Skip to content

Semoga Kasus JIS Menjadi Blessing in Disguise

22 April 2014

Gambar

Hari-hari belakangan ini, berbagai media, baik cetak, elektronik, online, maupun social media hampir selalu memuat hiruk-pikuk yang timbul pasca pemilu legislatif. Namun, di sela kegaduhan tersebut, muncul berita tak sedap yang menghentakkan kesadaran kita, yang muncul dari dunia pendidikan, yakni kasus pelecehan seksual yang terjadi di Jakarta International School ( JIS ).

Beberapa hari ini, media-media kita gencar memberitakan kasus pelecehan seksual di sekolah TK tersebut. Pertanyaan kita, mengapa media begitu gencar memberitakan dan mengapa masyarakat begitu ‘andus’ membicarakan kejahatan seksual di sekolah yang memungut biaya ratusan juta kepada orangtua murid ini ? Padahal, kejahatan serupa juga sering terjadi di sekolah-sekolah lain tetapi tidak menjadi ‘pembicaraan nasional’ seperti saat ini.

Menurut hemat saya, sentimen kebangsaan kita sangat terusik dan kita menjadi marah tatkala mendengar berita ternyata sekolah milik asing tersebut bisa bobrok. Ternyata, sekolah yang tertutup pagar kokoh, yang katanya pengawas sekolah sampai gak berani masuk, menyimpan penjahat seksual di dalamnya. Ternyata, sekolah internasional tersebut sudah dua puluh tahun ‘membuka praktek’ di sini tanpa memiliki ijin dan kementrian pendidikan tidak mengerti ketiadaan ijin tersebut. Padahal, untuk sekolah internasional, yang berhak mengeluarkan ijin adalah Kementrian Pendidikan. Bagaimana mungkin orang-orang dari Kementrian Pendidikan sampai tidak tahu kalau sekolah internasional yang berada di Jakarta tersebut belum mengantongi ijin ?

Dan kita semakin marah setelah tahu, di sekolah internasional itu tidak diajarkan pelajaran sejarah, Bahasa Indonesia, kewarga-negaraan, dan pelajaran agama. Kita marah karena tanpa pelajaran-pelajaran tersebut sejak kanak-kana, apakah bisa lahir generasi yang memiliki cinta kepada negerinya ? Jangan-jangan ada agenda asing yang bertujuan mencetak anak-anak kita untuk menjadi ‘penjaga kepentingan asing’ yang justru akan menginjak-injak bangsa sendiri. Bukankah begitu biasanya modus penjajah dalam memanfaatkan anak bangsa supaya bisa diperalat untuk menjajah bangsanya sendiri ?

Konon, biaya pendidikan di sekolah internasioan itu mencapai ratusan juta rupiah. Dengan biaya sedahsyat itu tentu hanya kelas atas saja yang sanggup membayarnya. Kelas atas dalam arti orang yang sangat kaya raya dan kemungkinan para intelektual. Dan kita sangat prihatin dengan ini : ternyata orang-orang kaya dan sebagian intelektual kita adalah inlander. Pengagum bangsa asing yang tidak memiliki rasa tanggungjawab untuk mengembangkan dunia pendidikan kita. Bayangkan saja, jika biaya yang mereka serahkan ke sekolah-sekolah asing itu untuk membangun dunia pendidikan kita, tentu jauh lebih bermanfaat buat negeri ini. Mudah-mudahan dengan kasus JIS ini membuat mata mereka terbuka bahwa sekolah yang mereka kagumi itu ternyata tidak sebaik yang mereka kira. Mudah-mudahan mereka segera menyadari dan mental inlander mereka sedikit demi sedikit bisa berkurang.

Mental inlander sepertinya juga kita dapati pada pejabat-pejabat Kementrian Pendidikan kita. Adalah hal yang mustahil jika pejabat-pejabat di lingkungan kementrian ini sampai tidak tahu ada sekolah berlabel internasional berdiri di depan mata mereka selama lebih dari 20 tahun tanpa mengantongi ijin. Dugaan saya ada dua yang membuat mereka membiarkan saja sekolah itu berdiri tanpa ijin, yakni karena uang atau ketakutan terhadap kepentingan asing.

Harapan-harapan
Harapan pertama atas terjadinya kasus JIS ini adalah pemerintah melakukan tindakan yang adil dan sepatutnya. Sementara ini, yang dikenai sangsi hukum hanyalah pelaku kejahatan seksualnya saja. Pihak manajemen sekolah seolah tak tersentuh hukum kita. Padahal, kalau digali lebih jauh, pasti ada kelalaian pihak sekolah sehingga memungkinkan terjadinya pelecehan seksual terhadap muridnya.

Saat ini, memang sekolah tersebut oleh Dirjen PAUDNI dilarang menerima murid. Tapi larangan tersebut bukan karena terjadinya kasus pelecehan seksual pada murid, melainkan karena sekolah tersebut tidak berijin. Apakah pihak sekolah memang dipandang tidak perlu ikut memikul tanggung-jawab atas terjadinya kasus tersebut ? Atau karena takut mengusut warga bule yang terhormat itu ? Mudah-mudahan, gencarnya perbincangan soal kasus ini bisa mendorong keberanian pihak berwenang untuk mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya.

Harapan berikutnya, mudah-mudahan kasus JIS ini bisa membangkitkan rasa kebangsaan kita untuk membangun dunia pendidikan kita menjadi lebih baik dan lebih bermartabat. Seluruh elemen bangsa harus merasa bertanggung-jawab untuk membangun dunia pendidikan sesuai dengan kepribadian kita dan trend jaman. Hal ini perlu dilakukan, supaya kalangan atas yang bermental inlander dan kemaruk dengan brand internasional mau menyekolahkan anak-anaknya pada sekolah kita. Kita tidak ingin, sebagian anak-anak kita di-‘brainwashing sehingga luntur kecintaannya pada bangsa sendiri.

Dan, last but not least, harapan itu bisa terwujud bilamana ahli-ahli pendidikan kita juga bisa menghilangkan mental inlander-nya. Selama ini, perubahan-perubahan di dunia pendidikan kita selalu memakai acuan model dan paradigma dari luar. Seakan-akan dari luar-lah yang terbaik. Ahli-ahli pendidikan kita seakan mencoba menelan bulat-bulat segala konsep pendidikan dari luar. Sikap tawadu’ tanpa reserve seperti itu jelas dapat menghilangkan daya kritis mereka. Mereka seakan tanpa pernah memeriksa, apakah konsep-konsep tersebut cocok dengan kepentingan dan kepribadian bangsa kita ?

Padahal kita sendiri punya model pendidikan yang diciptakan oleh anak bangsa sendiri, yakni konsep pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantoro. Paling yang kita tahu hanya sepenggak kalimat : Ing ngarso sung tuladha dst. Bagaimana konsep pendidikan beliau secara menyeluruh sepertinya banyak yang tidak memahami. Saya yakin, sebagian besar pemikiran beliau masih relevan untuk diterapkan. Masalahnya, mau tidak kita menggali dan mengembangkan konsep pendidikan beliau ? Jawabnya terpulang kepada kita semua.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: