Skip to content

‘Studium Generale’ ala Bapak Presiden

18 September 2010

Pada hari Rabu tanggal 15 September 2010, terjadi sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kita. David T. Ellwood, guru besar dan dekan Harvard Kennedy School, USA, memberi kuliah kepada Presiden RI beserta jajaran kabinetnya di Istana Negara. Materi kuliahnya adalah tentang pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Sepertinya peristiwa ini harus dicatat dalam sejarah !!! Mengapa ??? Sekali lagi, ini baru pertama kali di Indonesia.

Sebagai rakyat Indonesia, saya bertanya-tanya apakah kita tidak punya ahli yang lebih memahami tentang pembangunan dan pengentasan kemiskinan yang berasal dari dalam negeri ? Pertanyaan lebih jauh, apakah program pembangunan dan pengentasan kemiskinan yang dilakukan selama ini tidak memiliki konsep yang mendasar ?

Sebagai rakyat Indonesia, saya haqul yakin kalau pakar ekonomi pembangunan di negeri ini lebih tahu tentang permasalahan pembangunan dan kemiskinan di negeri ini dibanding dengan Ellwood yang mengenal Indonesia hanya sepintas. Dan Sebagai rakyat Indonesia, saya sangat percaya bahwa program-program pembangunan dan pengentasan kemisikinan yang dilaksanakan pemerintah selama ini diperhitungkan dengan cara seksama dan dilandasi konsep yang benar. Jadi, didtangkannya si Ellwood ke Istana Negara bukan karena pakar-pakar dan jajaran pemerintahan kita kurang memahami soal-soal pembangunan dan kemiskinan yang terjadi di negeri ini. Lagi pula, kalau jajaran pemerintahan itu merasa kalah pinter dengan si Ellwood, ngapain kuliahnya kok sampai terpublikasikan ke media massa ?

Sebagai rakyat Indonesia, saya berhari-hari mencari-cari motif apa di balik ‘Studium generale’ tersebut. Dugaan pertama saya, apakah watak inlander kita memang sulit terlepas dari karakter bangsa kita, sehingga kalau belum bule yang ngomong, rasanya belum marem. Bukankah sebagian besar bangsa ini masih belum sreg kalau belum bisa ( mampu ) menggunakan produk-produk dari luar ? Meski tak jarang, produk yang dipakai tersebut sebenarnya dibuat di dalam negeri, hanya diberi cap merk luar negeri.

Dugaan saya yang kedua, mungkin jajaran pemerintah kita sedang menunjukkan kepada dunia Barat, bahwa kita orang Indonesia ini sangat bergantung pada mereka. Karena itu, bantulah kita orang. Kalau kalian terus membantu kami, maka kami akan semakin tunduk patuh kepada saudara-saudara. So, berbondong-bondonglah membantu kami, maka saudara akan mendapatkan apa pun yang kalian minta dari kami.

Tadi sore saya membaca running text di salah satu tv yang berbunyi :”Hillarry Clinton memuji Indonesia sebagai partner yang hebat.”  Terus terang saya tidak paham maksud menlu US tersebut, kita dibilang hebat dalam hal apa ? Apa hebat dalam kepatuhannya ?

Dugaan saya yang ketiga, mungkin presiden sedang mengajarkan pada kita bahwa dengan mendapatkan kuliah dari pakar luar negeri menandakan bahwa kita sudah masuk dalam pusaran globalisasi. Itu berarti kita telah menjadi modern. Bukankah di era globalisasi ini peradaban berada di tangan negera-negara barat ? Maka mau tidak mau dalam mengelola hidup kita sebagai bangsa ya harus berkiblat kepada mereka. Kalau tidak, kita bisa modar !!!

Jika salah satu dari ketiga dugaan saya di atas ada yang benar, lama-lama saya khawatir tidak bangga menjadi wni.

Bagaimana pendapat sodara-sodara ????????

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. iwanmalik permalink
    23 September 2010 10:46 pm

    Berbicara pembangunan & pengentasan kemiskinan terasa basi/hambar karena kita sering mendengar kalimat tersebut… kongkritnya sangat jauh dr harapan….yg kami rasakan hanyalah lip service.
    Pembangunan slama ini hanyalah dinikmati oleh kaum berada & pengentasan kemiskinan tidak akan berhasil jika para koruptor meraja rela di negeri ini…dana negara yg seharusnya untuk kepentingan rakyat kecil di korup oleh pembawa kebijakan.

    Kami mengusulkan…di dalam istana negara…harusnya ditempelkan foto-foto penderitaan rakyat kecil…ya mungkin bisa mengurangi pejabat yg akan berbuat korupsi.

    Tak negara satupun di dunia ini yg bisa besar & maju bila masih ada negara yg terkenal dengan korupsinya.

    Kalo boleh kami menilai koq sampai mendatangkan Guru besar segala dr USA di istana negara :
    1. Ada perasaan putus asa selama ini program2 pemerintah jauh dr harapan.
    2. Kurang percaya diri terhadap kemampuan bangsa kita sendiri.

    Menurut kami, Hillarry Clinton memuji Indonesia sifatnya “NGECE”… harusnya praktekkan dulu ‘Studium generale’ itu…bila memang berhasil atau sukses baru memberi pujian.

    Kita tunggu aja…apa Studium generale efeknya bagus…waktu yg akan menjawab.

    http://iwanmalik.wordpress.com/pelatihan

    Salam

  2. 6 Oktober 2010 6:40 pm

    Pak Iwan, saya haqul yaqin, studium generale itu nggak akan membawa efek apa-apa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: