Skip to content

Sebuah Refleksi Setelah Pengumuman Kelulusan

8 Juli 2008

Ada kesedihan mendalam setelah pengumuman kelulusan SMP dan SMA / SMK bagi kota Malang. Betapa tidak ? Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini jumlah ketidaklulusan adalah yang paling jeblok. Dan, seperti yang biasa terjadi, ketika terjadi musibah atau ‘kecelakaan’, maka semua pihak saling melempar kesalahan kepada pihak lain seraya mencari selamat sendiri. Bahkan pihak yang paling bertanggung-jawab pun melakukan hal yang sama, berkoar-koar mencari pembenaran diri. Akibatnya, setiap ada masalah, hampir tak pernah ditemukan solusi yang jitu.

Di salah satu media lokal, salah seorang pejabat diknas kota Malang berteriak bahwa penyumbang ketidak lulusan terbesar di kota Malang ini adalah sekolah-sekolah swasta. Setali tiga uang dengan pejabat diknas tersebut, Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Malang  ( DPKM ), Mistaram, seperti dimuat di Malang Post edisi 23 Juni 2008, juga berkoar bahwa sekolah-sekolah swasta sebagai penyumbang ketidaklulusan di Malang. Dari situ, kita bisa melihat betapa bahagia diknas dan DPKM karena telah menemukan kambing hitamnya, yakni sekolah swasta. Jika disimpulkan dengan bahasa sederhana menjadi “Gara-gara sekolah-sekolah swasta-lah maka mutu pendidikan kota Malang menjadi jeblok.”

Jika dilanjutkan kembali, maka bunyinya menjadi.”Andai di Malang ini tidak ada sekolah swasta, niscaya ketidaklulusan tahun ini tidak akan sebesar ini.”

Kalau kita simak fakta yang ada, ungkapan itu tidak salah. Seluruh murid SMKN yang mengikuti unas tahun ini sebesar 2075 orang siswa. Dari jumlah itu, yang tidak lulus sebanyak 93 siswa alias 4.48%. Sedangkan jumlah siswa SMK swasta di Malang yang mengikuti unas adalah sebesar 3522 siswa, yang tidak lulus sebanyak 682 siswa ( 19.3% ). Sedangkan dari SMA, jumlah peserta unas dari sekolah negeri sebesar 3292 siswa, tidak lulus sebanyak 47 siswa ( 1.4% ). Dari SMA swasta, pesertanya sebesar 2971 siswa, tidak lulus 759 siswa ( 25.5% ). Ada pun ditingkat SMP, peserta dari SMPN sebanyak 6116 siswa, tidak lulus 175 siswa ( 2.8% ). Peserta dari SMP swasta sebanyak  4399 siswa, tidak lulus sebanyak 1337 siswa ( 30.39% ).

Jika kita melihat data-data di atas, tak bisa disangkal, bahwa sekolah-sekolah swasta memang menjadi penyumbang ketidak lulusan terbesar di kota Malang. Tapi persoalannya, apakah masalah akan beres untuk tahun-tahun mendatang hanya dengan menimpakan kesalahan kepada sekolah-sekolah swasta ?

Pada hemat saya, pemerintah, yang dalam hal ini adalah diknas kota, harus mencari akar masalah yang sebenarnya supaya ‘kecelakaan’ yang sama tidak terulang lagi di tahun-tahun mendatang. Karena, diknas adalah sebuah institusi pemerintah yang bertanggung-jawab atas keberhasilan semua sekolah, baik sekolah swasta mau pun sekolah negeri, yang berada di bawah binaannya. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa diknas bukan hanya bertanggung-jawab membina sekolah-sekolah negeri saja, tetapi sekolah-sekolah swasta juga menjadi tanggung-jawabnya.

Realitasnya adalah ada ribuan generasi muda yang saat ini menuntut ilmu di lembaga-lembaga pendidikan swasta – baik SMK, SMA mau pun SMP. Bahkan, jumlah siswa yang belajar di SMK swasta jauh lebih banyak dibandingkan  yang bersekolah di SMK-SMK Negeri. Apakah diknas akan membiarkan anak-anak muda bangsa itu digembleng oleh lembaga-lembaga pendidikan yang – maaf    kurang bermutu ?

Persoalan berikutnya adalah mengapa banyak lembaga pendidikan yang dikelola swasta kurang memadai mutunya ?

Memang ada banyak faktornya, tetapi di sini penulis hanya akan menyoroti beberapa sudut saja, terutama yang berkaitan dengan kebijakan diknas kota Malang yang sama sekali tidak mendukung peningkatan kutu sekolah-sekolah swasta.

Membicarakan lembaga pendidikan swasta, hal penting yang harus dipahami adalah bahwa lembaga-lembaga pendidikan ini membiayai sendiri segala macam kebutuhannya, mulai dari biaya ATK, pengadaan sarana dan prasarana pendidikan hingga gaji guru. Semuanya ditanggung sendiri oleh lembaga tersebut. Dan sudah bukan rahasia lagi, kebanyakan sekolah swasta mengandalkan segala macam pembiayaan tersebut kepada uang pembayaran siswa.

Karena segala pembiayaan sangat mengandalkan dari iuran murid, tentu ada hubungan yang signifikan antara besarnya jumnlah murid dengan mutu dari lembaga tersebut. Semakin besar jumlah muridnya, dana yang dimiliki juga akan semakin besar. Selanjutnya, semakin besar dana yang dimiliki, jika tidak ada yang diselewengkan, pasti sangat berpengaruh kepada mutu lembaga itu.

Di sinilah titik pertama yang banyak menjadi penyebab kurang bermutunya kebanyakan sekolah-sekolah swasta di kota Malang ini. Beberapa tahun belakangan, sekolah-sekolah negeri begitu rakus merekrut murid-murid baru.  Akibatnya, banyak sekolah-sekolah swasta, terutama yang kecil-kecil, sulit mencari murid. Saya pernah mendengar cerita dari seorang teman guru dari salah satu SMP swasta di kota Malang. Akibat rakusnya sekolah-sekolah negeri, sekolahnya hanya mendapat murid baru sebanyak 20 orang. Meski hanya mendapatka siswa baru sebanyak 20 biji, ia dan teman-temannya tetap bertekad menjadikannya satu kelas. Tidak dioper ke sekolah lain.

Belum seminggu tahun ajaran baru berjalan, ia harus merelakan 7 orang dari 20 murid baru tersebut meninggalkan sekolah teman saya tadi. Apa pasal, setelah tahun ajaran baru berlangsung 3 hari, ada salah satu ‘utusan’ dari salah satu SMPN mendatangi rumah-rumah dari ke tujuh orang murid tersebut. Sang utusan menawari ke tujuh murid itu untuk masuk ke salah satu SMPN. Kontan saja tawaran menggiurkan demikian disambut dengan segala suka cita oleh ke tujuh murid tersebut. Tanpa menunggu waktu lama, ke tujuh anak itu mendatangi SMPN yang ditunjuk. Maka, murid baru SMP swasta tersebut tinggal 13 gelintir orang saja. Pertanyaannya, dengan 13 gelintir murid baru, bagaimana SMP swasta tersebut bisa membiayai kebutuhan operasionalnya ?

Dengan minimnya jumlah murid pasti berakibat pada rendahnya dana yang dimiliki sekolah swasta. Kemudian, jika dana yang dimiliki sangat minim, bagaimana mungkin sekolah-sekolah swasta itu bisa meningkatkan mutunya ? Mestinya pihak diknas kota Malang mempertimbangkan hal ini, kecuali jika diknas memang ingin ‘membunuh’ sekolah-sekolah swasta yang selama ini telah turut membantu mencerdaskan bangsa, saat negara belum mampu sepenuhnya mengemban tanggung-jawab konstitusional mencerdaskan bangsa.

Oleh karena itu, penulis melihat betapa ‘mencleknya’ kebijakan diknas kota Malang yang tidak mau menjalankan pagu siswa per kelas yang ditetapkan kadiknas provinsi Jawa Timur. Bahkan, diknas kota Malang tidak saja menolak pembatasan pagu tersebut, lebih dari itu, ia sepertinya menginstruksikan kepada sekolah-sekolah negeri, terutama untuk jenjang SMK, supaya menerima setiap murid baru yang mendaftar. Akibatnya, banyak SMK negeri yang mengalami kerepotan dengan instruksi ini. Bayangkan, mereka harus membuka kelas paralel sampai 20 kelas per angkatan.

Dari situ mudah dipahami jika semakin tahun, sekolah-sekolah semakin kesulitan mendapatkan murid baru. Yang ini akan berakibat seretnya pendapatan mereka yang salah satunya bisa digunakan untuk peningkatan mutu. Dengan kebijakan tersebut, patutkah jika diknas kota Malang menimpakan kesalahan besarnya ketidaklulusan tahun ini ditimpakan ke sekolah-sekolah swasta saja ? Harusnya pihak diknas menginstropeksi kebijkan-kebijakannya selama ini. Tanpa instropeksi alias hanya berkoar-koar menyalahkan sekolah swasta saja, tidak akan memperbaiki situasi. Hal yang sama pasti akan terjadi lagi di tahun-tahun mendatang.

Apakah murid-murid yang bersekolah di sekolah-sekolah negeri tidak dirugikan dengan kebijkan diknas selama ini ? Silakan dibaca tulisan sebelumnya “BRAVO FORUM KOMITE SEKOLAH KOTA MALANG !!!”  Artinya, dengan kebijakan yang mendorong sekolah-sekolah negeri menjadi ‘mahluk-mahluk rakus’ pasti akan berakibatkan dua konsekuensi buruk. Pertama, sebagian besar sekolah swasta akan kesulitan meningkatkan mutu akibat kekurangan dana. Kedua, sekolah-sekolah negri akan kewalahan melayani jumlah besar murid yang diluar kapasitas yang sebenarnya. Jika murid-murid itu tidak terlayani dengan maksimal, bisakah dihasilkan lulusan-lulusan yang berkwalitas ?

Karena itu, kalau kadiknas kota Malang sering berteriak-teriak ingin meningkatkan kualitas pendidikan di kota Malang, tidak usah dianggap hati. Kita, sebagai warga kota Malang tidak perlu bermimpi kadiknas kita ini ingin benar-benar mewujudkan apa yang diteriakkan itu.  Dia hanya sedang ‘ndhagel’.

One Comment leave one →
  1. 26 Juli 2008 11:55 pm

    nice blog. oya kalo bisa tlg link afsyuhud.blogspot diganti ke fatihsyuhud.com. trims ya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: