Skip to content

Pencopotan Kapoda Banten, Cukupkah ?

14 Februari 2011

Polri sudah menemukan tersangka yang diduga telah mengerakan massa saat terjadi bentrok antar warga dengan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Minggu (6/2). Demikian dilansir oleh Antara News.Com edisi 14 Februari 2011.

Tersangka terlihat berada dalam massa yang  berkumpul, dan kata Kapolri ia bukan dari sebuah komunitas tertentu.Tersangka diduga sebagai penggerak berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi di tempat kejadian maupun keterangan dari beberapa anggota masyarakat. “Saya kira sudah memenuhi unsur untuk segera kita lakukan proses penyidikan lebih lengkap untuk segera diajukan ke pengadilan melalui penuntut umum,” kata Kapolri Timur Pradopo.

Ada yang sedikit mengecewakan dari penjelasan Kapolri di atas. Mungkinkah yang penggerak bentrok massal tersebut ‘bukan dari sebuah komunitas tertentu’ ? Apakah penggerak tersebut atas inisiatif sendiri punya niat membuat kerusuhan ? Kalau demikian, apakah berarti bentrok massal di Cikeusik itu adalah sebuah kebetulan belaka ( by accident ) ? Padahal nalar kita mengatakan, untuk menggerakkan banyak orang untuk bentrok dengan kelompok masyarakat lain, pasti membutuhkan strategi yang matang, dana yang pasti tidak sedikit, dan yang pasti lagi, risikonya tidak kecil. Lalu, untuk apa si penggerak tersebut mau repot-repot seperti itu ?

Jika boleh terus terang, saya kira kok lebih masuk akal dugaan Anggota Penasihat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang juga manatan Ketua MA, Jimly Ashiddiqie, yang dikutip media yang sama. Menurut beliau peristiwa kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, dan perusakan gereja di Temanggung, Jateng, dirancang.

“Kedua peristiwa tersebut bukan by accident tetapi by design. Ini ada yang merekayasa sehingga perlu dituntaskan,” kata Jimly di Jakarta, Senin.

Persoalannya, siapa yang merancang dan atas tujuan apa ?

“Boleh jadi, di belakangnya ini ada kelompok antipemerintah yang mau melakukan delegitimasi terhadap pemerintah. Tapi, bisa juga kelompok yang mendukung pemerintah yang mau adu domba dan mengalihkan isu,” katan Jimly.

Kedua kemungkinan tersebut sama masuk akalnya. Kemungkinan yang pertama bahwa dugaan adanya kelompok anti pemerintah yang berupaya mendelegitimasikan pemerintah tentu sangat masuk akal jika ditinjau dari pihak pemerintah. Bukankah selama ini pemerintah kerap kali mengeluarkan pernyataan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang sakit hati dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang syah ?

Dan saya yakin, selama ini kita juga telah mengamati, sejauh ini pemerintah belum bisa membuktikan siapa yang bermaksud mau menggulingkan pemerintah yang syah. Dengan catatan tersebut, mungkinkah memang ada pihak yang sakit hati dan ingin menggulingkan pemerintahan yang syah punya rencana biadab mengadu domba masyarakat dengan mengatasnamakan agama ?

Lalu, bagaimana dengan kemungkinan kedua ?

Kalau kita membaca catatan di langit, betapa seringnya pemerintah mengalihkan isyu ketika ada ‘masalah krusial’ sedang menjadi berita hangat di masyarakat. Saat ini masyarakat telah menunggu dengan setengah tidak sabar untuk penuntasan kasus century, Gayus Tambunan dan tuntutan untuk mengungkap rekening gendut 17 pejabat tinggi Polri. Bukankah tuntutan penuntasan kasus-kasus tersebut dapat mengharu-biru ‘kepentingan hajat orang banyak’ ? Maka, sangat masuk akal jika masyarakat perlu dibikinkan ‘mainan baru’ berupa bentrok massal yang mengatasnamakan kepentingan agama. Di negeri ini, masalah agama kan sanagt sensitif.

Dugaan yang kedua ini sepertinya selaras dan sejajar dengan penjelasan Kapolri di atas, bahwa si penggerak kerusuhan massal di Cikeusik bukan berasal dari komunitas tertentu. Dengan pernyataan tersebut, kita khawatir, penyelidikan akan berhenti sebatas tertangkapnya si penggerak tersebut. Artinya, tidak perlu lagi dicari aktor intelektual di balik kerusuhan tersebut. Dan, sekali lagi, menurut catatan di langit negeri ini, setiap kerusuhan massal, mulai dari zaman orde baru hingga orde sekarang, belum pernah diketemukan aktor intelektual dari setiap kerusuhan massal. Sepertinya, setiap kerusuhan massal di negeri ini selalu berasal dari inisiatif warga masyarakat ( grass root ) sendiri. Jika ini benar, betapa hebatnya masyarakat kita !!!

Tadi sore, saya melihat berita di TV kalau Kapolda Banten,  Brigadir Jenderal Pol. Agus Kusnadi dicopot dari jabatannya lantaran dinilai gagal dalam menjalankan sistem keamanan dalam peristiwa itu. Dan sebelumnya, juga dilakukan mutasi atas kasus serupa Kepala Kepolisian Resor Pandeglang Ajun Komisaris Besar Polisi Alex Fauzi Rasad dan Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Banten Komisaris Besar Pol. Adityawarman.

Kita tentu akan mengapresiasi dan mengangkat topi tinggi-tinggi pencopotan tersebut jika yang terjadi adalah dugaan yang pertama. Ini menunjukkan betapa seriusnya kepolisian kita menangani kasus kerusuhan massal yang terjadi belakangan ini. Tapi, jika yang benar adalah dugaan yang kedua, untuk apa pencopotan tersebut ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: