Skip to content

Mengapa Fatwa Haram Merokok Diributkan ?

27 Januari 2009
tags:

Beberapa hari belakangan ini berbagai surat kabar memuat berbagai pendapat seputar masalah fatwa haram merokok yang dikeluarkan MUI. Sebagaimana kita ketahui bahwa MUI berencana mengeluarkan fatwa haram merokok bagi anak-anak dan wanita hamil. Tentu saja dalam menetapkan fatwa tersebut MUI telah menggunakan berbagai pertimbangan mengenai manfaat dan mudhlarat merokok bagi anak-anak dan wanita hamil, dan juga dari aspek kepentingan bangsa secara keseluruhan. Barangkalai karena itu, fatwa haram tersebut tidak dikenakan kepada semua perokok.

 

Tulisan ini tidak bermaksud membahas dasar atau dalil-dalil yang bisa dipakai untuk menetapkan hukumnya merokok dari sudut agama islam, karena diluar kemampuan penulis. Tapi tulisan ini hanya ingin melihat pandangan-pandangan yang bertentangan dengan rencana fatwa tersebut. Salah seorang ulama partai menuduh bahwa fatwa tersebut merupakan pesanan internasional atau kepentingan kalangan tertentu ( sumber: Antara ). Saya jadi berpikir kira-kira kepentingan internasional tersebut apa ya ? Apa kira-kira kepentingan internasional yang kapitalis, yang suka merampok alam kita itu punya kepedulian terhadap nasib kesehatan anak-anak bangsa kita ?

 

Kalau saya melihatnya dari sudut lain. Kita tentu tahu bahwa di negara-negara barat sana, merokok setengahnya ‘diharamkan’. Perokok dilarang merokok di sembarang tempat. Pajak rokok dibuat tinggi sehingga harga rokok menjadi sangat mahal. Akibatnya semakin banyak perokok yang berhenti merokok. Semakin banyak perokok yang berhenti jadi perokok, tentu akan membuat pusing industri-industri rokok mereka. Jangan lupa mereka juga produsen-produsen rokok lho Pak Kyai.

 

Kemudian, kalau pasar mereka di kalangan mereka sendiri semakin menyusut, kan harus mencari pasar baru buat industri rorok mereka ? Kemana harus dicari pasar baru ? Tentu ke negara-negara yang banyak perokoknya, negara-negara yang mulai anak-anaknya, wanitanya, dan tentu orang-orang dewasanya menjadi perokok. Bukankah Indonesia termasuk dalam kategori pasar tersebut ? Menurut data Susenas prevalensi perokok kelompok umur 15-19 tahun  pada 2001 sebesar 12,7 persen meningkat menjadi 17,3 persen pada 2004. Selain itu juga terjadi penurunan usia perkenalan terhadap rokok ke usia semakin muda yakni pada kelompok umur 15-19 tahun pada 2001 mulai merokok pada umur 15,4 tahun, namun pada 2004 usia merokok turun jadi 15,0 tahun.

 

Pertanyaannya, apakah kita hanya berdiam diri, membiarkan negeri kita dibanjiri produk-produk rokok import ? Saya jadi bertanya, yang mendapat pesanan internasional ini MUI atau Pak Kyai tadi ?

 

Ada lagi yang menentang fatwa MUI dengan alasan bahwa masyarakat kita banyak yang bergantung pada industri rokok. Jika MUI jadi memfatwakan haramnya merokok bagi anak-anak dan wanita dikhawatirkan akan merugikan masyarakat yang bergantung pada industri rokok. Saya kira kekhawatiran ini juga sangat berlebihan. Dari sudut kesadaran tentang kesehatan, kurang apa, di setiap bungkus rokok selalu terulis :”Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”, berapa orang yang berhenti menjadi perokok karena peringatan itu ? Pengalaman saya, saya dan teman-teman saya yang perokok belum ada yang berhenti jadi perokok karena peringatan tersebut.

 

Sedangkan dari sudut ketakutan akan dosa jika melanggar fatwa haramnya merokok. Coba saja diamati, puasa ramadhlon yang benar-benar wajib hukumnya, banyak yang melanggarnya. Apalagi sekadar fatwa haram merokok ? Saya yakin, jika fatwa ini tidak didukung oleh berbagai kelompok, tentu hanya menjadi macan kertas. Sekarang, tinggal bertanya kepada hati nurani para pemimpin, ulama, pendidik dan tokoh masyarakat, menurut mereka merokok bagi anak-anak dan wanita hamil itu banyak manfaat atau mudhlaratnya ?

 

Yang terakhir, mengenai alasan ekonomi. Seperti dikemukakan di atas, salah satu faktor keberatan atas fatwa haramya merokok tersebut karena banyak masyarakat kita yang bergantung kepada industri rokok, selain pendapatan pemerintah dari sektor ini juga cukup besar. Apakah karena alasan ekonomi kita harus mengorbankan masa depan ( minimal masa depan kesehatan ) generasi muda kita ? Rokok telah menjadi penyebab 90 persen kanker paru pada laki-laki, 70 persen pada perempuan, penyebab 22 persen penyakit jantung dan pembuluh darah, dan menyebabkan kanker mulut sampai kanker kandung kemih, pembuluh darahotak, bronkitis, asma dan penyakit pernafasan lainnya. Rokok dan tembakau, yang telah menjadi epidemi global, juga mengakibatkan satu orang meninggal dunia setiap enam detik dan menjadi penyebab utama tujuh dari delapan penyebab kematian terbesar di dunia.

 

Kalau kita berpikir bahwa demi alasan ekonomi saat ini tidak apa merugikan masa depan generasi muda ( barangkali seperti alasan para pejabat yang menjual aset-aset bangsa demi alasan kesehatan ekonomi saat ini, meski merugikan generasi akan datang ), ya sekalian saja memproduksi ganja, heroin atau semacamnya. Kan lebih besar hasilnya.

 

Jadi, menurut saya sih, alasan ekonomi yang digunakan untuk menentang fatwa haramnya merokok kurang beralasan. Tentu kesehatan generasi mendatang jauh lebih penting daripada pada kebutuhan ekonomi saat ini.  Dan sama juga tidak masuk akalnya meminta MUI menyediakan lapangan kerja bagi pekerja-pekerja di industri rokok. Memangnya MUI itu Depnaker ? Mengapa kok bukan menuntut pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja bagi mereka ? Biar pemerintah belajar ke Thailand, bagaimana mengelola segitiga emas, tempat sumber heroin dirubah dan dikelola menjadi industri agrikultur yang mampu menghidupi ribuan petani barang jadah tersebut.

3 Komentar leave one →
  1. 27 Januari 2009 8:36 am

    duh lagi-lagi duh. saya cuma bersyukur saja, MUI gak browsing internet. Apa jadinya kalo browsing terus pas dibuka liat foto bugilnya sarah-rahma azhari, wah????

    salam dari mansuia anti MUI, http://jejakannas.wordpress.com/

  2. aanpiyut permalink
    27 Januari 2009 7:43 pm

    fatwa MUI = syunami = BENCANA NASIONAL…
    untuk ulama-ulama NU dan Muhammadyah cepat-cepatlah mengambil sikap untuk menyelamatkan ummat sebelum MUI ini menjadi alat kepentingan pribadi dan golongan..
    baca: aanpiyut.wordpress.com

  3. 8 Mei 2010 3:46 pm

    Kalo emang satwa itu di tujukan untuk anak anak dan wanita hamil sy sangat stuju. Toh itu adalah kbaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: