Skip to content

Tim Sukses Ala Ayam Jawa

25 Mei 2014

Melihat ulah dan opini dari kebanyakan para pendukung capres/cawapres saat ini, saya jadi teringat cerita sahabat saya, almarhum Kaji Karno. Pada suatu saat, sahabat saya ini bercerita kalau habis mengobservasi perilaku kumpulan ayam ras dan kumpulan ayam jawa ( maksudnya ayam buras ) ketika diberi makanan.

Menurut beliau, perilaku ayam ras dan ayam jawa sungguh berbeda saat diberi makan. Ayam ras, ketika diberi makanan, langsung memakannya dengan lahap. Mereka tak peduli ayam lain yang juga makan bersama mereka.

Lain dengan ulah ayam jawa. Begitu pakan disebarkan, bukan fokus memakannya, tetapi justru saling menyerang ayam lain yang juga sedang makan. Begitu melihat kawannya mulai makan, maka ayam tersebut langsung menyerang ayam lain yang sedang makan. Dan ketika dia juga sedang makan, makan ayam yang lain giliran menyerangnya. Jadi, yang menjadi fokus ayam jawa bukanlah banyak-banyakan menelan makanan, tetapi berusaha mengusir ayam lain dari makanan yang disediakan.

Kalau melihat cara berkampanye kebanyakan para pendudukung capres/cawapres yang ada di dunia maya, khusunya di sosial media, dari kedua belah pihak banyak yang melakukan black campaign dan fitnah terhadap capres yang menjadi lawannya. Fitnahan dan hujatan tidak hanya ditujukan kepada capres dan cawapres saja, tetapi juga pada tokoh-tokoh yang mendukung capres/cawapres lawannya.

Bahkan yang lebih ‘seru’ lagi, di antara pendukung sudah saling memaki, menghujat dan memfitnah. Kalimat-kalimat sumpah serapa yang tidak layak dihamburkan pada pendukung capres lawan. Dan yang memprihatinkan, aktivitas barbar ini banyak dilakukan oleh pribadi-pribadi yang mengaku intelektual, budayawan maupun kelompok-kelompok yang merasa sebagai cendekiawan. Pribadi-pribadi tersebut mestinya merasa bertanggung jawab memberi pencerdasan dan pendewasaan politik kepada masyarakat kebanyakan.

Jujur, saya heran dengan mereka ini. Sebelum ada capres-capresan, antara mereka sering melakukan diskusi yang cukup cerdas. Diskusi-diskusi mereka sangat berbobot tentang ekonomi, politik, kebudayaan dan lain-lain. Tetapi begitu ada pengumuman capres/cawapres, tiba-tiba mereka terbelah menjadi dua kelompok yang saling menghujat secara sengit. Bahkan, ada yang sampai saling memblockir account-account kawan yang sekarang dianggap sebagai musuh.

Menurut hemat saya, timses atau pendukung capres itu tugasnya sama dengan marketer. Sebagai marketer, seharusnya selalu meyakinkan orang lain untuk menyukai capres yang didukungnya. Timses dan pendukung capres harus mampu ‘menjual’ visi, misi dan strategi-strategi apa yang akan dilakukan capresnya masing-masing. Bukan malah melakukan black campaign menjatuhkan capres lain dan menghamburkan sumpah serapah ke pendukung lawan. Orang marketing perusahaan saja dalam beriklan tetap memegang prinsip dan etika, bahwa tidak etis beriklan dengan cara menjelek-jelekkan brand competitor. Memperkuat brand itu dilakukan dengan menampilkan sisi-sisi baik dari brand tersebut supaya customer dan calon customer semakin tertarik.

Lagi pula, kalau dipikir-pikir, apa yang mereka harapkan dengan saling menghujat ? Apa dengan menghujat capres lawan, maka pendukung capres lawan tersebut akan berpindah ke capres mereka ?

Saya yakin, para pendukung yang capresnya selalu dinilai negatif tidak akan pernah nyebrang ke capres lain. Justru malah akan kokoh melakukan pembelaan dan dukungan pada capresnya sendiri.

Lalu mengapa timses dan para pendukung capres itu melakukan black campaign dan menghujat-hujat pihak lain ? Dugaan saya, mereka hanya memuaskan ego di kalangan mereka sendiri dibanding berusaha mengajak pihak lain mendukung capres yang diusungnya. Mereka tidak sadar bahwa sikap mereka bisa menimbulkan kebencian pada mereka dan capres yang mereka usung. Jadi, kalau dipikir-pikir, pendukung-pendukung seperti ini malah merugikan bagi capres yang didukungnya.

Masing-masing capres/cawapres telah mengumumkan visi, misi, dan strategi untuk membangun bangsa ini ke depan. Mengapa mereka tidak menggunakan itu untuk mencari dukungan ? Padahal, senjata utama bagi mendulang pemilih ya visi, misi dan strategi tersebut. Di dalam strategi marketing, hal itu bisa menjadi ‘ Positioning’ bagi capres/cawapres untuk mencapai top of mind di benak calon pemilih.

Kesimpulannya, timses dan pendukung capres mestinya berperilaku seperti ayam ras. Bekerja keras untuk meningkatkan jumlah dukungan.Bukan seperti ayam jawa, yang selalu berupaya menjatuhkan lawannya tanpa memikirkan usaha-usaha untuk memperluas dukungan. Tetapi harus diakui, menjadi timses seperti ayam ras memang jauh lebih sulit. Karena, selain harus bekerja keras, juga harus bekerja dengan cerdas dan penuh inovatif.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: