Skip to content

PLN = PABRIK LISTRIK NENEK MOYANG

5 Maret 2008

Seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini, 5 Maret 2008, sesampai di kantor saya langsung buka internet untuk browsing berita-berita koran. Tanpa bi bu ba,saya langsung buka salah situs koran , di halaman utama. Mata saya langsung melotot hingga hampir copot dari kelopak ketika membaca judul berita :”Denda-Diskon Listrik Berlaku Mulai April.” Si Purwono, Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM, bilang kalau PLN akan melakukan sosialisasi selama satu bulan dan pada 1 April 2008, tarif progresif ini mulai diberlakukan. Si Purwono juga bilang bahwa setelah ini ( mungkin yang dimaksud sosialisasi selama satu bulan tersebut ), tidak bisa mundur lagi.
Semula saya berpikir kalau si Purwono ini sedang mbanyol. Pasalnya, menurut berita kemarin, 4 Maret 2008, setelah melakukan Raker ESDM dengan Komisi VII DPR kemarin, si Purwono mengumumkan penundaan penerapan tarif progresif sampai waktu yang belum ditentukan. Saat itu, Purnomo berkilah belum ada instruksi resmi dari Kementerian ESDM selaku regulator di sektor energi kelistrikan kepada PLN untuk memberlakukan tarif listrik progresif. “Kami berpegang pada petunjuk presiden,” ujarnya. ( jadi ingat omongannya Harmoko sewaktu menjadi Menpen ). Ternyata pengumuman penerapan tarif progresif yang akan diberlakukan mulai 1 April mendatang bukan banyolan. Tapi sungguhan.


Kesungguhan PLN ini bisa kita lihat dari ucapan Purwomo, bahwa, Departemen ESDM akan memberlakukan tarif ini meski tanpa persetujuan DPR, karena ini adalah aksi korporat. Jadi, tidak perlu minta persetujuan wakil rakyat.

Dengan ngomong bahwa pemberlakuan tarif gaya baru yang bakal mencekik masyarakat kecil tersebut sebagai aksi korporat sehingga tidak diperlukan persetujuan DPR, sepertinya Purwono menganggap PLN sebagai perusahaan warisan nenek moyangnya. Kalau saja pabrik listrik negara tersebut didirikan oleh nenek moyangnya barangkali tak menjadi soal apakah jajaran PLN mau jungkir balik, berputar-putar atau kentut di depan umum tidak bakal ada yang protes. Tapi PLN itu kan pabrik milik negara, yang tergolong menguasai hajat hidup orang banyak, yang itu menyebabkan PLN memiliki kuasa monopoli atas pengelolaan listrik di republik ini. Mana bisa PLN ngomong soal tarif sebagai aksi korporat yang tidak memerlukan persetujuan DPR sebagai wakil rakyat. Apa mereka ini lupa bahwa hidup negara ini ( termasuk PLN ) dibiayai dari uang rakyat dan dari berbagai kekayaan perut bumi Indonesia yang juga milik seluruh rakyat Indonesia. Atau mereka ini menganggap bahwa kekayaan seluruh negeri ini menjadi milik mereka sehingga mereka bisa bebas mengaturnya ?
Yang lebih konyol lagi, mereka pikir tanggung-jawab mereka sudah cukup dengan mensosialisasikan tarif baru tersebut selama satu bulan kepada masyarakat. Apakah mereka kira dengan sosialisasi demikian, masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, terutama pengusaha kecil yang sangat bergantung kepada listrik negara ini bisa terselesaikan ? Hemat saya, yang paling terkena dampak pemberlakuan skema tarif baru ini adalah orang-orang kecil yang usahanya banyak menggunakan listrik yang saat ini usahanya sudah senin-kamis akibat kenaikan harga barang-barang dan membanjirnya produk-produk luar negeri yang harganya sangat murah. Apakah PLN mau bersikap bisu-tuli terhadap kenyataan bahwa golongan industri skala rumah tangga ini sedang sekarat ? Atau memang PLN mau sekalian membunuh golongan ini supaya tidak mengganggu sepak terjang multi national corporate ?
Mestinya PLN bisa lebih cermat lagi dalam mengklasifikasikan golongan mana saja yang bisa dikenai tarif progresif itu. Jangan digebyah uyah kayak begitu. Kalau skema baru ini tetap diterapkan bulan depan, tentu yang paling ndoweh akibat dampak tarif baru tersebut adalah golongan melarat, yang konon golongan ini paling banyak jumlah prosentasenya. Golongan mampu ? Nggak ngefek lha yauw !!!
Mari kita cermati, mana ada masyarakat yang listriknya cuma 900 VA ke bawah pakai ac, home theatre, tv plasma yang 32 inc ke atas, atau perangkat-perangkat mewah lain yang membutuhkan listrik besar di rumahnya. Kalau mereka ini mengkonsumsi litrik banyak, sebagian besar karena untuk usaha. Seperti tukang jahit yang memakai mesin jahit listrik; garmen; tukang seterika pakaian tetangga; tukang service yang sudah pakai solder listrik; tukang service dinamo atau lainnya. Mestinya PLN tahu bahwa mereka ini usaha pakai modal sendiri, tidak mengemis-ngemis pada negara yang mengakibatkan utang ke IMF dan World Bank bertambah besar. Nah, apakah penggunaan listrik untuk mencari rezeki buat keluarga dan tanpa minta bantuan negara ini tergolong pemborosan ?
Harusnya PLN tidak menggolongkan pelanggan 900 VA  ke bawah ke dalam golongan yang terkena denda. Karena, sepengetahuan saya, pelanggan 900 VA  ke bawah kebanyakan adalah golongan yang tidak bisa dibilang hidup berkecukupan. Andai saja tidak takut hidungnya hitam semua terkena jelaga, pasti mereka pakai lampu teplok di rumahnya. 
Apakah PLN tidak punya akal lain untuk melakukan penghematan tanpa menambah susah golongan yang saat ini lagi tertekan dari kepala, pundak, ketiak dan selangkangannya ini ? Mbok ya mikir alternatif lain. Misalnya meningkatkan efisiensi kinerja PLN, mengurangi gaji direksi yang selangit ( ini tergolong ide bego ), atau melakukan sweeping terhadap pelanggan yang masih suka nyolong listrik. Di samping tentunya tetap menerapkan tarif progresif untuk golongan pengguna 2200 VA  ke atas.
Atau, mungkin karena otak lagi kurang energi untuk cerdas, tetap akan mengenakan tarif progresif ke semua lapisan masyarakat-baik masyarakat yang baunya wangi karena pakai parfum dari Paris maupun masyarakat yang baunya tengik karena kalau mandi pakai sabun detergen-harusnya pemerintah lebih dahulu mengupayakan kemandirian listrik di desa-desa.
Dulu, di desa tetangga desa saya, ada seorang purnawirawan serdadu republik Indonesia. Orang biasa menyebut beliau mbah Sidik. Setelah pangsiun, mbah Sidik pulang ke kampung halamannya. Meski pangkatnya terbilang tinggi, karena tidak pandai korupsi, sampai pangsiun tiba, mbah Sidik tidak mampu membeli rumah di kota. Akibatnya, begitu pangsiun tiba, ia harus kembali ke desa untuk menempati rumah warisan bapaknya. Padahal, teman-temannya tidak saja bisa punya rumah mewah di kota, tetapi juga punya vila di puncak, mobil keren untuk jaman itu dan tak lupa istri muda belia.
Kepulangan mbah Sidik ke desa, ternyata membawa berkah bagi penduduk di desa itu. Berkah ini bukan karena mbah Sidik membuka praktek dukun atau mendita seperti cita-cita Soeharto sewaktu dilengserkan, tetapi beliau telah menyulap desa itu dari keadaan gelap gulita menjadi desa yang terang benderang. Bermodal pengetahuan yang diperoleh dari sekolahnya jurusan STM mesin, dia memanfaatkan sungai desa untuk memutar turbin yang dibuatnya bersama penduduk. Turbin itu untuk memutar generator, yang kemudian menghasilkan listrik yang bisa memenuhi kebutuhan listrik penduduk desa itu. Tapi, sayang begitu listrik negara masuk ke desa itu, listrik made in mbah Sidik sedikit demi sedikit raib ke alam baka.
Di Indonesia, kita ini kaya sungai, angin, atau panas matahari. Di samping itu, di desa banyak pemuda-pemuda lulusan SMK jurusan listrik yang belum mendapat kerja, yang kalau sore pekerjaannya hanya plonga-plongo di pinggir jalan sembari menatap kosong masa depannya. Mbok ya pemerintah ini mengucurkan dana ke desa-desa ini untuk membangun sumber daya listrik desa dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada dan memanfaatkan pemuda-pemuda desa yang plonga-plongo tersebut. Dengan begitu, masyarakat miskin bisa bilang go to hell with your tarif progresif.

One Comment leave one →
  1. 6 Mei 2008 3:55 pm

    SMF adalah singkatan unik yaitu Semua Menuju Fobia. Zaman sekarang yang semuanya serba semrawut, menjadikan ketakutan yang berlebih/ fobia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: