Skip to content

All Marketers are Liars

9 Februari 2009

Begitulah judul buku bestseller yang ditulis oleh Seth Godin. Buku yang dipublikasikan pada tahun 2005 tersebut telah mempengaruhi pandangan berjuta orang tentang aktivitas marketing. Sebelumnya, hampir setiap orang mempercayai jika promosi, salah satu aktivitas marketing, selalu berguna untuk meningkatkan brand image sebuah produk. Namun, ternyata tidak semua aktivitas promosi dapat meningkatkan citra sebuah produk. Mengapa ? Karena aktivitas tersebut telah sering ‘dinodai’ oleh pemasar-pemasar penipu.

Barangkali salah satu dari pembaca pernah menerima surat yang berisi panggilan untuk menerima hadiah dari salah satu produk. Penulis pernah mengalaminya beberapa tahun silam. Di dalam surat yang dikirimkan oleh salah satu agen dari beberapa produk dituliskan bahwa saya harus datang ke satu alamat untuk mengambil hadiah. Sebetulnya, hati agak ragu-ragu untuk memenuhi undangan tersebut. Pasalnya, tidak ada angin tidak ada hujan kok tiba-tiba mendapat hadiah. Namun, didorong oleh rasa penasaran, akhirnya datang juga saya ke alamat dimaksud.

Sesampai di alamat tersebut, ternyata sebuah toko elektronik baru. Begitu masuk ke toko itu, saya langsung disambut oleh tiga pelayan. Dua perempuan dan satu laki-laki. Ketiganya masih belia dan penampilannya seolah eksekutif muda. Saya dipersilakan duduk, mereka mulai menjelaskan ini itu untuk menjelaskan maksud undangan tersebut. Intinya, menurut mereka saya adalah salah satu pribadi yang sangat beruntung karena menjadi salah satu orang terpilih menerima hadiah dari sekian ribu orang yang diseleksi. Dan saya tidak bertanya apa parameter dari seleksi mereka. Saya cuma mengamati begitu lincahnya lidah mereka memberi informasi.

Singkat kata sampailah saat saya akan menerima hadiah. Namun, hadiah itu tidak bisa langsung saya terima. Ada beberapa syarat yang harus saya setujui. Pertama, saya harus mengambil undian terlebih dahulu. Macam hadiah yang akan saya terima bergantung dari kupon yang saya pilih. Syarat ini saya setujui. Syarat kedua, saya harus bersedia membayar ½ harga dari hadiah yang saya terima tersebut.

Sebetulnya, dari sini saya sudah mulai mencium bau penipuan. Namun karena harganya juga tidak terlalu mahal, maka syarat kedua pun saya setujui. Setelah kedua syarat tersebut saya setujui, saya dipersilakan mengambil kupon undian. Di kupon tersebut tertulis sebuah produk home-teathre dari salah satu merek china yang tidak pernah saya dengar namanya. Tanpa ba bi bu, saya bayar barang tersebut setengah harga. Saya sadar saya telah ditipu oleh toko tersebut.

Beberapa tahun berselang, produk dari merek tersebut muncul di pasaran. Harganya? Sepertiga dari harga yang telah saya bayarkan ke toko yang telah memberi hadiah saya. Pengalaman tersebut saya ceritakan ke banyak orang supaya tidak tertipu seperti saya alami.

Maka sejak saat itu, saya dan teman-teman tidak pernah mempercayai hadiah-hadiah yang ditawarkan oleh produk-produk yang merknya belum dikenal. Dan yang lebih penting, sejak saat itu saya mulai percaya bahwa sebagian dari pemasar adalah penipu.

Belakangan ini, aktivitas pemasar yang berbau penipuan ini mulai banyak kita jumpai. Namun, kali ini yang dipasarkan bukan barang, tapi ‘citra diri’. Siapa gerangan mereka ? Mereka adalah orang-orang partai yang mencalonkan diri sebagai legislatif maupun presiden. Coba Anda amati berbagai tulisan yang menyertai foto mereka di banner dan spanduk-spanduk yang di pampang di jalan-jalan.

Kata-kata indah bertebar pesona menghiasi sarana promosi mereka. Kata-kata seperti : ‘berjuang untuk rakyat’; ‘mengabdi untuk rakyat’; ‘memberantas kemiskinan’; ‘pendidikan gratis’; ‘memakmurkan rakyat adalah tujuanku’; dan lain sebagainya. Kata-kata indah tanpa makna tersebut tidak hanya dilakukan oleh calon-calon baru. Orang-orang lama yang telah / pernah menjadi legislatif atau presiden pun melakukan hal senada. Mereka ini sepertinya beranggapan bahwa rakyat ini goblok semua, tidak bisa membaca realitas yang sebenarnya. Mereka mungkin mengira bahwa rakyat tidak tahu bahwa sebagian besar aktivitas mereka hanyalah gontok-gontokan, saling ejek dan saling jegal untuk berebut kekuasaan demi memenuhi kepentingan mereka sendiri. Nasib rakyat seakan berada di luar kesadaran mereka. Istilah rakyat baru masuk kembali ke dalam kesadaran menjelang pemilu saja. Di saat seperti ini, mereka berperan bak pahlawan bagi rakyat. Setelah pemilu ? Mereka seolah lupa bahwa ada istilah rakyat di negeri ini.

Bukankah ini juga penipuan. Maka, judul buku Seth Godin, All Marketers are Liars, tidak hanya berlaku di dunia usaha. Di dunia politik ungkapan tersebut semakin mendapatkan pembenarannya. Jika pembohongan yang dilakukan oleh pelaku-pelaku dunia usaha kerugiannya hanya menimpa segelintir orang saja. Tapi kebohongan yang dilakukan oleh para politisi bisa menimpa hampir seluruh warga bangsa ini. Dan lebih parah lagi, akibat yang ditimbulkan olehnya bisa tidak hanya terbatas pada satu generasi saja, tetapi bisa beberapa generasi berikutnya. Generasi anak-cucu kita bisa harus mewarisi kerusakan yang diakibatkan oleh penipuan tersebut.

Efek lain dari perilaku bohong tersebut adalah dampak pembelajaran negatif bagi generasi muda. Barangkali pembaca sudah sama mahfum bila perilaku orang dewasa, terutama yang dipandang sebagai tokoh, seringkali menjadi panutan bagi generasi muda yang sedang membangun karakter pribadinya. Jika tokoh panutannya memiliki karakter terpuji, maka mereka akan mengimitasi karakter dan watak tersebut. Sebaliknya, jika tokoh panutan memberi teladan dengan perilaku-perilaku tercela, seperti pembohongan seperti di atas, otomatis akan menular pada generasi muda.

Tokoh-tokoh partai yang selama ini tidak pernah menunjukkan perilaku membela rakyat keci, tiba-tiba dari mulut mereka keluar kata-kata sok membela kepentingan rakyat. Tokoh-tokoh yang sebelumnya hampir tak mengenal kepentingan rakyat miskin, tanpa malu-malu mengatakan pengabdian mereka hanya untyk rakyat. Sekali lagi, ini dilakukan tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Bukankah perilaku demikian bisa mengakibatkan munculnya persepsi bahwa melakukan pembohongan publik merupakan hal yang wajar ? Apakah salah jika generasi muda beranggapan bahwa sifat munafik tidak perlu mengakibatkan rasa malu ?

Penulis pernah menjumpai seseorang yang dianggap tokoh oleh lingkungannya. Orang ini di dalam kesehariannya selalu mengatakan bahwa kita harus selalu hidup sederhana, selalu mendahulukan kepentingan orang lain, hidup selalu berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan dan seribu kalimat senada yang lain. Namun, tingkah lakunya selalu berbeda dengan apa yang dikatakan. Dia selalu berperilaku mementingkan diri sendiri, jika ia membantu orang lain, selalu ada pamrih di baliknya, selalu hidup berfoya-foya dan perilaku-perilaku lain yang sangat tidak terpuji. Apa yang dikatakan selalu berbeda dengan apa yang dikerjakannya. Dampak dari perilaku tersebut, anak-anak orang ini mulai menampilkan perilaku-perilaku munafik seperti dilakukan bapaknya. Bahkan, anak-anak muda yang dekat dengan tokoh kita ini juga mulai meniru-niru perilaku tak terpuji tersebut. Sekarang, bayangkan ! jika cukup banyak pembohong-pembohong seperti ini dengan telanjang mempertontonkan sikap the big pretender seperti itu, kira-kira akan jadi apa ya generasi muda kita nanti ?

2 Komentar leave one →
  1. 12 Februari 2009 7:05 am

    hallooooo.. artikelnya bagus2 thanks ya atas info nya…

  2. 12 Februari 2009 5:55 pm

    Thanks juga atas kunjungannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: