Skip to content

( Bukan ) RSBI

15 Januari 2013

Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya membatalkan Pasal 50 ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjadi dasar pembentukan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) dan Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Artinya keberadaan RSBI dan SBI dihapuskan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Bubarkan RSBI

Bubarkan RSBI

Alasan MK mengabulkan gugatan terhadap status Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) dan Sekolah Berstandar Internasional ada dua hal. Pertama, status-status kelas Reguler, RSBI dan SBI memunculkan diskriminasi dalam pendidikan dan membuat sekat antara lembaga pendidikan. Sekat-sekat ini tidak hanya dalam hal status semata, tetapi berdampak pada ketidak-adilan dalam menikmati anggaran pemerintah yang diberikan kepada kelas-kelas RSBI.

Bagaimana reaksi sebagian pejabat kita menanggapi ‘pembreidelan’ tersebut ?

Salah satu pejabat yang terang-terangan menolak RSBI adalah Wali Kota Surabya, Tri Rismaharini. Tri tetap bersikukuh akan meneruskan program Sekolah RSBI. Alasannya, RSBI dianggap sebagai ikon kota Surabaya.

“Salah satu ikon Surabaya kan RSBI itu. Jadi, Surabaya tidak akan membubarkan program RSBI yang sudah ada,” kata Tri Rismaharini seusai menghadiri rapat paripurna DPRD Surabaya, Rabu (9/1/2013). ( Kompas, edisi 9 Januari 2013 ).

Selain itu, di harian yang sama, Tri mengutarakan bahwa seluruh anggaran RSBI di Surabaya tidak dibebankan kepada wali murid. Tetapi sepenuhnya telah dibiayai dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya.

Membaca alas an wali kota tersebut, saya ingin bertanya, bagaimana mungkin RSBI bisa menjadi ikon kota Surabaya ? Apakah gagasan tentang ( R)SBI itu berasal dari kota Surabaya ? Atau sekolah-sekolah bertitel ( R )SBI di Surabaya ini terbaik se Indonesia ? Kalau tidak, lalu apa dasar klaim bahwa RSBI merupakan ikon kota Surabaya ?

Alasan yang kedua adalah biaya RSBI seluruhnya ditanggung oleh APBD. Di atas telah dijelaskan bahwa salah satu dasar pembubaran ( R ) SBI adalah karena terjadi diskriminasi di sekolah-sekolah  ( R ) SBI. Mungkin Tri Rismaharini mengira kalau anggaran yang dipakai untuk membiayai ( R ) SBI itu bukan anggaran dari pusat mau pun bukan anggaran dari masyarakat secara langsung, maka tidak terjadi diskriminasi.

Yang ingin saya tanyakan, apakah dana APBD yang dipakai untuk biaya ( R ) SBI itu bukan uang rakyat seluruh penduduk Surabaya ? Apakah bukan diskriminasi namanya kalu uang seluruh rakyat Surabaya itu hanya bisa dinikmati segelintir murid-murid ( R ) SBI saja ? Tentu beda kalau biaya biaya ( R ) SBI dikeluarkan dari uang pribadi beliau sendiri. Pasti rakyat Surabaya akan mengapresiasinya.

Pejabat lain yang juga mengeluarkan statement menentang keputusan MK ini adalah Wali Kota Malang, Peni Sparto.

“Esensi RSBI adalah peningkatan kualitas pendidikan, sehingga apa yang sudah dilakukan dan dijalankan oleh sekolah RSBI tidak perlu dihentikan agar tetap menjadi sekolah unggulan. Apapun namanya nanti, jangan sampai mengurangi kualitas pendidikan di kota ini,” katanya. ( Kompas, edisi 10 Januari 2013 ).

Menurut Peni, jika model RSBI ini dihentikan, maka kualitas pendidikan di kota Malang akan merosot. Yang ingin saya tanyakan, apa dasar Peni menyatakan kalau RSBI dibubarkan dapat mengurangi kualitas pendidikan di kota Malang ? Apakah jumlah RSBI yang segelintir itu lebih punya pengaruh signifikan disbanding dengan jumlah sekolah-sekolah regular yang jumlahnya puluhan itu ? Kalau Peni ngeyel dan yakin memang RSBI punya pengaruh signifikan, saya ingin bertanya lagi, memang yang dipakai Peni untuk mengukur kualitas pendidikan di kota Malang ini patokannya apa ? Dan model pendidikan yang berkualitas itu seperti apa ?

Di bawah ini saya mengutip tulisan J.Sumardianta, pendidik & penulis buku ‘Guru Gokil Murid Unyu: Pendidik Hebat Zaman Lebay‘ (2013) yang beredar luas di internet. Judul tulisannya adalah

RSBI dari kacamata seorang guru

RSBI bisa disebut sekolah robot. Inputnya santan. Outputnya ampas. Paradigmanya masih beranggapan ada anak yang bodoh & tidak punya potensi apapun. Kurikulum didominasi ranah kognitif sebagai simbol prestasi tertinggi. Banyak bidang studi, standar isi sangat berat, dan menekankan pelajaran matematika dan IPA. Proses belajar mengajarnya menegangkan hingga membuat murid mengalami down-shifting

Metode mengajar guru bercorak indoktrinantif. Strateginya didominasi ceramah dengan fokus mengerjakan soal-soal berpikir tingkat rendah guna mempersiapkan UN. Kelas didominasi guru mengajar bukan murid belajar. Mengagungkan ends values (hasil akhir) bersifat ambisius, materialistik, logis, dan individualistik. Guru tak ubahnya gladiator pembunuh minat, bakat, dan kecerdasan majemuk murid. Perkembangan murid direduksi dalam ranking. Murid dipertarungkan dengan murid lain

Sekolah sebenarnya baru layak disebut unggulan bila paradigmanya memperlakukan setiap murid sebagai anak berpotensi bukan mendegradasi (membuat timpang) mensegragasi (perlkuannya tidak adil). Sekolah sebenarnya baru layak disebut unggulan bila paradigmanya memperlakukan setiap murid sebagai anak berpotensi bukan mendegradasi (membuat timpang) mensegragasi (perlkuannya tidak adil).

Proses penerimaan murid memberi peluang anak ‘lho-lhak, lho-lhok’ dgn gaya belajar lambat alias telat mikir (slow learner) dan sedang (normally learner). Bukan hanya anak bergaya belajar cepat (fast learner) yang diterima. Kurikulumnya menghargai kecerdasan majemuk. Bukan mendewakan kecerdasan logic-matematic. Kurikulum esensial mengarah pada inti kecerdasan: problem solving, character building, life-skill, dan pelbagai kegiatan yang membuat murid bahagia belajar. Mengutamakan means values (proses nilai) seperti integritas, kejujuran, tanggung jawab, kesetaraan, dan kepedulian. Para guru sabar melayani murid dengan beragam gaya belajar. Metode mengajarnya multi-strategi. Pendidik inspiratif yang lebih banyak melayani dan mendengarkan ketimbang mengindoktrinasi dan menghakimi murid.

RSBI mereduksi kehidupan siswa yang kompleks dan kaya potensi menjadi kumpulan skor, persentase, dan nilai. Menciptakan standar misterius yang mengharuskan sekian persen siswa mengalami kegagalan. RSBI memperlakukan murid secara seragam. Mendorong pembelajaran ekstrinsik. Belajar untuk berlomba memperoleh skor tertinggi. Akselerasi memberlakukan batas waktu yang membelenggu proses berpikir siswa. Memicu perbandingan antarmurid yang sangat tidak bermanfaat.

Sekolah baru benar-benar disebut unggul bila proses evaluasinya mengakomodasi seluruh akitivitas murid dan dampaknya menjadi acuan dasar penilaian kemampuan. Menawarkan pengalaman menarik, aktif, hidup, dan membahagiakan. Membangun lingkungan yang memberikan kesempatan sama bagi setiap murid untuk berhasil. Memungkinkan guru mengembangkan kurikulum bermakna dan melakukan penilaian dalam konteks program tersebut. Menilai berdasarkan proses berkesinambungan sehingga menghasilkan gambaran akurat tentang prestasi murid. Memberlakukan murid sebagai pribadi unik. Mementingkan proses sekaligus hasil akhir. Mencakup kecakapan berpikir tingkat tinggi. Memotivasi pembelajaran sebagai sesuatu yang memang substansial. Mendorong pembelajaran melalui kerja sama kelompok. Membandingkan siswa hanya dengan pencapaian mereka sendiri dari masa sebelumnya.

RSBI mengklaim dirinya sekolah favorit semata karena inputnya calon murid bergaya belajar cepat, bayarnya mahal, memperoleh subsidi besar dari pemerintah, memiliki kelas percepatan, menggunakan dwi bahasa (bilingual), kelasnya dilengkapi LCD proyektor dan internet. Status akreditasi A+ dari Dinas Pendidikan sebenarnya belum membuktikan RSBI unggul karena akreditasi hanya menilai kesiapan dokumen dan instrumen pendidikan. Banyaknya guru senior dan bersertifikat pendidik belum menunjukkan RSBI unggul mengingat sertifikasi hanya menilai portofolio atau hasil diklat, belum mencerminkan profesionalisme guru.

RSBI belum bisa disebut unggul hanya karena mengirimkan muridnya menang di ajang olimpiade matematika dan fisika. Soalnya, hanya murid yang cakap matematika dan IPA saja yang ikut olimpiade. Fasilitas lengkap, standar ISO dan sertifikat IB (International Bachelor) belum cukup membuat RSBI disebut unggulan. ISO dan IB hanyalah sarana penunjang pendidikan. Ada anekdot bagus buat memahami pembredelan RSBI oleh Mahkamah Konstitusi (MK).

Batu melambangkan nilai-nilai fundamental pendidikan. Kerikil, simbol proses dan tujuan akhir pendidikan. Pasir maknanya anggaran dan sarana pendidikan. RSBI terlalu gandrung mengurusi perkara tersier seperti anggaran sehingga mengabaikan asas dan dasar pendidikan. Tak heran bila terkesan elitis, arogan, tujuan menghalalkan cara, rawan penyelewengan, menimbulkan sinisme dan antipati—karena menabrak prinsip trust, respect, caring, dan fairness yang diamanatkan UUD 1945. Sudah layak dan sepantasnya bila RSBI dimakzulkan MK.
*******

Hal lain yang perlu dicermati dari pernyataan Peni di atas adalah kalimat ‘Apapun namanya nanti, jangan sampai mengurangi kualitas pendidikan di kota ini….’. Artinya, meski pun MK telah menutup sekolah-sekolah ( R ) SBI, namun Peni tetap akan melanjutkan sekolah-sekolah ( R ) SBI, namun dengan nama lain, misalkan memakai nama Sekolah Unggulan.

Sebenarnya jalan pikiran Peni ini tidak asing bagi kita. Karena, sebelum MK memutuskan untuk membubarkan sekloah-sekolah sekolah-sekolah ( R ) SBI, wakil mendiknas telah mengeluarkan pernyataan serupa.

“Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ngotot akan tetap meneruskan pola pendidikan yang terdapat dalam Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) meski nantinya Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan pelaksanaan RSB harus dihentikan. RSBI tetap akan dilanjutkan, tentunya dengan nama yang berbeda.”   

( JPNN)                                                                       

Rupanya para pejabat kita ini terinspirasi gaya Thukul Arwana. Dulu, sebelum acara Thukul bernama ( Bukan ) Empat Mata adalah Empat Mata. Karena sempat menayangkan tayangan yang dianggap tidak layak, maka KPI menghentikan acara Empat Mata. Untuk beberapa saat hosting fenomenal tersebut tiarap. Namun, tidak beberapa lama acara yang diasuh Thukul tersebut muncul lagi dengan nama ( Bukan ) Empat Mata. Model acaranya tetap sama dengan acara Empat Mata. Yang bermetamorfosis hanyalah namanya saja. Akankah pejabat-pejabat kita, terutama di lingkungan kemendiknas akan mengganti RSBI dengan ( Bukan ) RSBI ? Mari kita tunggu.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: