Skip to content

Mengapa Harus Konstruktivistik ?

19 Juli 2007

Eksistensi dan daya survival suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia ( SDM ) yang dimiliki bangsa tersebut. Semakin tinggi kualitas  SDM sebuah bangsa,makin eksis bangsa tersebut. Sebaliknya,semabkin rendah kualitas SDM sebuah bangsa, pertanda semakin bergantungnya bangsa tersebut kepada bangsa lain.
Jacques Attali, seorang penulis berkebangsaan Perancis, pada tahun 1991 menulis buku Millenium : Winners and Lossers in the Coming World Order. Menurut Attali, memasuki millennium ketiga, manusia tersegmentasi menjadi dua kelompok besar, yakni kelompok pemenang ( the winners ) dan kelompok pecundang ( the Lossers ). The Winners adalah mereka yang terdidik ( educated ), otonom secara pribadi, berketrampilan, berdaya adaptibilitas tinggi, memiliki kemampuan ekonomi kuat, dan menguasai multiakses. Adapun the Lossers ditandai dengan kemampuan ekonomi rendah, berpendidikan rendah, tidak dimiliki ketrampilan professional yang memadai, akses informasi terbatas, underestimate, daya adaptasi rendah, gizi dan kesehatan yang memprihatinkan, dan tempat bermukim yang seadanya.
Di penghujung tahun 1990-an, masih menurut Attali, mereka yang masuk kelompok pecundang ini diperkirakan miliaran jumlahnya, dan bermukim di luar kawasan Pasifik dan Eropa. Kelompok ini berjalan tergagap-gagap memasuki era pasar bebas. Mereka ini akan menjadi makanan empuk kelompok-kelompok pemenang. Di depan pelupuk mata, saat ini kita bisa melihat bagiamana negara-negara dunia ketiga telah “dibantai” dengan ganas oleh negara-negara maju dalam kancah pasar bebas. Di kancah ini, Negara-negara dunia ketiga bak kerbau dicocok hidungnya dituntun oleh bangsa-bangsa maju ke sumur yang akan membunuh mereka.
Mengapa bisa terjadi ihwal seperti ini ? Hal ini karena era miulenium ke 3,yang juga disebut era globalisasi, telah melahirkan tekanan-tekanan budaya kompetisi  yang begitu dahsyat. Menurut Daniel Bell (1978) dalam bukunya The Cultural Contradiction of Capitalism, memaparkan bahwa aneka persekutuan ekonomi seperti European Union ( EU ) di Eropa, North American Free Trade Area ( NAFTA ), di Amerika Utara, Asian Pacific Economic Cooperation  ( APEC ) di Asia dan Pasific, serta Asean Free Trade Area ( AFTA ) di Asia Tenggara memutlakkan kemampuan suatu masyarakat bangsa untuk siap bermitra sekaligus berkompetisi secara sehat dan bermutu.
Di sinilah masalah yang sesungguhnya. Ketika harus memasuki area kompetisi yang mengandalkan mutu, bangsa-bangsa dunia ketiga sudah jauh kalah start, maka wajar jika akan terus menerus akan menjadi pecundang. Kehadiran era pasar bebas telah mendorong kelahiran  ide-ide baru ( competition for new ideas ), tuntutan akan kualitas manusia organisasional yang secara kontinu mampu merekayasa  diri menjadi manusia pembelajar agar tetap berada pada posisi yang bersesuaian dengan kemajuan iptek, dinamika sosial, dan kemanusian pada umumnya. Kualitas-kualitas demikian belum begitu menjadi budaya di negara-negara ke tiga. Di samping itu, area kompetisi juga mensyaratkan multi akses. Hal ini karena, menurut Ervin Laszlo ( 1997 ) dalam bukunya 3rd Millineum : The Challenge and The Vision, pada era globalisasi, kehidupan dan aktivitas penghuni bumi banyak dipengaruhi dan dibangun oleh informasi global, dampak lingkunan global, pasar global, tehnologi global ; serta keputusan-keputusan politik, manajerial, professional, dan gaya hidup global. Sementara itu, pada bangsa-bangsa dunia ketiga, karena satu dan lain hal, multi akses ini masih menjadi barang mewah alias kebutuhan tersier.
Lalu, sebagian dari masyarakat Indonesia berada pada kelompok mana, The Winners atau The Lossers ? Menurut Prof.Dr.Sudarwan Danim dalam bukunya Menjadi Komunitas Pembelajar, sebagian masyarakat Indonesia adalah pemenang, dan sebagaian lagi yang mungkin prosentasenya lebih besar,menjadi pecundang……. fenomena Indonesia yang terpuruk ini merupakan korban otoritarianisme Orde Baru, proses pemiskinan yang berlangsung lama, proses pembodohan yang pelan-pelan tapi pasti, konglomerasi yang gagal memberdayakan rakyat akibat kegagalan logika trickle down effect, dan sebagainya.
Barangkali yang pertama harus diperhatikan dari pendapat tersebut adalah telah terjadi pembodohan secara konsisten pada bangsa kita. Memang telah menjadi keprihatinan bersama mengenai rendahnya mutu pendidikan kita, termasuk dibanding negara-negara yang baru merdeka sekalipun. Penilaian Human Development Indek ( HDI ) menempatkan Indonesia di peringkat 112 dari 126 negara, dan satu peringkat di bawah Vietnam. Hasil studi The Third International Mathemathics and science Study-Repeat tahun 1999, melaporkan dari 38 negara di Asia, Australia dan Afrika, siswa SLTP Indonesia menduduki peringkat 32 untuk IPA dan 34 untuk matematika ( Tim Broad Based Education, Depdiknas,2002 ).
Untuk memperbaiki mutu pendidikan ini, banyak ahli dan mereka yang berkompeten di bidang pendidikan telah banyak mengemukakan argumennya untuk mencari problem solving atas masalah tersebut. Pemerintah pun, dalam hal ini Depdiknas, telah mengambil langkah-langkah untuk mendongkrak mutu pendidikan nasional ini. Langkah-langkah dimaksud antara lain : revisi kurikulum pendidikan, revisi system evaluasi, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, pelatihan guru/dosen, sampai diundangkannya system pendidikan nasional., yang di dalamnya memuat aturan-aturan yang memungkinkan masyarakat luas lebih dapat berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Selain itu, otoritas pengambilan keputusan yang selama ini tersentral ke pusat telah digeser ke masing-masing sekolah untuk memperbaiki mutu pendidikan.
Namun, sejauh ini belum tampak hasil yang menggembirakan. Setiap selesai pelaksanaan Ujian Akhir masih selalu kita melihat nilai-nilai yang jeblok; kita juga masih selalu melihat lulusan-lulusan kita –termasuk sarjana sekalipun- yang tidak siap memasuki dunia kerja, apalagi membuka lapangan kerja sendiri; karya-karya akademik juga masih sedikit dihasilkan oleh kaum terpelajar kita; perusahaan-perusahaan PMA masih harus memberi training skills untuk menyesuaikan kapabilitas output pendidikan kita dengan dunia industri; dan perusahaan-perusahaan jasa tenaga kerja masih mengirimkan tenaga-tenaga kasar atau buruh rumah tangga ke luar negeri, bukan tenaga terampil, apalagi tenaga ahli.
Pertanyaan yang harus serius kita renungkan adalah “Ada dosa apa dengan dunia pendidikan kita ?”
Untuk mencari kesalahan sebuah system haruslah dievaluasi dari paradigma yang digunakan. Karena paradigma ini yang menentukan arah,tujuan, dan metode untuk mewujudkan tujuan tersebut. Sebagaimana halnya Orde Baru yang mengambil paradigma trickledown effect untuk menciptakan kemakmuran bangsa ini, setelah berjalan lebih dari 30 tahun ternyata perekonomian bangsa ini menjadi porak poranda tidak karuan. Maka orang langsung menuding bahwa penyebab utama dari krisis multidimensional yang dialami bangsa ini adalah akibat logika yang salah pada paradigma trickledown effect tersebut.
Demikian pulalah dengan system pendidikan kita, jika ingin mencari penyebab keruwetan dalam system pendidikan, haruslah langsung menukik pada paradigma yang digunakan, tidak sekedar berputar-putar di periferinya saja seperti yang dilakukan saat ini.
Sebenarnya masalah ini telah dibahas oleh beberapa ahli pendidikan kita, baik melalui media masa maupun forum-forum ilmiah. Semenjak kemerdekaan, bangsa Indonesia, sebagaimana bangsa-bangsa lain, telah mengambil model atau aliran behavioristik sebagai paradigma system pendidikannya. Kaum behavioristik meyakini bahwa perilaku merupakan kumpulan reflek-reflek yang diakibatkan oleh proses conditioning.Reflek-reflek ini kalau berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Perilaku sebagai akibat pembiasaan ini dinamakan hasil belajar.
Dengan meyakini bahwa perilaku, yang merupakan hasil belajar, berasal dari pengkondisian refleks-refleks, kalangan behaviorist berasumsi bahwa : 1) Proses belajar dapat berlangsung dengan tanpa mempertimbangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik. Potensi peserta didik hanya menentukan tingkat kecepatan perubahan perilaku sebagai hasil belajar; 2) Proses belajar dapat berlangsung tanpa mempertimbangkan kesadaran dan kemauan peserta didik. Menurut mereka, kemauan ini bisa dimunculkan dengan pengkondisian,yakni melalui reward dan punishment.
Dengan demikian, bisa dimengerti jika kaum behaviorist ini mengembangkan sebuah model pembelajaran teacher centered. Tujuan Pembelajaran ditentukan oleh pengajar atau institusi, peserta didik tidak perlu punya kehendak sendiri. Segala macam potensi peserta didik harus diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Implikasinya :
• Materi Pelajaran hanya ditentukan oleh institusi dan pengajar. Pengajar aktif menerangkan materi pelajaran, peserta didik hanya memasukkan materi tersebut ke dalam otaknya. Setelah periode tertentu dilakukan evaluasi berupa menjawab soal-soal yang berasal dari materi yang diterangkan tadi. Bisa dikatakan, guru telah menjadi satu-satunya sumber belajar peserta didik.
• Model reward dan punishment merupakan satu-satunya cara untuk merangsang motivasi belajar. Pengkondisian ini harus diakui cukup berhasil. Peserta didik kita menjadi giat belajar untuk memperoleh nilai tinggi                ( mengejar reward dan menghindari punishment ). Pengejaran tersebut seolah telah menjadi tujuan belajar itu sendiri. Mereka telah melupakan bahwa belajar adalah untuk mengembangkan segala potensi diri dan memperoleh ketrampilan untuk hidup mereka kelak.
• Tak jarang menjadikan peserta didik sebagai alat mencapai kebanggaan institusi. Salah satu kriteria untuk disebut sekolah unggul adalah jika sebagian besar besar lulusannya memperoleh Danem tinggi. Untuk mencapai itu, kebanyakan sekolah-sekolah kita memberi pelajaran tambahan untuk latihan mengerjakan soal-soal yang di-UAN-kan. Akibatnya, segala potensi, kemauan, dan waktu peserta didik terserap ke sini. 
Dari uraian di atas jelas bahwa model pendidikan yang dikembangkan oleh kelompok behavioristik tidak memberi ruang bagi pengembangan dan aktualisasi potensi-potensi peserta didik yang beraneka ragam; peserta didik tidak diberi kesadaran bahwa selain guru, sangat banyak sumber-sumber belajar yang ada di sekitarnya yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan diri; peserta didik tidak pernah diberi kesempatan memilih materi pelajaran yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan riil di sekitar mereka; dan yang paling fatal, sangat jarang peserta didik diberi metode cara belajar. Akibat dari itu semua, peserta didik kita telah belajar dalam situasi “terpaksa” dan “tekanan”. Belajar menjadi sebuah situasi yang tidak nyaman. Padahal, belajar akan memperoleh hasil maksimal hanya dalam situasi yang nyaman dan aman. Maka tak heranlah jika prestasi peserta didik kita banyak yang jeblok dan mereka seperti menjadi orang bingung setelah lulus.
Seperti telah panjang lebar diuraikan di atas bahwa masa depan memerlukan insan-insan yang memiliki daya kompetisi dan berdaya-suai yang tinggi, dalam arti mampu terus menerus memperbarui diri dengan jalan belajar sepanjang hayat, maka model pembelajaran behavioristik harus mulai di tinggalkan. Harus dicari model alternatif.
Sejak beberapa tahun lalu, di dunia pendidikan kita telah mulai disebut-sebut model alternatif tersebut, yakni model pembelajaran Konstruktivistik. Bagaimanakah model pembelajaran ini ?
Literatur-literatur yang membahas model ini secara detail memang masih belum banyak ditemukan, terutama oleh penulis. Oleh karena itu, di sini hanya akan dikupas pokok-pokok model konstruktivistik secara global. Gambaran umum model pengajaran konstuktivistik adalah model pembelajaran yang, antara lain, sebagai berikut :
• Menghargai keanekaragaman peserta didik. Implikasinya : pendidik harus menggunakan berbagai macam pendekatan sesuai karakteristik peserta didik, menyesuaikan kecepatan pengajarannya dengan tingkat penyerapan peserta didik yang berbeda-beda,dll.
• Meletakkan keberhasilan proses pembelajaran lebih besar dipundak peserta didik daripada di tangan pendidik. Implikasinya : pendidik harus memberikan bertbagai metode belajar kepada peserta didik sehingga mereka mampu belajar secara mandiri, mempercayai bahwa peserta didik merupakan mahluk normal yang mampu menguasai materi yang harus diselesaikan dan pendidik sebagai fasilitator dan motivator, dll
• Memberi kesempatan peserta didik mengekspresikan pikiran dan penemuannya. Implikasinya: pendidik harus mengurangi alokasi waktunya di dalam kelas untuk berceramah dan. memberi waktu yang luas kepada peserta didik untuk saling berikteraksi dengan temannya maupun dengan pendidiknya. Membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan tugas-tugas dan mempresentasikan di kelas.
• Mendorong peserta didik mampu memanfaatkan sumber belajar yang ada di lingkungannya. Implikasinya : pendidik harus mendesign materi pelajarannya sedemikian rupa sehingga peserta didik terdorong untuk mencari sumber-sumber pengetahuan dari berbagai tempat di luar fasilitas sekolah, misalnya : perpustakaan kota, internet, media masa, wawancara dengan orang-orang yang ahli di bidangnya, dll.
• Memasukkan penugasan portofolio sebagai salah satu alat penilaian. Impilikasinya : pendidik harus memberi kesempatan lebih luas kepada peserta didik secara individu dalam bentuk pembimbingan untuk mengerjakan penugasan tersebut. Dalam peranan ini pendidik juga harus mampu mendorong peserta didik untuk mencari penemuan-penemuan baru, meski dalam level sekecil apapun.

Yang perlu dipahami bahwa model pembelajaran konstruktivistik bisa menjadi kontraproduktif jika tidak didukung oleh lingkungan belajar yang tepat. Tujuan dari model konstruktivistik ini adalah untuk mencaiptakan insan-insan pembelajar, insan-insan yang senantiasa terdorong untuk mengembangkan diri melalui belajar. Bukan pembelajar yang hanya puas setelah materi yang ditargetkan telah dikuasai. Untuk mendorong munculnya mental pembelajar, maka istitusi pendidikan harus diciptakan sebagai masyarakat pembelajar. Semua elemen di dalam lingkungan ini harus didorong untuk  menjadi manusia pembelajar. Artinya, model konstruktivistik akan mencapai hasil yang optimal hanya jika diterapkan dalam lingkungan manusia pembelajar.
Selanjutnya, lingkungan seperti dimaksud di atas tidak akan bisa diwujudkan di dalam sebuah institusi yang menggunakan management birokrasi yang formalis dan rigid. Management seperti itu akan mereduksi kesempatan partisipasi, kreatifitas, dan inovasi level bawah, yang merupakan komunitas terbesar. Hal ini karena berbagai kebijakan diambil dengan pola top down. Oleh karena, seluruh institusi pendidikan harus meninggalkan model ini. Harus dikembangkan model management yang memberi ruang bagi segenap elemen di dalamnya untuk berpartisipasi,berkreasi, dan berinovasi dalam menjalankan tugas-tugasnya. Karena, hanya dengan memberi ruang demikian, manusia terdorong untuk terus menerus belajar dan mengembangkan diri. Untuk mencapai maksud tersebut, di semua level management harus diterapkan Learning Organization. Jika tidak, cita-cita menghasilkan pelajar dan mahasiswa pembelajar hanyalah sebuah utopia.

6 Komentar leave one →
  1. askar permalink
    3 Oktober 2007 3:57 am

    tulisan ini cukup membantu saya mengenali lebih jauh tentang konstruktivistik

  2. Rudi permalink
    17 Oktober 2008 5:14 am

    klo hemat saya sebenarnya bukan masalah konstruktifistik atau bukan, tetapi kerangka ilmu yang belum didapatkan pada peserta didik saat ini. Artinya peserta didik saat ini hanya diberi kulit kulit ilmu. akibatnya tidak dapat memahami ilmu secara bulat. Klo kita berkiblat ke eropa atau USA yang dikatakan sebagai negara maju, tapi ingat fakta sejarah menunjukkan USA dan Eropa hanyalah hasil jiplakan persis Yunani dan babylon yang terbukti hancur berkeping keping. meski saat ini masih jaya. Pak karno bilang jangan tinggalkan sejarah krn trend akan berulang.
    Dilihat dari definisi maka ilmu adalah informasi, maka yang terpenting bagi siswa adalah bisakah siswa mendapatkan informasi sebulat bulatnya tentang ilmu tersebut, masalah konstruktifistik atau bukan adalah masalah teknis yg masing masing punya keunggulan dan cocok atau tidaknya tergantung tantangan dan situasi pd saat diterapkan.
    dr mhsw semester 4.

  3. 20 Oktober 2008 8:45 am

    Mas Rudi, saya setuju pendapat Anda. Tapi, coba Anda amati, cara kita belajar selama ini; selama ini kita hanya dijejali dengan informasi-informasi yang sudah jadi. Tapi, apa kita pernahdiajari cara mencari ilmu ( baca tulisan saya dengan judul ‘Pendidikan Yang Epistemologi ). Nah. model konstruktivistik ini menggeser paradigma belajar dari “apa” ke “mengapa” dan “bagaimana”.
    Terima ksih atas tanggapannya. Salam kenal.

  4. JERRY permalink
    4 November 2009 1:18 am

    memang dalam studi S2 Manajemen Pendidikan sangat membantu saya dalam penyusunan Makalah, trims untuk pengetahuannya Pak (”_).

  5. 8 November 2009 7:07 pm

    Sama2 Mas Jerry. Saya bersyukur jika tulisan sederhana ini bisa membawa manfaat.

  6. 13 Oktober 2016 8:50 am

    sangat bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: