Skip to content

Slimuran Ala Marzuki Ali

8 Agustus 2011

Salah satu tokoh nasional yang lagi ngetop sekarang ini adalah Marzuki Ali. Akibat pernyataannya yang mewacanakan pembubaran KPK dan pemberian pengampunan kepada para koruptor, setiap hari media massa, baik cetak maupun elektronik membicaran dirinya. Para tokoh, terutama tokoh partai, terus mengeluarkan pernyataan dan penilaian terhadap Marzuki Ali.

Perjalan Perseteruan

Awalnya, masyarakat dibuat geram oleh perilaku Nazaruddin yang dikabarkan mengkorup uang negara ratusan miliar. Saat itu, setiap hari media massa dan para tokoh nasional tak henti-hentinya menghujat Nazaruddin.

Diserang habis-habisan ternyata tak membuat nyali mantan bendahara partai demokrat tersebut ciut. Justru dia balik menyerang. Dari mancanegara, Nazaruddin mendendangkan nyanyian melalui BB.

Adalah OC Kaligis, sang pengacara, yang menjadi corongnya. Melalui pesan BB, Nazaruddin mengungkap kebobrokan yang dilakukan oleh para petinggi Partai Demokrat, pejabat negara dan petinggi KPk. Oleh Kaligis, pesan-pesan tersebut diungkapkan ke berbagai media massa. Bahkan, ada satu informasi penting yang tidak ingin diungkap ke publik. Karena, kalau sampai diungkapkan ke publik, bisa menggoyahkan kesatian NKRI, demikian penjelasan OC Kaligis.

Kontan saja bumi nusantara bergetar mendengar berita tetsebut. Betapa tidak ? Aib yang selama ini ditutup rapat-rapat, dibuka blak oleh Nazaruddin. Tokoh yang selama ini dianggap bersih dan santun, ternyata hanyalah sosok bejat dan bobrok, seperti banyak koruptor dan perusak negara lainnya. Lembaga yang digadang-gadang mampu memberantas korupsi, ternyata tak bersih dari koruptor. Dan masih banyak persepsi yang berkembang akibat nyanyian Nazaruddin.

Mendapat serangan tak dinyana-nyana, para petinggi PD agak gelagapan. Mereka sibuk membuat serangan balik, atau setidaknya buat bertahan. Mereka bilang, kita tidak bisa mempercayai apakah pesan-pesan BB yang disampaikan Kaligis benar-benar dari Nazaruddin ? Tidak ada yang bisa membuktikannya.

Memperoleh bantahan seperti itu, Nazaruddin langsung tampil live via Skype. Iwan Pilliang, pemilik dokumen live itu, berhasil menjajakan dokumen tersebut ke berbagai media. Strategi ini ternyata mampu mendongkrak popularitas Nazaruddin.

Beberapa pihak menganggapnya sebagai whistle blower, karena mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat negara. Masyarakat kian berharap akan semakin banyak lagi ‘lagu’ didendangkan oleh Nazaruddin.

Fokus perhatian publik tidak lagi kepada korupsi yang dilakukan Nazaruddin, tetapi berbalik ke arah korupsi yang dilakukan oleh para petinggi PD dan beberapa pejabat tinggi negara.

Yang perlu dicatat di sini adalah tokoh-tokoh partai yang dulu banyak mengecam ulah Nazaruddin, kini ikut-ikutan menyanyikan lagu yang dibawakan Nazaruddin. Kondisi ini kian memperburuk citra PD. Partai yang memiliki statement positioning ‘Anti Korupsi’ ini ternyata juga sarang para koruptor.

Sebagai partai yang relatif baru, tampaknya PD tidak memiliki model komunikasi yang memadai. Ini terbukti dari kacaunya statement-statement dalam menanggapi tudingan-tudingan Nazaruddin dan para elit kita. Tanggapan-tanggapan yang dikeluarkan para elit PD tidak sinkron antara satu dan lainnya.

Strategi Cerdik Marzuki Ali

Situasi seperti itu semakin menghancurkan brand PD. Popularitas SBY,  sebagai pembina partai, ikut merosot. Di situasi sulit itulah Marzuki Ali menampilkan kecerdikannya. Ia  mewacanakan dua isu yang benar dahsyat. Pertama, bubarkan KPK. Kedua, ampuni para koruptor.

Marzuki Ali ternyata benar. Diskursus tersebut mampu dengan mudah meredam nyanyian Nazaruddin. Publik tidak lagi membicaran tudingan yang dilancarkan Nazaruddin, tapi beralih ‘melakukan serangan’ terhadap statement Marzuki tersebut. Bahkan, sebagian elit, terutama elit partai, mewacanakan mosi tidak percaya kepada Marzuki. Dan, perhatian dan diskusi publik pun kian menjauh dari korupsi yang dilakulan Nazaruddin maupun para elit PD.

 

Ada yang harus dicermati dari uraian di atas. Mudahnya perhatian publik dialihkan menunjukkan bahwa para elit kita tidak memiliki skala prioritas dalam menyelesaikan persoalan bangsa ini. Kalau saja para elit kita punya komitmen yang sungguh-sungguh dalam memberantas korupsi, pasti tidal akan mudah dislimurkan oleh nyanyian Marzuki di atas.

Selain itu, kita menjadi lebih tahu bahwa kalau selama ini para elit itu berteriak lantang bukan untuk sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan bangsa, tapi sekadar untuk meraih popularitas alias politik pencitraan semata. Ini juga menjadikan mereka tidak memiliki fokus di dalam bekerja. Yang penting, kalau ada info yang lagi ‘in’ mereka harus secepat mungkin ikut-ikutan berteriak. Deangan begitu mereka akan mendapatkan predikat politisi yang resposnsif dan komitmen terhadap segala permasalahan bangsa.

Saya sangat yakin, baik Nazaruddin maupun Marzuki sangat memahami situasi dan kemampuan para elit kita, khususnya mereka yang dari elit partai. Karena itu, tak mengherankan kalau Nazaruddin dan Marzuki Ali dengan mudahnya membolak-balik hati dan pikiran kawan-kawannya.

Mari kita tunggu babak berikutnya, pasca penangkapan si Nazar di Kolumbia.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: