Skip to content

PERANAN WIRASWASTA DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

28 September 2007

David Mc Clelland membuat kupasan yang menarik tentang peranan orang-orang dengan mental tertentu terhadap kemajuan bangsanya. Dalam bukunya The Achieving Society  ( 1961 ), ia menguraikan bahwa ‘dorongan untuk mencapai keberhasilan’ merupakan faktor determinan, tidak saja bagi keberhasilan individu, tapi juga bangsa dalam memperoleh kemajuan hidup. Artinya, berhasil tidaknya sebuah bangsa dalam melaksanakan pembangunan bergantung pada jumlah penduduk yang mempunyai ‘dorongan untuk berhasil’ need for achieving ini. Dorongan ini oleh David Mc Clelland dinamakan ‘virus N Ach’.
. Dari kupasan tersebut terungkap bahwa salah satu faktor yang menjadikan maju-tidak majunya sebuah bangsa ialah banyak-sedikitnya penduduk masyarakat bangsa-bangsa tersebut yang terjangkiti virus N Ach. Semakin banyak anggota masyarakat yang terjangkit, semakin maju bangsa tersebut.
Seseorang yang terjangkit virus ini menampilkan perilaku yang selalu ingin meraih prestasi, bekerja keras, penuh tanggungjawab, dan berani mengambil resiko. Bukankah ciri-ciri ini juga menjadi ciri dari wiraswasta. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa maju atau terbelakangnya suatu bangsa salah satunya ditentukan sedikit-banyaknya jumlah penduduk yang bermental wiraswasta di dalam bangsa tersebut.
Sejalan dengan David Mc Clelland, Prof. Dr. Didik J. Rachbini, dalam buku Kiat Sukses Berwirausaha menyatakan :
Masalah kewirausahaan (entrepreurship) merupakan persoalan paling penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang membangun. Kemajuan atau kemunduran ekonomi suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kelompok wirausahawan ini. Jika suatu bangsa tidak memiliki modal manusia ini, jangan berharap ada kemajuan yang berarti pada bangsa tersebut. Sebaliknya, kemajuan yang telah terjadi pada suatu bangsa dapat dilihat dari keberadaan dan peranan kelompok wirausahawan ini. (Sutrisno Iwantono, Kiat Sukses Berwirausaha, 2002 : xiv).
Pendapat di atas bukanlah sekadar ‘teori kosong’  yang tidak ada dalam realita, tetapi didukung oleh bukti-bukti sejarah. Dalam buku yang sama Prof. Didik mengungkapkan bahwa dalam sejarah ekonomi negara-negara maju, kehadiran pertama kali kaum wirausahawan terlihat dari keberadaannya. Misalnya, kaum wirausahawan Jepang pada masa Restorasi Meiji, kaum Parsi di Timur Tengah, wirausahawan yang disemangati etika protestan di Barat, atau gelombang usahawan Cina di Hongkong dan Taiwan. Gejala-gejala kehadiran para wirausahawan ini selaras dengan proses perubahan sosial atau menjadi suatu bentuk revolusi tersembunyi pada bangsa tersebut. Akan tetapi, kehadirannya kemudian terlihat nyata pada peningkatan pendapatan nasional, dinamika ekonomi secara keseluruhan, dan proses modernisasi ekonomi yang tidak berhenti.
Gambaran tersebut memberi bukti sejarah mengenai peranan kaum wirausahawan yang begitu dominan dalam menentukan kemajuan bangsanya. Jumlah mereka ini tidak perlu terlalu banyak. Menurut Prof. Didiek, suatu bangsa secara teoritis harus memiliki stok modal sumber daya manusia pada hierarki yang paling tinggi ini setidaknya 2,5 persen dari total jumlah manusia yang ada pada bangsa dan masyarakat bersangkutan. Jika syarat ini dipenuhi, perekonomian bangsa tersebut akan mengalami kemajuan yang berarti. Kelompok kecil ini kemudian diartikulasikan sebagai kelompok determinan, yang menentukan masa depan ekonomi suatu bangsa. 
Dengan jumlah sekecil itu, 2,5% dari total jumlah penduduk, peranan apa yang bisa dimainkan oleh kaum wiraswastawan ini ? Mereka biasanya berperan sebagai  gap filler yang menghubungkan atau mengisi kesenjangan antara peluang yang potensial dan kenyataan yang ada.
Peranan tersebut, untuk saat ini, sangat kita butuhkan. Banyak potensi-potensi bangsa, berupa sumber daya alam, tidak mampu dikelola. Hal ini karena kekurangmampuan SDM kita untuk mengelolanya. Karena kita kekurangan jumlah manusia-manusia bermental wirausaha, maka potensi-potensi itu kita serahkan kepada asing untuk mengelola. Daripada mengusahakan meningkatkan kemampuan sendiri untuk mengelola, para elit kita tampaknya lebih suka ‘menggadaikan’ sumber daya alam tersebut. Yang penting mereka mendapat fee yang cukup menggiurkan dari para investor asing – tentunya fee ini masuk ke kantong pribadi masing-masing- dan demi kepentingan politik jangka pendek, tanpa memikirkan kepentingan bangsa jangka panjang.
Memang, jika jumlah yang kecil dari kaum wirausahawan ini tidak ada, dan di dalam bangsa itu hanya ada kumpulan birokrat serta masyarakat yang berwatak feodal dan bermental buruh, maka bangsa tersebut tidak akan pernah mencapai kemajuan ekonomi. Menurut Prof. Didiek, selama stok sumber daya manusia wirausahawan seperti ini tidak pernah hadir, dalam waktu berabad-abad pun bangsa tersebut akan tenggelam dalam kubangan keterbelakangan

2 Komentar leave one →
  1. 30 Januari 2009 7:16 am

    terimakasih atas artikelnya semoga hal seperti selalu di publikasikan

  2. ubuy_kasep@yahoo.com permalink
    23 Juni 2009 10:32 am

    terima kasih banyak atas artikel nya yang sangat membantu,khusus nya buat saya yang sedang mencari refrensi tentang kewirausahaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: