Skip to content

Acara ‘Malam Tahun Baru-an” dan Hedonisme Remaja

15 Januari 2011

Setiap malam tahun baru, kita melihat pemandangan yang sama dari tahun ke tahun. Berpawai dengan mobil atau motor; mendatangi tempat-tempat hiburan; bermalam di hotel atau tempat wisata. Seolah hukumnya wajib bahwa pada malam pergantian tahun harus bersenang-senang, pesta-pora, dan berwisata-ria. Tanpa perlu mempedulikan hari esok, apalagi saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah, kita hanya berfokus mengejar kenikmatan malam tahun baru.

Tradisi mencari kesenangan seperti itu semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya setiap tahun. Kebiasaan merayakan malam tahun baru seperti itu cepat menjalar ke setiap jiwa, sehingga ‘penganutnya’ terus meningkat dari tahun ke tahun. Adakah ini menjadi bukti semakin terinternalisasikannya paham hedonisme pada diri kita ?

Konon, paham Hedonisme ini berkembang semenjak masa Yunani. Hedonisme adalah salah satu aliran filsafat dari Yunani. Para penganut paham ini berkayakinan bahwa tujuan hidup adalah mencari kebahagiaan. Untuk mendapatkan kebahagiaan yang langgeng, mereka menjalani berbagai praktik asketis, seperti puasa, hidup miskin, bahkan menjadi pertapa agar mendapat kebahagiaan sejati. Bukan sekaar kebahagiaan duniawi yang semu.

Namun, ketika Romawi menguasai Eropa dan Afrika, pandangan Hedonisme ini mengalami pergantian makna. Pencarian kebahagiaan diganti dengan pengejaran kenikmatan duniawi semata. Semboyan hidup baru yang mereka hembuskan adalah carpe diem (raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi kamu hidup).

Pergeseran paradigma hidup dari mencari kebahagiaan ke mencari kenikmatan ternyata membawa implikasi yang luar biasa. Selain hanya sekadar mengejar kenikmatan duniawi semata, pandangan baru ini juga jauh lebih mementingkan kenikmatan sesaat. Karena, bagi mereka, hidup hanyalah saat ini. Maka nikmatilah saat ini semaksimal mungkin. Lupakan kemarin dan hari esok. Jika terlalu berpaku pada hari kemarin atau hari esok, itu artinya menyia-nyiakan nikmat yang bisa didapat hari ini.

Dalam pandangan demikian, maka nilai baik buruk harus diabaikan. Karena, jika terlalu mempertimbangkan baik-buruk, maka saat-saat untuk memperoleh kenikmatan akan berlalu begitu saja. Dengan demikian, paham Hedonisme ala Romawi ini sangat menonjolkan pemenuhan hawa nafsu dan sikap egoistik.

Karakter manusia seperti itu sangat cocok dengan kebanyakan manusia modern saat ini. Bukankah sikap individualistik dan pengejaran kenikmatan duniawi telah menjadi ‘Tuhan’ manusia modern ? Bahkan para remaja pun tak lupt dari virus pandangan hidup tersebut.

Karena itu, tidaklah mengherankan, meski sebagian saudara kita sedang menderita akibat bencana alam, bangsa ini tetap bisa merayakan malam tahun baru dengan luar biasa gemerlap. Biaya ratusan milyar dihabiskan untuk acara tersebut, seolah bangsa ini adalah bangsa kaya tanpa penderitaan.

Seperti diuraikan di atas, gaya hidup seperti itu juga melanda remaja. Coba saja dilihat gaya mereka bicara, berpakaian, asesoris yang dikenakan, barang-barang ( khususnya gadget ), kebiasaan mengunjungi mall dan tempat hiburan malam, semuanya menampilkan gaya hidup mewah. Kebiasaan ini seolah telah menjadi life style. Dan, para remaja ini telah merasa nikmat dan nyaman dengan life style ini.

Gaya hidup serba mewah, serba enak dan serba berkecukupan yang dianut para remaja sesungguhnya karena ‘diajarkan’ oleh orang-orang dewasa disekitar mereka. Karakter dari remaja adalah mudah meniru gaya dari significant others. Selain itu, juga dipicu oleh program-program yang ditayangkan oleh televisi. Kehidupan ala sinetron yang kerap menampilkan hidup mewah dan cara instan telah menjadi ‘agama baru’ bagi remaja. Siapa pun yang ‘kafir’ dengan gaya hidup ala sinetron ini akan mendapat stigmatisasi ‘tidak gaul dan tidak funky’. Sebuah stigma yang amat memalukan bagi mereka, karena itu sedapat mungkin harus dihindari.

Selain itu, program-program televisi yang mendorong remaja dengan cepat dapat menjadi selebritis atau tokoh terkenal, meski juga cepat tenggelam kembali, semacam Indonesian Idol, AFI atau KDI telah menabur mimpi di kalangan remaja untuk menjadi tenar dengan cara instan. Akibat dari program-program semacam ini, baik pesertanya maupun penontonnya, meyakini bahwa cara-cara instant adalah hal yang lumrah dan dapat dibenarkan.

Kebutuhan hidup yang tercipta akibat keinginan mengejar ‘syahwat’ kenikmatan duniawi, berpadu dengan budaya instant, menyebabkan para remaja seringkali menjerumuskan diri ke dalam perilaku sesat. Keinginan untuk memenuhi barang-barang mewah mungkin bukan terlalu menjadi masalah bagi anak-anak orang kaya. Orangtua sanggup memenuhi sebagian besar keinginan mereka. Tapi, bagaimana dengan remaja dari keluarga pas-pasan ?

Ketika keinginan memiliki hand phone atau pakaian type termutakhir, sementara anggaran dari orangtua tidak ada, maka remaja dari keluarga kurang mampu biasanya mengambil jalan pintas. Tidaklah mengherankan, jika saat ini muncul fenomena baru yang muncul di sekitar kehidupan kampus. Para mahasiswi atau pelajar putri mengambil profesi sebagai ‘ayam kampus’ dan yang laki-laki berprofesi sebagai pengedar narkoba.

Profesi ini menjadi pilihan karena tidak memerlukan keahlian dan ketrampilan tertentu. Siapapun dapat melakukannya, asalkan tidak memikirkan segala resiko dari profesi tersebut. Selain itu, dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain yang bisa mereka lakukan, profesi menjadi ‘ayam kampus’ dan pengedar narkoba memungkinkan mereka mendaptkan penghasilan yang jauh lebih menjanjikan. Bagi yang telah ‘mengimani’ budaya instant, cara ini dipandang paling logis.

Penulis yakin, siapa pun tahu betapa besar resiko dari kedua profesi di atas. Selain merusak kesehatan mereka, baik kesehatan fisik maupun mental, profesi tersebut juga berbahaya secara hukum. Dan yang lebih parah, profesi tersebut dapat merusak masa depan mereka.

Oleh karena itu, tahun baru mestinya menjadi momen untuk melakukan instropeksi. Prestasi apa saja yang telah dicapai dalam setahun terakhir; kesalahan apa saja yang telah diperbuat; dan sekaligus juga mengkaji potensi-potensi diri apa saja yang belum termanfaatkan secara maksima. Selain itu, juga untuk merancang strategi-strategi apa saja yang mesti dilakukan untuk meraih berbagai macam prestasi di masa depan. Jika saja setiap malam tahun baru kita melakkukan instropeksi seperti itu, maka pasti kualitas hidup kita akan meningkat dari tahun ke tahun.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: