Skip to content

PONARI : SEBUAH FENOMENA

19 Maret 2009
tags:

Pembukaan kembali praktik celup batu oleh Ponari membuat kecewa kalangan dokter dan praktisi medis. Selama ini, melalui Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jombang dan Muspida, para dokter sudah berupaya menyadarkan masyarakat bahwa keberadaan praktik Ponari lebih banyak dampak buruknya daripada manfaatnya. Namun, dengan dibukanya lagi praktik Ponari oleh keluarga, upaya itu seakan sia-sia. Demikian berita Jawa Pos edisi 16 Maret 2009 ‘Pengunjung Merosot, Ponari Ogah-ogahan Lakukan Pengobatan’.

Kalangan dokter di Jombang akan all out membendung Ponari supaya prakteknya tidak dipercayai oleh masyarakat luas. Simak lanjutan berita Jawa Pos berikut :

Yang bisa dilakukan IDI, lanjut dokter Puji, adalah menyadarkan masyarakat secara persuasif. Misalnya, melibatkan para kiai dan tokoh masyarakat desa setempat. ”Kami ingin membuka mata masyarakat, siapa yang sebenarnya berkompeten memberikan pengobatan,” ungkap dr Puji kepada Radar Mojokerto kemarin.

Jika cara itu sudah tidak mempan, dokter-dokter siap menguji kemampuan Ponari. Tujuannya untuk membuktikan siapa yang benar-benar berkompeten menyembuhkan. Apakah ilmu dan pengalaman dokter, ataukah batu temuan bocah kelas III SD itu. ”Wacana ini sebagai upaya terakhir dan kami siap jika Muspida memfasilitasinya,” ujar dr Puji.

Jika wacana ini benar-benar direalisasikan, jelas dr Puji, teknisnya adalah memilih sejumlah pasien dengan penyakit tertentu. Jika kubu Ponari setuju, si bocah akan dibawa ke Bapelkes RSD Jombang.

Di sanalah Ponari diminta mengobati pasien, sementara tim dokter juga mengobati pasien lain dengan sakit yang sama. Selanjutnya, masyarakat bisa membuktikan pasien siapa yang akan sembuh. Jika memang pasien Ponari sembuh, lanjut dr Puji, tidak ada masalah. Yang terpenting, agar masyarakat mengerti, apakah Ponari benar-benar bisa menyembuhkan penyakit. ”Itulah tujuannya, agar masyarakat bisa mengambil kesimpulan dengan seyakin-yakinnya,” ungkap dr Puji. ( Jawa Pos, 16 Maret 2009 ).

Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa para dokter itu begitu sewot pada Ponari. Apakah memang benar praktek Ponari memang merugikan banyak masyarakat ? Apakah para dokter itu punya data tentang pasien-pasien yang dirugikan oleh pengobatan Ponari ? Kalau banyak orang dirugikan dengan berobat ke Ponari, bagaimana mungkin puluhan bahakan mungkin ratusan ribu orang berduyun-duyun minta pengobatan ke Ponari? Apakah kalau yang menangani pasien adalah dokter, pasien pasti tidak dibikin rugi ?

Keheranan saya yang lain adalah sebelum Ponari buka praktek, telah banyak dukun, paranormal, tabib, kyai, romo, atau ‘orang pinter’ yang membuka praktek pengobatan, tapi mengapa para dokter tidak pernah meributkan sebelumnya ? Bahkan ada salah satu ustadz yang membuka praktek melalui acara dzikir bersama, dan pesertanya bisa mencapai puluhan ribu orang, kok dokter-dokter pada diam semua ya ? Padahal model penyembuhannya juga memakai metode ghoib. Apakah para dokter itu hanya berani pada Ponari karena bocah ini dan keluarganya adalah orang desa yang mudah ditaklukkan ?

Di dalam berita di atas disebutkan bahwa para dokter akan bekerja-sama dengan para ulama untuk menyadarkan masyarakat agar tidak ‘berpaling’ ke Ponari dalam mencari pengobatan. Tentu kita semua bisa menduga kalau para ulama yang ‘turun tangan’, paling-paling yang mereka sampaikan ke masyarakat adalah bahwa pengobatan oleh Ponari bisa menjadi musyrik. Bisa mengakibatkan masyarakat menuhankan ‘batu Ponari’.

Saya percaya, himbauan semacam itu tidak akan membuat orang-orang takut berobat ke Ponari. Kenapa ? Sekarang ini bukan jaman jahiliah, sebuah jaman di mana orang-orang sangat mudah menuhankan benda. Anda boleh mencoba bertanya pada orang-orang yang pernah berobat ke Ponari, adakah di antara mereka yang beranggapan bahwa batu yang di bawah Ponari itu Tuhan atau selevel dengan Tuhan ? Saya yakin, tidak ada seorang pun yang berpandangan demikian. Kalau mereka percaya bahwa batu tersebut bisa mengobati penyakit, sama juga dengan kepercayaan masyarakat tentang aspirin. Mereka sama sekali tidak mengerti tentang aspirin, tapi mereka percaya bahwa aspirin bisa mengobati sakit kepala. Apakah kepercayaan pada aspirin menjadikan mereka kaum yang musyrik ?

Tulisan ini tidak bermaksud membela Ponari, apalagi mendorong orang-orang berobat ke dukun cilik tersebut. Tulisan ini hanyalah sekadar mengutarakan rasa heran yang begitu besar atas reaksi berlebihan dari para dokter terhadap praktek Ponari. Mestinya, kalau para dokter itu yakin bahwa pengobatan yang dilakukan Ponari banyak mudharatnya, ya biarkan saja Ponari praktek, nanti kalau masyarakat tahu bahwa Ponari tidak bisa mengobati, kan Ponari akan ditinggalkan ? Tapi, jika ternyata banyak yang berhasil disembukan sang dukun cilik, ya biarkan saja masyarakat berobat ke Ponari.

Begitu saja kok ribut Dok…

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. tciely permalink
    31 Maret 2009 8:00 am

    Mantafb

  2. tciely permalink
    31 Maret 2009 8:07 am

    Mukhlis Pakai wordpress orang… mantafb…kurang sedikit kekuatan data..

  3. 2 April 2009 11:02 am

    Thank,s atas masukannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: