Skip to content

SOEHARTO IN MEMORIAM

28 Januari 2008

SOEHARTO IN MEMORIAM :
Mengambil Makna dari Wafatnya Pak Harto

Ahad, 27 Januari 2008, pukul 13.10 wib, mantan Presiden RI ke II, Jenderal Besar H.M Soeharto, telah meninggalkan kita menghadap Sang Pencipta. Pemerintah mengumumkan masa berkabung selama 7 hari. Masyarakat Indonesia dihimbau memasang bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung. Sejak jam beliau wafat hingga saat prosesi pemakaman, semua stasiun televisi menayangkan mulai dari saat pertama kali Pak Harto memegang mandat untuk memimpin bangsa ini hingga detik-detik terakhir sakratul maut menjemputnya.
Ada yang aneh, meski pemerintah telah menghimbau masyarakat untuk memasang bendera setengah tiang, namun hanya segelintir orang yang melakukannya. Dan, begitu melihat tetangga yang  lain tidak memasang bendera setengah tiang, yang segelintir itu pun sebagian mencopot kembali bendera yang telah di pasangnya. Hal ini berbanding terbalik dengan waktu Bung Karno wafat. Saat itu, nyaris semua masyarakat Indonesia memasang bendera setengah tiang di muka rumahnya masing-masing.
Mengapa begitu ? Apakah bangsa ini begitu dendam kepada Pak Harto ? Begitu besarnyakah kesalahan yang dilakukan Pak Harto hingga tiada maaf baginya ?
Barangkali kita semua telah mahfum betapa besar jasa Pak Harto bagi negeri ini, apalagi semua stasiun televisi di negeri ini juga menayangkan jejak-jejak perjalanan hidup Pak Harto selama hidupnya. Ada sederet prestasi atau jasa Pak Harto yang telah dipersembahkan bagi negeri ini. Sebut saja pada tahun 1949, saat Pak Harto memimpin serangan fajar di Jogja. Meski hanya mampu menduduki Jogja selama 6 jam saja, tetapi itu telah mampu menunjukkan kepada dunia bahwa pemerintahan Republik Indonesia masih eksis. Pada tahun 1962 ( 1963 ? )  berhasil membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda. Tahun 1965 berhasil menjaga stabilitas bangsa yang hampir porak poranda. Selama menjabat sebagai Presiden RI, Pak Harto juga berhasil menggapai prestasi yang luar biasa. Misalnya, keberhasilan menjadikan negeri ini sebagai negeri yang berswa-sembada beras dan juga disebut-sebut sebagai calon Macan Asia.
Tapi mengapa masyarakat enggan memasang bendera setengah tiang sebagai pertanda turut berduka cita ?
Tentu bukan hal yang mudah meraba ada apa di balik keengganan masyarakat kita memasang bendera setengah tiang.  Dalam tulisan ini, saya mencoba mengira-ira faktor penyebab sikap enggan tersebut.
Pertama, Pak Harto terlalu lama berkuasa. Banyak orang mengatakan andaikata di tahun puncak kejayaan Indonesia, sekitar 1987, Pak Harto lengser, pasti akan dikenang sebagai Bapak Bangsa yang memiliki jasa besar bagi kebangkitan Indonesia, sebagaimana Lee Kuan Yeuw saat ini. Tapi Pak Harto tampaknya bukanlah orang yang mampu melawan hawa nafsunya sendiri. Ia mabuk oleh kekuasaan dan membiarkan diri berlarut-larut dengan kemabukan itu, sampai akhirnya dipaksa lengser oleh masyarakat bangsa ini.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang selalu menyatakan diri sebagai bangsa yang memiliki budi pekerti yang halus, yang mengagungkan pengekangan hawa nafsu. Perilaku yang  mengumbar hawa nafsu tentu dipandang sebagai perilaku yang memuakkan. Bangsa Indonesia tidak bisa mentoleransi perilaku yang dibimbing oleh hawa nafsu.
Kedua, di balik prestasi-presinya yang spekatakuler, Pak Harto juga menampilkan perilaku yang tidak mengindahkan penghargaan terhadap hak-hak individu mayarakat. Pak Harto banyak memberangus hak-hak warga negara, memenjara banyak orang tanpa melalui proses pengadilan, menghilangkan banyak orang tanpa musabab yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan menyebarkan teror yang mengintimidasi warga masyarakat. Perilaku ini sangat berseberangan dengan kodrat peradaban umat manusia yang sedang terjadi di dunia ini.
Padahal, sejarah umat manusia di seluruh permukaan bumi ini telah menunjukkan bahwa tuntutan untuk menghargai nilai-nilai kemanusiaan semakin hari semakin menguat. Siapa pun yang melecehkan nilai-nilai kemunusiaan ini, cepat atau lambat, akan ditumbangkan oleh gerak peradaban ini. Pak Harto, barangkali karena dimabuk kekuasaan, tidak mengindahkan arah peradaban ini. Akibatnya, dia harus berhadapan dengan sebagian besar warga masyarakat yang tidak mau menerima perilaku yang sangat melecehkan nilai-nilai kemanusiaan. Mungkin, kesalahan ini sangat sulit dimaafkan sampai Pak Harto menghembuskan napas terakhirnya.
Ketiga, konon, Pak Harto adalah pribadi yang membenci kritik. Akibat sikap ini, Pak Harto hanya memilih yes man untuk berada di sekelilingnya. Orang-orang yang kritis, yang berani memberi laporan objektif mengenai kondisi bangsa ditendangnya jauh-jauh. Para yes man ini pada kenyataannya justru menampilkan perilaku yang lebih tidak beradab dibanding Pak Harto. Orang-orang ini tak segan-segan berbuat kejam terhadap orang-orang yang menyuarakan kebenaran yang berbeda dengan Pak Harto. Dari tangan orang-orang ini, rejim yang dipimpin Pak Harto banyak melakukan kejahatan kemanusiaan.
Di samping perilakunya yang kejam, para yes man ini  adalah sosok-sosok yang rakus dan serakah. Konon, kebangkrutan Indonesia adalah akibat perilaku korup dari para yes man ini, selain tentu saja juga disebabkan keserakahan “beberapa” sanak keluarga Pak Harto sendiri.
Kerusakan sendi-sendi perekonomian bangsa sebagai akibat perilaku korup mereka hingga kini belum bisa diperbaiki sama sekali, bahkan cenderung ke arah makin parah. Kondisi ini menyebabkan kita terus “mengenang” kesalahan rejim orba yang dikomandani Pak Harto.
Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud “mengadili” Pak Harto. Beliau telah menghadap Tuhan. Tuhan tentu akan meminta pertanggung-jawaban Pak Harto selama memimpin bangsa ini. Manusia, termasuk Pak Harto tentunya, ketika dilahirkan ke dunia membawa titah sebagai rahmatan lil alamin. Inilah barangkali yang menjadi parameter tugas kita sebagai manusia. Apakah keberadaan diri kita ini banyak membawa berkah buat sesama ataukah malah membawa bencana ? Kita bebas memilihnya, dan masing-masing pilihan ini mengandung konsekuensi masing-masing, yang harus kita pertanggung-jawabkan di hadapan Sang Pencipta. Oleh karena itu, di sisa usia kita, ada baiknya kita ingat, bahwa kita tidak pernah tahu kapan sakratul maut menjemput dan menghadirkan kita di hadapan-Nya.  Apakah kita akan memilih jalan yang bisa memberi manfaat atau justru menyengsarakan buat orang lain ?  Sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya pula kita ingat kembali pertanyaan Stephen Covey, “Anda mau dikenang sebagai manusia macam apa?”

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: