Skip to content

Belajar Kesalehan Sosial Dari Sekolah “nDeso”

9 Oktober 2007

Sore itu, masyarakat desa Klojen, sebuah desa terpencil yang kebanyakan penduduknya tergolong miskin di Kabupaten Pasuruan dibuat geger, terutama yang memiliki anak yang bersekolah di salah satu SDN di desa tersebut. Pasalnya, kepala sekolah menginstruksikan kepada semua murid agar setiap hari jum’at membawa beras segenggam untuk dikumpulkan di sekolah. Masyarakat pada bertanya-tanya, buat apa beras itu ? Apa mau dibagi untuk para guru ? Ataukah sekolah itu mau jadi agen beras ? Dan segudang tanya pun menyeruak di tengah masyarakat.
Selain karena yang diminta nyeleneh ( beras ), yang membuat masyarakat penasaran adalah karena sekolah tersebut selama ini tidak pernah membuat kebijakan untuk menarik dana masyarakat, selain untuk membeli buku tentunya. Di saat sekolah-sekolah lain sibuk mencari-cari alasan yang “maton” untuk menarik dana masyarakat sebanyak-banyaknya, sekolah tersebut justru menolak dana masyarakat.
Pernah suatu ketika entah karena prihatin atau faktor lain, ada salah seorang wali murid memberi saran supaya sekolah tersebut menarik uang bangku bagi murid baru. Di luar dugaan, Kepala Sekolahnya menjawab :
“Buat apa uang bangku ? Memang Bapak-bapak mau membeli bangku sekolah ini untuk dibawa pulang ? Lagi pula, uang yang kami terima dari pemerintah sudah cukup, baik untuk gaji kami maupun operasional sekolah ini. Dan Bapak ndak usah khawatir, meski kami tidak menarik pungutan dana dari masyarakat, kami tetap akan mendidik putra-putri Bapak dengan kesungguhan hati. Kami hanya mohon, sewaktu anak-anak di rumah, bantulah kami mendorong anak-anak supaya selalu belajar dengan sungguh-sungguh”
Dengan sikap seperti itu, tak heran jika masyarakat sekitar sangat penasaran ketika sekolah tersebut mengeluarkan kebijakan mengumpulkan beras dari murid-murid. Kalau dari segi harga sih memang sama sekali tidak memberatkan, Cuma segenggam seminggu sekali. Cuma, yang jadi penasaran itu, untuk apa beras tersebut ?
Setelah proses pengumpulan beras tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, barulah masyarakat tahu untuk apa beras tersebut. Hari itu adalah hari senin. Sepertinya biasanya, setiap hari senin, sebelum masuk kelas, guru dan murid melakuksanakan upacara bendera. Hari itu yang menjadi pimpinan upacara adalah Kepala Sekolah. Nah, di dalam sambutannya, Kepala Sekolah tersebut menjelaskan maksud dari pengumpulan beras tersebut.
“Anak-anak sekalian,” demikian beliau mengawali sambutannya. “Kami tahu, selama ini kalian dan orangtua kalian selalu bertanya-tanya tentang maksud dari pengumpulan beras yang kalian lakukan selama ini. Tapi, sejauh ini belum ada satu orangpun yang menanyakan ke sekolah maksud pengumpulan beras itu. Kalian ingin tahu untuk apa beras tersebut kan ?”
“Iya……!” Jawab sebagian murid.
“Begini anak-anakku,” beliau menjelaskan. “Di antara kalian, ada satu dua orang teman kalian yang kesulitan untuk membeli buku-buku untuk sekolah. Menurut kalian, teman kita yang kesulitan perlu dibantu atau tidak ?” tanya Kepala Sekolah.
“Perlu……!” jawab murid-murid serempak.
“Bagus ! Nah, beras yang kalian kumpulkan selama ini akan kami jual dan uangnya untuk membantu teman kalian yang kesulitan tadi. Apa kalian keberatan kalau beras yang kalian kumpulkan selama ini untuk membantu teman kalian ?
“Tidak…..!” sekali lagi murid-murid menjawab secara serempak.
Setelah hari itu, pertanyaan-pertanyaan seputar beras sudah tidak lagi menjadi bahan gosip di desa tersebut. Malah beberapa wali murid yang mampu tidak lagi hanya memberi segenggam beras saat hari jum’at. Ada yang sampai memberi satu kilogram beras.
@@@@@@@@@@

Barangkali apa yang telah dilakukan oleh kepala sekolah SD ‘ndeso’ tersebut patut ditiru oleh kepala sekolah institusi lain ( mulai kepala SD sampai kepala PT ). Para pimpinan institusi hendaknya mulai mengurangi menggunakan akalnya untuk ‘memeras’ dana masyarakat yang makin sengsara ini. Sebaliknya, justru mulai harus memikirkan bagaimana menumbuhkan nilai-nilai kesalehan sosial pada diri peserta didiknya. Upaya ini perlu dilakukan jika kita tidak menginginkan bangsa ini makin hancur di masa depan.

Iklan
One Comment leave one →
  1. harun rosyid permalink
    27 Maret 2009 5:52 pm

    subhanalloh, betapa inovativ kepala sekolah itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: