Skip to content

FKIP NAIK DAUN : SEBUAH CATATAN DARI SNPTN 2011

4 Juli 2011

Mengikuti berita SNPTN tahun 2011 ini, penulis mendapati sebuah fenomena baru yang tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Adalah pernyataan Anggota Tim Sosialisasi dan Humas SNMPTN 2011 Bonny P.W Soekarno yang membuat saya agak terkejut.

Bony menyatakan bahwa kini peminat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Perguruan Tinggi yang tak khusus keguruan, makin tinggi. Ini di luar dugaan meski tak diketahui angka pastinya. Peningkatan ini diduga karena peserta SNMPTN melihat guru sebagai profesi yang pasti. “Perhatian pemerintah terhadap guru juga semakin besar, melalui sertifikasi misalnya,” kata Bonny. Fenomena ini juga bisa diartikan adanya peningkatan empati generasi muda terhadap pendidikan di Indonesia.

(http://www.tempo.co/hg/pendidikan/2011/06/29/brk,20110629-343950,id.html ).

Berita ini tentu menggembirakan kita semua. FKIP yang selama ini dipandang sebagai second class dibanding fakultas-fakultas lain, sehingga peminatnya sebagian besar ( maaf ) dianggap kurang berkualitas. Dan ini sering dianggap sebagai salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan kita.

Rendahnya minat lulusan SMA kalangan menengah atas dan yang punya prestasi akademik untuk memasuki FKIP, karena profesi guru dipandang tidak menjanjikan. Selama ini, profesi guru digambarkan sebagai pribadi yang harus berdedikasi tinggi namun minim kesejahteraan finansial, sehingga dijuluki ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’. Atau dicitrakan sebagai pribadi jadul seperti digambarkan sebagai ‘Oemar Bakri’ oleh Iwan Fals.

Bayangkan, mana mungkin anak muda pada zaman materialistik ini yang mau menjadi sosok yang diharuskan punya dedikasi tinggi terhadap profesinya, miskin finansial dan jadul lagi. Kalau ada anak muda yang berani memtuskan untuk menekuni profesi guru pasti karena terpaksa ( misalkan, karena prestasi akademiknya kurang menggembirakan atau mungkin karena ditakdirkan memiliki panggilan jiwa menjadi guru ). Barangkali karena itulah, maka masyarakat kita sampai ‘harus’ membuat istilah atau kalimat-kalimat penghiburan bagi guru supaya profesi ini tidak kehabisan peminat, seperti :

@ Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa

@ Pekerjaan mengajar memang tidak memberi harapan finansial yang memadai, tetapi mampu memberikan kepuasan batin

@ Balasan bagi pekerjaan mengajar adalah di akhirat kelak.

Mungkin kalimat-kalimat hiburan seperti itu bisa mengena pada generasi-generasi terdahulu. Tapi, apakah masih relevan untuk dikenakan pada generasi cyber saat ini ?

Kita patut bersyukur, pada era reformasi, kesejahteraan guru terus ditingkatkan. Mulai dari peningkatan gaji pokok sampai dengan pemberian tunjangan sertifikasi. Kini, gambaran bahwa guru adalah profesi yang miskin finansial dan jadul sedikit demi sedikit mulai terkikis. Anak-anak muda kini banyak yang melirik profesi guru. Tak terkecuali mereka yang berasal dari kelas menengah atas atau memiliki prestasi akademik yang tinggi. Maka, sangat wajar jika tahun ini fakultas-fakultas ilmu pendidikan banyak diserbu peminat.

Berita bahwa FKIP diserbu calon mahasiswa tentu sangat menggembirakan. Karena, empat tahun ke depan, dunia  pendidikan kita akan memiliki tenaga-tenaga pengajar yang berkualitas. Dengan tenaga pengajar yang berkualitas seperti itu, maka kita berharap kualitas pendidikan kita juga akan terdongkrak. Jika selama ini diasumsikan bahwa kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang dimiliki bangsa tersebut, maka tak salah jika kita berharap kualitas bangsa ini akan menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang.

Namun, di balik optimisme di atas, ada kegundahan yang diam-diam menyelinap di benak penulis. Penulis yakin bahwa yang dilihat anak-anak muda tersebut hanyalah pendapatan yang diterima oleh guru-guru yang sudah berstatus PNS saja. Kalau saja mereka tahu berapa pendapatan guru-guru swasta atau yang menjadi PTT, saya khawatir mood mereka untuk menerjuni profesi guru menjadi sirna. Sebagian besar dari guru-guru non PNS memperoleh gaji di bawah UMR, meski mereka sarjana. Bahkan banyak yang bergaji pada kisaran lima ratus ribu rupiah per bulan. Angka tersebut tentu bukan hal yang menjanjikan untuk bisa dikatakan hidup pas-pasan.

Ini tentu menjadi PR berat buat kita semua. Harus segera dicarikan jalan keluar agar masalah penggajian guru-guru non PNS supaya lebih layak. Jika tidak, maka bangsa ini akan kembali kesulitan mendapatkan anak bangsa yang berkualitas untuk mengemban profesi guru.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: