Skip to content

Renungan Seusai Ramadhan dan Idhul Fitri

6 Oktober 2010

Baru lebih kurang sebulan kita meninggal bulan Ramadhan dan hari Idhul Fitri, kita dikejutkan oleh serangkain peristiwa yang memilukan. Budaya kekerasan ! Sebut saja tawuran massal di jalan ampera, tawuran antar etnis di Tarakan atau yang paling gress, tawuran antar masyarakat dengan para pengikut Ahmadiyah. Semua peristiwa tersebut membawa banyak korban, termasuk korban nyawa.

Belum sempat kepiluan kita hilang, kita dikejutkan lagi oleh berita terjadinya kecelakaan kereta api di Pemalang, Jawa Tengah. Tabrakan antara kereta api Argo Bromo Anggrek dengan Senja Utama. Menurut berita terakhir saat tulisan ini dibuat, tabrakan itu menewaskan 36 orang dan 38 luka-luka. (http://www.tribunnews.com/2010/10/03/tabrakan-kereta-api-di-pemalang-jadi-berita-dunia ). Kecelakaan tersebut diduga diakibatkan oleh human error alias kelalaian masinis.

Dari serangkaian peristiwa di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa bangsa kita kurang bisa menghargai keselamatan, terutama nyawa, sesama.

Kembali ke awal tulisan ini, kita baru saja meninggalkan bulan Ramadhan dan Idhul Fitri. Bagi seorang muslim, yang merupakan mayoritas warga Indonesia, Ramadhan diyakini sebagai bulan yang amat istimewa. Ramadhan merupakan sarana pendidikan yang diberikan Allah bagi muslim untuk menemukan kembali hakikat kemanusiaannya.

Ketika diri kita berlatih menahan diri dari hasrat makan dan minum di siang hari, mestinya hati ini lebih dekat dengan mereka yang senantiasa gelisah, “Adakah makanan yang bisa dimakan hari ini ? “ Di saat kita menghitung-hitung infaq, shodakoh, maupun zakat ( termasuk zakat fitrah ) sesungguhnya kita dididik untuk berlapang hati menyisihkan ‘milik’ kita untuk membahagiakan sesama yang berkekurangan.

Bulan Ramadhan memberi kita kesempatan untuk menghayati nilai-nilai kepedulian kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Kepedulian semacam ini mestinya dimiliki oleh setiap insan yang bernurani. Tetapi, di dalam keseharian kita, akibat budaya dan pola hidup yang di-panglima-i  oleh faham kapitalisme dan materialistik, kita lebih suka mengembangkan nafsu angkara murka dan serakah. Akibatnya, hati nurani ini menjadi tumpul karena diburamkan oleh keinginan memiliki materi sebanyak-banyaknya. Manusia lain kita pandang sebagai kompetitor dan penghalang dalam meraup harta sebesar-besarnya.

Di malam hari, kaum muslim melakukan ibadah-ibadah tambahan. Ibadah-ibadah ini harusnya makin mendekatkan ruhani kita kepada-Nya. Kedekatan ini akan menambah kesadaran bahwa kita ini adalah abdi-Nya. Sebagai abdi, kita mendapat mandat untuk melaksanakan titah-Nya sebagai rahmatan lil alamain.

Di hari Idhul Fitri, seluruh kaum muslim saling bersilturahmi dan saling memaafkan. Meski, konon, tradisi ini hanya berlangsung di Indonesia saja, namun tradisi ini memiliki muatan pendidikan yang luar biasa. Dengan saling bersilaturahmi, hubungan yang mulai renggang kembali direkatkan. Dengan saling meminta maaf, semua sifat dan sikap arogansi dan mau menang sendiri ditenggelamkan. Artinya, melalui tradisi Idhul Fitri ini rasa persaudaran semakin diperkuat.

Dengan segala pendidikan yang diberikan di bulan Ramadhan, mestinya seorang muslim akan lulus menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur. Ia menjadi sahabat sehati bagi semua mahluk ciptaan-Nya di muka bumi ini. Barangkali inilah makna ‘kemenangan’ bagi seorang muslim sesuasai bulan Ramadhan dan Idhul Fitri.

Tetapi mengapa Ramadhan dan Idul Fitri belum hilang dari perasaan kita, kita sudah saling menyakiti, saling membunuh dan abai terhadap nyawa sesama sebagaimana terjadi pada rangkaian peristiwa di atas ? Adakah yang salah dengan diri kita ? Adakah cara beribadah kita yang keliru ? Ataukah ‘sarana pendidikan’ yang disediakan oleh Allah tidak lagi up to date ?

Kebudayaan materialistik mengajarkan bahwa hubungan kita dengan pihak lain harus melalui transaksi. Saat akan memberi, kita harus pandai menghitung apa yang akan kita dapat. Jika yang bakal kita peroleh itu tidak sebanding dengan apa yang akan kita berikan, maka sebaiknya kita tidak usah memberikan apa-apa. Kita baru boleh memberikan kepada pihak lain jika akan memberikan keuntungan yang lebih besar buat kita.

Tanpa kita sadari, perhitungan-perhitungan transaksional seperti itu kita kenakan juga dalam laku ibadah kita kepada Allah. Kita melakukan puasa Ramadhan karena kita ingin Allah mengganjar kita denga surga-Nya yang konon segala hasrat nafsu keinginan kita akan dipenuhi-Nya. Kalau meninggalkan ibadah puasa, kita takut dengan hukuman-Nya di penjara yang bernama neraka. Kita mau mengeluarkan harta kita untuk zakat, shodakoh dan infaq karena kita berharap mendapat ‘kembalian’ berupa harta yang berlipat-lipat dari Allah.

Akibat mindset transaksional seperti itu, maka hikmah pendidikan dari ibadah-ibadah yang kita lakukan tidak terinternalisasikan ke dalam hati nurani kita. Meski pun kita telah berlapar-lapar dan melakukan sholat lail sebulan penuh, budi pekerti kita tidak mengalami peningkatan. Kita masih seperti yang kemarin sebelum Ramadhan tiba. Kita masih menjadi insan yang tidak memiliki kepedulian, suka menyakiti dan menyerang pihak lain. Artinya, kesadaran kita sebagai abdi-Nya yang diberi tugas untuk melaksanakan ajaran-Nya menebar rahmat di muka bumi tidak mengalami perkembangan. Budi pekerti kita tampaknya mengalami stagnasi sebatas usia balita.

2 Komentar leave one →
  1. Anonim permalink
    8 Oktober 2010 1:20 am

    semua masalah itu ada karna ulah tangan manusia itu sendiri.
    mka dari itu kita harus banyak taqorub ila Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: