Skip to content

Mengkaji Ulang Makna Peringatan Hari Kebangkitan Nasional

19 Mei 2010

Setiap tanggal 20 Mei, secara nasional kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Bahkan, pada 20 Mei 2008, bangsa ini, secara nasional, memperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Harapan yang diletakkan pada peringatan tersebut adalah muculnya greget untuk bangkitnya kembali rasa nasionalisme warga bangsa ini yang dirasa semakin hari semakinpupus.

Apa hasil dari kegiatan tersebut ?

Alih-alih bangkit kesadaran nasionalnya, yang terjadi justru apatisme yang melanda sebagian besar rakyat kita sebagai sebuah bangsa. Bahkan, lebih parah lagi, beberapa wilayah dari bagian negeri ini sudah mulai berkeinginan untuk memisahkan diri dari NKRI. Dari sini jelas bahwa bangkitnya kesadaran nasionalisme sebuah bangsa tidak bisa dengan melalui perayaan peringatan segebyar apa pun. Ia tidak bisa dibangkitkan dengan cara-cara instant semacam itu.

Persoalannya, jika dengan cara-cara peringatan hari besar nasional seperti itu tidak bisa membangkitkan rasa nasionalisme warga bangsa ini, lalu dengan cara apa ? Atau memang di era borderless ini tidak lagi dibutuhkan nasionalisme bagi sebuah bangsa ?

Untuk member jawaban atas pertanyaan tersebut tentu harus dicari dulu akar dari melunturnya nasionalisme ini. Beberapa kalangan berasumsi bahwa lunturnya nasionalisme dari sebagian besar bangsa kita adalah karena pengaruh globalisasi.

Istilah globalisasi pertama kali digunakan oleh Theodore Levitte pada tahun 1985. Hingga sejauh ini, globalisasi belum memiliki definisi yang pasti. Masing-masing ahli memiliki definnisi masing-masing, bergantung dari sisi mana melihatnya. Salah satunya berpandangan bahwa globalisasi merupakan sebuah proses alamiah yang menyebabkan seluruh bangsa dan negara saling terikat satu sama lain sehingga akan terwujud sebuah tatanan kehidupan baru dengan tersingkirnya batas-batas teritorial, politik, budaya dan kedaulatan ekonomi.

Sementara, sekelompok ahli lain memandang globalisasi tidak lebih dari sebuah mega proyek milik negara-negara super power. Mega proyek yang dimaksud adalah implementasi kapitalisme dalam wujud yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya bersaing dengan mereka di bidang ekonomi. Kekalahan dalam persaingan ini, menyebabkan Negara-negara miskin, secara de facto terjajah secara ekonomi oleh Negara-negara kuat dan kaya tersebut. Penguasaan atas domain ekonomi ini pada akhirnya memuluskan jalan bagi penguasaan domain lainnya. Hari ini kita bisa melihat dengan mata telanjang, bagaimana negara-negara miskin terkooptasi dari sisi budaya, politik, pandangan hidup, bahkan agama.

Jika kita ikuti kedua pengertian di atas, sulit dicari mana yang benar dan mana yang salah. Bagi penulis, kedua pengertian globalisasi di atas adalah nyata adanya. Karena, fenomena-fenomena yang mendukung kedua pengertian di atas terhampar luas di keseharian kita. Akibat pesatnya inovasi di bidang transportasi dan informasi, mengakibatkan ‘hilangnya’ batas-batas teritorial antar negara. Apa yang terjadi ( baik negatif maupun positif ) di satu belahan dunia akan cepat menjalar ke belahan dunia lain. Pengaruh seperti ini tidak bisa dibendung, oleh pemerintah yang dikatator sekali pun.

Di sisi ekonomi juga terjadi fenomena yang tak jauh berbeda, hanya saja karakternya lebih kejam. Adanya politik-politik ekonomi global, dengan atribut-atribut seperti pemberian bantuan ( yang sebagian besar berupa hutang berbunga ) bagi negara-negara miskin; berbagai pakta ekonomi; penanaman modal asing; dan lain sebagainya menjadikan negara-negara miskin semakin tidak berdaya.

Kedua fenomena di atas, era borderless dan politik ekonomi global di atas telah menyebabkan sebagian besar warga penduduk negara miskin kehilangan kebanggan dan nasionalisme mereka sebagai warga sebuah bangsa ( miskin ). Sebaliknya, warga negara-negara super power justru semakin tinggi rasa nasionalismenya.

Pertanyaannya adalah apakah memang globalisasi menjadikan nasioanlisme kita harus tergerus hingga luluh lantak ?

Jika kita menengok sejarah masa lampau, sebenarnya fenomena globalisasi ini telah ada sejak berabad-abad silam. Bukti sejarah menunjukkan bahwa bangsa kita telah melakukan perdagangan dan pergaulan dengan berbagai bangsa dunia sebelum para penjajah datang. Dan bukti yang lebih konkrit adalah bahwa kita pernah terjajah bangsa asing selama ratusan tahun.

Artinya, bahwa globalisasi bukanlah gejala khas yang terjadi di abad ini saja. Ia telah hadir sejak berabad-abad lampau. Namun, kita sebagai negara merdeka berdaulat ataukah terjajah adalah sebuah pilihan bangsa. Bangsa ini telah membuktikan bahwa pada 1945 telah memilih untuk menjadi sebuah bangsa dan negara yang merdeka.
Namun sayang sekali, pilihan menjadi negara merdeka tersebut semakin hari semakin tidak nyata. Dari tahun ke tahun kita semakin merasa tidak memiliki kedaulatan atas nasib kita sendiri, baik secara politik, budaya apa lagi secara ekonomi. Kita semakin menjadi bulan-bulanan negara-negara super power. Padahal, menjadi berdaulat adalah sebuah pilihan. Apakah ini karena bangsa kita telah memilih untuk menjadi tidak berdaulat ?

Tentunya tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang rela kedaulatannya di rampas oleh bangsa lain. Kalau sekarang kita tidak memiliki kedaulatan atas nasib sendiri, pasti bukan karena sebagian besar bangsa ini telah memilih untuk menggadaikan kedaulatan hidupnya sendiri. Nasib buruk yang menimpa bangsa ini, menurut hemat penulis, karena sebagian besar elit dan pemimpin kita menerapkan budaya bernegara yang salah dari para pendahulu.

Di jaman kolonial dulu, para elit diklasifikasikan menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah mereka yang lebih memilih menjadi komprador pihak kolonial. Dalam kesehariannya, mereka ini melakukan penindasan kepada rakyatnya sendiri; menjual asset-aset bangsa kepada kolonial; menangkap, memenjarakan bahkan jika diperlukan membunuh para pribumi yang dianggap membahayakan ‘kedamaian dan kebahagian’ para kolonial; dan tindakan-tindakan lain yang merugikan bangsa sendiri. Kesediaan menjadi komprador semata-mata karena lebih mementingkan kemakmuran diri dan keluarganya saja.

Di sisi lain, ada segelintir elit yang prihatin dengan kehidupan bangsanya yang tengah berada dalam ketertindasan oleh bangsa lain di negerinya sendiri. Mereka bercita- cita bahwa negara dan bangsa ini harus menjadi negara dan bangsa yang merdeka, berdaulat atas hidup mereka sendiri. Untuk itu, mereka terus menerus menggemakan kesadaran kepada seluruh warga bangsa Indonesia, bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang mestinya taken for granted bagi setiap bangsa. Jika ada yang merampasnya, harus direbut kembali. Mereka berkeyakinan, hanya melalui kemerdekaan, maka kemakmuran akan terwujud.

Kesadaran itu mulai digemakan sejak 1908 oleh keluarga priyayi yang bernama Dr. Soetomo dan kawan-kawan, dan dilanjutkan dengan gerakan perlawanan terhadap pihak kolonial oleh rakyat Indonesia. ( catatan : masih banyak perdebatan mengenai siapa seharusnya yang menjadi pahlawan bagi Harkitnas ). Dan pada 1945 mencapai titik kulminasinya. Seluruh bangsa ini menyambutnya dengan penuh harapan. Karena, artinya kemerdekaan adalah kembalinya kedaulatan ke dalam pangkuan kita masing-masing.

Sekali lagi, pertanyaan yang patut dimajukan adalah, mengapa semakin hari semakin terampas kedaulatan kita ? Keterampasan ini menyebabkan rapuhnya nasionalisme kita. Apakah karena kebanyakan pemimpin-pemimpin kita, semenjak kemerdekaan, adalah dari golongan pertama di atas ? Pemimpin-pemimpin yang lebih mementingkan kemakmuran diri dan keluarganya, sehingga rela mengorbankan rakyatnya sendiri demi memenuhi hasrat serakah pihak asing.

Jika demikian, sepertinya negeri ini perlu membuka lowongan kerja yang bunyi pengumumannya adalah demikian : DIBUTUHKAN PEMIMPIN YANG MAMPU MEMBANGKITKAN KESADARAN RAKYAT INDONESIA UNTUK SEGERA MEREBUT KEDAULATANNYA KEMBALI.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: