Skip to content

Refleksi di May Day : Belajar Dari Sang CEO Starbucks

1 Mei 2014

“Di belakang setiap cangkir Starbucks ada biji kopi bermutu paling tinggi di dunia, yang didapatkan secara etis; barista-barista ( semacam bar tender, tapi tugasnya meracik kopi, pen. ) Dengan jaminan pelayanan kesehatan dan memiliki saham perusahaan; petani-petani yang diperlakukan secara adil dan manusiawi; sebuah misi untuk memperlakukan orang dengan hormat dan bermartabat; serta pakar-pakar kopi bersemangat dengan pengetahuan tentang kopi yang tidak dapat ditandingi oleh perusahaan kopi lain mana pun.”

Kalimat-kalimat itu diucapkan oleh Howard Schultz, CEO yang sekaligus pendiri Starbucks. Kalimat-kalimat itu terucap ketika baru Howard Schultz menjabat CEO untuk kedua kalinya, dalam misi membangkitkan kembali kejayaan Raja Kedai Kopi itu dari keterpurukan akibat kesalahan strategi dari CEO sebelumnya, Jim Donald.

Siang itu, Howard Schultz mengumpulkan seluruh karyawan Starbucks di sebuah tempat terbuka. Dengan berkumpul di tempat terbuka, Sang CEO bertujuan membangkitan semangat para karyawan agar tidak larut dalam kecemasan terhadap kinerja Starbucks yang terus menurun di segala aspek. Howard Schultz sangat yakin bahwa sebagian karyawan sedang dirundung kekhawatiran oleh bayang-bayang kebangkrutan Starbucks. Di samping, tentu saja untuk menjelaskan strategi-strategi yang akan dia ambil.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati dari kalimat-kalimat Howard Schultz di atas. Pertama, kalimat ” Di belakang setiap cangkir Starbucks ada biji kopi bermutu paling tinggi di dunia, yang didapatkan secara etis.”

Dalam menjaga mutu kopi di kedai-kedai Starbucks di seluruh penjuru dunia, mereka akan memberi pelanggannya biji-biji kopi pilihan terbaik di dunia. Karena, core bussines dari Starbucks adalah jualan kopi, maka mereka akan menyajikan kopi terbaik. Dan, di era Howard yang kedua ini, fokus bisnis Starbucks akan kembali ke sini.

Selanjutnya, biji-biji kopi tersebut akan didapatkan ” dengan cara yang etis”. Inilah janji luar biasa dari Starbucks, mendapatkan biji-biji kopi terbaik dengan cara yang etis. Perlakuan etis tersebut diberikan kepada petani-petani kopi yang menjadi mitranya. Petani-petani tersebut diperlakukan dengan cara adil dan manusiawi.

Inilah sebuah konsep kerja-sama dengan mitranya yang visioner. Konsep bisnis yang kuno biasanya berupaya mendapatkan bahan baku semurah-murahnya dan menjual ke pelanggan-pelanggannya semahal mungkin. Andai konsep ini dipakai oleh Starbucks, pasti mereka akan menekan harga kopi semurah mungkin. Sebuah sikap yang tidak adil dan tidak manusiawi. Tetapi, sebagaimana diucapkan oleh Schultz, sikap rakus tersebut tidak dilakukan oleh Starbucks. Ini adalah human spirit yang dipegang Howard Schultz. Kepada pelanggan Starbucks berjanji akan menyajikan kopi-kopi pilihan, yang dikumpulkan dari berbagai belahan dunia, demi memuaskan pelanggannya di satyu pihak. Di pihak lain, ia akan memperlakukan para petani kopi mitranya dengan cara yang adil dan manusiawi.

Sikap mulia lain yang ditunjukkan oleh Starbucks adalah keputusan memberi karyawan tidak tetap mereka saham perusahaan dan jaminan kesehatan. Bandingkan dengan keputusan pemerintah kita yang memberlakukan model outsourcing. Dengan model tersebut, penghargaan terhadap tenaga kerja benar-benar direduksi hingga titik minimal. Hak-hak mereka banyak yang dihilangkan. Model outsourcing membuat tenaga kerja kita tidak pernah “merasa tenang dan aman”. Maka wajar kalau dalam bekerja mereka tidak dengan sepenuh hati, karena mereka tidak akan pernah merasa memiliki perusahaan tempat mereka bekerja. Juga wajar bila mereka seringkali melakukan demo massal karena mereka selalu dipenuhi perasaan tidak puas dan perasaan tidak aman.

Barangkali sikap visioner dari Schultz terhadap suplier ( petani kopi ), pelanggan dan tenaga kerja yang dimilikinya bisa menjadi cermin bagi pemilik-pemilik bisnis yang lain. Ke depan, memperlakukan berbagai pihak ( suplier, pelanggan, dan karyawan ) dengan sikap yang adil, manusiawi dan bermartabat, akan menjadi kunci sustainability perusahaan. Ketika karyawan selalu dihantui kecemasan akan masa depannya, hari tuanya, pendidikan anaknya, dan jaminan kesehatannya, mustahil menuntut mereka bekerja dengan sepenuh hati. Padahal, produk-produk yang berkualitas selalu lahir dari pekerja-pekerja yang bekerja dengan sepenuh hati. Lebih dari itu, memperlakukan tenaga kerja dalam sistem outsourcing adalah kebijakan yang tidak manusiawi.

One Comment leave one →
  1. 27 Mei 2014 5:00 pm

    happ blogging

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: