Skip to content

MEMAKNAI SPIRIT KI HAJAR DEWANTORO

19 April 2009

Setiap tanggal 2 Mei kita selalu memperingati Hari Pendidikan Nasional ( Hardiknas ). Dipilihnya 2 Mei sebagai Hardiknas adalah dikaitkan dengan kelahiran seorang tokoh nasional yang telah banyak berjasa dalam memajukan bangsa kita, terutama di bidang pendidikan. Tokoh tersebut adalah Ki Hajar Dewantoro, yang namanya kecilnya Raden Mas Soewardi Soeryoningrat.
Ki Hajar Dewantoro dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Ia berasal dari keluarga keraton, Puro Paku Alaman, Yogyakarta. Nama Ki Hajar Dewantoro mulai ia gunakan sejak berusia 40 tahun menurut hitungan tahun Caka. Sejak saat itu gelar kebangsawanannya tidak pernah dipergunakannya lagi. Tujuannya, supaya lebih bebas dekat dan bergaul dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.
Sejarah hidupnya diwarnai dengan berbagai pergolakan perjuangan demi nusa dan bangsanya. Ia merupakan penulis yang piawai. Karena itu, ia mengambil profesi wartawan. Ia bekerja dibeberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Melalui tulisan-tulisannya ia mengobarkan semangat kebangsaan kepada para pembacanya. Di samping sebagai wartawan, ia juga aktif dalam organisasi social dan politik. Di dalam organisasi semacam ini, ia merasa lebih bias mengkongkritkan ide-ide kebangsaannya.
Pada tahun 1908, ia aktif di dalam organisasi Boedi Oetomo pada seksi propaganda. Di situ, ia dengan penuh semangat membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya rasa persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa. Kemudian, pada tanggal 25 Desember 1912, bersama dengan dr. Douwes Dekker dan dr Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij, yang merupakan partai politik pertama yang berpaham nasionalis Indonesia, yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Namun, Indische Partij kesulitan mencari status badan hukum.
Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, pada 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantoro mendirikan perguruan yang berwatak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa). Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Bagi Ki Hajar Dewantoro, Taman Siswa adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan untuk mencapai cita-cita kebangsaannya. Pendidikan bukanlah menjadi tujuan akhir, melainkan sebagai sarana perjuangan untuk mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka. Merdeka artinya tidak terjajah secara fisik, budaya, ekonomi, politik dan intelek. Oleh karena itu, pendidikan harus bisa memerdekakan peserta didik dari kebergantungan kepada pihak lain, melalui pendidikan anak-anak dilatih mampu bersandar pada kekuatannya sendiri.
Jadi, melalui pendidikan, Ki Hajar Dewantoro bermaksud menjunjung derajad bangsa Indonesia. Upaya ini akan berhasil jika dimulai dari segenap lapisan rakyat. Bukan hanya bagi segelintir elit. Sebagaimana kita ketahui, sebelumnya pendidikan hanya diperuntukkan bagi segelintir anak-anak bangsa Belanda dan priyayi pribumi. Rakyat merupakan sumber kekuatan untuk memerdekakan bangsanya. Oleh karena itu, rakyat harus mendapatkan pengajaran secara merata, tanpa pilih kasih, agar pandai melakukan upaya bagi kemakmuran bangsanya. Apabila sebuah bangsa menajdi makmur, ia akan menjadi bangsa yang merdeka.
Di dalam mendidik, Ki Hajar Dewantoro berpandangan bahwa pendidikan merupakan tuntunan bagi berkembangnya anak-anak. Mereka adalah makhluk hidup yang memiliki kodrat dan potensi tumbuh dan berkembangnya masing-masing. Tugas pendidik adalah membantu mereka untuk menumbuh-kembangkan kodrat dan potensinya masing-masing untuk mencapai derajad optimal. Pendidik tidak bisa dan tidak boleh memaksakan kehendak bagi kodrat anak-anak seperti keinginan pendidik. Pemaksaan seperti ini identik dengan penjajahan. Seperti dikemukakan di atas, penajahan bertentangan dengan kodrat dan cita-cita pendidikan Ki Hajar Dewantoro.
Beliau memberi analog yang mudah dimengerti untuk ini. Seorang petani tidak bisa merubah padi menjadi jagung. Jika ia menanam padi, panennya pasti padi. Ia tidak bisa merubah kodrat tersebut. Apa yang bisa ia lakukan adalah menumbuhkan padi dengan memperbaiki tanahnya, memberinya pupuk, memeilhara tanamannya, dan menghilangkan hamanya.
Tugas pendidik relatif sama dengan petani. Ia hanya bisa membimbing anak-anak untuk mengembangkan kecerdasan, bakat dan segenap potensi anak didiknya bagi keberhasilan hidupnya di masa akan datang. Pendidik tidak bisa merubah kodrat kecerdasan, bakat dan potensi peserta didiknya. Setelah itu, pendidik juga harus membantu peserta didik menangkal pengaruh-pengaruh jahat ( hama ) yang bisa merusak dirinya, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya bisa optimal.
Bersama dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, penulis ingin memajukan beberapa pertanyaan sebagai bahan refleksi buat dunia pendidikan kita. Apakah dunia pendidikan kita telah melakukan upaya-upaya penyadaran kepada peserta didik rasa persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa ? Apakah dunia pendidikan kita telah menanamkan kesadaran kemerdekaan pada peserta didiknya ? Apakah pendidikan kita diberikan kepada semua masyarakat tanpa pilih kasih, terutama antara rakyat yang kaya dan rakyat yang miskin ? Apakah para pendidik telah berperan sebagai pembimbing bagi peserta didik untuk mengembangkan kecerdasan, bakat dan segenap tanpa melakukan pemaksaan-pemaksaan ?
Barangkali jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu bisa digunakan sebagai bahan untuk mengkaji kembali pola pendidikan yang telah kita lakukan selama ini. Bukankah kita sering berkeluh-kesah mengenai kekeliruan-kekeliruan yang telah dilakukan oleh pendidikan kita selama ini ?

2 Komentar leave one →
  1. 21 April 2009 9:29 am

    silaturrahmi semoga bawa berkah🙂

  2. 22 April 2009 3:02 pm

    Amin. Terima kasih Pak Hanung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: