Skip to content

Di Balik Mahalnya Harga Obat

8 Agustus 2007

Tulisan ini merupakan kiriman seorang teman, Ifa Elfida. Dalam tulisan ini, mbak Ifa menyoroti persoalan mafia perdagangan obat yang marak di negeri ini. Mudah-mudahan dengan tulisan ini, akan menyadarkan kita semua mengenai persoalan obat-obatan di tengah masyarakat kita dan menjadikan kita sadar untuk tidak sudi dibuat bulan-bulan oleh para mafia obat.

Di Balik Mahalnya Harga Obat

Dewasa ini, hidup menjadi serba sulit. Laju inflasi sangat tinggi. Harga segala kebutuhan juga terus melambung yan berakibat daya beli masyarakat terus menurun. Akibatnya, tingkat kesejahteraan menurun. Situasi seperti itu akan bertambah buruk manakala mengalamai sakit. Bagi yang sakit, bak jatuh tertimpa tangga. Selain harus menderita sakit, masih harus menaggung biaya rumah sakit dan membeli obat yang seringkali cukup mahal.

Melangitnya harga obat di Indonesia
Pada hemat saya, mahalnya obat di Indonesia sudah melampaui batas kemampuan ekonomi masyarakat kita. Hal ini menjadi keluhan sejak lama. Kebijakan pemerintah untuk mengedarkan obat generik yang lebih murah dari obat paten tampaknya tidak banyak membantu. Karena, pada kenyataannya, dokter lebih suka meresepkan obat paten.
Salah satu penyebab mahalnya harga obat di Indonesia adalah karena banyaknya perusahaan-perusahaan farmasi dalam negeri mau pun PMA yang mendirikan perusahaan farmasi di tanah air. Banyaknya jumlah produsen obat-obatan tersebut tidak sebanding dengan konsumsi obat di masyarakat kita. Akibatnya, perusahaan-perusahaan farmasi tersebut melakukan persaingan-persaingan yang tidak sehat.
Cara-cara promosi yang mereka lakukan sudah sangat berlebihan. Mereka berlomba-lomba merayu dokter, rumah sakit dan apotik agar obat-obat hasil produksinya menjadi acuan utama dalam pemberian obat kepada pasien. Para medical representative dari berbagai perusahaan farmasi seakan berlomba memberi bonus besar, mulai dari tawaran potongan harga yang cukup besar sampai dengan servis lainnya, seperti komisi bulanan, berlibur ke luar negeri atau berupa barang sesuai permintaan dokter atau berupa pemberian barang sesuai permintaan dokter.
Modus operandi inilah yang menyebabkan mahalnya harga obat di mayarakat, yakni biaya promosi yang teramat tinggi. Penambahan biaya ini pasti harus ditanggung konsumen melalui harga obat yang harus mereka bayarkan. Salah seorang manager salah satu perusahaan farmasi bahkan mengakui bahwa perusahaannya sudah melakukan cara-cara promosi yang melampaui batas-batas dan tidak sesuai dengan etika. Namun, mau tidak mau, kondisi seperti ini harus diikuti, karena adanya persaingan yang sangat ketat di antara perusahaan-perusahaan farmasi lain dalam “melobi” dokter, rumah sakit dan apotik yang memiliki peran utama dalam penjualan obat kepada masyarakat. Praktek kolusi antara produsen obat dengan dokter, rumah sakit, mau pun apotik tersebut bisa diterima dari sisi bisnis, tetapi tidak benar dari sudut etika karena sangat merugikan konsumen.

Mana Peran Ikatan Profesi ?
Akibat telah menjamurnya praktek kolusi seperti digambarkan di atas, saat ini sulit kita jumpai seorang dokter yang memiliki idealisme dalam menjalankan profesinya, yang konon ditujukan untuk mengabdi kepada kepentingan masyarakat. Lihat saja, mereka sudah tidak malu lagi melakukan tawar-menawar  dengan medical representative mengenai imbalan yang diperoleh bila meresepkan obat yang ditawarkan medical representative tersebut.
Jika perjanjian sudah deal, kini tinggal sang dokter dengan semangat ’45 berupaya sebanyak mungkin menulis obat-obatan yang diperjanjikan tersebut kepada para pasien yang “harus ditolongnya”. Akibat fenomena ini, kita tidak perlu heran jika sering kita dapati penulisan resep yang irasional. Misalnya, ada dokter yang selalu menulis jenis obat tertentu  dalam resep-resep yang diberikan kepada pasien, meski sebetulnya obat tersebut tidak diperlukan. Lebih lanjut, tak jarang pula kita temui jumlah obat yang diresepkan tersebut sangat berlebihan.
Menghadapi fenomena demikian,  para pasien “yang kasihan deh lu” tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya menurut saja apa yang sudah “diperintahkan” para dokter “yang mulia” itu. Mereka sangat percaya dan berharap banyak kepada dokter bagi kesembuhan penyakitnya. Nah, “kebodohan” masyarakat awam ini yang dijadikan kesempatan berbisnis dengan produsen obat untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
IDI ( Ikatan Dokter Indonesia ) sebagai organisasi bagi para profesi dokter tampaknya tidak bisa berbuat banyak untuk menertibkan para anggotanya. Bahkan, diduga, IDI kurang tegas dan terkesan membiarkan saja perilaku anggota-anggotanya yang jelas-jelas melanggar etika profesi tersebut.
Ketidakmampuan IDI dalam menindak anggotanya tersebut setidaknya disebabkan oleh  kesepakatan berkolusi dalam penjualan obat antara dokter dan produsen obat tidak pernah dibuat secara tertulis, sehingga IDI kesulitan mendapatkan bukti akan adanya “mafia perdagangan obat” yang sangat merugikan masyarakat.  Artinya, kita akan sulit berharap IDI bisa menyelesaikan masalah “mafia perdagangan obat” yang mencekik masyarakat ini.

Peran Aktif Farmasis
Beban yang diderita masyarakat bisa agak diringankan apabila apotik-apotik yang ada melaksanakan layanan KIE ( Konsultasi, Informasi dan Edukasi ) dengan sungguh-sungguh kepada masyarakat. Tragisnya, para apoteker yang menurut aturannya harus selalu stand by di apotik yang salah satu fungsinya untuk melaksanakan peran ini, justru hampir tidak pernah hadir di apotik. Maka, satu-satunya pihak yang dapat melaksanakan layanan KIE ini adalah para asisten apoteker. Karena mereka ini pasti selalu ada di apotek.
Peran asisten apoteker dalam hal ini bisa dimulai dari pemberian informasi tentang obat-obatan yang diresepkan dokter. Misalnya, tentang dosis yang benar, obat apa saja yang benar-benar dibutuhkan untuk penyakit pasien, efek samping dan yang tak kalah penting adalah informasi tentang obat generik dari obat paten yang diresepkan dokter. Dengan demikian, pasien benar-benar tahu dan memahami obat-obatan yang harus dikonsumsi, obat apa yang tidak perlu dan apakah harus menggunakan obat paten atau generik.
Selain itu, para asisten apoteker juga bisa menginformasikan kepada dokter penulis resep agar obat yang diresepkan kepada pasien diganti dengan obat generik atau produk lain yang lebih murah. Dengan informasi tersebut supaya dokter tahu bahwa obat-obat yang diresepkan tersebut harganya sangat mahal dan di luar kemampuan daya beli masyarakat umum. Dengan demikian, mudah-mudahan ini akan membuat para dokter tersebut akan sadar terhadap nilai-nilai profesinya yang luhur dan tidak sekadar terpacu untuk memenuhi target pemasaran sesuai perjajnjian dengan produsen obat saja.

Peran Pemerintah
Harga obat-obatan yang  terus melambung akibat perdagangan di balik layar antara produsen obat dengan dokter, rumah sakit dan apotek harus segera di atasi pemerintah. Menteri kesehatan yang mewakili pemerintah harus segera menerbitkan kebijakan-kebijakan atau peraturan pemerintah kepada produsen obat mengenai harga obat yang beredar di untuk masyarakat luas.
Selain itu, juga dengan menganjurkan budaya penulisan resep oleh dokter agar mengacu pada obat-obatan generik atau daftar obat esensial yang dalam produksi dan distribusinya mendapat subsidi dari pemerintah.
Pemerintah seharusnya juga bisa lebih tegas meminta pertanggung-jawaban IDI sebagai organisasi profesi para dokter karena selama ini IDI kurang mampu menertibkan para anggotanya yang terlibat dalam “mafia perdagangan obat”. Dengan demikian, diharapkan agar IDI dapat segera membuat aturan-aturan yang dapat mendorong para anggotanya untuk mematuhi etika profesinya dan kembali kepada misi mulianya, mengabdi kepada kepentingan masyarakat.

6 Komentar leave one →
  1. ULFA AZD, permalink
    11 Agustus 2007 12:34 pm

    Hukum alam berlaku , siapa yang kuat dia yang menang . Kebesaran profesi seorang Dokter memang berpotensi untuk mengerucutkan pola pikir masyarakat sehingga Dokter dianggap orang paling pandai dan perlu dipatuhi segala nasehatnya . Termasuk harus membeli resep merk anu di apotek itu . Betul sekarang saatnya farmasis melalui KIE harus berperan lebih besar . Harus mengasah taring untuk bisa menyeringai lebih garang , melawan kucing garong pemnagsa darah manusia sakit . Sungguh mengenaskan . Tidak pernahkah para Dokter yang terhormat itu melihat roman wajah keluarga pasien yang antara bingung dan pasrah ketika kasir apotek menyebut sederetan angka yang harus dia rogoh dari dompet lusuhnya , sebagai ikhtiarnya untuk mengobati keluarganya ….mungkin tidak bisa semudah itu kita melihat bisnis farmasi yang unik dan menarik ini . Dua misi yang bertentangan yang dipaksakan untuk duduk berdampingan . Sisi sosial bahwa obat adalah komiditi penyelamat dan penunjang kesehatan , dan bisnis oriented yang sangat menjanjikan karena obat termasuk kebutuhab mendasar manusia . Bisakah pelaku -pelaku bisnis farmasi memadukan keduanya . Mungkin tidak bisa sempurna , cukup saja . Tidak banyak yang bisa kita lakukan , mulai dari diri sendiri saja , para alumni PUTRA INDONESIA . Perubahan kecil bisa menjadi perubahan besar , akan tetapi perubahan besar tidak akan pernah terjadi tanpa perubahan kecil .

  2. satochid permalink
    28 Mei 2008 3:04 pm

    benar kami pasien tidak bisa berbuat banyak, karena dokternya pun membantu
    terciptanya situasi ini.
    pengalaman saya di salah satu RS daerah pal merah dokternya memberikan resep yang katanya obatnya tidak ada yang diganti dpho ternyata melalui apotik saya (langganan kantor) ternyata dapat diganti dengan dpho
    saya salut dengan keberanian apotikernya, terima kasih

  3. Logan permalink
    26 Mei 2013 1:05 pm

    Postingan lama yang Saya cari2… Entah postingan Saya akan mendapat tanggapan atau tidak tapi Saya coba membeberkan sebuah fakta…

    1. Saya seorang anak kedua dari 2 bersaudara…
    2. Ortu saya seorang Dokter Spesialis…
    3. Keinginan Ortu saya hampir sama dengan ortu2 yg laen (sama tapi tidak persis tergantung kemampuan), misalnya :
    – Mencerdaskan anak…
    – Mensejahterakan anak dsb…
    – Salah satunya memberi fasilitas kendaraan untuk mobilisasi anak dalam menempuh pendidikan…

    Sejak lama Saya sudah melihat, mendengar dan merasakan sendiri betapa mahalnya obat & perawatan medis… Saya pun berpikir bagaimana kondisi masyarakat yang tidak mampu ketika datang ke Rumah Sakit untuk berobat, dalam hal finansial mungkin tidak terlalu bermasalah jika punya ASKES atau sejenisnya (kartu miskin dsb)… Kenyataanya banyak juga yang tidak memiliki ASKES bahkan kondisi terburuk seperti yang sering diberitakan banyaknya kasus Malpraktek dan pemilik ASKES pun tidak mendapat pelayanan semestinya seperti layaknya Orang Kaya…

    Saya dulu sering berdebat tentang Halal & Haram tapi belum sampe membahas tentang masalah ini (mahalnya obat & perawatan medis)… Memang benar dulu Ortu Saya kadang memberi obat gratis pada tetangga yang tidak mampu saat masih praktek di rumah tapi saat ini Ortu Saya di luar Jawa (sudah 10 tahun lebih)…

    Singkat cerita, 1/2 tahun yang lalu Ortu mendapat hadiah MOBIL dari pihak Farmasi yang mana mobil tersebut diberikan kepada Saya (atas nama Saya)… Saya pun menanyakan pada Agen Dealer yang mengurus surat2nya tentang status kepemilikan dan lain2 yang berhubungan tentang mobil ini… Satu fakta menarik bahwa ternyata mobil itu dibeli secara kredit, entah benar atau tidak yang jelas Saya belum mendapat BPKB & Agen yang bersangkutan bilang baru diserahkan 3-4 tahun lagi sebagai jaminan sesuai perjanjian/syarat antara Ortu Saya dengan pihak Farmasi…

    Kira2 begitu apa yg ingin sekali Saya sampaikan… Alasan saya membeberkan fakta seperti ini adalah :
    1. Saya sendiri agak canggung pakai mobil (lebih suka naik motor)…
    2. Kondisi seperti ini membuat Saya tidak nyaman membawa mobil bepergian seolah2 mobil yang Saya pakai adalah hasil memeras orang lain (maap kalo sdikit kasar)…

  4. 19 November 2014 1:47 am

    Begitulah yang terjadi di negeri ini ibaratkan orang yang jatuh tertimpa tangga, dimanakah hati nurani manusia !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: