Skip to content

Pecinta Bola Yang Merusak Persepak-bolaan Kita

25 Mei 2014

Acara ILK di Trans7 biasanya hanya mengajak penonton untuk berhaha-hihi, tanpa ada yang lain. Ini sesuai dg taglinenya: Memecahkan Masalah Tanpa Solusi. Namun, pada malam ini agak berbeda. Acara yg mengambil topik ‘Gila Bola’ ini mendatangkan mantan pemain bola Kurniawan Dwi Yulianto dan salah satu mantan wasit bola terbaik kita, Jimmy Napitupulu.

Yg menarik adalah pengakuan Jimmy mengenai mengapa wasit kadang2 bersikap tidak adil, seperti sering kita lihat. Wasit, di beberapa pertandingan, cenderung membela tim tuan rumah. Keputusan-keputusan mereka banyak menguntungkan tim tuan rumah.

Melihat fenomena tersebut, publik biasanya mempersepsi bahwa sang wasit menerima suap dari tim tuan rumah. Dan, maaf, bisa jadi anggapan kita benar. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi sehingga wasit-wasit di beberapa pertandingan bersikap unfair seperti itu ?

Inilah pengakuan mengejutkan dari mantan wasit terbaik kita, Jimmy Napitulu.

Di dalam pertandingan bola, kata Jimmy, seringkali terdapat orang-orang berbadan tegap dan tinggi besar. Menurut panitia, orang-orang tersebut digunakan untuk pengamanan wasit. Tapi, faktanya, orang-orang ini justru dipergunakan untuk meneror wasit oleh tim tuan rumah guna memenangkan timnya. Kadang-kadang, ‘bodyguard-bodyguard’ ini mengikuti wasit saat ke kamar kecil. Di sana mereka, tak segan, menendang wasit dari belakang. Tujuannya adalah untuk meneror wasit.

Tindakan teror tak hanya dilakukan oleh para ‘preman’ saja. Kadang-kadang suporter kita juga tidak mau tim yang dibelanya kalah. Apa pun caranya, tim mereka harus menang. Kalau sampai tim mereka kalah, mereka bisa ngamuk gak karuan. Sikap suporter yang ngawur itu juga seperti teror bagi wasit.

Wasit adalah juga manusia, begitu kata Jimmy. Diperlakukan dengan tindakan premanisme seperti itu, beberapa wasit, pasti merasa ketakutan. Akibatnya, demi keamanan, mau tidak mau mereka akhirnya memenangkan tim tuan rumah. Inilah salah satu sebab mengapa wasit-wasit kita sulit bertindak objektif.

Dengan sikap dan tindakan seperti itu, Jimmy menyimpulkan bahwa sesungguhnya masyarakat kita bukanlah pecinta sepak bola, tapi pecinta klub. Mereka bukan ingin menonton sebuah permainan bola yang sportif dan indah, tapi mereka hanya ingin melihat timnya menang. Apa pun caranya. Mungkin, faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa sepak bola Indonesia sulit maju dan mearih prestasi.

Di akhir acar, seperti biasanya, Kang Maman, sebagai No Tulen, membuat satu kesimpulan menarik. Salah satu kesimpulannya adalah mendatangi stadion untuk menonton bola mestinya sama dengan menghadiri pesta. Di sana harusnya untuk bersenang-senang. Bukan untuk menebar teror dan mengakibatkan kematian

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: