Skip to content

UN Mendorong Budaya Instan

16 Juli 2007

Tanggapan Untuk  mBak Wahyu Rochendi
      Dalam komentarnya, mbak Wahyu menyetujui adanya pelaksanaan UN.  Dasarnya adalah untuk menjamin standardisasi kualitas lulusan secara nasional. Secara implisit beliau khawatir jika tidak ada standardadisasi secara nasional, kualitas lulusan akan bervariasi dalam kualitas lulusannya.
     Penulis sangat memahami pola pikir mbak Wahyu. Sekian lama oleh orde baru kita telah dibiasakan berpikir seragam. Saat ini orang makin menyadari bahwa penyeragaman telah membawa banyak kecarutmarutan pada bangsa ini. Setidaknya, warga bangsa kita sulit mentolerir adanya perbedaan, padahal bangsa ini terdiri dari banyak entitas yang berbeda-beda.
     Mari kita coba tinjau lagi lebih detil. Misalkan untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Apakah materi pelajaran bahasa Inggris yang dibutuhkan daerah Papua sama dengan yang dibutuhkan oleh Bali atau DKI ? Saya yakin, pasti masing-masing daerah memiliki kebutuhan sendiri-sendiri. Kalau masing-masing daerah memiliki kebutuhan sendiri-sendiri, mengapa materi pelajarannya harus dibuat seragam untuk seluruh Indonesia ?
      Pertanyaannya sekarang adalah penting mana antara keseragaman output pendidikan dengan signifikansi kompetansi lulusan dengan kebutuhan riil di masyarakat ?
        Kita sering mendengar bahwa salah satu kelemahan sistem pendidikan kita adalah tidak matchnya antara kompentensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Dari pihak perguruan tinggi pun kita juga sering mendengar bahwa raw material ( lulusan SMU/SMK ) yang mereka terima kualitasnya berada di bawah harapan mereka. Mengapa bisa terjadi seperti ini ?
         Sebenarnya pemerintah telah menyadari akan hal ini, terbukti dengan munculnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang biasa disebut KTSP. Dengan KTSP, sekolah diberi kewenangan untuk membuat kurikulum pendidikannya sendiri. Harapannya, jika kurikulum dibuat sendiri akan lebih sesuai dengan kebutuhan Stake holder. Peran pemerintah, dalam hal ini, hanya menentukan kompetensi-kompetensi dasar / minimal yang harus dikuasi lulusan. Tapi, kacaunya, pemerintah masih memegang peran dalam menentukan kelulusan siswa. Padahal dengan KTSP, kurikulum antara satu sekolah dengan sekolah lain pasti berbeda. Dengan demikian, kita jadi bertanya-tanya, buat apa ada KTSP kalau pemerintah masih mengadakan UN dengan pola seperti sekarang ? Ada apa ????????????
    Kemudian, jika tanpa UN ditakutkan sekolah akan enak-enakan dalam mempertahankan mutu, hemat saya, kekhawatiran tersebut terlalu berlebihan. Saya yakin, semua sekolah pasti ingin meningkatkan mutunya masing-masing secara optimal. Karena, andai mutu lulusan mereka tidak memadai, misalnya ada penilaian dari para user lulusannya bahwa tenaga kerja dari lulusan sekolah “X” mutunya parah dan tidak mau menerima lulusan tersebut, pasti sekolah tersebut akan tidak laku dan akhirnya tutup. Juga, andaikata lulusan sekolah tersebut tidak pernah berhasil lulus dalam SPMB, pasti masyarakat juga tidak akan ada lagi menyekolahkan anaknya ke seolah tersebut. Artinya, untuk menetapkan kualitas sekolah, biarkan masyarakat yang menilai. Percayalah, masyarakat saat ini sudah kritis dalam menilai sekolah.
      Di samping itu, adanya UN juga dapat mendorong munculnya budaya instan di kalangan para siswa. Budaya instan saat ini menjadi keprihatinan banyak pihak, karena budaya ini telah melemahkan sendi-sendi kepribadian kita bersama. Budaya instan ini telah melemahkan nilai-nilai perjuangan pada pribadi-pribadi manusia Indonesia, terutama pada generasi muda.
      Pernah pada suatu ketika saya mengikuti sebuah pengajian dialogis dengan orang yang  terbatas. Sebelum dimulai membahas ayat-ayat Alqur’an, sang Ustadz bertanya kepada kami “
 “Andai Anda adalah seorang petani, apa tujuan Anda bertani ?”                                                                                                                  Secara serempak kami menjawab “ Panen !!!”
 “Jadi tujuan Anda bertani adalah panen ?
 “Iya.” 
 “Itulah masalahnya,” jelas sang Ustadz. “Kita ini terbiasa berorientasi pada hasil, tanpa memikirkan proses untuk mencapai tujuan tersebut. Kalau saya tanya, bisakah panen Anda menjadi baik jika waktu bercocok tanam kita sembarangan ?”
 “Tentu kalau bercocok tanmanya sembarangan, pasti hasilnya tidak akan baik. Nah, kalau begitu apa tujuan bertani ?”
 Terus terang, ditanya yang kedua kali, kami masih bingung  kemana arah pembicaraan Pak Ustadz ini. Melihat kami bengong, Pak Ustadz akhirnya menjawab sendiri pertanyaannya.
 “Saudara-saudara, tujuan orang bertani adalah menerapkan ilmu pertanian dengan benar. Jika dalam bertani mereka menerapkan cara bertani dengan benar, sesuai dengan ilmu pertanian yang benar, hasilnya pasti baik. Begitu harusnya seorang petani berpikir. Jadi, berpikirnya jangan langsung melompat ke arah hasil, pikirkan dulu proses untuk mencapai tujuannya.”

    Begitulah, kita telah sekian lama terbiasa dengan pola berpikir budaya instan. Selalu berorientasi pada hasil, tanpa mempertimbangkan proses mencapainya. Padahal, kalau menururt Ustadz saya tadi, orang harusnya lebih memikirkan proses yang benar. Jika prosesnya benar, hasilnya otomatis akan baik. Ini hukum Tuhan yang disebut Sunatullah.
     Sekarang mari kita tarik pola pikir tersebut  tersebut ke masalah UN. Barangkali kita semua sepakat jika adanya hasil UN yang ditetapkan sebagai dasar menentukan lulusan siswa kelas tiga telah menghilangkan penghargaan terhadap proses selama tiga tahun yang telah dijalani oleh siswa. Nah, kalau proses tersebut tidak dijadikan dasar untuk menentukan kelulusan, mana mungkin siswa sendiri akan menghargai proses belajar mengajar yang diberikan sekolah ?
      Kemudian, kalau sejak sekolah siswa tidak dilatih menghargai arti sebuah proses maka apakah salah jika banyak etika-etika atau aturan-aturan yang diberlakukan untuk UN diterabas oleh siswa demi hasil yang diharapkan ? Dan jika sejak sekolah tidak pernah dilatih menghargai proses, apa mungkin setelah lulus akan menjadi manusia-manusia yang menghargai proses ? Oleh karena itu,  apa salah kalau kita berasumsi bahwa UN mendorong munculnya budaya instan ?

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: