Skip to content

Menyoal PSB Mandiri Pada Sekolah RSBI

13 Juni 2010

Sejumlah wali murid di kota Malang mempersoalkan ketertutupan nilai hasil tes penerimaan siswa baru (PSB) mandiri di jalur RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) SMAN di kota Malang. Mereka merasa tidak puas lantaran pihak sekolah tidak mau membuka hasil tes dari PSB jalur mandiri.

Sejumlah orang tua siswa yang ingin mengetahui hasil tes penerimaan di jalur RSBI SMAN 3 Malang menemui jalan buntu. Mereka diminta langsung menanyakan ke diknas. Namun, setelah mereka ke diknas, malah disuruh balik ke sekolah karena yang memegang data adalah sekolah. Bahkan, sekolah menyalahkan orang tua siswa yang meminta hasil tes karena dianggap tidak etis. ( Radar Malang edisi selasa, 8 Juli 2010 ).

Menanggapi kemelut di atas, Komisi D DPRD kota Malang akan memanggil diknas dan sekolah untuk dimintai penjelasan. Alasan ingin mengetahui hasil tes PSB dinilai kurang etis sungguh tidak masuk akal dan naif. Jika disebut kurang etis, etika apa yang dilanggar ?

Bahkan kebijakan ‘menyembunyikan’ nilai hasil tes murid baru tersebut malah bisa menimbulkan prasangka-prasangka negatif di tengah masyarakat. Christea Frisdiantara, anggota Komisi D DPRD Kota Malang, menyatakan :

Kebijakan itu, sambung dia, malah menimbulkan prasangka yang bukan-bukan pada penerimaan siswa di jalur mandiri. Bahkan, menurutnya, tidak salah jika ada masyarakat yang beranggapan terdapat transaksi-transaki tidak wajar pada penerimaan siswa. ( Radar Malang edisi selasa, 8 Juli 2010 ).

Karena itu, tentu bukan tanpa alasan kalau kemudian para wali murid berprasangka ketertutupan ini diakibatkan adanya transaksi-transaksi tidak jujur dalam sistem PSB Mandiri tersebut. Artinya, bisa jadi untuk diterima, orang tua akan dikenakan ‘tarif’ masuk melampaui angka lima juta rupiah, ‘harga’ tertinggi yang dipatok oleh diknas kota Malang.

Sebenarnya, sebelumnya, telah banyak pihak beranggapan bahwa PSB Mandiri pada sekolah-sekolah ‘berlabel’ RSBI merupakan akal-akalan pihak sekolah untuk mengeruk dana masyarakat secara berlebihan. Pasalnya, pembeda yang paling menyolok antara PSB jalur regular dengan jalur Mandiri adalah soal biaya. Biaya untuk jalur Mandiri berlipat-lipat di atas jalur regular. Bukankah sudah menjadi watak manusia kalau diberi peluang akan semakin haus untuk mereguk peluang yang lebih ?

Seperti kita tahu, bahwa sekolah-sekolah negeri yang menyandang ‘gelar’ RSBI diijinkan untuk menarik dana sebesar 5 juta rupiah pada murid baru. Sejumlah tarif yang tidak bakal bisa mereka kenakan pada kelas-kelas non RSB. Mengikuti ‘rumus’ watak manusia di atas, setelah diberi hak untuk menarik dana 5 juta, sekolah-sekolah berlabel RSBI tersebut malah merasa haus uang. Mereka menginginkan lebih dari itu. Maka lahirlah kebijakan internal bahwa PSB Mandiri harus dibuat setertutup mungkin. Dengan ketertutupan demikian, maka sangat bisa dimungkinkan tawar menawar harga untuk bisa memasuki sekolah RSBI tersebut.

Anggapan seperti itu tak mungkin dapat dibendung. Ia akan terus bergulir dari mulut ke mulut. Kemudian, kemana bermuaranya anggapan yang terus bergulir ini ? Pertama, lembaga pendidikan bukan lagi dianggap sebagai wadah mendidik generasi mudah bangsa, melainkan tempat transaksi bisnis. Maka, di sini, nilai-nilai luhur yang seharusnya diajarkan akan dianggap sebagai omong kosong belaka. Kedua, profesi guru tidak lagi dianggap sebagai profesi luhur, tetapi menjadi profesi yang banyak dibenci oleh masyarakat. Kalau sudah demikian, akan menjadi apa dunia pendidikan kita ?

Catatan : Ketika tulisan ini diposting, kadisdik kota Malang telah menginstruksikan, jika ada wali murid ingin mrngrtahui hasil tes anaknya, dipersilakan meminta kepada sekolah tempat dia mengikuti tes. Namun, tetap saja, pengumuman hasil tes tidak diumumkan secara terbuka.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: