Skip to content

Catatan Tengah Malam Menjelang Coblosan Pilpres 2014

11 Juli 2014

Kalau saya amati dari kedua capres/cawapres dan pendukungnya, ternyata ada kesamaan-kesamaan yang amat menyolok. Kalau biasanya adanya kesamaan dapat membuat seseorang atau sekelompok orang bisa saling mendekat, maka kesamaan tersebut justru mengakibatkan menajamnya “permusuhan” di antara mereka, terutama di kalangan pendukungnya.

Apa saja persamaan di antara mereka ?

Kedua belah pihak mengklaim bahwa kelompoknya telah menjadi korban black campaign dari lawannya. Ini artinya, di masing-masing kelompok ada anasir yang melakukan black campaign kepada pihak lainnya, tapi mereka sama-sama tidak mengakui perbuatan tersebut dan malah menuduh pihak lainnya yang melakukannya.

Berikutnya, masing-masing pihak menuduh pihak lawannnya di-backup dan didukung dana yang luar biasa besar dari para konglomerat hitam, baik dari dalam negeri dan luar negeri. Dengan tuduhan tersebut, masing-masing pihak membuat citra bahwa kalau sampai lawannya yang menang, bisa bahaya negeri ini. Karena, para konglomerat hitam itu akan menagih balas kepada presiden yang didukungnya. Maka, kekayaan bangsa dan proyek-proyek berskala mega akan dibagi-bagi kepada mereka. Dan, menurut mereka, konglomerat hitam itu selalu untuk kepentingan diri dan pasti merugikan negara.

Kesamaan ketiga, masing-masing pihak menuduh pihak lainnya dikuasai oleh kelompok kristen. Berita miring ini terus dihembuskan ke masyarakat kalau tim di pihak lawan sangat didominasi oleh kelompok kristen, otomatis kalau menang maka Indonesia akan dikristenkan. Pendukung kedua belah pihak telah melakukan penyeberan berita-berita seperti ini. Bukan hanya satu pihak.

Kesamaan keempat, masing-masing pihak menuduh pihak lainnya melakukan kecurangan, terutama melakukan money politik. Lucunya, masing-masing pihak telah menemukan bukti kecurangan yang dilakukan pendukung pihak lawannya. Artinya, pendukung masing-masing capres telah melakukan kecurangan, tapi sama-sama menuduh lawannya yang melakukan kecurangan.

Kesamaan kelima, dan ini sangat gawat, masing-masing pihak menuduh pihak lainnya telah merancang agenda kerusuhan jika kalah. Jadi, paskah pemilu pasti terjadi situasi chaos karena pihaknya yang akan memenangkan pertandingan ini. Dan para tokoh-tokoh partai menghimbau kepada kader dan relawan-relawannya untuk mempersiapkan diri menghadapi chaos tersebut.

Dengan gambaran di atas, tim pilpres telah menebar gambaran yang menakutkan dan kebencian di tengah masyarakat. Pemilu yang seharusnya menjadi wadah pendidikan politik bagi masyarakat, malah menjadi situasi yang meneror.

Dua kesamaan terakhir di atas sangat mengkhawatirkan. Kalau pihak yang kalah tidak bisa menerima kekalahannya, lalu merasa dicurangi dan mengaduk-aduk sentimen pendukungnya untuk melakukan perbuatan anarkis, rugilah bangsa ini. Situasi chaos ongkosnya sangat mahal.
Kita berharap capres yang kalah dapat menerima kekalahannya secara dewasa. Tidak mengompori para pendukungnya dengan membangun opini telah dicurangi dan menggerakkan massa pendukungnya untuk berbuat anarkis. Capres yang mendorong perbuatan anarkis adalah capres yang mengikuti pilpres ini hanya untuk meraih kekuasaan semata alias hanya memenuhi ambisi kekuasaan saja. Bukan pribadi yang ingin membangun masa depan bangsa ini

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: