Skip to content

Mewujudkan 2011 sebagai Tahun kewirausahaan

25 Desember 2010

Pemerintah, sebagaimana dikemukakan Menko  Perekonomian Hatta Rajasa, akan mencanangkan tahun 2011 sebagai tahun kewirausahaan dalam upaya  mendorong munculnya pebisnis kreatif dan inovatif  yang memiliki daya saing di pasar global.

“Entrepreneur kita sangat lambat pertumbuhannya. Oleh sebab itu harus terus dipacu pembentukan dan pengembangan wirausaha kreatif. Penurunan kinerja ekspor dan investasi itu tentu tidak lepas dari kemampuan wirausaha kita,” katanya di sela-sela acara Creative Entrepreneur ‘Fire’ Dialog Berwirausaha, di Jakarta hari ini.

Menurut Hatta, ekspor  memang masih banyak tergantung dari para pedagang di negara lain dan  kemampuan investasi swasta juga masih terbatas dan belum banyak bergerak di sektor technology based atau knowledge based investment.

Sementara itu, pengalaman dari berbagai terpaan krisis dan turbulensi ekonomi global yang mempengaruhi laju pembangunan ekonomi, menurunkan kinerja produksi manufaktur.

“Ini menyadarkan semua pihak akan perlunya kita meningkatkan ketangguhan dan pengembangan wirausaha kreatif nasional.”

Pemerintah, katanya, mendukung kreasi usaha yang menciptakan dan menjual produk inovatif. “Kita perlu pensuplai barang dan jasa yang unggul bersaing karena mengandalkan kualitas produk,” tambahnya.

Wirausaha, kata dia,  akan meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi karena masyarakat menjadi aktor aktivitas dan faktor produksi ekonomi, sekaligus  menjadi kunci penanggulangan pengangguran dan sekaligus kemiskinan.

Ketua Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif Handito Joewono yang memprakarsai pendirian Indonesia Creative Entrepreneur Club (ICEC) mengatakan pemerintah dan pemangku kepentingan terkait telah menyediakan tiga program, yaitu pembenihan, penempaan dan pengembangan.

“Salah satunya dimasukkannya kewirausahaan kreatif dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan bagi mahasiswa, pelajar dan anggota masyarakat lain yang ingin membangun usaha. Sementara kementerian terkait lainnya membantu mengembangkan usaha dan akses pasarnya,” jelasnya.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tentu kita semua berharap bahwa apa yang dikemukakan oleh Menko Perekonomian di atas akan benar-benar menjadi kenyataan. Bukan sekadar wacana. Karena, keberadaan para wirausahawan memang seharusnya menjadi tulang punggung bagi sebuah negara. Sejarah telah membuktikan bahwa di negara-negara maju, keberadaan para wirausahawan ini telah member andil signifikan bagi peningkatan pendapatan suatu negara. Lihat saja peranan kaum wiraushawan Jepang di masa Restorasi Meiji, kaum Parsi di Timur Tengah, wirausahawan Protestan di Barat, maupun kelompok wirausahawan Cina di Hongkong atau Taiwan. Semuanya telah member andil besar bagi peningkatan pertumbuhan perekonomian bangsanya.

Selain itu, jumlah dari manusia wirausahawan ini harus terus menerus ditingkatkan. Karena, kalau tidak, sebuah bangsa hanya akan diisi oleh penduduk bermental kuli, kaum feodalis atau masyarakat birokratis saja. Ini akan melumpuhkan daya saing bangsa tersebut di masa yang akan datang yang akan diwarnai iklim kompetisi yang begitu ganas.

Yang menjadi pekerjaan rumah kita semua adalah bagaimana  negeri ini akan mencetak wirausahawan-wirausahawan muda ?

Seperti  dipaparkan dalam berita di atas, salah satunya adalah dimasukkannya kewirausahaan kreatif dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan bagi mahasiswa, pelajar dan anggota masyarakat lain yang ingin membangun usaha. Bukan bermaksud pesimis, sepertinya pengajaran kewirausahaan ini sudah lama masuk dalam kurikulum pendidikan kita, terutama kurikulum untuk SMA. Tapi, sampai sekarang kok belum banyak hasilnya. Terbukti, jarang kita temui fresh graduate yang punya cita-cita menjadi seorang wirausahawan. Mereka lebih suka menjadi karyawan. Kalo ada satu dua dari mereka yang terjun ke dunia wirausaha kebanyakan disebabkan oleh dua factor. Pertama, meneruskan usaha orangtua yang telah sukses. Kedua, karena melamar pekerjaan kesana-kemari tidak diterima, maka ‘terpaksa’ harus terjun ke dunia wirausaha.

Mengapa hal ini bisa terjadi ?

Pertama, tentu saja karena kekurang-seriusan pemerintah dalam mendukung kelahiran para wirausahawan muda. Walaupun sering dikatakan modal bukanlah faktor terpenting bagi wirausahawan, tapi tanpa modal finansial mustahil seseorang akan mampu berwirausaha. Sementara, dunia perbankan memberlakukan persyaratan yang sangat sulit bagi para fresh graduate memperoleh pinjaman di bank.

Kedua, sulitnya mendapatkan perijinan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa untuk memperoleh legalitas bagi dunia usaha bukanlah hal yang mudah. Selain faktor lamanya waktu, biaya ‘non formal’ yang harus dikeluarkan untuk ‘uang saku’ para pejabat pemberi ijin tidaklah kecil bagi para calon wirausahawan ini.

Ketiga, meski kurikulum kewirausahaan telah diperkenalkan sejak beberapa tahun silam, namun jiwa wirausaha tak jua tumbuh di kalangan generasi sekolahan. Hal ini karena kesalahan-tafsir para pengelola pendidikan di dalam memaknai pendidikan kewirausahaan. Selama ini, para pendidik beranggapan bahwa pendidikan kewirausahaan adalah mengajarkan ketrampilan-ketrampilan membuat berbagai macam barang produksi. Atau, mengajarkan pelajaran pembukuan. Tidak lebih dari itu.

Padahal, kegiatan berwirausaha bukanlah sekadar membuat barang dan membuat pembukuan. Ia merupakan serangkaian kegiatan yang kompleks. Mulai dari perencanaan usaha, memperoleh permodalan, memproduksi, memasarkan, mengelola SDM dan lain-lain. Dan semua itu tidak cukup hanya dipelajari secara teoritis. Tapi harus dipraktekkan. Karena itu, cara terbaik untuk mendidik kewirausahaan adalah dengan berpraktrek berwirausaha. Dengan berpraktek, selain akan dimiliki berbagai ketrampilan wirausaha seperti dikemukakan di atas, juga akan diperoleh mental wirausaha. Persoalan wirausaha bukan saja mengenai ketrampilan, tetapi yang terpenting adalah dimilikinya mental wirausaha ini.

Sekarang, tinggal berpulang kepada niat baik pemerintah dalam mensukseskan pencanangan tahun 2011 sebagai tahun kewirausahaan. Apakah ketiga masalah di atas mampu di atasi. Jika tidak, rasanya pencanangan Tahun Wirausaha di atas hanyalah lip service saja. Seperti program-program lainnya.

4 Komentar leave one →
  1. Busthomi permalink
    18 Mei 2011 9:33 am

    Walaupun cukup lama gagasan ini disampaikan, tidak ada kata terlambat untuk saling mengisi dan mengetahui, bagaimana membangun jiwa wirausaha, sebagai niatan baik tetap kita hargai, hanya yang sering saya perdengarkan pejabat kita muda mengeluarkan statement, hanya untuk kosomsi kalangan pers, bila gagasan ini layak bisa dibeli akan diteruskan , bila tidak akan hilang ditelan keadaan. Lihat saja setiap ada persolan yang sudah di blokup oleh wartawan, ini yang biasanya diperhatikan oleh pemerintah, bila tidak ya tenang-tenang aja. Gagasan-gagasan ini tidak akan tembus kepemerintah daerah, karena mereka juga mempunyai agenda sendiri. Apalagi kalau dikatakan melangkah pada perizinan, hampir oknum pemerintah kita tidak berpihak kepada kepentingan masyrakat, lebih berpihak pada kepentingannya sendidri-sendiri. Mereka ngurus perizinan udah jelas-jelas lengkap persyaratannya, itu masih dihambat, dengan berbagai macam alasan. Oleh karenya bila pembangunan ini jelas arah tujuannya, pemerintah harus membuat kurikulum pembangunan, atau dahulu disebut Repelita, dengan tetap tidak menghilangkan esensi otonomi daerah. Komentar Busthomi

  2. 19 Mei 2011 6:55 pm

    Betul sekali Pak Bus. Adalah omong kosong pemerintah akan mendorong tumbuhnya jiwa enterpreneurship di masyarakat tanpa dibarengi kemudahan perijinan untu membuka usaha. Faktanya, di negeri ini meminta perijinan adalah hal yang amat sulit. Butuh waktu, tenaga, kenalan dan pelicin.

  3. Busthomi permalink
    21 Mei 2011 10:16 am

    Aku lebih tertarik membangun motivasi diantara kalangan mudah kita, terutama para alumnus yang baru tamat SLA, semangatnya digerakkan dengan motivasi kesuksesan hidup, kedepan bukan ditetukan oleh siapa-siapa kecuali dari diri kita sendiri, berdasarkan sorve yang telah kami dapatkan dihampir kalangan muda kita bila diajak berwiraswasta hampir mereka menjawab tidak punya modal, dan persepsi mereka pasti uang. seebenarnya itu nomor terakhir, kalau mereka benar-benar ingin menyambut hari depan yang lebih baik, hal ini bisa dipecahkan dengan membangun , Lembaga kursus, Lembaga Enterpreneurrship, atau apapun namanya, bila ini dibidik ( istilah saya ini adalah market ) yang besar, apalagi mereka tidak diajar mimpi, tetapi dilatih bekerja, ini ada istilah yang dicetuskan seorang Kiayi Gontor, “pekerjaan itu banyak asal mau bekerja”, kalu diamati memang benar anak muda sekarang lebih banyak setelah lulus sekolah mencari kerja, tetapi tidak menciptakan kerja. Mengapa sering diantara mahasiswa muda kita hilang selama kurang lebih 1 bulan (dalam kasus “NII”) l, setelah ditemukan mainset pemikirannya benar-benar berubah, malah ada idealis kuat bahwa orang diluar dirinya dianggap sebagai orang kafir. Ini adalah salah satu contoh bahwa braind idealis kalangan mudah kita bisa diarahkan dan dibentuk sebagai kalangan interpreunership Indonesia yang lebih baik dan menjanjikan.

    • 23 Mei 2011 7:23 am

      Saya setuju P. Bus. Kayaknya memang sulit berharap pada lembaga formal untuk mampu membangkitkan jiwa enterpreneurship pada generasi muda. Karena itu,masyarakat harus mengambil inisiatip. Sekolah-sekolah kita sedang dicekam oleh ‘hantu unas’. Jadi, kita harus maklum kalo mereka tidak punya ide tentang enterpreneurship.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: