Skip to content

SEBUAH RELFEKSI UNTUK HARKITNAS Ke 101

6 April 2009

Setahun lalu, tepatnya 20 Mei 2008, Bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke 100. Peringatan itu dilakukan besar-besaran secara nasional. Tak tanggung-tanggung, pemerintah samapai membentuk panitia khusus untuk memperingati hari besar tersebut dan Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono, memberi sambutan yang cukup panjang pada acara pembukaan acara itu. Tujuan dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional ( Harkitnas ) yang ke 100 adalah untuk menggelorakan kembali jiwa dan semangat kebangkitan nasional kepada segenap komponen bangsa. Tujuan akhir yang hendak dicapai melalui peringatan ini adalah memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju Indonesia Jaya.

Di dalam sambutannya, secara eksplisit Presiden SBY mengemukakan :”Dan kita semua bertekad, memasuki abad ke 21 ini, Indonesia dapat benar-benar menjadi bangsa yang maju, yang kuat, an yang unggul. “ Bayangkan, betapa dahsyat cita-cita tersebut. Saya yakin, setiap warga negara Indonesia pasti punya impian seperti itu ? Tapi, bagaimana kenyataannya?

Beberapa bulan setelah acara spectakuler tersebut usai, semua masyarakat, dan mungkin juga para pemimpin bangsa ini, seolah telah melupakan acara yang juga diharapkan menjadi Kebangkitan Nasional Indonesia ke 2 ini. Para pemimpin, cendekiawan, ilmuwan, para politikus, tokoh masyarakat sampai rakyat biasa hampir tidak pernah menyebut-nyebut lagi acara peringatan hari besar nasional yang spektakuler tersebut. Mengapa ini bisa terjadi ? Hal ini karena visi yang dibawa tidak mampu dicerna oleh rakyat akibat terlalu abstrak. Coba bandingkan dengan yang terjadi pada tahun 1908 !

Pada tahun 1908, Di kampus Stovia Jakarta, Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Dr. Goenawan dan Soewardi Soerjodiningrat mendirikan sebuah organisasi kebangsaan bernama Boedi Oetomo. Boedi Oetomo, saat itu, merupakan sebuah organisasi modern dengan cara pandang kebangsaan yang baru dan berbeda. Setelah melalui ‘pengembaraan mental’ yang intens, mereka menangkap sebuah visi bagi bangsa ini, yakni menggagas sebuah bangsa yang memiliki identitas diri.

Jika kita melihat masa sebelumnya, perlawanan-perlawanan yang dilakukan secara sporadis dan bersifat lokal, maka sesungguhnya kemerdekaan bangsa ini bukan diberi inspirasi oleh gerakan-gerakan sporadis tersebut. Terwujudnya kemerdekaan bangsa ini bermula dari sebuah gagasan yang ditelurkan oleh para pemikir kita di atas. Dari gagasan mereka muncullah kesadaran bahwa kita sebagai sebuah bangsa mesti memiliki kemandirian dan terlepas dari penjajahan oleh bangsa lain. Dari gagasan inilah kemudian muncul perjuangan dan kerja keras dengan meminta banyak pengorbanan, bangsa kita pada akhirnya mencapai ‘status merdeka’ sebagai sebuah bangsa.

Jadi, permulaan kebangkitan nasional kita adalah gagasan mengenai ‘siapa diri kita seharusnya ?’ dan bagaimana mewujudkan gagasan tersebut dalam praksis. Karena gagasan tersebut muncul dari ‘rahim pemikiran’ mereka, maka tak mengherankan jika kemudian mereka menjadi tokoh-tokoh pergerakan nasional. Gagasan yang mereka lahirkan bukanlah gagasan ‘pepesan kosong’, yang melayang-layang di luar kesadaran bangsa ini, melainkan keinginan nyata yang ada di setiap benak bangsa kita. Apa yang mereka suarakan adalah mengartikulasikan keinginan atau cita-cita kita semua.

Karena kecerdasan mereka di dalam mengaktualisasikan keinginan bangsa, maka tak heran pula jika kemudian bermunculan organisasi-organanisasi kebangsaan yang memiliki visi sama. Sebut saja Jong Ambon (1909), Jong Java dan Jong Celebes (1917), Jong Sumatera dan Jong Minahasa (1918). Pada tahun 1911 juga berdiri organisasi Sarikat Islam, 1912 Muhammadiyah, 1926 Nahdlatul Ulama, dan kemudian pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia.

Kesadaran sebagai sebuah bangsa mencapai puncaknya pada tahun 1928, dengan bersatunya berbagai organisasi kebangsaan, terutama organanisasi kepemudaan, untuk mewujudkan gerakan kebangsaan yang eskalasinya lebih besar dan menyeluruh melalui Sumpah Pemuda : Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa ….Indonesia. Gerakan pemuda pada tahun 1908 dan 1928 merupakan titik penting bagi gerakan Kebangkitan Nasional Indonesia.

Sejak saat itu, kesadaran dan rasa nasionalisme terus bertumbuh dan menjalar di setiap sudut penjuru tanah air. Dan semangat nasionalisme tersebut mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945 ketika bangsa ini berhasil memproklamasikan kemerdekaannya. Kemudian, dalam perjalanan sejarah berikutnya, dengan berbekal rasa nasionalisme yang tinggi, kita berhasil mempertahankan kemerdekaan itu.

Jika kita balik lagi ke situasi Indonesia kontemporer, timbul pertanyaan : Apa yang sekarang diimpikan secara riil oleh segenap lapisan bangsa kita ? Barangkali ide dasar para cendekia di atas perlu direaktualisaikan. Apakah saat ini sudah merdeka ? Apakah sebagai sebuah bangsa, kita memiliki kemandirian untuk menentukan jalan hidup kita sendiri ? Jika kita merasa belum merdeka, dalam hal apa kita sekarang terjajah ? Lalu, strategi apa yang harus digunakan untuk melepaskan diri dari keterjajahan tersebut ?

Pertanyaan-pertanyaan di atas seharusnya menjadi bahan renungan para elit kita saat ini. Selanjutnya, mereka juga harus mampu ‘menggebrak’ kesadaran seluruh elemen bangsa untuk segera bangkit sebagai bangsa yang mandiri; sebagai bangsa yang tidak dijajah oleh bangsa lain; dan sebagai bangsa yang memiliki kebebasan untuk mengatur jalan nasibnya sendiri. Ini berarti, tugas para elit selain memanage nation, mereka juga harus sebagai pendidik. Mereka harus terus menerus melakukan pendidikan dan penyadaran ke segenap komponen bangsa secara terus menerus dan berkesinambungan akan jati diri sebagai sebuah bangsa. Ini bisa dilakukan jika para elit itu tidak lagi sekadar berebut kekuasaan. Perebutan kekuasaan sangat rentan menyebabkan terjadinya konflik-konflik yang tidak perlu yang berakibat merongrong kesatuan dan persatuan bangsa. Keruntuhan kesatuan dan persatuan akan menjadikan bangsa ini semakin tidak berdaya menghadapi intervensi bangsa lain.

3 Komentar leave one →
  1. 19 Mei 2011 11:24 pm

    mantep………….. klau kaum elit tidak lagi mmpunyai gagasan maka birkan kami yang melakukan

  2. Anonim permalink
    23 Mei 2011 7:16 am

    Ok bung. Memang sulit mengharapkan gagasan dari kaum elit jika yg mereka urusi hanya berebut kekuasaan. Saatnya rakyat biasa yang harus merasa bertanggunh-jawab memajukan banhsa. Thank’s commentnya.

  3. Anonim permalink
    18 Mei 2012 7:41 pm

    gagas yg sangat luar biasa terkadang menjadi klise dan hanya sekedar niat bukan pda tataran implementasi,rakyat di sibukan dengan gimana cara nya besok bertahan untuk hidup,pemuda berpikir gimana cara nya mendapat kan pekerjaan,elit berpikir gima mempertahan kan kekuasaan, ketika semua sendi sendi kehidupan berpikir untuk pribadi saya kira berubahan tidak akan ada di bangsa ini,saya kira di butuh kan komitmen bersama khusus nya pengusa yg lebih peka dan amanah terhadap rakyat nya, merdekaaaaaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: