Skip to content

Harapan Terhadap Warga Negara Yang Terhormat

14 Oktober 2009

Pada tanggal 1 oktober 2009 lalu, bangsa ini punya hajatan besar, yakni acara pelantikan anggota DPR periode 2009 – 2014. Hajatan ini disebut besar karena menelan biaya 11 miliar, sebuah angka fantastis untuk sebuah acara pelantikan.
“Total keseluruhan sekitar Rp 11 miliar paling banyak untuk transportasi, hotel, dan uang saku,” kata Sekjen KPU Suripto Bambang Setyadi, di Jakarta, Senin (7/9). ( Pikiran Rakyat edisi 8 September 2009 ).
Rakyat banyak dilarang ngiler, apalagi protes atas besarnya anggaran tersebut. Kita harus ikhlas. Pasalnya, mereka yang dilantik adalah para warga negara yang terhormat. Bukan warga negara biasa. Warga Negara biasa seperti kita hanya berhak berharap, berharap ketinggian budi dari mereka yang terhormat itu. Kita hanya bisa berharap mereka akan benar-benar menjadi wakil kita yang akan membela kepentingan-kepentingan kita sebagaimana yang mereka janjikan di saat kampanye legislatif  tempo hari.
Kita tentu tidak ingin lagi melihat perilaku-perilaku memuakkan dari para anggota DPR yang terhormat itu. Seperti perilaku korupsi dan sogok-menyogok ( lihat note saya ‘Catatan Merah Anggota DPR 2004-2009, Fit And Proper Test yang Beraroma Suap dan Kepentingan Kelompok’ ), perilaku bermalas-malasan hingga banyak pekerjaan legislasi yang tak mampu diselesaikan ( lihat Setumpuk PR Buat DPR Baru, Antara edisi 7 Oktober 2009: http://www.antaranews.com/berita/1254922714/setumpuk-pr-buat-dpr-baru ), membuat undang-undang yang bertentangan dengan aspirasi rakyat banyak ( semisal UU BHP ) dan perilaku-perilaku lain yang merugikan bangsa secara keseluruhan.
Kita berharap mereka yang terhormat itu benar-benar mewakili dan memperjuangkan kepentingan kita. Oleh karena itu, kita ingin mereka punya saluran komunikasi dengan rakyat yang memilihnya, supaya rakyat tidak perlu berdemo ke gedung DPR atau DPRD ketika hendak menyampaikan aspirasinya.
Salah satu teman saya pernah ‘bermimpi’. Andai saja para anggota DPR atau DPRD membuka praktek seperti dokter di rumahnya masing-masing tentu mereka akan tahu benar apa yang menjadi harapan dari konstituen pendukungnya. Maksudnya praktek di sini adalah mereka, pada hari-hari dan jam tertentu dalam satu minggu, menyediakan diri di rumahnya masing-masing untuk menerima kedatangan warga sekitarnya yang ingin menyampaikan aspirasi.
Dengan adanya ‘jam praktek’ seperti ini, jalinan hati dengan konstituennya akan terbangun sangat intens. Selain, tentu saja, mereka akan lebih tepat dalam menangkap aspirasi rakyatnya. Namun, saya yakin, tidak semua anggota DPR dan DPRD mampu ( mau ? ) melakukan ini. Hanya mereka yang amanah dan menjaga kemuliaan pribadinya yang mampu melakukan.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: