Skip to content

SIMAK UI DI MALANG : JURUS MABUK ALA KADISPENDIK KOTA MALANG, hai ya….

22 Februari 2009

Untuk kesekian kalinya, kembali kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, ‘almukarom’ m. shofwan mengeluarkan jurus mabuk. Beberapa saat lalu almukarom kita ini mewajibkan seluruh siswa kelas XII SMA untuk ikut Seleksi Masuk (Simak) Universitas Indonesia (UI). Dalil yang digunakan untuk mewajibkan ini adalah untuk mengukur kekuatan dan pemetaan  daya saing lulusan SMA di Malang, untuk mengukur mutu lulusan, de el el.

Untuk mengikuti tes Simak UI, per siswa dikenakan dua ratus ribu rupiah. Dengan biaya sebesar itu, jika seluruh siswa kelas XII SMA yang diperkirakan berjumlah 6.092 dikalikan dengan Rp.200.000 berjumlah lebih dari Rp 1,2 milyar. Sebuah angka yang cukup aduhai. Persoalannya, dana darimana untuk mendanai tes seleksi tersebut ?

Dengan kepiawaiannya memainkan jurus-jurus mabuknya, almukarom kita menyatakan bahwa sekolah harus mendanai biaya tes tersebut mengambil dana dari RAPBS. Sekolah dilarang memungut dari siswa. Dengan begitu, siswa maupun orangtuanya tidak perlu ikut pusing memikirkan dana dua ratus ribu itu. Sepintas lalu, kebijakan almukarom kita ini cukup arip dan bijaksana. Pokoknya, cerdas deh….

Ternyata kearifan dan kecerdasan itu hanya di atas kertas. Di lapangan ?

Baik siswa maupun guru sama-sama menolak. Siswa-siswa melakukan unjuk rasa menolak jurus mabuk tersebut. “…rencana SMAN 3 Malang untuk mewajibkan siswanya mengikuti Simak UI dengan membayar Rp 200 ribu dipastikan gagal setelah mendapatkan perlawanan dari ratusan siswa kelas III melalui unjuk rasa, Kamis (19/2).” ( Surabaya Pos, 21 Februari 2009 ).

Selain kelompok siswa, kelompok guru pun juga tidak mau ketinggalan.  Para guru yang tergabung dalam Forum Komunikasi dan Solidaritas (Fokus) Guru Malang dengan tegas menolak kebijakan tak populis itu.

Kemarin, diwakili tujuh orang anggota, Fokus mendatangi gedung DPRD Kota Malang. Mereka menyatakan penolakan terhadap kebijakan Disdik. Mereka menganggap, kebijakan itu merupakan bentuk kesewenang-wenangan dari Disdik dengan berbagai alasan dan pertimbangan. (http://malangraya.web.id/2009/02/21/fokus-guru-menentang-kebijakan-disdik-terkait-simak-ui/).

Di atas telah dijelaskan bahwa untuk keperluan pembiayaan tes itu, sekolah harus mengambil dana dari RAPBS ( Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah ) nya masing-masing. Coba kalau saja almukarom kita tadi mau sedikit mengingat, kapan RAPBS itu dibuat, tentunya jurus mabuk itu tidak akan dikeluarkan.

 RAPBS itu dibuat di awal tahun ajaran. Dan, pasti RAPBS yang dibuat oleh seluruh SMA di kota Malang tidak akan ada satu pun yang menganggarkan untuk biaya tes Simak UI. Nah, kalau tidak ada pos anggarannya, pos apa yang mau dipakai ?

Kalau jumlahnya kecil, biasanya diambilkan dari pos cadangan. Kalau agak besar biasanya dilakukan pengalihan program. Maksudnya, ada salah satu program yang tidak dilaksanakan, dan pos dananya dialihkan untuk membiayai pos anggaran baru. Tapi kalau besar ???

Perlu diketahui, untuk mendanai acara tes Simak UI, dibutuhkan anggaran yang tidak bisa dibilang kecil untuk ukuran sekolah. Konon, kalau dihitung-hitung, SMAN 3 Malang harus merogoh kocek antara 60 juta sampai 80 juta rupiah untuk membiayai tes Simak UI tersebut.

Dengan kebutuhan dana sebesar itu, maka masing-masing sekolah pasti membutuhkan bailout ( niru-niru di Amrik ). Masalah berikutnya adalah siapa yang bersedia menyediakan bailout ? Kemudian, andaikata ada pihak yang bersedia meminjamkan dana talangan, nanti uang apa yang akan dipakai untuk mengembalikan ? Pasti jluntrungannya wali murid harus menggantinya.

Memang ada orang-orang tertentu, terutama kepala SMAN di Malang, yang mendukung perintah shofwan ini. Alasannya, Simak UI merupakan sarana untuk mengukur daya saing siswa terhadap UI, seperti diucapkan Ninik Kristiani, kepala SMAN 3 Malang, dihadapan siswa kelas XII yang mendemo kebijakan tersebut ( Surabaya Pos edisi 22 Februari 2006 ). Sekarang coba tanyakan kepada Ninik Kristiani, berapa prosenkah muridnya yang punya minat masuk UI ? Penulis amat yakin kalau Ninik Kristiani tidak punya data untuk itu.

Persoalannya sekarang, kalau dia tidak punya data, buat apa dia mengeluarkan kebijakan yang mendukung almukarom kita itu ? Apakah sekadar mau cari selamat dengan cara mengamankan kebijakan atasan ? Kalau dasarnya itu tentu sangat memprihatinkan.

Ada pula yang mendukung kebijakan almukarom tersebut dengan dalih untuk melihat mutu siswa kota Malang. Penulis ingin bertanya apakah yang ngomong itu tahu tantang tingkat validitas tes Simak UI dalam mengukur mutu lulusan ? Kalau hanya kira-kira, ini juga terkategorikan omongan ngawur.

Apa yang bisa disimpulkan dari persoalan di atas, kita bisa melihat pejabat-pejabat atau pribadi-pribadi mana yang suka mencari muka. Coba pembaca mengikikuti berita-berita di media masa, pasti akan segera mengetahui yang penulis maksudkan.

 

.

4 Komentar leave one →
  1. Santoso permalink
    4 Maret 2009 1:36 am

    Tulisan anda sangat tepat dan memang benar kalau Kandiknas Kota Malang adalah the drunken master di dunia pendidikan. Hal ihwal simak UI, banyak yang aneh. KS yang tidak mengirimkan sesuai kuota terkena ancaman; karena target SMA kurang, maka SMK digerakkan; KS SMK yang tidak berhasil membujuk siswa kelas XII tuk latihan test UI terpaksa membujuk siswa Kelas XI (Kelas 2), hebatkan……….; Banyak siswa tidak hadir karena merasa tidak keluar duit dari koceknya sendiri;

    Dengan alasan pemerataan (..rejeki,salagi ada) mulai dari petugas bawah di lingkungan Diknas sampai pada PENGAWAS SEKOLAH ikutan menjadi pengawas ruang.

    Yang lebih hebat lagi, pakar pendidikan di kota Malang tidak ada yang bisa menghentikan proyek GILA ini. Mereka lebih memperhatikan kepentingan pribadi,bukan kepentingan pendidikan di Malang,khususnya.

    Dengan adanya Simak UI yang dipaksakan tersebut, telah terjadi pemborosan yang luar biasa dalam sejarah pendidikan di koata Malang. Mengapa tidak, karena Sekolah harus mengeluarkan uang yang seharusnya untuk pos lain (sesuai dengan RAPBS); dengan tidak hadirnya begitu banyak siswa pada hari pelaksanaan, berarti 200 rb kali sekian hilang percuma; disamping itu biaya operasional pelaksanaan masih ada yang ditanggung oleh sekolah karena anggaran dari UI gak cukup; yang lebih hebat lagi, pemborosan pada konsumsi yang dananya 50 rb/orang panitia hanya mendapatkan sebungkus nasi kering dan sekotak kecil snack, dimana dana konsumsi dikelola oleh orang nomor dua di lingkungan diknas kota Malang.

    Proyek yang dibidani oleh RAJA yang berkuasa, tidak bisa dibantah oleh hulu balangnya,cos sang raja lagi BBM (benar benar mabuk).

  2. 6 Maret 2009 3:42 am

    Ya begitulah nasib dunia pendidikan di kota Malang yang menamakan diri sebagai kota pendidikan ini Mas Santoso.
    Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki banyak pendekar di bidang pendidikan. Tapi sayang ketika sang raja lagi BBM, para pendekarnya sama mengkeret alias cari selamat sendiri-sendiri. Karena itu, masyarakat Malang tidak bisa berharap banyak dari para pendekar ini.
    Persoalannya, kepada siapa wajah pendidikan di kota Malang ini harus diandalkan ? Secara akal sehat, mestinya kita bisa berharap kepada para wakil rakyat yang duduk di DPR. Tapi, apa para wakil rakyat yang bergelar yang terhormat ini punya kepedulian ???

  3. Wibisono Sukmo Wardhono permalink
    16 Mei 2009 3:47 pm

    Salam, saya salah satu GTT di SMAN 3 Malang … Kepala Dinas Kota Malang adalah pemimpin terzalim … SIMAK UI adalah salah satu contoh kecil, contoh kezaliman lain monggo dilihat di situs resmi SMAN 3 Malang … http://www.sman3malang.sch.id … kami butuh bantuan dari semua orang yang peduli pendidikan di Kota Malang …

  4. 31 Mei 2009 6:30 pm

    Mas Wibi, saya salut atas keterusterangan Anda. Tidak banyak guru2 dari sekolah negeri di Malang yg punya keberanian menilai si Sofyan seperti Anda.
    Mas Wibi, bantuan seperti yang Anda harapkan tidak akan pernah turun jika kita sendiri tidak menggalangnya, meski sekadar melalui dunia maya.
    Teruslah berjuang, tidak akan ada yg sia2 atas apa yg Anda lakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: