Skip to content

Runtuhnya Solidaritas Sosial ( 1 )

1 Januari 2008

Seperti acara tahun baru sebelumnya, tahun baru kali ini tak kalah semarak. Berbagai macam acara di gelar baik di kota besar maupun di kota kecil. Tempat-tempat seperti puncak Bogor atau kota Batu padat dengan mobil pelancong domestik yang ingin menikmati Tahun Baru di kawasan wisata tersebut. Bahkan menurut berita yang saya dengar dari radio, jumlah kendaraan di daerah Karanglo menuju ke kota Batu, semenitnya ada 70 buah kendaraan roda empat. Belum lagi kendaraan yang lewat di daerah Dinoyo ke arah Batu, juga tak kalah padatnya. Di salah satu televisi swasta juga disiarkan kemacetan kendaraan yang menuju puncak Bogor juga mencapai beberapa kilometer. Dan semua itu adalah acara untuk menghamburkan uang demi kesenangan di Tahun Baru.
Tak kalah serunya,seperti disiarkan juga oleh tv swasta, di dua tempat, Ancol dan Monas, juga digelar acara penyambutan Tahun Baru yang menghabiskan dana yang cukup fantastik. Bayangkan saja, di Ancol, untuk acara kembang api, yang khusus diimport dari China dan Australia, harganya mencapai ratusan juta rupiah. Padahal acara kembang api itu hanya berlangsung tak kurang dari seperempat jam. Di Monas juga tak jauh berbeda. Belum lagi untuk pembayaran artis yang mungkin mencapai bilangan milyard.
Di sisi lain, saudara-saudara kita yang berada di sebagian wilayah Jakarta, Solo, Sragen, Madiun, Ngawi, Bojonegoro dan Lamongan sedang bergelut dengan banjir untuk mempertahankan hidup. Jangankan untuk menikmati tahun baru, untuk makan dan tidur dengan aman pun merupakan mimpi indah bagi mereka. Penderitaan ini juga disiarkan hampir setiap jam oleh berbagai stasiun televisi. Saya sangat yakin, semua dari kita pasti telah tahu berapa banyak nyawa telah melayang akibat bencana itu; kita juga pasti tahu bagaimana bantuan yang mereka butuhkan tak kunjung datang dengan memadai; dan kita juga tahu berapa banyak anak-anak kecil dan orang-orang tua sedang hidup dengan penderitaan yang tak tahu kapan akan berakhir.
Tapi mungkin kita tidak pernah bertanya kepada nurani kita, apa yang mesti kita perbuat untuk saudara-saudara kita itu ? Jika bebrapa tahun lalu, ketika terjadi pertikaian di Ambon atau terjadi sunami di Aceh, kita masih sering menjumpai beberapa anggota ormas atau mahasiswa berdiri di jalan-jalan besar untuk menggalang dana bantuan buat mereka yang sedang dirundung bencana. Saat itu, kita juga masih sering melihat di kampus, di mesjid, di jamaah tahlil, di gereja aktivitas-aktivitas penggalangan dana buat membantu saudara-saudara yang sedang ditimpa musibah. Mengapa solidaritas sosial seperti itu kini seakan luntur ? Tentu penyebabnya bukan karena negeri ini terlalu banyak ditimpa bencana sehingga kita bosan membantunya.
Kesetiakawanan sosial merupakan perkara moral, perkara etika atau susila, dan perkara hati. Kesetiakawanan sosial bukanlah merupakan sesuatu yang taken for granted. Ia harus dilatih dan dikembangkan. Pertanyaannya sekarang adalah siapa yang bertanggung-jawab untuk melatih dan mengembangkannya ?
Secara teori ada tiga lembaga yang berkewajiban mengembangkannya, yakni keluarga, masyarakat dan sekolah. Dalam tulisan ini akan dicoba untuk meninjau dari sudut sekolah. Dalam arti kata, seberapa jauh sekolah-sekolah kita telah mengembangkan nilai-nilai moral, etika dan hati kepada siswa. Ini bukan berarti keluarga dan masyarakat dianggap tidak penting. Tapi karena bidang penulis adalah pendidik, maka wilayah itu yang lebih dipahami.

Tujuan Pendidikan
Jika kita lihat UU Sisdiknas, dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Jika disimak, maka tujuan pendidikan nasional kita adalah hendak mengembangkan kecerdasan ( kognitif ), ketrampilan ( psikomotor ) dan mental-spiritual ( konatif ) peserta didik. Namun, kenyataannya sekolah-sekolah kita tidak sepenuhnya melaksanakan amanat tersebut.
Sudah bukan rahasia lagi, sebagian masyarakat menyekolahkan anaknya adalah untuk memudahkan mencari pekerjaan. Institusi sekolah yang lulusannya cepat mendapat kerja setelah lulus akan diserbu peminat. Ditambah lagi, dunia kerja selalu menuntut agar sekolah mampu menghasilkan lulusan yang siap pakai. Jika ada institusi pendidikan yang lulusannya tidak begitu menguasai ketrampilan-ketrampilan yang dipersyaratkan dunia industri, maka lembaga tersebut akan dicap sebagai lembaga pendidikan yang tidak bermutu.
Merupakan hal yang wajar jika tidak ada satu pun lembaga pendidikan yang sudi diberi cap tidak bermutu dan tidak diminati masyarakat. Karena itu, wajar pula jika lembaga-lembaga pendidikan yang ada akan ‘ngoyo’ mendisain kurikulumnya supaya cocok dengan kebutuhan dunia kerja. Maka, matra ketrampilan pasti menjadi prioritas di dalam kurikulum berbagai lembaga pendidikan.
Selain itu, karena didesak oleh standardisasi nasional yang salah satunya diimplementasikan melaui ujian nasional, mau tidak mau, menjadikan sekolah-sekolah memberi prioritas yang berlebihan pada ranah kognitif. Otak, waktu dan tenaga siswa habis dipaksa ‘menenggak’ berbagai macam pengetahuan yang diprediksi akan muncul dalam ujian nasional.
Kedua faktor di atas begitu banyak menyita perhatian, waktu, tenaga dan biaya sekolah dan siswa. Akibatnya hampir tiada yang tersisa untuk memberi perhatian pada ranah konatif. Memang ada, sebetulnya, mata pelajaran-mata pelajaran tertentu yang bisa dimuati oleh nilai-nilai yang berada dalam ranah konatif tersebut, semisal pendidikan agama, sejarah maupun kesenian. Tetapi sayangnya, penyajian untuk mata pelajaran tersebut juga ketularan virus banking system. Pendidik untuk mata pelajaran tersebut lebih mementingkan sisi pengetahuannya saja, bukan latihan melakukan nilai-nilai moral,etika dan susila yang ada dalam mata pelajaran tersebut. Akibatnya, pemberian pelajaran-pelajaran tersebut kurang memberi implikasi bagi perilaku yang bermoral, beretika, bersusila dan berhati nurani.
Realitas di atas juga diperparah oleh perilaku pihak penyelenggara pendidikan dan para pengajar. Jika kita ikuti tarif yang berlaku untuk memasuki sekolah-sekolah yang ada, terutama sekolah-sekolah yang dianggap favorit, semakin hari semakin mahal. Meskipun kapasitas otak sangat memadai, tetapi jika uang tipis, jangan berharap bisa memasuki sekolah-sekolah yang dianggap baik. Tanpa uang yang tebal jangan pernah bermimpi akan mendapat sekolah yang memiliki fasilitas memadai dan dianggap sekolah bermutu. Bagi yang miskin, cukup bersekolah di sekolah swasta yang terletak di pinggiran, yang fasilitasnya sangat minim, pengajarnya –maaf seringkali tak memadai, dan yang dianggap tidak bermutu.
Perilaku gurunya pun setali tiga uang. Meski depdiknas telah mengeluarkan larangan bagi sekolah dan guru untuk tidak berdagang buku kepada murid-muridnya, tapi hal itu masih banyak terjadi. Masih banyak sekolah dan guru yang memaksa murid-murid untuk membeli buku. Dan nilai rupiahnya juga tak tanggung-tanggung, pasti mencapai ratusan ribu rupiah setiap semester. Dan sudah menjadi rahasia umum, yang juga sangat dipahami oleh murid-murid, bahwa terjadi perselingkuhan yang tak bersusila antara pihak sekolah atau guru dan para penerbit. Ada komisi yang diterima sekolah atau guru dari penerbit atas jasa memaksa murid-murid membeli produk-produk para penerbit tersebut. Belum lagi dengan skandal jual beli nilai, jual beli bangku, jual beli baju seragam dan berbagai jual beli yang lain yang ada dalam sebuah pasar yang bernama sekolah.
Fenomena ini, secara langsung atau tidak, telah mematrikan dalam diri murid akan ‘mulianya’ falsafah kapitalisme dan materialistik. Ini merupakan model pembelajaran yang sangat ampuh bagi penyebaran virus kapitalisme dan materialistik tersebut. Di dalam diri murid akan muncul sebuah paradigma yang sangat diyakini kebenarannya, bahwa hanya uanglah yang paling berkuasa atas segala sesuatu. Dengan uang segalanya bisa didapat/dibeli, tak perlu repot-repot.
Dalam budaya dan keyakinan seperti itu sangat wajar jika nilai-nilai solidaritas dan kemanusiaan  tidak memiliki tempat. Maka kita tidak perlu heranlah kalau remaja-remaja ( dan juga yang tua-tua ) bisa berhura-hura bak kesetanan di saat ada saudara-saudara sebangsa  sedang dirundung petaka.
Berlanjut……

2 Komentar leave one →
  1. 10 Januari 2008 12:38 am

    Untuk berpesta pora yang miliran rupiah akan mudah dilaksanakan, tapi untuk menyumbang hanya ratusan ribu rupiah akan sudah dilaksanakan. Itulah keadaan dinegara kita. Jangan untuk menolong orang lain, untuk menolong diri sendiri saja masih sulit. Kadang terjebak dengan membeli bunga/barang yang mahal tapi untuk menabung “ongkos ke surga” kadang-kadang kita nabung Rp 1.000/minggu. Sedangkan untuk membeli barang akan mudah dilakukan meskipun dengan harga mahal. Salam kenal.

  2. Anonim permalink
    17 Januari 2009 1:36 am

    Iya,saya sgt stju dgn yg diatas,bhkan mrka yg berpesta taun bru,seakan pura2 tuli dgn keadaan saudara kita yg sedang dibombardir oleh israel.
    Mrka malah merayakan tahun bru dgn gelak tawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: