Skip to content

Mengapa Kita Miskin Wirausahawan ?

14 Oktober 2010

Marilah kita simak sejenak fenomena berikut. Pada era ‘70 dan ’80-an, banyak pelajar Malaysia menuntut ilmu di perguruan tinggi-perguruan tinggi di negeri ini; pegawai pertanian Philipina banyak yang belajar pada dinas pertanian kita untuk urusan perberasan; pegawai-pegawai perkebunan Muang Thai juga banyak yang belajar soal perkebunan ke sini. Sekarang apa yang terjadi ?

Situasinya telah berbalik 180o. Pelajar-pelajar kita telah banyak yang harus belajar ke negeri jiran, karena mutu pendidikan di sana ternyata jauh lebih baik. Untuk urusan perkebunan dan pertanian, kita ketinggalan jauh dibanding Thailand dan Pilipina. Buah-buahan dari Thailand jauh lebih berkualitas dibanding buah-buahan kita. Mengapa ini bisa terjadi?

Menurut hemat penulis karena kurangnya penduduk yang bermental wiraswasta. Persoalannya, faktor apa saja yang membuat kita miskin mental wiraswasta ? Sejak kapan hal itu terjadi ?

Untuk menjelaskan hal ini, akan dikutip uraian Prof. Dr. Koentjaraningrat dalam bukunya Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Menurut ahli budaya ini, mentalitas bangsa kita yang tidak selaras dengan tuntutan pembangunan berasal dari dua faktor, yakni faktor yang bersumber dari budaya kita sendiri dan faktor kondisi setelah revolusi.

Salah satu karakter budaya bangsa kita adalah feodalisme. Feodalisme ini, salah satunya, mengejawantah pada nilai yang terlampau banyak  berorientasi vertikal, ke arah tokoh, pembesar, atasan atau senior. Nilai itu mematikan beberapa sifat mentalitas tertentu, seperti kemauan untuk berusaha atas kemampuan sendiri, rasa disiplin murni dan rasa bertanggungjawab sendiri.

Rendahnya kemauan untuk berusaha atas kemampuan sendiri berasal dari sifat tak percaya kepada diri sendiri.  Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Koentjaraningrat, menunjukkan bahwa sifat tak percaya kepada diri sendiri ini memburuk terutama di antara penduduk perkotaan di Indonesia, yakni pada golongan pegawai. Sifat ini tampaknya dapat dikembalikan  kepada nilai budaya dalam mentalitas para pegawai dan priyayi, yang terlampau banyak berorientas vertikal terhadap tokoh-tokoh atasan dan senior.

Budaya feodalisme telah menjadikan bangsa kita, setidaknya, terbagi pada dua strata; strata bangsawan atau priyayi di satu sisi, dan strata rakyat jelata di sisi lain. Golongan bangsawan dianggap sebagai patron bagi rakyat jelata. Segala sesuatu harus mengacu kepada kelompok bangsawan. Karena menganggap golongan lain sebagai patron, maka kedudukan kelompok rakyat jelata menjadi tersubordinasikan. Mereka memposisikan diri berada di bawah kelompok lain. Berdasarkan kaidah yang berlaku, kelompok yang di bawah harus menurut titah; harus meniru kebiasaan-kebiasaan; dan bangga menjadi abdi kelompok atas. Dan kelompok bawah ini tidak boleh punya kemauan sendiri. Segala macam kemauan diserahkan pada  kemauan kelompok atas. Inilah yang menyebabkan sebagian besar bangsa kita tidak punya kemauan berusaha atas kemampuan sendiri.

Sifat tak berdisipilin, kalau dirunut ternyata, juga terdapat dalam mentalitas pegawai yang terlampau berorientasi vertikal. Banyak orang Indonesia, sampai saat ini, berpenampilan disiplin hanya ketika diawasi dari atas. Ketika pengawasan surut, hilanglah dorongan hati untuk mentaati berbagai peraturan. Sifat ini juga muncul dalam bentuk ketidaktekunan dan kesungguhan dalam bekerja atau berusaha. Saat diawasi, mereka kelihatan tekun dan sungguh-sungguh dalam bekerja. Begitu pengawasan berkurang, berkurang pula ketekunan dan kesungguhan.

Kurang tanggungjawab ini, menurut Koentjaraningrat pula, bisa juga disebabkan oleh tradisi gotong royong. Siapa pun mengakui jika tradisi ini cukup baik dan perlu dilestarikan. Namun, ternyata, ia punya wajah lain yang justru kurang menguntungkan jika salah penempatan.

Tradisi gotong royong memberi rasa aman kepada pendukungnya. Jika salah satu anggota tertimpa bencana atau kesulitan, maka yang lain akan ramai-ramai membantu. Dalam masyarakat demikian, orang jarang merasa bertanggungjawab secara pribadi dalam menghadapi aneka macam kesulitan. Perasaan semacam ini ternyata dapat menghambat  munculnya tanggung jawab pribadi.

Selain yang berasal dari tradisi feodalisme, mentalitas bangsa kita yang menghambat pembangunan juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pasca kemerdekaan. Kondisi ini  melahirkan mental suka mengabaikan kualitas dan ambil jalan pintas.

Kepekaan kita terhadap mutu suatu barang, baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen sudah hampir hilang.  Para ahli menduga bahwa mentalitas yang sering mengabaikan mutu ini adalah kosekuensi kemiskinan yang menghebat yang kita alami setelah kemerdekaan. Kemiskinan membuat kita tak sempat memikirkan kualitas, yang penting tersedia barang dan bisa dimanfaatkan.  Kita juga sudah cukup puas jika suatu pekerjaan telah diselesaikan, apapun mutunya tak jadi soal. Yang penting selesai dan segera bisa dimanfaatkan.

Sebagai contoh dari kebiasaan  mengabaikan mutu  adalah kebijakan yang diambil oleh dunia pendidikan kita. Ketika jumlah penduduk mengalami peningkatan luar biasa, dan sarana pendidikan tidak mampu mengimbanginya, maka pemerintah mengambil kebijakan bahwa murid-murid harus segera diluluskan supaya tempatnya segera bisa diganti calon murid lain yang sedang antri. Apapun mutunya tak jadi soal, yang penting sebagian besar penduduk muda usia pernah mengenyam pendidikan.

Adapun mental suka mengambil jalan pintas adalah mentalitas yang bernafsu segera mencapai tujuan tanpa kerja keras, setahap demi setahap. Dalam masyarakat kita saat ini, tampak banyak usahawan baru yang  mau mencapai dan memamerkan taraf hidup yang gemerlap dan penuh kemewahan dengan  cepat, melalui cara yang tidak wajar, atau dengan mengambil keuntungan sebesar-besar ‘mumpung’ ada kesempatan tanpa menghiraukan jangka panjangnya.

Seorang karyawan atau pegawai, terutama pegawai negeri, yang ingin segera mencapai fasilitas-fasilitas pangkat atau tingkatan tinggi dalam waktu sesingkat mungkin tanpa mau berjuang, tak segan-segan untuk menyuap. Dengan suap ini, tanpa bertele-tele bisa naik pangkat. Di sini, wawasan keilmuan, kerja keras, prestasi, maupun ketrampilan hanya dipandang sebelah mata. Yang penting ada uang pelicin, kedudukan pasti didapat.

Seorang yang belum kerja pun, untuk mendapatkan pekerjaan tak segan-segan menyuap supaya lolos dalam seleksi masuk, tanpa peduli berapa pun tarifnya. Mereka ini tak mau tahu bahwa tujuan diadakan test seleksi adalah untuk menyaring agar diperoleh pegawai-pegawai yang kapabel dengan bidang yang akan dimasuki. Mereka tak mau berjuang mencari ilmu untuk meningkatkan kapabilitasnya. Mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk menyuap.

Fenomena suka ambil jalan pintas ini mulai muncul ketika penjajah meninggalkan negeri ini. Pada saat itu, banyak lowongan-lowongan pekerjaan yang ditinggalkan penjajah. Sedangkan lowongan tersebut harus segera diisi supaya kehidupan bernegara bisa segera berjalan, meski mereka kurang kapabel.

Memang, di tempat-tempat lain, mental ingin mencapai jalan pintas itu juga ada. Bedanya, di negeri kita hal itu tampil sangat ‘telanjang’, terutama pada masa orde baru dan era reformasi ini. Sedangkan di sebagian negera-negara lain, perilaku ingin jalan pintas ini tidak begitu  menonjol, karena ‘nafsu’ itu dikendalikan dan dikekang.

Menurut Koentjaraningrat, dorongan tersebut bisa dikendalikan, karena dalam pandangan umum pada masyarakat lain tadi masih ada kesadaran akan guna dari garis panjang kemajuan hidup. Bisa dikekang karena di sana ada norma-norma yang memaksa orang menuruti garis panjang kemajuan hidup itu secara demi selangkah.

Jika kita amati sifat-sifat di atas, jelas bahwa mentalitas-mentalitas tersebut sangat bertentangan dengan  karakter yang harus dimiliki  seorang wiraswastawan. Selanjutnya, menurut uraian di atas, suatu bangsa yang kekurangan manusia bermental wiraswasta  akan mengalami kemacetan pertumbuhan ekonomi dan keterbelakangan. Bukankah seperti keadaan bangsa kita saat ini ?

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. iwanmalik permalink
    22 Oktober 2010 10:22 pm

    Menurut analisa pak Rohadi…., kenapa pendidikan kita di era ‘70 dan ’80-an secara mutu lebih baik??? Artinya kita pernah “berjaya” di era itu….apa yg mendorong terjadinya “kejayaan pendidikan” di era itu.
    Maaf pak…apa di era ’70 & ’80-an uraian disampaikan Prof. Dr. Koentjaraningrat TIDAK BERLAKU?????….
    Mohon pencerahannya
    Thanks

  2. 26 Oktober 2010 5:49 pm

    Pendidikan kita di era ‘70 dan ’80-an secara mutu lebih baik karena saat itu negeri2 tetangga baru merdeka. Sehingga bangunan pendidikannya masih baru dibanding pendidikan kita. Tapi, mereka berlari sangat kencang untuk mengejar ketertinggalannya hingga mampu melampaui kita. Dan celakanya, kita sanati2 saja hingga tidak merasa kalo sudah tertinggal jauh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: