan : perilaku guru ini sangat manusiawi, karena kelas unggulan memberi dana kesejahteraan tambahan bagi guru, sedang kelas reguler tidak ).
Dan yang lebih mengerikan, untuk mempertahankan rasa unggul tadi, guru-gurunya tak segan-segan mengajari berbuat curang dengan cara memberitahukan jawaban soal-soal ulangan. Dari sini juga bisa diprediksi, dari kelas ini akan lahir priobadi-pribadi yang dapat melakukan kecurangan dengan bangga.
Dengan demikian, tampaknya pemerintah sudah harus melarang dengan tegas model-model kelas unggulan seperti ini. Karena meski kabarnya sudah ada larangan untuk kelas-kelas seperti ini, namun kenyataannya masih banyak sekolah-sekolah yang melakukannya. Maka tidak ada jalan lain, pemerintah harus menindak tegas kepala sekolah yang mengadakan kelas unggulan seperti itu. Karena, pada kenyataannya, kelas-kelas unggulan seperti itu hanya menambah mudhlorot dunia pendidikan kita.
Jika pihak sekolah ingin menjadi unggul, sebaiknya tidak hanya untuk kelas-kelas tertentu saja. Tapi jadikan semua kelas dari sekolah itu menjadi murid-murid yang unggul. Jika biayanya kurang, maka seluruh wali murid diminta sumbangannya untuk mewujudkan sekolah unggul, ingat, bukan kelas unggul. Tentu penarikan sumbangan ini disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pribadi. 

8 Komentar leave one →
  1. Ludiana permalink
    24 Juli 2007 11:19 am

    Kelas unggulan bagi sebagian orang mungkin sangat diperlukan terutama bagi para orang tua yang tidak banyak mempunyai waktu untuk mengawasai/mengajar anaknya untuk belajar terlebih bagi para ortu yang menginginkan anaknya pandai& mereka merasa memiliki uang yang lebih maka mereka tidak akan segan untuk memasukkan anaknya dalam kelas unggulan, anggapan yang mungkin seringkali terjadi adalah para orang tua merasa bahwa dengan membayar agak mahal, anak berada dalam kelas unggulan maka anak mereka pasti akan pandai dibanding anak-anak di luar kelas unggulan tanpa mereka sadari bahwa anak-anak tersebut memiliki beban&kesulitan yang tidak terpikir oleh orangtua. Sebab kelas unggulan memiliki pola belajar yang tentunya lebih padat&sangat menguras tenaga serta pikiran anak-anak.Memiliki anak-anak yang pandai tentunya harapan semua ortu tetapi membiarkan mereka dalam dilema seperti itu sangatlah tidak bijaksana, alangkah baiknya jika kita membiarkan anak-anak belajar&memperoleh kepandaian dengan cara yang normal& sebagai ortu kita tetap memberikan perhatian sehingga mereka tetap terarah serta bisa tumbuh seperti teman-teman mereka, tetap belajar tanpa kehilangan waktu bermain serta bersosialisasi.Jika adanya kelas unggulan hanya menjadi beban baik bagi para ortu maupun anak-anak didik saya rasa lebih tidak perlu ada kelas seperti itu karena hanya akan menimbulkan batasan-batasan yang tidak baik, sebab masih banyak anak-anak yang tidak dapat sekolah karena tidak ada biaya, mungkin lebih baik jika kita turut mendukung anak-anak seperti itu supaya seluruh anak-anak indonesia memperoleh pendidikan yang layak.

  2. putri solo permalink
    22 Agustus 2007 3:06 am

    saya sepakat ketika seorang anak tidak dieksploitasi hak-haknya sebagai seorang anak2 yang harus tumbuh dengan sewajarny. akan tetapi tugas seorang orang tua adalah membimbingnya agar tidak salah jalan. sesungguhnya anak adalah anugrah dari Allah SWT yang dititipkan dan menjadi tanggung jawab dari seorang orang tua secara mutlak. menurut saya pendidikan yang paling penting adalah pendidikan agama sedang yang lain ibaratnya hanya kebutuhan sampingan saja…..

  3. Rohadi Wicaksono permalink*
    8 September 2007 10:06 am

    Saya juga setuju pada Mbak Ludiana dan Putri Solo, memang anak adalah menjadi tanggungjawab orangtua. Tapi tanggungjawab bukan berarti menjadikan anak sebagai sarana untuk mencapai kebanggaan orangtua. Banyak orangtua ingin anaknya mencapai prestasi tertentu supaya orangtuanya bisa membaggakan prestasi tersebut ke kolega-koleganya.Orangtua ini tidak mau tahu betapa pun berat beban yang harus dipikul anak untuk harga kebanggaan tersebut. akibatnya, anak-anaknya kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya.
    Perihal pendidikan agama, bukan pelajaran agama, saya setuju sekali dengan Putri Solo, bahwa bekal agama memang sangat perlu. Tapi mohon diingat bahwa dunia ini ibarat sawah tempat kita bercocok tanam yang panennya di kehidupan akhirat kelak. Karena itu, barangkali polarisasi ilmu agama dan ilmu dunia mulai harus ditinjau ulang. Pasalnya, ilmu Allah itu meliputi ilmu dunia dan akhirat, semua ilmu itu milik Allah semata. Tidak ada satu manusia pun yang diberi kewenangan mengklaim bahwa ilmu yang ada di dunia ini sebagai ilmunya.
    Karena itu, sekali lagi, barngkali kita sudah tidak harus lagi mempolarisasikan ilmu seperti itu. Ilmu apa pun, harusnya mengandung nilai-nilai etis, humanisme dan spiritual.
    Seperti telah dikatakan oleh banyak ahli, bahwa ilmu itu sebenarnya netral. Penggunanya yang moralnya ‘ndak bener’, sehingga dengan ilmu orang menciptakan alat pembunuh sesama manusia, dengan ilmu orang menciptakan sebuah sarana untuk memeras mannusia lain dan dengan ilmu pula orang dapat saling bermusuhan.
    Dengan fakta seperti itu, saya jadi berpikir, yang salah itu orangnya yangg menggunakan atau ilmunya ?
    Kalau menurut saya, yang harus diperbaiki itu ilmunya. Nilai-nilai etis,humanisme dan spiritual harusnya sudah included pada berbagai disiplin ilmu supaya orang yang menekuni ilmu juga memiliki nilai-nilai tersebut.

  4. Just papang permalink
    7 Februari 2009 4:12 am

    Mungkin kurang pas kalo melarang sekolah-sekolah mengadakan kelas unggulan. sebab tidak semua sekolah di Indonesia (yang punya kelas unggulan) berbuat ‘nakal’ seperti itu. Banyak juga sekolah – sekolah (yang punya kelas unggulan) tapi tetap ‘berada di jalur yang benar’…

  5. 1 Juni 2009 5:10 am

    Dunia pendidikan ada BOS-nya. menjadikan dunia pendidikan kita kurang bermutu.

    Sekolah yang dibiayai oleh BOS dan tidak memungut biaya pendidikan menjadikan dunia pendidikan ini asal-asalan. Yang perlu kita lihat adalah dampak psikologis guru, siswa dan orang tua. hal ini cenderung tidak memiliki nilai yang sangat berarti.

    Guru jadi kurang perhatian terhadap siswa
    Siswa jadi kurang memiliki kesadaran belajar
    dan orang tua jadi tidak mau tau perkembangan pendidikan anak.

    BOS adalah hantu, setan serta iblis pendidikan.

  6. 1 Juni 2009 5:13 am

    Argumen tadi awal.

    saya setuju dengan kelas unggulan yang 100% dibiayai orang tua.

    Tidak masalah apa pun hasilnya. yang terpenting adalah prosesnya.

  7. Anonim permalink
    14 Desember 2009 9:51 am

    SAYA HARUS MINTA

  8. 30 Juni 2010 6:37 pm

    Kurikulum yang dibuat oleh Pemerintah kita sebenarnya sudah baik. tinggal pelaksanaanya saja bagaimana. kalau proses belajar mengajar dilakukan dengan baik terhadap semua peserta didik tanpa membedakan beaya, saya yakin akan menghasilkan siswa yang unggul, tentu tidak semua menjadi unggul, mimpi itu namanya. Yang penting massa anak-anak (apalagi tingkat SD) jangan dididik menjadi robot dengan seabrek tugas dan ekstrakurikuler yang dibuat-buat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: