Skip to content

Bangsa Yang Terlalu Cepat Ingin Bahagia

30 Maret 2008

Suatu sore, rumah teman saya, seorang pimpinan sebuah instansi pemerintahan yang hampir pangsiun, dibuat geger oleh kedatangan beberapa petugas kejaksaan yang tidak diundang. Tamu tak diundang tadi mengundang teman saya untuk bertamu ke kantor kejaksaan saat itu juga. Pertanyaan teman saya mengapa kejaksaan mengundanya tidak dijawab oleh tamu tadi. Maka, dengan sejuta tanya di ubun-ubun teman saya mengikuti kemauan sang tamu.
Hingga larut malam teman saya tidak pulang. Keluarganya mulai resah dan gelisah. Anak-anak dan ibunya bertanya-tanya mengapa Bapak belum juga pulang ? Sementara hand phonenya tidak bisa dihubungi. Semalaman mereka tidak tidur menunggu kabar berita pahlawan keluarga.
Esoknya, sekitar pukul 6 pagi, telepon di ruang tamu berdering. Mereka grudugan mendekati telpon. Setelah diangkat, suara sang pahlawan dari seberang sana.
“Dik, tampaknya untuk sementara waktu yang tidak bisa ditentukan, aku tidak bisa pulang,” jelas teman saya dengan suara lelah, karena semalaman dia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan petugas kejaksaan.
“Kenapa Mas ?!” Jerit sang istri.
“Aku didakwa menggelapkan uang negara.”
Sejak itu, teman saya menjalani hari-harinya di bui, karena hakim memutuskan bahwa dia dituduh melakukan tindak korupsi.

****************

Berbeda lagi dengan kisah tetangga saya Mas Dirman di sebelah rumah. Mas Dirman baru saja pangsiun jadi mantri guru. Meski usianya terbilang tidak lagi muda, ia masih kelihatan gesit, lincah dan parlente. Kayak bisnisman. Mas Dirman ini orangnya grapyak dan suka beranjang-sana ke sanak tetangga.
Namun, hampir sebulan ini saya tak melihat batang hidung Mas Dirman, tentunya juga tak melihat anggota tubuh yang lainnya. Di dalam hati saya bertanya-tanya, apakah teman saya ini sakit. Saya pun bertanya-tanya ke tetangga kanan-kiri perihal ketidak-munculan Mas Dirman hampir sebulan ini dalam arena nggedabrus di malam hari yang biasa bertempat di pos ronda sebelah rumah saya.
“Apa Mas Guru tidak mendengar berita Mas Dirman ? “ Tanya kang Kaprawi ketika pertanyaan itu saya lontarkan padanya. “Kalau siang Mas Dirman bertapa di kolong tempat tidur.”
“Memang sedang nglakoni ngelmu apa to Kang ?” Saya bertanya tak mengerti.
“Bukan nglakoni ngelmu Mas, tapi diuber-uber depth collectornya BPR. Utangnya kebanyaken,” timpal dik Jono.

*************

Jika kita amati di sekitar kita, belakangan ini makin banyak saja pejabat yang kesandung kasus korupsi dan, yang bukan pejabat, terlilit utang hingga setinggi batang lehernya. Dan yang memprihatinkan, masalah tersebut tidak hanya menimpa orang-orang muda saja, orang-orang pangsiunan yang seharusnya sudah terlepas dari urusan duniawi juga harus meringkuk di bui. Soalnya, kasus korupsi yang dilakukan diungkap setelah purna tugas. Dan banyak orang tua yang setiap hari harus berlari terbirit-birit diuber-uber juru tagih.
Saya jadi merenung, mengapa itu bisa terjadi ?
Setelah merenung sekian lama, saya terilhami tulisan seorang kolomnis majalah Tempo yang sangat terkenal, almarhum Mahbub Junaedi. Kira-kira begini bunyi tulisannya: kita ini bukan sosialisme, juga bukan kapitalisme. Kalau begitu, jangan-jangan kita ini memang bukan apa-apa.
Menurut pikiran spekulatip saya, setiap orang ingin menikmati hidup makmur. Segala kebutuhan hidupnya ingin bisa dipenuhinya. Namun, cara mencapai kemakmuran ini berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Secara umum, jika kita menginginkan sesuatu, caranya ada dua jalan. Pertama, hidup hemat. Hasil penghematan itu ditabung. Jika sudah mencukupi, baru membeli atau menikmati sesuatu yang diinginkan tersebut. Sedang cara kedua dengan cara menambah pendapatan melalaui bekerja lebih keras. Hasil dari penambahan yang diperoleh itu yang digunakan untuk membeli atau menikmati sesuatu yang diinginkan. Ini cara yang logis.
Namun, jika kita amati sekitar kita, termasuk diri kita tentunya, kurang begitu suka dengan kedua cara di atas. Ketika menginginkan sesuatu, kita tidak suka melalui bekerja lebih keras atau menghemat lebih dahulu. Tapi, kita lebih suka ngutang dulu. Sehingga, tanpa bekerja lebih keras atau menabung lebih dahulu, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.
Untuk saat ini cara ngutang lebih dahulu dianggap wajar-wajar saja. Buat apa susah-susah kalau bisa diperoleh dengan cara mudah ? Barangkali begitu pikiran kita saat memutuskan untuk mengambil langkah ngutang.
Tapi sadarkah kita bahwa kebiasaan itu sangat berbahaya ? Sadarkah kita jika kecenderungan tersebut berasal dari virus yang berbahaya yang telah merusak kehidupan bangsa ini ?
Kecenderungan ngutang berasal dari sebuah kebiasaan ‘terlalu ingin cepat menikmati kebahagiaan’. Logikanya, ketika menginginkan sesuatu, seharusnya diikuti oleh usaha keras. Baik melalui penghematan maupun bekerja lebih keras. Penghematan maupun bekerja lebih keras, karena menimbulkan rasa tidak enak, bisa berfungsi menjadi pagar dari muluapnya berjuta keinginan dari otak kita.
Dengan kemudahan ngutang, secara sadar atau tidak, kita didorong terus untuk konsumtif. Apapun yang kita inginkan, bisa kita dapatkan dengan mudah melalui ngutang. Dan kita hampir tidak pernah berpikir bahwa utang itu harus dibayar yang seringkali menyebabkan kita mengalami kesengsaraan di kemudian hari. Karena resiko itu letaknya di belakang ( setelah memiliki apa yang diinginkan ), resiko itu nyaris tak pernah menjadi pertimbangan kita. Menurut saya, inilah yang menjadikan kita semakin tua semakin menumpuk hutang, kayak Mas Dirman di atas.
Kebiasaan ‘terlalu ingin cepat menikmati kebahagiaan’ ini lebih berbahaya jika menyerang pejabat. Karena akses menggunakan dana ( dana negara maksudnya ) cukup terbuka lebar, maka syahwat untuk cepat-cepat bahagia semakin menggila. Berapa pun dana yang ada akan dikuras untuk memuaskan dahaga bahagia materi tersebut. Semakin tinggi jabatan, semakin tinggi pula menggunakan dana negara sebesar-besarnya. Barangkali karena kecenderungan ‘terlalu ingin cepat menikmati kebahagiaan’ begitu mewabah, maka korupsi di negeri ini semakin menggila dan belum tampak tanda-tanda kesembuhannya.
Dari pejabat-pejabat seperti itu, mungkinkah memiliki sikap amanah ? Padahal, salah satu syarat untuk menjadi pejabat adalah mementingkan nasib rakyat. Dengan mental kebiasaan ‘terlalu ingin cepat menikmati kebahagiaan’ kepentingan rakyat menjadi nomor sekian. Yang penting, dia sendiri harus makmur dulu, meski rakyat sedang menjerit-jerit dihimpit kesulitan hidup.
Cara mereka untuk membahagiakan diri, seraya membohongi rakyat, bisa dilakukan melalui korupsi maupun dengan berkedok aturan-aturan legal. Seperti contoh, beberapa lalu DPR dan pejabat-pejabat Pemda Batu bancakan mobil baru. Padahal mobil yang sebelumnya masih terbilang amat sangat layak di gunakan. Alasan mereka melakukan pengadaan mobil baru tersebut adalah karena prosedurnya memang demikian.
Saya jadi bertanya, apakah kalau mereka melanggar prosedur tersebut, dengan tetap memakai mobil yang sudah ada tanpa mengadakan mobil baru termasuk melanggar hukum ? Apakah nurani mereka merasa berdosa kalau tidak mengadakan mobil baru, sementara masyarakatnya tengah didera berbagai kesulitan ekonomi dan penderitaan hidup ?
Belum lagi tentang jajaran departemen keuangan, yang kemudian disusul departemen kehakiman, yang akan menambah jumlah tunjangan bagi pegawai-pegawai di jajarannya masing-masing. Semua tontonan itu bak cerita dalam sinetron kita. Membuat rakyat kebanyakan hanya ngiler dan ndoweh.
Paradoks-paradoks smecam itu tampaknya akan tyerus berlanjut. Rakyat, dengan penuh toleransi dan kedewasaan, akan melihat drama itu sebagai ‘hiburan’ di tengah kegetiran hidup yang semakin satire. Barangkali, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah berdo’a, kapan pejabat-pejabat itu menjadi dewasa dan tersembuhkan dari sindrome ‘terlalu cepat ingin bahagia’.
Yang penting bagi kita adalah membuang jauh-jauh ‘terlalu cepat ingin bahagia’. Hidup kita akan jauh lebih tenang, tidak bingung di kejar-kejar hutang atau hati was-was khawatir kejahatan ( korupsi ) yang telah dilakukan ketahuan. Pilihlah jurus yang benar jika ingin hidup makmur : kerja keras, hidup sederhana atau kedua-duanya. Selain itu, katakan : go to hell with ‘terlalu cepat ingin bahagia’.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: