Skip to content

Renungan Sehari Seusai Coblosan Pilpres 2014

11 Juli 2014

Beberapa jam setelah perhitungan hasil coblosan usai, masing-masing capres dan timnya mengumumkan kemenangannya. Kemenangan berdasarkan perhitungan quick count dari lembaga-lembaga survey yang selama ini selalu memenangkan mereka. Tentu saja pengumuman ini disambut suka cita oleh pendukung masing-masing kubu. Suka cita ini diwujudkan dalam berbagai aktivitas seperti menggelar acara tasyakuran di satu tempat hingga melakukan konvoi di jalan raya.

Pengumuman yang terburu-buru ini bisa membahayakan. Dengan pengumuman kemenangan tersebut, masing-masing pendukung sudah meyakini bahwa kemenangan di pihaknya sudah final. Jika di tanggal 22 Juli nanti KPU mengumumkan capres mereka tidak jadi menang, bisa terjadi anggapan kalau mereka telah dicurangi. Dengan meyakini anggapan seperti ini membuat mereka akan mudah digerakkan para elit untuk berbuat anarkhi.

Tadi, di tivi pendukung salah satu capres menyiarkan sebuah arak-arakan massa pendukung salah satu capres. Salah satu peserta yang diwawancari sudah mengeluarkan ancaman. Intinya, kalau sampai capres mereka dicurangi, mereka akan menggerakkan massa yang lebih besar, bahkan lebih besar dari pengerahan massa di GBK tempo hari.

Berikutnya, di tivi pendukung capres lainnya, seorang petinggi dari timses capres lainnya juga mengeluarkan ultimatum, yang sepertinya ditujukan kepada lawannya. Beliau ini mengeluarkan ultimatum, segala tindakan teror yang ditujukan kepada pihaknya, akan dihadapi. Beliau mengatakan akan menggerakkan 7 satuannya satgasnya untuk menghadapi teror tersebut.

Dari kedua gambaran di atas, kita bisa bayangkan, betapa konflik horizontal tinggal selangkah lagi terjadi jika para elit capres tidak mampu mengendalikan diri. Saya yakin, setiap rakyat tidak ingin terjadi chaos yang bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa kita hanya demi kekuasaan yang sedang diperebutkan para elit. Oleh karena itu, kita semua berharap bahwa semua pihak, terutama para elit, harus memiliki tanggungjawab menjaga keamanan dan kebersamaan di negeri ini. Jangan hanya karena syahwat kekuasaan yang lagi meninggi, lalu mengorbankan kepentingan bangsa.

Selain itu, kedua kubu pendukung juga harus terus berupaya menjaga suasana damai. Jangan mau diombang-ambingkan mereka yang sedang berebut kekuasaan. Terutama rekan-rekan yang merasa menjadi tokoh, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, jangan malah menjadi kompor. Di saat seperti sekarang ini, ketokohan saudara justru dibutuhkan untuk menjaga suasana nyaman di masyarakat luas. Kalau perlu, mari kita ingatkan elit-elit yang akan memanfaatkan fanatisme buta sebagian kawan-kawan kita untuk melampiaskan dendam mereka.

Di situasi saat ini, masing-masing dari kita harus turut mengambil tanggung jawab menjaga keamanan dan kedamaian di masyarakat. Karena, jika sampai terjadi chaos, maka pemilu yang telah kita jalani dengan susah payah dan mahal ini bisa batal. Akibatnya, pemerintah saat ini bisa lebih lama memegang pemerintahan. Atau, kalau situasi dianggap darurat, bisa-bisa TNI akan mengendalikan negeri ini. Walaupun saya yakin TNI sendiri tidak menghendaki hal itu terjadi namun jika situasi di masyarakat dianggap darurat, bisa saja kita dengan terpaksa harus mau menerima campur tangan TNI dalam kehidupan sipil kita

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: