Skip to content

PAI Masuk UN, Hah ?!

12 Juli 2007

Ketua MPR RI, Dr. H. Hidayat Nurwahid, mendesak Depdiknas untuk memasukkan mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) dalam ujian nasional (UN) tahun depan. Diharapkan, masuknya PAI dalam UN bisa memperbaiki akhlak generasi muda, sekaligus menempatkan PAI dalam mata pelajaran strategis. ( Harian Pikiran Rakyat, 7 Juli 2007 ).
Pendapat ketua MPR ini didasarkan pengamatan pada saat pengumuman kelulusan UN banyak siswa yang melakukan corat-coret di baju bahkan rambutnya. Hal itu menandakan bukan keberhasilan pendidikan melainkan kegagalan sekolah dalam membentuk perilaku siswa. Kemudian beliau membandingkan dengan lulusan pesantren. Sampai sekarang belum terdengar adanya santri yang melakukan corat-coret setelah lulus UN atau tawuran antarpesantren. Menurut beliau, bahwa ini menandakan, dengan penanaman PAI yang baik dalam kehidupan akan membuat para santri bertingkah Islami. Seharusnya PAI juga bisa diterapkan di sekolah-sekolah layaknya pesantren.
Jika boleh saya berterus terang, saya tidak mengerti jalan pikiran ketua MPR kita ini. Pada saat ahli pendidikan ribut menolak UN, yang salah satu sebabnya adalah bertentangan dengan UU Sisdiknas dan juga banyak membawa kemudhlorotan bagi dunia pendidikan kita, justru beliau malah menyarankan menambah materi UN dengan PAI. Sekali lagi, saya tidak mengerti jalan pikiran beliau.
Saya yakin seyakin-yakinnya kalau Pak Hidayat Nurwahid sangat paham taksonomi Bloom, bahwa domain belajar meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Artinya, dalam proses belajar mengajar, ketiga ranah tersebut mengalami proses pembelajaran yang seimbang. Dengan proses pembelajaran yang baik pada ketiga ranah tersebut diharapkan peserta didik akan menjadi manusia yang relatif sempurna, dalam arti kemampuan otak, hati dan perilakunya tidak njomplang.
Persoalannya, apakah UN mengukur ketiga ranah tersebut ? Saya yakin, pasti sebagian besar pendidik mengatakan bahwa UN hanya mengukur aspek kognitif murid. Padahal, menurut hemat saya, Pendidikan Agama Islam lebih mementingkan pembelajaran hati dan perilaku dan kognitif. Apa jadinya jika pendidikan agama direduksi hanya ke ranah kognitif saja ?
Di masa orde baru kita pernah mengalami sebuah falsafah bangsa, yang notabene merupakan ajaran moral, diberikan hanya dalam tataran ranah kognitif saja. Bermilyar, mungkin bertrilyun, uang negara dihabiskan untuk membiayai penataran P4 untuk semua penduduk Indonesia. Tapi apa hasilnya ? Perilaku masyarakat kita makin jauh dari nilai-nilai moral yang terkandung dfalam Pancasila.

Hidden Curriculum
Meski kurikulum telah diubah berulangkali, tapi sebagian besar pendidik masih berpendapat bahwa kurikulum merupakan rangkaian materi pelajaran yang berurutan yang akan dipelajari murid. Pemahaman kurikulum seperti ini mengakibatkan munculnya asumsi bahwa penilaian terhadap proses belajar siswa cukup dilakukan di akhir proses pembelajaran. Barangkali asumsi ini pula yang menyebabkan Mendiknas ngotot mempertahankan UN.
Padahal ada hal lain yang perlu diberikan kepada murid yang memiliki pengaruh siknifikan terhadap perubahan nilai, persepsi dan perilaku murid. Hal ini dinamakan hidden curriculum.  Dr. Dede Rosyada, MA. mengutip pendapat Allan A. Glatthorn mengartikan hidden curriculum sebagai kurikulum yang tidak menjadi bagian untuk dipelajari, yang secara lebih definitif  digambarkan sebagai berbagai aspek dari sekolah di luar kurikulum yang dipelajari, namun mampu memberi pengaruh dalam perubahan nilai, persepsi dan perilaku siswa. Kebiasaan sekolah menerapkan disiplin terhadap siswanya, seperti ketepatan guru memulai pelajaran, kemampuan dan cara-cara guru menguasai kelas, kebiasaan guru memperlakukan mereka yang melakukan kenakalan dalam kelas, semuanya itu merupakan pengalaman-pengalaman yang dapat yang dapat mengubah cara berpikir dan perilaku siswa.  ( Dr. Dede Rosyada, MA., Paradigma Pendidikan Demokratis, 2004 ).
Jika disimak pendapat Dr.Dede Rosyada di atas, nyatalah bahwa perilaku, sikap dan cara berpikir siswa tidak saja dipengaruhi oleh kurikulum pendidikan yang tertulis dan terorganisir rapi. Lebih dari itu, ada kurikulum lain yang justru memiliki pengaruh signifikan bagi pribadi siswa, yang dinamakan hidden curriculum.  Hidden curriculum ini berupa nilai-nilai dan budaya yang berada di sekitar hidup murid, baik nilai dfan budaya yang ada di sekolah, masyarakat maupun keluarga.
Suatu hari saya diundang menghadari resepsi di tempat salah satu teman saya. Acaranya adalah mengkhitankan dua putranya. Pada acara tersebut saya terkesan dengan ceramah yang diucapkan K.H. Anwar Arifin dari Sidoarjo. Dalam acara hikmah khitan tersebut, beliau mengatakan :
“Dalam dunia pendidikan kita, tidak ada yang salah. Kalau anak-anak kita menjadi anak-anak yang ndugal, itu bukan karena kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah kita. Coba cari, ndak ada sekolah yang ngajari muridnya jadi ndugal. Semuanya mengajarkan kebaikan, kepandaian dan ketrampilan. Kalau murid-murid sekolah sekarang ini banyak yang ugal-ugalan karena mereka tidak mempunyai contoh perilaku yang baik. Ingat, usia anak-anak dan remaja, sangat memerlukan contoh tauladan. “
Sambil manggut-manggut, bathin saya membenarkan ucapan Pak Kyai kita ini. Saya kembali kepikiran pendapat Pak Ketua MPR di atas, kalau perilaku para santri di pondok pesantren sangat beretika, saya kira itu bukan karena mata pelajaran agama di pesantren dipakai sebagai ulangan akhir, tetapi ditauladankan oleh para ustad dan kyai. Sehingga, perilaku etis justru menjadi budaya hidup para santri. Kalau nilai-nilai dan etika sudah menjadi budaya hidup sehari-hari di lingkungan pesantren, baik sengaja mau pun tidak, para santri akan menginternalisasikan nilai-nilai dan budaya tersebut.
Sekarang mari sedikit menengok perilaku guru-guru kita di sekolah-sekolah, Yang justru sebagian besar jauh dari niali-nilai etika. Coba saja disimak berita di media masa seputar masalah penerimaan siswa baru. Mulai dari kecurangan dalam tes seleksi siswa baru, penarikan dana pembangunan yang begitu melangit bagi siswa baru, guru berdagang buku atau komite sekolah yang tidak berdaya berhadapan dengan pihak sekolah, sehingga apa pun kemauan sekolah komite sekolah hanya mengamini. Bukankah semua cerminan perilaku yang kurang mengindahkan nilai-nilai etika ?
Di tengah masyarakat, para murid juga dijejali fakta-fakta perilaku person yang seharusnya menjadi panutan malah menampilkan perilaku yang memalukan. Para pejabat yang bersaing dengan koleganya untuk besar-besaran mengeruk uang negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Para legislatif yang lebih memikirkan penambahan fasilitas dan tunjangan dirinya ketimbang memperjuangkan kepentingan massa pemilihnya. Para pedagang yang selalu mencari keuntungan sebesar-besarnya ketika masyarakat luas dicekik kesulitan ekonomi.
Mana mungkin kita berharap murid-murid akan memiliki nilai-nilai  luhur di saat pribadi-pribadi yang mestinya menjadi panutan menampilkan perilaku yang justru jauh dari nilai-nilai luhur ? Kalau boleh menilai, barangkali untuk seorang Dr.H.Hidayat Nurwahid yang ketua MPR RI, terlalu menyederhanakan persoalan jika berpikir bahwa permasalahan moral murid-murid bisa selesai dengan memasukkan PAI sebagai salah satu materi UN.

One Comment leave one →
  1. 2 Oktober 2007 3:29 am

    pada prinsipnya saya setuju dengan sampean. namun saya ada pemikiran husnuddhon dengan pak Hidayat. mungkin beliau sedang mengusulkan satu cara, agar pelajaran PAI di sekolah diperhatikan oleh semua pihak. sebagai guru PAI saya merasa betapa pelajaran PAI sangat dikesampingkan di sekolah. Mulai perhatian pengelola sekolah yang memberikan jam pelajaran yang terlalu sedikit, sampai sikap siswa yang ogah-ogahan menerima pelajaran. Memang benar, sasaran PAI bukan dari sisi kognitif, namun ketika pelajaran PAI agak diperhatikan oleh siswa dan semua pihak maka itu menjadi satu jalan untuk mengamalkan. saya kira PAI sangat lain dengan penataran P4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: