Skip to content

Sekolah Swasta, Riwayatmu Kini

26 Juni 2012
Tahun ini, rata-rata tingkat kelulusan di berbagai jenjang mencapai angka di atas 99%. Siapa pun yang bersentuhan dengan dunia pendidikan kita pasti tersenyum lebar. Mulai dari siswa, orangtua siswa, guru, kepala sekolah,bupati hingga mendikbud tentu sangat menikmati kesuksesan Unas tersebut. Namun, ada yang berbeda setelah tahap ‘bahagia’. Ada yang bisa menikmatinya dalam waktu relatif lama, namun ada kelompok yang harus memasuki ‘masa stress’ setelah ‘masa bahagia’ tersebut.

Kelompok yang harus mengalami ‘masa stress’ setidaknya antara lain orangtua siswa,lulusan, dan sekolah-sekolah swasta. Para lulusan dan orangtua mengalami stress tentang apa yang harus dilakukan setelah lulus ? Bagi yang ingin melanjutkan, mereka stress apakah bisa melanjutkan di lembaga pendidikan yang diinginkan. Setelah itu, apakah biaya pendidikan yang diinginkan itu terjangkau oleh kocek mereka ?

Bagi lembaga pendidikan, setelah meluluskan siswa-siswanya,apakah di tahun ini mampu mendapatkan siswa baru minimal sama jumlahnya dengan jumlah siswa yang lulus ? Bagi sekolah-sekolah negeri atau sekolah swasta yang telah memiliki brand kuat di masyarakat, pertanyaan seperti itu tak pernah menjadi persoalan. Tapi tidak demikian halnya dengan sekolah-sekolah swasta yang ‘kurang dianggap’ oleh masyarakat. Setiap tahun ajaran baru selalu diliputi kekhawatiran, “Apakah tahun ini akan mendapatkan murid baru yang cukup?

Kecemasan seperti itu sangat wajar mengingat setiap tahun selalu ada sekolah-sekolah swasta yang harus tutup karena tidak mendapatkan murid. Mereka kalah dalam persaingan merebut murid-murid baru melawan sekolah-sekolah negeri ( http://palembangnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=337%3A60-persen-sekolah-swasta-terancam-tutup&catid=1%3Aberita&Itemid=7).

Kalau kita ingat besarnya peranan lembaga-lembaga pendidikan swasta bagi pendidikan nasional kita, terutama di awal-awal kemerdekaan , keadaan lembaga pendidikan seperti digambarkan di atas tentu sangat memprihatinkan kita semua. Ketika negara belum mampu membangun lembaga-lembaga pendidikan secara memadai, pendidikan swasta telah berperan besar bagi pendidikan bangsa. Bahkan mereka telah eksis sebelum republik ini merdeka. Sebut saja Taman Siswa, lembaga pendidikan Muhammadiyah, Ma’arif, Katolik maupun Kristen. Namun, begitu negara banyak uang sehingga mampu membangun banyak sekolah negeri, nasib pendidikan swasta diterlantarkan, bahkan terkesan sengaja ‘dibunuh’. ( http://www.bpmp-indramayu.or.id/index.php?module=articles&func=display&ptid=1&aid=297)

Mengapa nasib buruk seperti itu mesti dialami lembaga-lembaga pendidikan swasta?

Pada hemat penulis, setidaknya ada dua faktor penyebab dari ‘nasib buruk’ yang menimpa lembaga-lembaga pendidikan kita. Yang pertama adalah faktor external,yang salah satunya adalah begitu agresifnya sekolah-sekolah negeri dalam menambah pagu murid baru. Penambahan pagu ini bisa melalui pembukaan sekolah baru, penambahan kelas baru, atau dengan jalan membuka shift baru. Bahkan, tak jarang cara-cara kurang terpiji dilakukan. Misalnya dengan menugaskan murid-murid kelas dua melakukan prakerin ( praktek kerja industri ) selama setahun. Dengan memberlakuakn prakerin setahun, maka ada cukup banyak kelas yang bisa digunakan untuk menambah jumlah murid. (
http://nasional.kompas.com/read/2008/07/17/20043939/sekolah-sekolah.swasta.mulai.bangkrut)

Nasib sekolah-sekolah swasta yang kian hari kian terpuruk ini tampaknya tidak ada yang peduli. Masyarakat umum tentu tidak punya kepentingan apa-apa atas jatuh bangunnya pendidikan swasta. Bagi mereka, anak-anak mereka bisa sekolah di tempat yang menurut persepsi mereka baik, dan itu adalah sekolah negeri. Kalau pilihan mereka menyekolahkan ke sekolah negeri mengakibatkan lembaga-lembaga pendidikan swasta berguguran, who care ?

Biasanya, ketika kita dirugikan oleh kebijakan-kebijakan eksekutif, salah satu tindakan kita adalah mengeluh ke lembaga legislatif. Karena, menururt keyakinan kita, para anggota dewan yang terhormat itu adalah representatif dari kita. Namun, berkaitan dengan masalah kebangkrutan sekolah swasta ini, dewan tampaknya tidak mau peduli juga. Meskipun, saya yakin, mereka tahu bahwa sekolah-sekolah swasta dulu sangat besar jasanya dalam mencerdaskan bangsa, namun mungkin dipandang tidak menguntungkan untuk ikut cawe-cawe membela sekolah swasta. Justru akan lebih menguntungkan jika mereka bisa memperjuangkan masyarakat untuk ditampung di sekolah-sekolah negeri. (http://www.pikiran-rakyat.com/node/119154)

Faktor kedua adalah berasal dari internal sekolah-sekolah swasta sendiri. Kebanyakan, para pengelola sekolah swasta tidak memiliki kepercayaan diri yang memadai untuk ‘bertarung di pasar’ vis a vis dengan sekolah-sekolah negeri. Akibat dari ketidakpercayaan-diri ini cukup fatal. Dalam strategi menggaet murid baru, mereka hanya menunggu limpahan murid-murid yang tidak diterima di sekolah negeri. Padahal, seperti dikemukakan di atas, setiap tahun sekolah-sekolah negeri terus meningkatkan pagunya. Maka,otomatis, ‘jatah’ yang didapat sekolah swasta tambah tahun tambah sedikit. Dan, ini pula yang menjadi penyebab ‘matinya’ banyak sekolah swasta selama ini. Jika kondisi ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan sebagian besar sekolah swasta di negeri ini hanya akan tinggal kenangan belaka.

Faktor internal lainnya adalah tidak dimilikinya strategi pemasaran yang handal. Ini bisa dibuktikan dengan tiadanya tim pemasaran yang dipekerjakan secara full time. Pada umumnya yang menjadi tim pemasaran adalah seluruh guru yang bekerja sambil lalu.

Mengapa pekerjaan mencari murid baru saya katakan dilakukan sambil lalu?

Pertama, karena pelakunya para guru. Kita tahu bahwa tugas utama guru adalah mengajar. Pekerjaan mengajar ini sangat menyita waktu dan tenaga mereka. Dengan beban yang begitu berat, sulit bagi mereka untuk benar-benar secara serius menjalankan fungsi pemasaran. Apalagi jika kita ingat bahwa pekerjaan pemasaran samgat membutuhkan waktu, tenaga dan kreatifitas yang tinggi. Mustahil jika ini bisa dilakukan dengan baik oleh profesi guru, kecuali mungkin beberapa guru yang memang memiliki bakat dan minat tinggi di bidang pemasaran.

Kedua, umumnya sekolah-sekolah swasta tidak memiliki program pencarian murid baru yamg memadai. Saya pernah dimintai tolong untuk menjadi pembicara pada acara workshop oleh salah seorang teman saya yang menjabat kepala sekolah di SMA swasta. Beliau mengeluh bahwa setiap tahun sekolahnya selalu kesulitan mendapatkan murid baru. Perolehannya tidak pernah mencapai satu kelas selama beberapa tahun belakangan, sehingga untuk menutup operasional ia selalu mencari dana dari donatur.

Ketika saya tanya kapan workshop itu dilakukan, jawabannya membuat saya kaget bercampur prihatin. Karena workshop yang membahas penyusunan strategi marketing tersebut baru dilaksanakan setelah unas. Ia berharap, setelah workshop, guru-guru bakal punya strategi yang sakti sehingga dapat mencari murid baru sebanyak mungkin dalam waktu antara satu sampai dua bulan.

Saya kaget karena sekolah tersebut belum mencari murid baru sama sekali dan menunggu hingga usai unas. Padahal, sekolah-sekolah negeri sudah melancarkan pencarian murid baru dengan berbagai cara. Dan, teman saya ini tidak cukup punya percaya diri untuk mencari murid baru sebelum sekikah-sekolah negeri menutup pendaftaran PSB-nya.

Saya prihatin karena dari ucapan tersebut beliau sama sekali tidak memahami bahwa aktivitas pemasaran harus dilakukan sepanjang tahun. Yang lebih memilukan lagi, kegiatan yang beliau namakan workshop tersebut bak senjata sakti yang bisa mendatangkan murid baru sebanyak-banyaknya.

Jika saya boleh jujur, tanpa berpretensi menggurui,tulisan ini dan tulisan-tulisan berikutnya akan membahas strategi-strategi pemasaran yang mungkin bisa dijalankan oleh lembaga-lembaga sekolah,khususnya swasta, sebagai akibat keprihatinan saya tersebut. Saya sangat berharap, ada ahli pemasaran yang bersedia terjun dalam diskusi ini.

Bersambung ke Tulisan Membangun Brand Sekolah ( 1 )
2 Komentar leave one →
  1. 25 April 2013 2:53 pm

    I’ve learn several excellent stuff here. Certainly value bookmarking for revisiting. I surprise how much effort you put to make this type of great informative web site.

Trackbacks

  1. Membangun Brand Sekolah ( 2 ) « Rohadi Education

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: